
Setelah perjalanan cukup lama akhirnya Devano telah sampai di Apartemen miliknya.
Devano langsung turun meninggalkan Nafisha di dalam mobil Nafisha mengikutinya turun dari mobil akan tetapi Nafisa harus mengambil koper yang dia bawa,.
"Dev apartemen kamu nomor berapa??" Teriak Nafisha
"Sebelas," Setelah mengatakan itu Devano langsung pergi meninggalkan Nafisa, tak peduli Jika Nafisa kesusahan sedikitpun.
Ceklek
Devano masuk terlebih dahulu, kemudian di susul oleh Nafisa dengan membawa kopernya.
"Dev," Panggil Nafisa.
"Duduk,"
"Hmmm," Nafisa begitu lelah menghadapi sikap Devano hingga akhirnya dia hanya bisa menghela napas dan menjawab seadanya.
"Nafisa gue gak mau lo atur hidup gue, meskipun lo udah jadi istri gue tapi lo gak berhak atur hidup gue, mau gue pulang malam, pacaran ke pokoknya lo jangan ikut campur urusin aja kehidupan lo jika di sekolah kita harus pura pura gak kenal, dan satu lagi untuk biaya kehidupan kita, gue setiap bulan akan tetap memberikan lo uang, terserah lo mau buat apa yang penting lo udah menerima nya, Dan ini uang untuk satu bulan kedepan," Devano menjelaskan dari A sampai Z hingga akhirnya dia menyodorkan uang kepada Nafisa untuk nafkah dan biaya hidup selama satu bulan.
"Di dalam amplop itu terdapat uang 10 juta rupiah," Ucap Devano setelah itu dia bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar apartemen, namun baru saja Devano sampai di dekat pintu untuk keluar Nafisa akhirnya buka suara.
"Dev trus kamar aku dimana,???" Tanya Nafisa dengan nada yang sangatlah lelah.
"Di samping kamar gue,"Jawabnya datar sambil menunjukan dimana kamar Nafisha.
"Hah jadi kita beda kamar gitu????," Tanya Nafisa tidak habis fikir.
"Ck, menurut lo????," Ucap Devano sambil melenggang pergi meninggalkan Nafisa di dalam Apartemennya.
Devano langsung menjalankan mobilnya menuju bascam tempat dimana geng ARION berkumpul, yang jadi ketua nya ya Devano sendiri, dengan wakil Arjuna kakaknya Devano meskipun mereka beda dua tahun akan tetapi tetaplah mereka kakak beradik yang terjun kedunia Racing.
Mereka berdua juga mempunyai tiga anggota lainnya yaitu Aldino Devan dan juga Deren.
Sesampainya di sana semua anak telah berkumpul hanya Devano yang baru datang.
"Baru nyampe lo Dev,"
"Iya bang,"
Arjuna hanya manggut saja karena dia sudah bersepakat untuk menyembunyikan pernikahan Adiknya.
"Bos kemana aja lo dua minggu ini??? Gak seperti biasanya???" Tanya Aldino penasaran.
"Sibuk,"
"Ck, dasar kulkas gini nih jika punya ketua yang irit bicara dan dingin seperti kulkas," Sahut Devan.
"Maksud Devano itu dia sedang sibuk," Deren menjelaskan ucapan Devano meskipun Deren itu Irit bicara tapi tidak separah Devano.
"Argggggh," Teriak Devano.
" Lo kenapa si bos datang datang langsung teriak teriak begitu kayak orang Frustasi aja," Tanya Devan.
"Berisik," Jawabnya dengan ketus.
Mereka semua diam setelah mendengar jawaban Devano, karena mereka tahu jika Devano seperti itu berarti sedang ada masalah akan tetapi semua anggota geng arion tidak ada yang berani jika Devano sedang mode galak bisa bisa mereka di amuk dan jadi sasaran kemarahannya yang nggak ngotak.
__ADS_1
Mereka saling tatap satu sama lain kecuali dengan Arjuna yang sedang anteng main game.
Mereka semua malah ngobrol lewat Chat.
"Si bos kenapa sih tidak seperti biasanya???? Tanya Devan
"Lah gue juga heran, gue kira lo tahu???"
"Ck, dasar kalian kevo banget sih sama si bos mungkin lagi ada masalah dengan pacarnya," Deren slallu saja menengahi jika mereka sedang kalut karena Deren usianya lebih tua dari mereka berlima.
Nafisa setelah berbicara yang penuh Drama dengan Devano akhirnya dirinya memutuskan untuk memasuki kamarnya yang berada di samping kamar Devano, bahkan Nafisa tak habis fikir dengan jalan fikiran Devano.
Bukan Nafisa tidak sakit hati ketika Devano bersikap seperti itu akan tetapi dia bisa apa, bila ngadu sama orang tuanya juga dia itu khawatir dengan keadaan ayah dan kakaknya yang nantinya akan mengkhawatirkan dirinya.
"Kuatkan hamba mu ini ya Allah," Lirihnya sambil memasukan barang barangnya kedalam lemari.
Setelah itu Nafisa berjalan menuju dapur untuk mengecek apakah ada bahan yang masih bisa di masak,...
Sesampainya di sana bahan dapur sudahlah lengkap mungkin mama Arini yang menyiapkannya.
Karena semua bahan sudah ada maka dari itu Nafisa langsung saja berkutat di dapur memasak untuk makan malamnya bersama Devano, Nafisa nggak peduli Jika nantinya Devano akan marah yang terpenting Nafisa berusaha terlebih dahulu.
Setengah jam berlalu.
"Akhirnya beres juga," Ucap Nafisa sambil menghidangkan makanannya di meja makan.
Setelah itu Nafisa tidak lupa membersihkan alat dapur yang baru saja dia pakai serta membereskan tempat itu, jika Devano marah akan ada drama lagi nantinya, sungguh Nafisa begitu lelah jika sudah berurusan dengan Devano yang garang itu lebih baik dia menghindari nya saja dari pada harus berdebat.
Nafisa langsung masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan bersih bersih karena badannya sudah sangatlah lengket dengan keringat tak lupa dia juga mengunci pintu apartemen dan kamarnya.
Ceklek
Nafisa keluar dari kamarnya dengan badan yang sudah segar.
Nafisa melihat kearah jam dinding disana waktu sudah menunjukan pukul 10 malam akan tetapi Devano belum juga pulang.
Nafisa terus saja mondar mandir di depan pintu apartemennya menunggu Devano pulang, Entah kenapa Nafisa begitu Khawatir dengan Devano yang belum pulang apalagi hari sudah malam.
Akhirnya Nafisa mencoba mengutak ngatik handphone mencari kontak Devano akan tetapi dia baru ingat jika dirinya belum mempunyai nomor Devano.
"Aish, aku lupa kan aku belum minta nomor ponselnya Devano," Gumam Nafisa sambil mikir.
"Apa aku Minta sama Mama aja ya, tapi jangan dekh takutnya mama curiga," Lanjutnya.
"Tau Akh gimana nanti aja yang penting dapat nomor Devanonya dulu,"
Akhirnya Nafisa mencoba menghubungi mamanya meskipun hatinya di liputi rasa bersalah dan juga takut mengganggu istirahat mama mertuanya.
Tuttt tuttt tuttt
"Hallo ada apa Nafisha,???" Ucapnya di sebrang sana.
"Ma maaf Fisha mengganggu waktu istirahat mama, Fisha boleh minta nomor Devano nggak ma, soalnya nomor ponselnya gak sengaja kehapus," Ucap Nafisha berbohong sambil menggigit bibir bawahnya.
"Okh boleh nanti mama kirim nomernya kalau begitu mama tutup dulu,"
"Iya ma makasih, maaf menggagu mama,"
__ADS_1
"Iya sayang santai aja,"
Panggilan pun terpurus
Tring
Suara pesan masuk kedalam handphone Nafisha yang berisikan nomor Devano dari mama Arini.
Tanpa pikir panjang Nafisha langsung menghubungi Nomor Devano.
Tuttt tuttt tuttt tuttt
1 kali panggilan
Dua kali panggilan
hingga lima kali baru di angkat.
"Hallo siapa,???" Tanya orang tersebut.
Nafisha tidak langsung menjawab akan tetapi diam sesaat.
"Kak Arjuna," Ucap Nafisha dengan lirih Nafisha bisa mendengar suara disana yang begitu berisik.
Dan Nafisha juga bisa mendengar suara Devano yang sedang bermesraan dengan wanita lain.
"Devano sayang Akh,"
Nafisha sekuat tenaga mencoba baik baik saja karena dirinya sedang berbicara dengan kakaknya Devano yaitu Arjuna.
"Fisha," Ucap Arjuna sambil berbisik.
"Kak mana Devano, kok belum pulang aku khawatir banget kak mana hari sudah malam," Tanya Nafisha dengan nada Khawatir.
"Ada lagi di sini bersama kakak,"
"Okh kalau begitu aku tutup dulu kak, jangan bilang aku menghubunginya kak,"
"Emmm baiklah," Ucap Arjuna.
Tutttt
sambungan telpon di putuskan sepihak oleh Nafisha.
"Siapa sayang???"Tanya Hazel kepada Arjuna.
"Nafisha," Jawab Arjuna lirih dengan tatapan sayu dan sendu.
"Hah jangan bilang dia---"Ucapan Hazel terhenti karena kaget dan juga syok dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Iya Hazel, aku gak tega liatnya dia berpura-pura kuat di sebrang sana, padahal aku juga tahu dia sedang menahan tangis, aku kakak yang nggak berguna Hazel aku gagal menjadi seorang kakak," Ucap Arjuna sambil memeluk Pacarnya Hazel.
"Adik gue memang brengsek, meskipun mereka menikah karena perjodohan akan tetapi setidaknya hargailah dia,"
"Sudah Juna ini bukan salah kamu,"
Hazel terus saja memenenangkan Arjuna hingga dia tertidur pulas didalam pelukan Hazel.
__ADS_1