Wanita Bercadar Itu Istriku

Wanita Bercadar Itu Istriku
Koma


__ADS_3

Devansha begitu terpukul saat tahu umanya tertusuk Devansaha begitu sedih, setelah mengetahui apa yang menimpa uminya.


"Umi," Teriak Devansha sambil menunjuk kepintu ruangan Oprasi. bahkan Devansha sudah menangis dan berteriak histeris dalam pelukan Aldino.


"yang sabar sayang doakan Umi," Ucap Aldino dengan penuh kasih sayang.


"Umi, om," Rengek Devansha.


"Iya sayang iya," Aldino bingung harus bagaimana menghadapi Devansha yang begitu sedih bahkan Devansha tidak mau berhenti menangis.


Sedangkan Deren dan Devano sedang menemani Novia di ruangan nya.


Beberapa menit kemudian Aldino melihat lampu oprasi sudah berwarna merah dan itu tandanya oprasi telah selsai.


Ceklek


"Dokter bagaimana dengan Umi saya ???" Tanya Devansha pada Dokter tersebut.


"Bolehkah saya bicara sama dengan keluarga pasien??," Tanya sang dokter.


"Kami keluarganya,"


"emmm baiklah, saya hanya mau menyampaikan kalau ibu Nafisha mengalami koma karena beberapa tusukan yang begitu dalam dan pasien mengalami kebanyakan darah keluar," gumam sang dokter.


"Apa Umi saya koma Dokter???"


"Iya Adik kecil yang sabar ya nak," Sebenarnya dokter itu merasa tak tega untuk mengucapkan kenyataan ini pada Devansha tapi bagaimana pun Devansha adalah anaknya jadi mau tidak mau Dokter harus menyampaikan berita pahit itu.


"Bu Nafisha akan saya masukan ketuanv ICU untuk sementara waktu," Lanjutnya.


"Biak dok terima kasih," Gumam Aldino dengan lemas.


Jika di Indonesia keluarga Devano dan Nafisha sedang mengalami musibah dan cobaan berbeda dengan Jihan yang berada di korea.


Saat Ini Jihan sudah tinggal bersama tantenya, bahkan Jihan sedang dalam pake ngidam trimester pertama.


"Tante Jihan mau rujak," Teriak Jihan.


"Iya biar bibi yang membuatkannya," Jawab bibi Jihan.

__ADS_1


Bibirnya Jihan sudah mengetahui apa yang telah terjadi pada Jihan dan Bibinya menyarankan untuk memberitahukan Devano kalau Jihan sedang hamil, karena mau bagaimana pun Devano tetaplah ayah biologisnya dan anak yang di kandung Jihan itu darah dagingnya, namun Jihan menolak untuk memberitahukan Devano karena dia berjanji untuk tidak mengusik hidup Devano dan Nafisha, sudah cukup Nafisha menderita dan mengalah pada nya.


"Jihan apa tidak sebaiknya kamu kabari Devano jika kamu sedang hamil,???" Ucap bibi nya Jihan.


"Tidak bibi, biar saja aku yang akan mengurusnya sendiri,"


"Hmmm, kalau begitu bibi terserah kamu saja, tapi jika semisal nanti Anak itu menanyakan ayahnya kamu harus memberitahukannya pada Devano dan anak kamu,"


"Iya Bi baik,"


Jihan semenjak tinggal di korea dia menjadi lebih ceria dari pada sebelumnya bahkan dalam trimester pertama kehamilannya pu Jihan begitu bersyukur karena masih di kelilingi dengan keluarga yang masih menyayanginya, bahkan keluarganya sudah menganggap Jihan sebagai anaknya sendiri karena kebetulan Kekuarga bibinya tidak punya anak.


"Anak mama kamu yang sehat ya di dalam perut mama," Ucap Jihan sambil mengelus perutnya yang masih terlihat Rata.


Setelah mengucapkan itu Jihan langsung memakan Pesanan Rujaknya, entah mengapa semenjak hamil Jihan malah lebih suka makan Rujak dari pada makan Nasi, bahkan Ngidam Jihan itu tak neko neko untung saja, keluarganya Siap siaga jadi meskipun tidak ada Devano Jihan tidak merasa kehilangan orang yang dia sayangi.


Semenjak Hamil Nafsu makan Jihan bertambah dua kali lipat bahkan pipi Jihan sudah bulat seperti Baso, Namun Jihan tidak peduli toh dirinya sedang hamil muda, jadi itu sudah biasa.


Hari berganti hari bulan berganti bulan namun sampai saat ini tidak ada kemajuan pada kondisi Nafisha bahkan Devansha saat ini di sela kesibukannya dia selalu menyempatkan diri ke rumah sakit bersama Novia bibinya.


Namun saat mengetahui Nafisha koma karena menolong ayahnya Devano yang tidak tahu diri itu, Devansha semakin membenci Devano meskipun Devano sudah beberapa kali meminta maaf pada Devansha namun Devansha tidak akan memaafkan ayahnya yang sudah keterlaluan sampai Nafisha sadar dari komanya, biarlah itu pelajaran yang pantas untuk Devano.


Sembilan bulan telah berlalu Entah apa yang akan terjadi hari ini namun Devano merasakan akan ada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya hari ini.


Devansha yang sedang berada di mall begitu heran saat tiba tiba pihak rumah sakit menghubunginya.


Dert Dert Dert.


"Hallo,"


"Maaf tuan ibu anda mengalami kejang kejang dan kondisinya semakin memburuk saya harap anda segera datang ke rumah sakit," Ucap seseorang di sebrang sana.


"Apa, tidak tidak mungkin??? baiklah lakukan yang terbaik saya akan kesana sekarang," Ucap Devansha dengan panik.


Di umur Devansha yang baru berumur lima tahun itu dirinya sudah mahir dalam mengelola bisnis nya, karena Devansha berbeda dari anak yang lain yang Begitu Jenius dan juga pintar, kejeniusan dan kepintaran yang Menurun dari Nafisha.


Devansha langsung memberitahukan Novia kalau Nafisha saat ini sedang kritis dan bahkan kondisinya semakin memburuk, begitu juga Devano anak arion Dan anak Black Davil yang tak lupa Devansha hubungi.Sesampainya di rumah sakit Devansha terus berlari menuju ruangan Uminya.


"Umi," Teriak Devansha di depan pintu Ruangan uminya, dirinya tidak bisa masuk karena nafisha sedang di periksa oleh dokter.

__ADS_1


"Bagaimana ini dokter???" Tanya salah satu suster,"


"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin namun tuhan berbicara lain," Ucap sang dokter dengan tertunduk lesu


"Baiklah kalau begitu mari kita keluar,"


Ceklek


Suster dan dokter yang sempat memeriksa Nafisha langsung keluar dari ruangan Nafisha.


"Bagaimana keadaan Umi saya Dokter,??? Tanya Devansha.


"Maaf," Ucap sang dokter sambil tertunduk.


"Tidak tidak tidak mungkin Umi," Teriak Devansha sambil menerobos masuk kedalam ruangan Nafisha.


Di sana Devansha melihat Nafisha yang berbaring tak bernyawa.


Suster yang akan melepas semua alat pada badan Nafisha pun di cegah oleh Devansha.


"Jangan di lepas alat itu suster,"


"Tapi Dek,"


"Saya bilang jangan," Teriak Devansha dengan mata yang memerah dan melotot tajam pada suster tersebut, akhirnya suster pun menuruti apa yang Devansha katakan.


Devansha menangis sejati jadinya di ruangan Nafisha sambil menggoyangkan badan Nafisha.


Novia juga tak kalah sedih nya sama seperti Devansha, Baru saja Novia menemukan keluarganya akan tetapi Tuhan malah mengambilnya terlebih dahulu.


"Umi bangun Umi, jangan tinggalkan Devansha Umi, Devansha butuh Umi," Teriak Devansha sambil terus menggoyangkan Tubuh Nafisha.


"Nafisha bangun, jangan tinggalin kakak Nafisha," Teriak Novia sambil memeluk tubuh kembarannya itu.


Semua orang di sana baru saja sampai di ruangan Nafisha langsung memating saat Devansha dan Novia yang menangis sambil menjerit di dalam ruangan tersebut.


Deg


"NAFISHA," Teriak Devano.

__ADS_1


__ADS_2