
Sesampainya Di mansion Alexander Devano langsung berlari kedalam mansion mencari sang ibu hanya dialah yang bisa menenangkan fikirannya saat ini.
Sedangkan Arini yang melihat anaknya pun langsung saja angkat suara meskipun dirinya kasihan terhadap Devano tapi rasa kecewa nya lebih besar.
"Ngapain kamu pulang kesini Devano," Tanya mama Arini dengan Nada dingin.
Sedangkan Arjuna yang dari tadi bersama mama nya pun hanya diam karena dia tahu keadaan Devano sekarang tapi tidak dengan permasalahan nya.
"Ma udah dekh kenapa mama Dingin banget sama Devano sih ma," Tanya Arjuna kepada mama nya karena dia heran dengan sikap mamanya yang dingin tiba tiba kepada Devano.
"Dia emang pantas mendapatkannya," Ucap Mama Arini Dengan Nada yang lebih dingin.
"Kenapa kamu dian DEVANO ALEXANDER, "Ucap Mama Arini yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Mama," Ucap Devano.
"Kenapa kamu baru sadar hah setelah apa yang telah kamu lakukan??"Tanya mama Arini dia tak habis fikir dengan anaknya ini yang membuat dia sangat kecewa dan merasa gagal mendidik anak.
"Mama sudah tahu," Tanya Devano.
Bukannya menjawab mama Arini malah ketawa terbahak bahak.
Hahahahahahah
"Devano bahkan mama lebih tahu dari pada kamu suami nya sendiri, mama kecewa sama kamu Devano," Terlontar sudah rasa kekecewaan ibunya kepada Devano.
"Mah mama ngomong apa sih aku nggak ngerti,???" Tanya Arjuna.
"Lihat Ini," Ucap Mama Arini sambil menyodorkan Handphone nya.
Arjuna yang memang penasaran dengan apa yang mereka bicarakan pin langsung saja mengambil Handphone mamanya dan melihat apa yang mama nya tunjukkan.
Mata Arjuna melotot tak percaya saat melihat hal yang menjijikan itu.
"Bangsat lo Dev, gue kecewa sama lo anjing," Ucap Arjuna sambil mendekat kearah Devano.
Bugh bugh bugh.
"Dev lo tuh bajingan, siapa yang mengajarkan lo menjadi laki laki yang bajingan hah, lo tahu lo menyakiti hati Nafisha istri lo, dan itu sama saja lo menyakiti hati mama goblok, ingat Dev mama dan Nafisha juga sama sama perempuan anjing, lo fikir lo lahir dari mana anjing jika bukan dari rahim perempuan," Ucap Arjuna Dengan Nada Emosi.
"Gue kecewa sama lo Dev gue gak nyangka adik yang gue jaga dan gue didik supaya menjadi laki laki yang bertarung Jawab itu ternyata brengsek bahkan lebih brengsek dari lelaki terbrengsek," Ucap Arjuna sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mansion.
Brak
Pintu utama Arjuna banting dengan keras.
"Mama kecewa dengan kamu Dev, mulai saat ini mama dan papa akan cabut semua pasilitas kamu termasuk uang bulanan kamu Dev,"Ucap Mama Arini.
"Dan kamu Dev belajar lah Dari kesalahan, jangan mencari Nafisha lagi Karena dia sudah pergi dari semalam,Entah sampai kapan dia akan kembali,"
"Puas kamu menghancurkan hati anak mama Dev, mama sangat kecewa sama kamu Dev," Mama Arini langsung pergi meninggalkan Devano.
__ADS_1
Sedangkan Devano yang di perlakukan seperti itu dengan kakak dan mama nya pun langsung terdiam di tempat, fikiran Devano Entah kemana bahkan tatapan nya pun kosong, dia tidak menyangka bahwa apa yang dia sembunyikan Rapat Rapat akhirnya terbongkar sudah.
Benar kata pepatah mengatakan serapat rapatnya bangkai engkau sembunyikan akan tetapi tetap akan tercium juga.
Badan Devano terhubung kedepan, akan tetapi sekuat tenaga Devano menahannya supaya tidak terjatuh ketanah.
Kondisi Devano begitu memprihatinkan rambut yang acak acakan baju yang lusuh dan muka yang sudah tak terkondisikan karena banyak memar dan tanda biru apalagi di sudut bibirnya yang sudah banyak darah mengering.
Sedangkan Diposisi Nafisha saat ini dirinya sudah sampai di mansion Alexander yang berada di Amerika Serikat.
Nafisha sebenarnya berat untuk meninggalkan Devano tapi apa boleh buat karena Nafisha juga tidak menampik bahwa dirinya begitu sakit hati saat Devano bermain di belakangnya.
"Huh semoga saja aku bisa melupakan kejadian itu,"
"Anggap saja itu adalah pelajaran untuk mu Dev, supaya kamu tidak main main dengan sebuah pernikahan," Sambungnya.
Nafisha di Amerika Serikat di temani dengan adiknya papa Dion, Seoarang wanita paruh baya yang masih terlihat muda di usianya yang sudah berkepala 4.
Saat sampai disana Nafisha disambut dengan Ramah oleh Tante Indri adiknya papa Dion.
"Hallo Nafisha," Ucap Tante Indri sambil menghampirinya.
"Tante,"
Ya Papa Dion sudah menceritakan semuanya tentang Tante Indri jadi Mafisha tidak perlu ragu lagi dengan wanita satu ini.
"Mari masuk," Ucap Tante Indri.
"Nafisha Jangan sungkan anggap saja ini rumah kamu ,tenang saja kak Dion sudah menceritakan semuanya kok," Ucap Tante Indri.
"Iya tan,"
Dert Dert dert
"Sebentar Tante angkat dulu telpon," Ucap Tante Indri.
"Iya tan,"
"Nafisha, ini mama kamu nelpon," Ucap Tante Indri sambil menyodorkan Handphone nya.
"Ekh, " Ucap Nafisha.
"Mama Arini," Ucapnya saat melihat nama dalam layar Handphone tantenya.
"Hallo ma,"
"Hallo Fisha apakah kamu sudah sampai ??" Tanya mama Arini.
"Sudah ma, baru saja sampai," Ucapnya.
"Okh sukur Dekh kalau begitu, Okh iya Fisha mama sudah mentransfer uang bulanan kamu sebagai Nafkah kamu,"
__ADS_1
"Iya ma terimakasih,"
"Sama sama sayang,"
"Kalau begitu mama tutup dulu telponnya sekarang kamu istirahat gih,"
"Iya ma,"
Setelah panggilan terputus Nafisha langsung memberikan Handphone Tante Indri kepada nya.
Nafisha baru ingat kalau ternyata dirinya tidak membawa Handphone sama sekali.
"Akh kenapa aku bisa melupakan Handphone ku," Ucap Nafisha.
"Sepertinya Aku harus meminta Tante indri untuk menemaniku berbelanja,"
Namun baru juga akan menghampiri Tante Indri Badan Nafisha sudah limbung dan terhubung kedepan
Brugh.
Nafisha terjatuh dan pingsan , Tante Indri yang melihat Nafisha Pingsan pun langsung panik,
"Olivia tolong bantu mama nak," Teriak Tante Indri kepada anaknya.
"Sedangkan Olivia yang ada di lantai atas langsung buru buru turun ke bawah.
"Ada apa ma, mama kenapa???" Tanya Olivia dengan Nada Khawatir
"Tolong bantu mama untuk mengangkat Nafisha, Dia pingsan," Ucapnya dengan nada Panik.
"Iya ma," Olivia membantu mama nya mengangkat Nafisha ke atas sofa.
"Periksa dia Liv mama khawatir," Ucap mamanya.
"Iya ma,"
Kebetulan Olivia adalah Seorang dokter makanya mamanya menyuruh Olivia untuk memeriksanya.
"Maaf kan Tante Nafisha," Tangan Indri perlahan mulai membuka cadar yang Nafisha kenakan.
"Cantik, "Ucap Mama Indri
"Wah cantik sekali kak Nafisha ini, "Ucap Olivia dengan antusias.
"Olive Cepat periksa keadaan nya,"
"Baik ma,"
Olivia perlahan mendekatkan stetoskopnya kepada Nafisha dan dia juga tak lupa mengecek Nadi tangannya.
"Aku nggak bisa memprediksinya tapi kita tunggu sampai di siuman baru kita Cek kembali kak Nafisha,"
__ADS_1
"Oke baiklah,"