Wanita Bercadar Itu Istriku

Wanita Bercadar Itu Istriku
Novia


__ADS_3

Setelah perbincangan Nafisha dan wanita tersebut Nafisha mengajak Orang tersebut untuk mengikutinya sedangkan Devansha Nafisha titipan pada Aldino.


"Duduk," Ucap Nafisha.


"Jadi ada apa anda mencari saya??" Ucap Nafisha to the point.


"Perkenalkan nama saya Novia Azahra Narendra, Saya adalah pengacara anda dalam kasus sidang perceraian, karena teman anda sudah di pindahkan dari jakarta keluar kota dan saya yang akan menggantikannya.," Tutur orang itu dengan santai.


"Tunggu, Nama kami Novia Azahra Narendra???"


"Iya,"


"Hah, nggak mungkin,???"


"Maksud anda???" Novia kebingungan saat Nafisha menanyakan Namanya.


"Emang ada yang salah ya sama nama aku,???" Tanya Novia yang begitu bingung dengan ucapan Nafisha.


"Nggak kok,"


"Perkenalkan nama ku Nafisha Azahra Narendra," Sambung nya.


"Hah, kok Nama kita sama persis," Tanya Novia yang begitu terkejut bahkan dirinya sampai lupa untuk menanyakan tentang Persidangan Nafisha dan Devano.


"Akh mungkin hanya kebetulan saja," Kilah Novia,


"Nggak di dunia ini tidak ada yang kebetulan, Bahkan wajah kita pun sama," Jawab Nafisha pada Novia tak lupa dia juga membuka cadar yang dia pakai.


"Ka-ka-mu," Tunjuk Novia dengan mata yang melotot sempurna.


"Iya, bahkan aku juga kaget pas kita pertama kali bertemu," Jawab Nafisha.


"Sudahlah, masalah kita Nanti kita bahas yang penting sekarang bantu aku untuk mengurus persidangan itu,"


"Hmmm, baiklah,"


Setelah itu mereka berbicara membicarakan seputar persiapan sidang bersama Devano yang akan di lakukan dua minggu lagi.


"Baiklah Novia, Nanti kita akan bertemu kembali untuk membahas tentang kita.,"

__ADS_1


"Baiklah Nafisha, aku akan sering sering kesini,"


"Oke,"


Setelah itu Novia pamit pergi karena hari ini ada sidang di pengadilan dan kebetulan Novia yang jadi pengacara orang tersebut.


Sedangkan Nafisha begitu syok dan tak percaya, Nafisha bertanya tanya siapa Novia, lantas apa yang sebenarnya terjadi setelah Nafisha di lahirkan??? banyak pertanyaan pertanyaan yang tersimpan di dalam otak Nafisha.


"Huh Akh, bisa gila aku lama lama, banyak hal yang mengejutkan di hidupku,"


Nafisha begitu lelah, baik hati Mental dan fikiran.


Sedangkan di kediaman Alexander, Devano sedang termenung dan melamun langkah apa yang akan dia pilih mempertahankan atau melepaskan, huh Devano saat ini benar benar bingung, dirinya memang masih mencintai Nafisha bahkan melebihi mencintai Jihan, namun Devano juga tidak boleh egois Devano mengaku salah dan bahkan dia menyesali kesalahannya, lantas jika dia mempertahankan hubungannya dengan Nafisha apakah Nafisha akan menerima nya, trus bagaimana dengan Jihan???


"Argggghhhhh bisa pecah kepala gue lama lama,"


"Huh gue harus bagaimana, Gue nggak mau pisah sama Nafisha tapi jika aku melepaskan Jihan, aku nggak tega Jihan sudah tidak punya siapa siapa selain aku," Racau Devano seorang diri.


Mama Arini yang kebetulan lewat di depan kamar Devano pun mendengar keluhan kesah anak nya namun dirinya tidak mau ikut campur dengan urusan mereka berdua, biarlah Mereka menyelesaikan masalah mereka masing masing.


"Dev, mama sangat kecewa sama kamu, bagaimana Nanti mama bicara Dengan ayahnya Nafisha, maafkan mama Dev mama gagal jadi orang tua," Gumam Mam Arini di depan pintu kamar Devano yang terbuka setengah.


"Mama harus gimana Dev, mama nggak mau lihat kamu drop jika kamu tahu Nafisha sekarang hilang ingatan," Gumamnya sambil berjalan menuruni tangga tak lupa dia juga menyeka air matanya.


"Akh ya aku lupa pasti ada sesuatu dan informasi tentang Nafisha di bascam,"


Setelah mengatakan itu Devano langsung menyambar jaketnya dan kunci mobilnya untuk berangkat ke bascam Arion.


Brum


Brum


Brum


Ckitt


Brak


Devano membuka pintu bascam dengan keras.

__ADS_1


suasana di bascam begitu sangatlah sepi karena semua orang belum pada pulang kerja.


Devano langsung saja berlari kecil menuju kamar Nafisha di atas.


Ceklek


Devano masuk kedalam kamar Nafisha, Dia melihat semua sudut , namun tidak ada yang berubah sedikit pun mata Devano memicing saat melihat sebuah amplop coklat yang berada di atas nakas laci meja rias.


"Surat apa ini," Devano mengambil surat itu dengan nada yang bergetar.


Devano penasaran dengan isi suratnya hingga akhirnya Devano memutuskan untuk membuka surat dan membacanya.


Dear Devano suamiku.


Jika kamu membaca surat ini maka aku sudah tak ada lagi di samping mu, abinya Devansha aku menyayangimu.


Abi aku hanya meminta kamu untuk jujur dan saling terbuka denganku, meskipun itu pahit setidaknya kamu masih menghargai ku, tapi untuk kali ini aku tidak bisa mengtoliler lagi, semua kesalahan mu aku berusaha memaafkan mu tapi untuk orang ketiga maaf aku tidak bisa, aku menyerah Dev aku akan mundur jika itu yang terbaik, karena sebaik baiknya aku terhadapmu tapi yang satu ini pengecualian, jangan kau anggap kata solehah itu sebagai senjata untukku, karena bagaimana pun aku hanyalah wanita biasa yang masih banyak kekurangan, hatiku tidak seluas khadijah.


Semoga kamu bahagia dengan pernikahan mu Dev, aku pergi,


Semoga kita bisa di pertemukan kembali di hari yang akan datang dengan keluarga kecil kita masing masing.


Aku pamit Devano Alexander.


Setelah membaca surat itu Devano langsung berlari keluar bascam kebetulan anak arion baru saja pulang kerja jadi melihat Devano berlari mereka tampak bingung dan bertanya tanya.


" Dev lo mau kemana???" Tanya Aldino.


" Dimana Nafisha, Al???" Tanya Devano.


"Hah, Dev lo kan istrinya kenapa lo Nanya gue,"Aldino mencoba menjawab ucapan Devano dan bersikap biasa saja seolah dia tidak tahu apa apa.


"Arrrrggggggh bangsat,"


"Nafisha lo dimana???" Devano meluluhkan badannya kelantai sambil menjambak rambutnya sendiri, Devano begitu frustasi saat mengetahui kebenaran yang sebenarnya meskipun Devano pernah mendengar sebelumnya dari Hazel dan keluarganya namun Devano belum seratus persen percaya, namun kali ini Devano sudah tidak punya harapan untuk bersatu dengan Nafisha.


Jihan saat ini sedang berada di apartemen Devano seorang diri, Semenjak pulang dari rumah sakit waktu itu Devano berpamitan untuk ke liar sebentar namun kenyataan nya hingga saat ini Devano belum pulang juga bahkan tidak ada kabar sedikit pun mengenai Devano.


" Tuhan apa aku salah menerima pernikahan ini, Apa aku salah jika aku egois??? aku harus bagaimana, bagaimana pun aku juga wanita sama seperti mbak Nafisha bahkan aku juga merasakan apa yang mbak Nafisha rasakan lantas aku harus bagaimana???" Jihan begitu gamang saat ini, apakah dirinya harus bertahan atau melepaskan???

__ADS_1


Air mata Jihan perlahan jatuh membasahi pipinya, hatinya begitu sesak saat pertama kali masuk kedalam keluarga Alexander dan bagaimana respon mereka semua, Jihan merasa seperti orang asing yang menghancurkan keluarga Alexander.


__ADS_2