
"Akh sial," Teriak Devano.
"Nafisha lo dimana???" Ucap Devano dengan Frustasi
Setelah Dari bascam Devano memutuskan untuk pulang ke rumahnya, di rumah Devano tinggal lah seorang diri tanpa ada Devansha dan Nafisha, Karena saking kalap nya Devano sampai membanting seluruh barang yang ada di rumahnya, rumah yang tadinya Rapih sekarang telah berubah seperti kapal pecah.
"Nafisha lo dimana,???" Teriak Devano sambil memegang botol Bir, entahlah sudah berapa botol yang Devano habiskan hingga dirinya teller dan tak sadarkan diri.
Di pagi harinya Devano terbangun dari pingsannya, bahkan dirinya lupa kalau Devano semalam itu mabuk berat.
"****, kepala gue pusing sekali, Nafisha tolong buaykan aku minum sayang," Teriak Devano seakan masih merasakan adanya Nafisha dan Devansha di rumahnya.
Namun tidak ada nyautan sama sekali.
"Nafisha," Teriak Devano.
Setelah lama tidak ada nyautan baru lah Devano tersadar bahwa Nafisha dan Devansha tidak ada di rumah dan pergi meninggalkannya
"Nafisha lo dimana gue kangen sama lo," Teriak Devano.
Keadaan Devano saat ini sangatlah kacau dengan baju acak acakan rambut yang berantakan muka yang sedikit lusuh bahkan dari tadi pagi Devano suka berbicara Sendiri, tertawa atau pun menangis.
Meskipun Nafisha telah pergi Devano harus tetap waras dan sadar karena sekarang dirinya punya Jihan yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Devano langsung pergi ke apartemennya untuk menemui Jihan dan mencari ketenangan di sana setidaknya Dengan adanya Jihan Devano bisa sedikit melupakan masalah yang ada.
Sedangkan di Singapura Devansha dan Deren sedang menunggu Nafisha yang sedang melangsungkan oprasi pengangkatan gumpalan darah, yang mengakibatkan menjadi kanker Otak.
Mereka sudah 3 di depan ruang oprasi bahkan Deren sudah mondar mandir tak jelas karena dirinya begitu khawatir kepada Nafisha.
"Papi kenapa Umi lama banget," Tanya Devansha dengan khawatir.
"Sayang Doakan saja semoga Umi cepat sadar ya nak," Ucap Devan karena dirinya juga merasa atidak tega kepada Devansha, Devansha itu masih kecil tapi dirinya Harus menyaksikan bagaimana Devano telah menikah lagi dan menyakiti hati uminya tanpa mereka berdua sadari yang paling tersakiti di antara mereka itu yaitu Devansha.
"Umi Devansha mohon Umi harus bertahan untuk Devansha," Gumam Devansha yang masih bisa di dengar oleh Deren.
__ADS_1
"Yang sabar ya sayang,"
"Iya papi, "Jawabnya sambil memeluk badan Deren seolah mencari kekuatan untuk dirinya sendiri.
Di Indonesia Devano Alexander saat ini sedang turun ke Arena balapan liar, sudah bertahun tahun dirinya tidak mengikuti balapan motor, hingga baru kali ini dirinya turun kembali di Arena balapan.
Mungkin Karena Devano sedang Frustasi karena kehilangan Nafisha setidaknya Dengan cara balapan bisa melupakan sedikit masalah yang sedang dia hadapi.
"Devano mengikuti Balapan Dengan membawa motor yang di liuk liukan kekanan dan ke kiri, bahkan Devano terus menambahkan kecepatannya hingga di tikungan yang tajam Devano motor Devano tergelincir karena Arena balapan yang licin setelah turun hujan.
Brum
Brum
brum
Ckit
Brak
semua orang berhamburan untuk melihat Devano yang telah terjatuh dari motor, kesadaran Devano mulai menghilang Namun sebelum itu Devano masih bisa mendengar suara banyak orang yang meng hawatirkannya karena banyaknya darah yang telah keluar dari dalam kepala Devano.
"Na-Fi-Sha Ma-Af-Kan A-Ku," Setelah mengucapkan Itu Devano kehilangan kesadaran nya.
Berita kecelakaan Devano itu sudah menyebar bahkan telah sampai ke telinga teman temannya hingga membuat mereka panik dan juga takut, meskipun mereka kecewa pada Devano tapi bukan itu yang mereka harapkan
Devan Dan Aldino berlari di ujung koridor hingga tepat di ruangan Devano dengan tulisan ruang ICU, ya Devano masuk ke ruang ICU karena Benturan keras di kepalanya membuat Devano kehilangan banyak darah dan dinyatakan koma.
Jihan yang mendengar Devano kecelakaan pin sangatlah terpukul terlebih dia trauma atas meninggal neneknya, dia tidak mau hal itu terjadi pada Devano.
Jihan tak kuasa menahan tangisnya hingga dia begitu syok dan tak sadarkan diri.
Sedangkan Devan dan Aldino dia mundar manfir kesana kemari mencari dokter.
"Dokter Dokter" Teriak Aldino pada Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Devano.
__ADS_1
"Dokter bagaimana keadaan teman saya???" Tanya Aldino dengan raut wajah yang begitu khawatir dan panik.
"Anda siapa nya ya, maaf,???" Tanya sang dokter
"Saya keluarganya Dokter," Jawab Aldino.
Dokter tersebut yang mendengar Aldino mengucapkan keluarganya langsung saja memberitahukan kondisi Devano.
"Maaf saya harus menyampaikan kalau Tuan Devano dinyatakan koma,"
"Apa nggak mungkin Dok," Teriak Aldino Frustasi.
"Nggak nggak mungkin Devano koma nggak," Teriak Devan.
"Dokter bohongkan, Devano nggak koma kan??" Tanya Aldino sekali lagi
"Maaf," Jawab dokter tersebut sambil menundukan kepalanya.
Setelah mendengar ucapan terakhir dokter itu tubuh Aldino dan Deren langsung luluh, dan merosot ke lantai.
"Dev, lo tega lo jahat Dev, Devano sialan!!" Teriak Devan.
Karena kesalahan Devano membuat semua orang merasakan sakit yang amat mendalam, sudah cukup Devansha dan Nafisha yang merasakan sakit itu dan sekarang Aldino Devan dan Jihan juga merasakan hal yang sama karena ulah Devano terlebih sekarang Devano sedang berbaring koma.
Jihan bangun dari pingsannya, namun setelah bangun Jihan malah menangis sesenggukan sambil memeluk kedua lulutnya.
"Dev kenapa kamu tega ninggalin aku sendiri Dev, aku nggak punya siapa siapa lagi Dev bangun," Gumam Jihan dengan suara yang tak jelas karena menangis.
Untuk hari ini adalah hari kehancuran keluarga Devano dan seluruh sahabatnya.
Jika saja Devano tidak mengambil keputusan sendiri untuk menikahi Jihan mungkin Devano tidak akan seperti ini, Devano tidak akan Di tinggalkan oleh Devansha dan Nafisha,
Andaikan saja Devano cukup jadikan Jihan sebagai adiknya mungkin Nafisha bisa berbesar hati untuk menerimanya bukan untuk di jadikan orang ketiga di antara hubungan mereka berdua, karena secara tidak langsung Devano menyakiti hati Nafisha. dan berdampak pada kelangsungan rumah tangga mereka berdua, terutama Devansha yang akan menjadi korbannya.
Masalah itu memang mudah tapi kitalah yang mempersulit masalah, terkadang kita berfikir itu harus secara Rasional meskipun dalam hal semendesak apapun, Harus nya Devano sebagai kepala rumah tangga itu harus berfikir dengan akal dan logika, dan keduanya harus seimbang. karena jika kita sudah mengambil keputusan yang salah akankah kita bisa membenarkannya, pasti ujung ujungnya akan rumit dan semakin sulit.
__ADS_1
Dalam hal rumah tangga jenuh dan bosan itu pasti ada tapi yang harus kita fikirkan bagaimana kita bisa jatuh cinta lagi dan lagi pada pasangan kita, itu yang harus kita lakukan, sebisa mungkin jagalah komunikasi dan juga keharmonisan keluarga.