Wanita Bercadar Itu Istriku

Wanita Bercadar Itu Istriku
Jivan Alexander


__ADS_3

Sedangkan Nafisha saat ini sedang berada di sebuah taman yang begitu luas terdapat hamparan bunga yang indah dan rumput yang begitu hijau.


Nafisha di sana mengenakan baju putih sama seperti yang lainnya namun saat Nafisha akan melangkagkan kaki menuju tempat yang sangat jauh ada seseorang yang memanggil namanya.


"Mbak Nafisha," Teriak orang itu sambil menghampiri Nafisha dengan senyum yang mengembang.


"Kamu, ngapain disini???"


"Harus nya aku yang bertanya seperti itu, sedang apa mbak disini??"


"Ini adalah tempatku sekarang,"


"Mbak pulanglah disini bukan tempat untuk Mbak," Ucap orang tersebut sambil tersenyum menawan kepada Nafisha.


"Mbak belum saatnya ada di sini, pulanglah Mbak Devansha dan mas Devano sedang menunggu mu," Sambungnya


"Tapi aku sangat nyaman untuk tinggal di sini,"


"Pulanglah Mbak demi keluarga Mbak, dan aku mohon tolong jaga anakku Mbak," Gumam Orang tersebut dengan sendu.


"Lalu anakmu dimana sekarang,???" Tanya Nafisha kepada orang tersebut, karena sedari tadi dia bersamanya Nafisha tidak melihat adanya seorang anak ataupun bayi.


"Dia ada di Korea bersama Tanteku, tapi aku khawatir sama dia Mbak dia tidak punya siapa siapa di sana, selain aku, jadi aku titip Anakku padamu Mbak," Ucapnya setelah mengucapkan itu Orang tersebut langsung menghilang dengan cahaya yang menghilaukan mata Nafisha.


Di ruangan Nafisha semua orang sudah berkumpul bahkan mereka merasa sedih atas kematiannya Nafisha, Devansha dan Devano termasuk Novia sangatlah terpuruk saat ini, mereka tak berdaya dan tak kuat menahan rasa sakit saat orang yang mereka sayangi meninggalkan nya.


Namun tiba tiba entah keajaiban dari mana layar monitor kembali bekerja dan menampakkan detak jantung Nafisha yang sebelumnya sempat berhenti.


Tut tutt tut tutt


Devansha langsung mengalihkan pandangannya dapat layar monitor tersebut.


"Umi, Aunty Umi aunty detak jantung Umi berjalan kembali Aunty," Teriak Devansha pada Novia yang sedari tadi menangis sambil memeluk Devansha.


Semua orang yang tadinya sedang bersedih langsung mengalihkan pandangannya pada layar monitor.


"Ini sebuah keajaiban," Gumam sang dokter.


"Maaf bolehkah saya memeriksa pasien sebentar,???"

__ADS_1


"Silahkan Dokter," Dokter itu pun langsung memeriksa keadaan Nafisha.


"Ini sungguh aneh, padahal tadi pasien keadaannya semakin memburuk dan detak jantungnya melemah, namun kali ini saya tidak bisa berkata apa apa, karena untuk saat ini pasien sudah melewati masa keritisnya mungkin sebentar lagi akan segera sadar," Ucapan sang dokter membuat semua orang di sana menampilkan raut wajah bahagia.


"Terima kasih dokter kabar baiknya.


Jika Nafisha akan segera sadar berbeda dengan keadaan Jihan yang sedang melahirkan anaknya, namun siapa sangka setelah kelahiran anaknya Jihan mengalami pendarahan yang cukup hebat, hingga Jihan dinyatakan meninggal dunia setelah melahirkan.


Namun Di detik detik terakhir Jihan sebelum meninggal mengucapkan satu patah kata pada tantenya.


"Tante Jika Jihan tidak bisa menjaga Anak Jihan maka Jihan titip pada tante, dan Jika Nanti Mbak Nafisha berkenan untuk merawatnya maka berikanlah dia padanya tante,"


"Jihan kamu bicara apa Jihan,"


"Maaf tante tapi aku tidak kuat, Dan beri nama dia Jivan Alexander,"


Setelah mengatakan itu Jihan langsung menutup matanya sambil tersenyum seolah olah dia sudah tenang dan bahagia.


"Jihan jangan tinggalkan tante Jihan," Teriak tante Jihan namun tidak ada sahutan dari Jihan membuat Tantenya Jihan terduduk dengan lemas.


"Baiklah Jihan tante akan menempati janji dan memegang amanat kamu," Gumamnya sambil memeluk tubuh Jihan yang sudah terbujur kaku di Ranjang rumah sakit.


"Benar kata Jihan semua orang telah menungguku, kasihan mereka," Batin Nafisha berkata seperti itu karena Nafisha tidak tega melihat semua orang di sana yang sedang tertidur karena kelelahan.


Devansha saat ini tidur di samping belangkar Nafisha sambil merebahkan kepalanya kepada lengan Nafisha, Namun saat Devansha sedang tertidur Devansha merasakan elusan halus di puncuk kepalanya, dan karena pergerakan tersebut Devansha merasa terusik dan mulai membuka matanya.


"Orang yang Devansha lihat pertama kali adalah Nafisha yang sedang tersenyum kepada Devansha.


"Umi," gumam Devansha.


"Suttt diam, semua orang sedang tidur Devansha,"Nafisha berbicara sambil berbisik pada Devansha.


"Iya Umi maaf," Gumam Devansha pelan.


Nafisha dan Devansha terdiam sesaat mereka bahkan fokus dengan pikirannya masing masing.


"Devansha, "


"Iya Umi,"

__ADS_1


"Jika Devansha punya adik, Apakah Devansha akan menerimanya??? Karena Anak itu anaknya Uma Jihan," Gumam Nafisha pelan.


"Maksud umi, Uma Jihan punya Dede bayi,???" Tanya Devansha dengan Nada yang sedikit terkejut.


"Iya sayang apakah kamu akan menerimanya???" Ucap Nafisha hati hati karena dia takut menyakiti hati Devansha.


"Kenapa kita harus menerima nya Umi, padahal uma Jihan sudah jahat sama Umi," Gumam Devansha pelan dengan nada yang sendu.


"Bukan begitu Sayang, tapi masalahnya bayi itu saat ini sudah tidak punya siapa siapa, Umi mohon Devansha," Gumam Nafisha pada Devansha sambil menatap wajah Devansha.


"Baiklah Umi Devansha akan menerimanya Demi Umi,"


"Jika begitu kamu bantu Umi, berangkat ke korea tanpa sepengetahuan mereka semua termasuk Abi kamu,"


"Baik Umi, tapi Umi harus berpura-pura terlebih dahulu," Gumam Devansha sambil membisikan rencana mereka berdua, sedangkan Nafisha dia hanya mengangguk anggukan kepalanya saja.


Di pagi harinya Devansha menyuruh semua orang untuk pulang dan tak lupa dia juga menitipkan mall dan juga caffe pada Aldino dan Bagas.


Sebenarnya semua orang masih ingin Di rumah sakit setidaknya menunggu Nafisha sadar namun apa boleh buat Devansha memaksa mereka untuk pulang terlebih dahulu setelah itu mereka nanti siang di perbolehkan untuk datang kembali ke rumah sakit.


"Devansha tante di sini aja ya, boleh???" Novia memohon pada Devansha,.


"Hmm boleh," Gumamnya.


Semua orang telah pulang kecuali Devansha dan Novia.


"Umi bangun semua orang sudah pulang Umi," Gumam Devansha pada Nafisha sambil menggoyangkan tangan Nafisha.


"Eghhh, Devansha diam dan jangan banyak bicara Nanti mereka akan curiga," Gumam Nafisha.


Sedangkan Novia yang melihat Nafisha sudah sadar dari komanya langsung berhambur memeluk Nafisha meskipun di awalnya tadi dia sedikit terkejut dan tidak percaya.


"Devansha kenapa kamu tidak bilang sama Aunty kalau Umi sudah sadar," Novia merasa kecewa pada Devansha.


"Maaf Aunty tapi ini permintaan Umi dan ceritanya panjang, jadi sekarang bantu Devansha untuk bersiap kita bertiga sekarang akan ke Korea hari ini juga,"


"Apa??? Untuk apa kita ke sana???"


"Nanti Aunty akan tahu sendiri, tapi sekarang tolong bantu Devansha Aunty," Novia sebenarnya bingung dengan ucapan Devansha tapi Mendengar ucapan Devansha Novia hanya mengagguk saja, mungkin Nanti di pesawat Novia akan meminta penjelasan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2