Wanita Bercadar Itu Istriku

Wanita Bercadar Itu Istriku
Nafisha, Deren dan Devansha


__ADS_3

Devansha dan Deren saat ini sudah berada di bandara Soekarno Hatta, Ya saat Devansha mengirimkan pesan itu Deren langsung meluncur untuk menjemput Devansha dengan alasan kalau Devansha ingin main bersama papinya yaitu Deren, dan untung nya Devano mengiyakan permintaan Devansha.


Saat di bandara Devansha dan Deren mencari Nafisha awal mulanya mereka mencari kemana mana hingga membuat mereka nyaris putus asa.


Namun tuhan masih sayang Pada Deren dan Devansha karena saat perjalanan pulang Deren tak sengaja menabrak seorang wanita dengan berpakaian Rapi.


"Maaf saya tak sengaja," Ucap Deren.


"Iya tidak apa apa," Jawab Nafisha.


"Umi," Satu kata yang terucap di bibir mungil Devansha mampu membuat hancur Hati Nafisha, Nafisha mengangkat pandangannya menatap kepada seseorang yang berada di hadapannya.


"Nafisha,"


"Deren,"


"Jika kamu pergi maka aku dan Devansha juga akan ikut pergi," Deren mendahului ucapan Nafisha karena Deren tahu Nafisha akan menyuruhnya untuk pergi.


"Tapi,-"


"Tidak ada tapi tapian, aku sudah tahu semuanya Nafisha bahkan Devansha juga yang mengajak aku untuk kesini bertemu kamu, Sedangkan Devano malah sedang asik berdua dengan istri barunya di apartemen,"


"Ya aku tahu itu,"


"Umi Devansha mau ikut sama Umi," Ucap Devansha dengan Nada memohon dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Tapi Dev-"


"Devansha janji tidak akan meminta untuk bertemu dengan Abi karena sekalang Abi sudah punya Uma baru," Ucap Devansha dengan berlinang air mata.


Deren, dan Nafisha saling pandang mereka seolah sedang berbicara lewat mata , hingga Deren menganggukan kepalanya.


"Huh baiklah, tapi Devansha janji sama Umi jangan Nangis dan jangan nakal,"


"Janji Umi," Devansha mengacungkan Jari kelingkingnya pada Nafisha dan di sambut dengan oleh jari Nafisha hingga jari mereka bertaut.


"Baiklah kalau begitu mari kita kesana," Ajak Dokter Andri yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Tapi bagaimana Dengan paspor kalian,???"


"Tenang aku sudah menyiapkan nya saat kita menuju ke sini," Jawab Deren.


Deren tak peduli Dengan Devano dan semua temannya karena Deren sudah terlanjur kecewa pada Devano, yang dia pedulikan saat ini adalah Devansha dan juga Nafisha yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, bahkan saat ini Deren dan Nafisha kompak untuk membuang kartu sim card mereka supaya keberadaan mereka tidak terlacak oleh Devano, Dan Sebelum berangkat tadi Nafisha Sudah bertemu terlebih dahulu bersama Aldino dan juga Bagas untuk menjaga semua aset yang sudah beralih nama menjadi Devansha, tanpa sepengetahuan Devano, Mereka sangatlah mudah jika harus mengelabui Devano untuk minta tandatangan nya Katena Devano begitu percaya pada sahabatnya, terlebih caffe itu sudah menjadi hak milik Nafisha makanya semua nya berjalan dengan lancar.


Mereka berangkat bersama dengan di temani Dokter Andri, Namun Dokter Andri disana Hanya sampai satu minggu karena jika mereka sudah di sana Dokter Andri akan mengalihkan Nafisha kepada dokter Bima sahabatnya yang berada di Singapura, itu sudah mereka rencanakan supaya Nafisha tidak terlacak dan Dokter Andri pun dalam keadaan aman.


Mereka berempat mulai memasuki kabin pesawat yang sebentar lagi akan berangkat ke Singapura namun siapa sangka ternyata disana mereka bertemu dengan papa Dion dan mama Arini yang kebetulan saat ini sedang perjalanan bisnis menuju Singapura.


"Nafisha,"


"Mama ,papa," Ucap Nafisha terkejut, namun sebisa mungkin Nafisha menyembunyikan keterkejutan itu.


"Kamu mau kemana nak, mana Devano,???" Tanya mama Arini.


Nafisha yang di tanya seperti itu hanya bisa diam dan menundukan kepala, Nafisha bingung harus menjawab Apa.


"Biar aku yang bicara Nafisha," Ucap Deren pada Nafisha"


"Iya bang," Jawab Nafisha lemas.


"Nafisha pergi untuk melakukan oprasi kanker otak stadium akhir, -"


"Kenapa Bisa???" Mama Arini begitu syok saat mendengar fakta itu.


"Itu karena benturan yang terjadi saat dua tahun yang lalu, kejadiannya saat Devansha di culik oleh Fiona, Dan benturan itu membuat Nafisha mengalami kanker otak, pada saat itu Nafisha menolak untuk di angkat gumpalan darah pada otaknya, dengan alasan dia tak mau ngambil resiko jika harus melupakan Devano dan Devansha serta keluarga lainnya, tapi sekarang Nafisha berubah fikiran dan akan menjalankan oprasinya sekarang ke Singapura," Jawab Doktet Andri membantu menjelaskan titik permasalahan nya pada Mama dan papa mertua Nafisha.


"Lantas kenapa Devano tidak ikut dengan kalian kemana Devano,???" Tanya mama Arini Heran dan dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Huh," Deren menghela Nafas.


"Devano tidak tahu menahu tentang penyakit Nafisha,-"Jawab Deren.


"Lantas kenapa kamu bisa bersama Nafisha sedangkan Devano tidak dengan nya Deren," Mama Arini tak kuat menahan Emosinya hingga berpikiran yang tidak tidak.


"Karena Devano sudah tak peduli Dengan Nafisha bahkan Devano sudah menghianati Nafisha," Jawab Deren yang sudah tak tahan dengan Derama ini.

__ADS_1


"Maksud kamu apa Jaga bicara kamu,"Ucap papa Devano dengan Nada yang sedikit tinggi.


"Kalena Abi sudah punya Uma balu, tadi aja Devansha di ajak ke Apartemen Abi untuk bertemu dengan Uma balu," Ucap Devansha yang seakan mengerti kemana arah pembicaraan mereka semua.


"Maksudnya,??" Mama Arini tak mengerti dengan ucapan Devansha.


"Devano sudah menikah lagi Ma dengan Jihan sekitar satu minggu yang lalu," Jawab Nafisha pada Mama mertuanya, Nafisha mencoba kuat dan tegar di hadapan semuanya termasuk Devansha.


"Umi jangan Nangis, Devansha di sini sama Umi," Ucap Devansha menghibur Nafisha seakan tahu bahwa Nafisha itu sedang bersedih"


"Iya nak," Jawabnya sambil tersenyum pada putranya.


Sedangkan Mama dan papa mertuanya begitu terkejut saat mendengar penjelasan dari menantunya bahkan mereka merasa gagal untuk mendidik Devano.


"Maafkan Anak mama yang tak tahu di untung itu Nafisha," Ucap Mama Arini sambil memeluk Nafisha.


"Iya ma, toh itu bukan salah mama dan papa," Ucap Nafisha.


Saat papa Mertuanya akan berbicara tiba tiba pengumuman untuk penerbangan ke Singapura pun terdengar membuat mereka duduk di tempatnya masing masing dan tak lupa dengan sabuk pengamanan karena sebentar lagi pesawat akan lepas tandas.


hingga


satu


Dua


Tiga


Pesawat menuju Singapura lepas tandas dengan sempurna.


Sedangkan saat Ini Devano begitu menikmati waktu nya bersama Jihan karena tidak ada penganggu sam sekali termasuk Devansha.


"Sayang, bagaimana apakah kamu sudah betah tinggal di sini???" Tanya Devano.


"Alhamdulilah betah mas, cuman aku nggak enak aja sama mbak Nafisha aku ingin meminta maaf sekaligus meminta restu padanya karena kita menikah tanpa memberitahukannya," Ucap Jihan Dengan Nada bersalah dan tak enak hati.


"Kan aku sudah bilang jangan fikirkan Nafisha biarkan dia tenang dulu, setelah itu baru kita temui Nafisha bersama dan Jujur padanya bahwa kita sudah menikah,"

__ADS_1


"Iya mas,"


__ADS_2