Wanita Bercadar Itu Istriku

Wanita Bercadar Itu Istriku
Sadar.


__ADS_3

Sudah satu bulan Devano koma di rumah sakit, mama dan papanya silih berganti untuk menengok putra semata wayangnya bahkan Arjuna dan Hazel pun langsung pulang dari Amerika saat mendengar Devano kecelakaan namun mereka tidak tahu kalau Devano menikah lagi dan mempunyai istri ke dua yaitu Jihan.


Kebetulan saat Arjuna pulang dia sempat datang ke bascam Arion.


"Kapan lo pulang Jun???" Tanya Aldino.


"Baru saja gue nyampe, trus langsung kesini," Jawabnya.


"Ekh Nafisha mana gue kangen sama dia???'" Bukan Arjuna yang berbicara melainkan Hazel istrinya.


"Nafisha pergi bersama Devansha entah kemana kita juga nggak tahu, yang pasti dia hanya menitipkan mall dan juga caffe nya pada kita,"


"Istri macam apa dia??? Suami lagi sekarat malah di tinggal pergi," Arjuna yang mendengar ucapan sahabatnya begitu Marah dan kesal pada Nafisha.


" Bukan salah Nafisha Jun???"Lanjut Aldino.


"Apa jadi lo belain wanita itu ketimbang Devano sahabat lo," Tunjuk Arjuna yang tidak terima pada ucapan Aldino.


"Arjuna lo bisa diam napa sih, kita itu belum menjelaskan yang sebenarnya pada lo," Bentak Devan.


"Maksud kalian???" Hazel yang tadi diam saja seketika langsung buka suara.


"Devano menikah lagi tanpa sepengetahuan Nafisha," lirih Aldino dengan lesu.


"APA???"


"Hmmm kalau nggak percaya silahkan datang ke rumah sakit sekarang," Lanjut Devan.


Setelah mendengar ucapan sahabatnya Arjuna dan Hazel langsung saja ke rumah sakit untuk memastikan ucapan teman


temannya.


Sesampainya Di rumah sakit Arjuna dan Hazel langsung masuk ke ruangan Devano, benar kata teman temannya Devano telah menikah lagi, karena pertama yang Arjuna lihat adalah Jihan yang sedang menemani Devano sambil memegangi tangan Devano.


Jari tangan Devano perlahan mulai bergerak gerak mengusik Jihan yang sedang tertidur di brangkar Devano.


"Mas jari kami gerak mas," Teriak Jihan.


Devano mulai mengerjapkan matanya beberapa Detik setelah itu dia perlahan membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah langit langit bangunan rumah sakit, Setelah itu dia mengedarkan pandangannya dan orang yang pertama kali Devano lihat adalah Jihan.


"Jihan,"


"Iya mas???"

__ADS_1


"Kenapa aku berada di sini???"


"Kamu kecelakaan mas," Ucap Jihan.


"Sejak kapan???"


"Satu bulan yang lalu," Devano yang mendengar ucapan Jihan begitu terkejut, berarti Devano sudah 30 hari tak sadarkan diri.


Devano mencoba mengingat apa yang terjadi pada nya, hingga bayangan dirinya kecelakaan pun berputar di kepalanya.


"Hmm Dev," Arjuna berjalan menghampiri Devano bersama Hazel, karena sedari tadi dirinya hanya melihat dari ambang pintu masuk saja bahkan Arjuna sangat tahu pas Devano siuman.


"Bang Juna kapan lo pulang ???"


"Baru saja gue sampe kesini sama Hazel," Jawabnya dengan santai.


Saat Arjuna berbincang Dengan Devano Hazel dengan sengaja menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter, Dokter pun datang dengan tergesa gesa karena dia kira mungkin Ada sesuatu yang terjadi pada Devano.


Ceklek.


"Wah rupanya anda sudah siuman," Ucap sang dokter dengan tersenyum lebar.


"Biar saya periksa dulu, " Dokter pun memeriksa keadaan Devano.


"Dokter kapan saya pulang, saya ingin pulang Dokter," Gumam Devano dengan suara yang masih sedikit lemas.


Setelah mendengar ucapan Dokter tersebut wajah Devano langsung berubah seketika karena Dirinya sangat merindukan Nafisha makanya dirinya ingin cepat pulang je rumahnya, Devano lupa kalau Nafisha itu sudah pergi dari rumahnya bahkan Surat yang Nafisha titipan pada Aldino pun belum mereka berikan karena waktu itu Devano keburu kecelakaan.


"Nafisha kamu dimana aku merindukan mu," Ucap Devano dalam hati.


Sedangkan di Singapura Nafisha sedang bermain Bersama Devansha dan Devan mereka seperti keluarga kecil yang bahagia, tidak tahu saja kalau mereka itu bukan suami istri.


Ingatan Nafisha semakin hari semakin membaik, karena ada Deren yang terus mengingatkan mereka terhadap semua kejadian yang mereka lalui.


"Papi Devansha mau sekolah," Gumam Devansha pada Devan yang sedang di dalam pangkuannya.


"Emang nya Devan mau sekolah di sini,???" Tanya Nafisha.


"Iya Umi,"


"Devansha kan baru berumur 4 tahun sayang, Nanti Devansha sekolahnya jika sudah berumur 6 tahun oke,???" Bujuk Deren.


"Tapi Devansha maunya sekarang," Ucap Devansha dengan keras kepala.

__ADS_1


"Nafisha dan Derrn saling lirik satu sama lain hingga mereka hanya bisa menghela Nafas.


"Baiklah Nanti besok Papi urus surat kamu,"


"Benarkah???" Mata Devansha begitu berbinar saat dirinya mendengar ucapan Deren.


"Iya sayang," Jawab nya sambil mencium puncuk kepala Devansha.


Semakin hari Nafisha dan Deren semakin Dekat, bahkan mereka setiap harinya mengambil peran untuk menjadi ayah dan ibu yang baik.


"Jika saja kamu istriku Nafisha mungkin aku akan senang sekali meskipun Devansha bukan anak ku tapi aku menyayanginya,"Suara Hati Deren berbicara.


Nafisha juga Entah kenapa merasa nyaman Dengan Deren, padahal Nafisha tahu kalau Deren itu bukan suaminya karena Nafisha sudah mengingat semuanya, akan tetapi Nafisha mencoba berpura-pura di depan Devansha dan Deren, karena dirinya masih ingin Di Singapura untuk menenangkan diri.


Nafisha tidak tahu menahu tentang kecelakaan Devano, tohbdia juga baru sembuh pasca oprasi.


"Andai kamu yang menjadi suami ku Deren, Mungkin aku sangat senang dan bahagia mempunyai keluarga kecil dengan suami yang bertanggung jawab dan penyayang," Gumam Nafisha dalam hati.


"Dan kamu Devano tunggulah pembalasan ku, kamu sudah menolehkan luka yang begitu besar untukku dan anakku maka siap siaplah," Sambungnya.


Nafisha mencoba Tegar di depan Deren dan Devansha namun siapa sangka setiap malamnya Deren selalu melihat Nafisha yang sering menangis sendirian karena merasakan sakit hati yang begitu dalam.


"Devano gue bersumpah, gue orang yang peryama akan mengambil Nafisha dalam genggaman lo,," Gumam Deren sambil mengepalkan kedua tangannya.


Saat Nafisha sedang menangis dia teringat pada sahabat baiknya yang sekarang bekerja jadi pengacara dan ada juga yang jadi hakim di pengadilan agama.


"Deren, aku boleh pinjam Handphone kamu," Ucap Nafisha, tanpa babibu lagi Deren langsung menyodorkan Handphone nya.


Dert Dert dert


"Hallo Dengan siapa ya,???"


"Lina ini Nafisha,"


"Hah Nafisha lo kemana saja???"


"Perlahan Nafisha pun menceritakan apa yang telah menimpa pada keluarga nya.


"Yang sabar ya Nafisha lo pasti kuat,"


"Iya,"


"Jadi mau lo gimana,???"

__ADS_1


"Tolong urus surat gugatan Cerai aku dan kirim ke alamat rumah aku yang di jakarta, dan jangan lupa jika dia tidak mau menandatangani nya maka suruh saja Candra sang pengacara kawakan itu, Awas saja si Candra jika nggak mau nolongin gue, gue gibeng dia," Ucap Nafisha dengan bercanda gurau sedangkan Deren hanya mendengarkan nya tanpa ikut bersuara.


"Oke bos ku, kamu tenang saja tinggal terima beres," Jawab Lina sahabat Nafisha.


__ADS_2