
Setelah membaca surat Terakhir Nafisha Devano begitu Drop tapi entah kenapa pada saat itu fikiran Devano malah tertuju pada Jihan yang dia tinggalkan di apartemennya sendirian.
"Astagfirullah Jihan," Gumam Devano.
Meskipun hati Devano begitu tak karuan karena memikirkan Nafisha dan nasib rumah tangganya namun Devano juga merasa bersalah pada Jihan karena sibuk memikirkan bahtera rumah tangganya dengan Nafisha Devano sampai melupakan Jihan.
Devano berusaha untuk Adil karena di antara Nafisha dan Jihan itu sama sama istrinya.
Devano langsung saja pergi dari bascam Arion menuju Apartemennya, Sesampainya di sana Devano langsung mengetuk pintu apartemennya namun tidak ada yang membukakan nya.
"Jihan,"
"Jihan ini aku Devano,"
"Jihan," Teriak Devano.
Untuk saja Devano punya kunci cadangan Apartemennya, jadi Devano langsung saja membuka Apartemennya sendiri.
"Assalamualaikum Jihan," Ucap Devano saat memasuki Apartemen, Biasanya Jihan langsung menyambut nya dengan Hangat, tapi kali ini Apartemen terasa sepi bahkan rumah begitu Rapi.
Devano semakin gelisah saat Jihan tidak ada di Apartemen karena yang Devano tahu Jihan itu tidak punya siapa siapa kecuali Devano.
Devano langsung keluar dari apartemen dia langsung turun ke lobi dan bertanya pada Satpam di Depan.
"Maaf Pak apakah bapak melihat wanita yang berumuran 20 tahunan, atas nama Jihan,"
"Okh pasti bapak, bapak Devano???"
"Iya saya sendiri,"
"Maaf Pak ini Tadi ibu Jihan menitipkan ini pada saya," Satpam tersebut menyodorkan amplop coklat pada Devano.
__ADS_1
"Terima kasih Pak," Devano menerima nya Dengan tangan bergetar.
Setelah bertemu dengan Satpam di bawah Devano langsung pergi menuju apartemennya.
Devano duduk di sofa Ruang tamu sambil membuka aplikasi coklat tersebut dengan raut wajah heran dan juga penasaran.
"Apa ya ini sisinya," Gumam Devano.
Devano langsung Membuka surat itu dengan terburu buru dan membacanya Dengan saksama.
Assalamualaikum mas Devano Alexander.
Salam dari Jihan, Mas Jihan izin untuk pergi Jihan sadar kehadiran Jihan itu salah dan tak di harapkan, meskipun Jihan tahu mas Devano berusaha menerima Jihan dan juga berusaha adil untuk Jihan dan mbak Nafisha, tapi harus mas Devano tahu mbak Nafisha pergi karena adanya Jihan, Jihan memang menyayangi mas Devano namun Jihan sadar mas Devano bukan untuk Jihan, Andaikan Jihan lebih dulu bertemu dengan mas Devano mungkin Jihan akan senang dan bahagia, tapi ya sudahlah.
Mas untuk Detik ini Jihan minta mas Talak Jihan dan kembali ke mbak Nafisha, Jihan tahu mbak Nafisha pasti sakit hati atas pernikahan kita, Jihan bukan orang bodoh yang bisa bersikap tenang seperti mbak Nafisha yang berpura-pura tidak terjadi apa apa di Depan mas Devano, padahal Jihan tahu mbak Nafisha sedang menahan sakit karena kebohongan mas Devano karena Jihan, maka Dari itu kembalilah pada Mbak Nafisha anggap saja tidak terjadi sesuatu antara kita, kisah cinta kita memang begitu singkat tapi dalam waktu yang begitu sebentar kamu sudah mengukir kenangan yang indah di antara kita.
Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan untuk Jihan, Jihan pergi, Jika suatu saat Nanti kita bertemu kembali Jihan sudah bukan istri mas Devano kembali.
Salam Dari Jihan, Aku selalu mencintaimu suamiku.
"Akkhhhh Jihan kenapa kamu meninggalkan aku seperti Nafisha, Jihan aku harus apa???" Devano menangis meraung bahkan dirinya sudah lemas karena dari tadi terus saja menangis, niatnya pulang keapartemen itu untuk menenangkan diri dan meminta kekuatan pada Jihan tapi kenyataan nya Jihan juga meninggalkannya.
Di dalam pernikahan ini semua orang mengalami sakit baik Jihan Devano dan Nafisha, Terlebih Devansha yang tidak tahu apa apa harus merasakan kesedihan yang dalam karena hilangnya sosok ayah dalam sisinya.
Devanobsrkaranv telah hancur selanjutnya hancurnya.
Keluarganya merasa kecewa terhadapnya, Begitu juga dengan Nafisha yang lebih baik pergi dalam hidup Devano, sahabatnya yang semula menseportnya sekarang acuh tak acuh, dan terakhir Jihan meninggalkannya.
"Apakah Devano tidak pantas bahagia???"
Setelah Nafisha dan Jihan meninggalkannya Devano menjadi mayat Hidup yang tidak banyak bicara kebiasaan nya saat ini hanyalah minum minuman keras hingga teler bahkan Devano sudah tidak peduli lagi pada kesehatannya, yang Devano mau ketenangan dan kebahagiaan namun Devano malah melakukannya dengan cara yang salah karena Minuman itu hanya membuat kita lupa sementara pada masalah kita.
__ADS_1
Apartemen Devano yang tadinya bersih dan Rapi, Sekarang sudah berantakan dan banyak bungkus rokok dan botol Bir dimana mana, tak lupa sampah yang berserakan, Apartemen Devano jauh dari kata Rapi.
"Nafisha Hiks, aku harus bagaimana???" Gumam Devano.
Setelah menikah Dengan Nafisha Devano sudah jarang meminum minuman keras bahkan sudah tidak lagi meminumnya dan kali ini Devano meminumnya lagi dalam keadaan yang sangat kacau.
Sedangkan Di Rumah Nafisha, Devansha begitu rewel dan terus saja menangis entah kenapa tiba tiba Devansha merindukan ayahnya padahal biasanya dirinya tidak seperti itu.
"Umi Devansha mau Abi," Teriak Devansha namun Nafisha tidak keluar dari kamarnya, Nafisha membiarkan Devansha terus berteriak di ruang tamu bersama Novia yang sedang menenangkan Devansha.
"Sudah sayang nanti Devansha sakit," Novia berusaha menenangkan Devansha.
"Aunti Umi kenapa nggak keluar, Devansha mau ketemu sama Abi Aunti entah kenapa hati Devansha khawatir sam Abi," Gumam Devansha.
"Iya nanti kita ke rumah Abi, sama Umi," Bujuk Novia
Sedangkan Nafisha di dalam kamarnya sedang menangis sesenggukan dia tidak tega melihat Devansha yang begitu merindukan Abinya namun Nafisha juga belum sanggup untuk bertemu dengan orang yang menyakitinya.
"Aku harus bagaimana Dev," Gumam Nafisha.
"Kenapa hatiku merasakan sakit dan khawatir pada kamu Dev, sebenarnya apa yang terjadi pada mu disana," Nafisha terus saja berbicara sambil memegangi foto pernikahannya bersama Devano.
"Ada apa dengan hatiku ini tidak seperti biasanya seperti ini, sebenarnya ada apa dengan Devano???" Batin Nafisha.
Ikatan batin antara suami istri dan anak begitu kuat bahkan Devansha pun bisa metasakannya, padahal mereka tidak ada komunikasi sedikit pun akan tetapi hati mereka bisa merasakan hal yang sama.
"Semoga saja kamu baik baik saja Dev di sana bersama Jihan," Gumam Nafisha sambil menghapus air matanya.
Nafisha melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya untuk turun kebawah menemui Devansha dan juga Novia.
"Umi, "Teriak Devansha sambil berlari untuk memeluk Nafisha.
__ADS_1
Nafisha menyambut pelukan hangat Devansha bahkan Nafisha tak kalah erat memeluk Devansha.
dan akhirnya Nafisha dan Devansha menangis dalam diam bersama sama.