
"Assalamualaikum, sayang aku pulang," Ucap Devano.
"Waalaikum salam," Jawab Nafisha sambil mengulurkan tangannya.
"Abi Devansha kangen," Teriak Devansha di lantai atas sambil berlari menuju Devano dan
Hap
Devansha memeluk Devano dengan tiba tiba untung saja Devano cepat menangkap Devansha dan memegangnya dengan Erat.
"Sayang jangan di ulangi lagi kalau jatoh bagaimana???" Ucap Devano pada Devansha.
"Maaf Abi Devansha terlalu senang saat Abi pulang,"
"Maafkan Abi ya nak,"
"Iya Abi,"
Sedangkan Nafisha yang melihat interaksi keduanya pun langsung beranjak pergi menghindari mereka berdua.
Nafisha memasuki kamar mandi Dapur dengan Nafas yang memburu.
Brak
Nafisha menjatuhkan badannya di belakang pintu kamar mandi.
"Ya allah aku harus bagaimana, aku takut jika Devansha mengetahui hal yang sebenarnya, aku nggak sanggup ya allah," Ucap Nafisha sambil memeluk lututnya dia menenggelamkan kepalanya kedalam lututnya sambil menangis terisak di kamar mandi.
Sedangkan Devano melihat tingkah Nafisha menjadi curiga ada apa dengan Nafisha tidak seperti biasanya.
"Sayang turun dulu yah, Abi mau nyusul dulu Umi mu nak," Ucap Devano dengan suara yang embut.
"Iya Abi," Devansha turun dari pangkuan abinya dan berjalan menuju sofa.
Devano berjalan mencari Nafisha namun dirinya tidak menemukan nya sama sekali.
"Nafisha kamu dimana sayang???" Teriak Devano.
Ceklek
"Iya Bi Nafisha di sini," Jawab Nafisha sebisa mungkin dirinya mencoba bersikap biasa saja.
"Huh aku kira kamu kemana sayang," Devano mendekati Nafisha lalu memeluk nya dari belakang.
"Sayang aku merindukanmu," Gumamnya tepat di samping telinga Nafisha.
Nafisha yang di perlakukan seperti itu oleh Devano bukannya merasa bahagia akan tetapi dirinya malah merasakan sakit hati yang luar biasa saat dia mengingat Devano telah menghianatinya.
"Dev kita kedepan Devansha pasti menunggu kamu," Nafisha tidak menjawab ucapan Devano bahkan sekarang dia mencoba menghindar dari Devano supaya dia tidak semakin merasakan sakit hati.
"Sekarang kedepan temui Devansha, dari kemarin dirinya Nangis terus ingin bertemu dengan ayahnya, aku akan menyiapkan keperluan kamu dulu, " Nafisha mencoba memberi pengertian pada Devano.
"Kamu kenapa Fisha, aku seperti asing dengan mu saat ini , bahkan kamu menghindari ku, ada apa denganmu," Namun Percuma saja jika Devano bicara seperti itu karena dia hanya mengucapkan nya dalam hati.
"Baiklah,"
Devano melangkahkan kaki menuju Anaknya berada dan menemaninya untuk bermain Bersama Devansha karena dia juga merasa bersalah pada anaknya hingga dia menangis.
Devano bermain Dengan Devasha di ruang tamu namun saat Devano menemani Devansha Devano teringat kepada Jihan.
"Bagaimana keadaan nya sekarang," Gumamnya.
Devano begitu khawatir kepada jihan yang ia tinggalkan sendiri di apartemennya hingga dia memutuskan untuk menghubungi Jihan.
"Sayang abi keluar sebentar ya,"
__ADS_1
"Iya Abi,"
Devansha langsung berjalan menuju Dapur kebetulan di sana sangatlah sepi.
Dert Dert Dert
"Hallo,"
"Sayang kamu baik baik saja kan???" Tanya Devano pada Jihan.
"Aku baik mas,"
"Syukurlah kalau begitu,"
"Nanti aku akan kesana,"
"Iya mas,"
Devano terus saja telponan bersama dengan Jihan dia tidak menyadari saat ini Nafisha sudah berada di belakangnya bahkan Nafisha juga mendengar obrolan mereka dengan jelas, hati Nafisha begitu sakit saat Devano mengucapkan sayang pada orang lain biasanya dirinya yang selalu di sebut sayang olehnya tapi sekarang Devano mengucapkan untuk orang lain selain dirinya.
Nafisha yang tak kuat mendengar ucapan romantis yang Devano ucapkan pada Jihan dia langsung saja pergi dari sana menjauhi Devano, bahkan Nafisha sudah berlari keluar rumah dan berjalan tanpa arah.
"Hiks hiks ya allah aku gak kuat menghadapi semua ini," Ucap Nafisha sambil bersimpuh di jalan bahkan badannya pun sudah merosot ke aspal.
" Nafisha," Teriak seseorang di Depan Nafisha.
Nafisha mendongak menatap orang tersebut sambil menyeka air matanya.
"Dokter Andri,"
"Kamu kenapa Nafisha???" Tanya Dokter Andri begitu Khawatir kepada nya.
"Saya tidak papa dok,"
Ucapan Dokter Andri bagaikan angin segar untuk Nafisha, Nafisha yang tadinya menangis langsung segera bangkit dari duduknya dan menatap wajah Dokter Andri, mencari kebohongan dari matanya Namun Nafisha tidak menemukannya.
"Baiklah aku akan bersiap sekarang,"
"Baiklah kita janjian di bandara," Jawab Dokter Andri.
"Baiklah, Dua jam lagi aku akan sampai di bandara,"
"Oke,"
Setelah percakapan dengan Dokter Andri Nafisha langsung pulang kerumahnya dengan berlari begitu Cepat.
Brak
Nafisha membuka pintu dengan sangat keras.
"Nafisha kamu habis dari mana sayang???" Tanya Devano Dengan raut wajah yang khawatir.
"Aku baru dari luar sebentar,"
"Syukurlah kalau begitu, Sayang aku mau keluar sebentar ada keperluan mendadak apakah aku boleh pergi," Tanya Devano dengan hati hati.
"Iya gak papa kok Bi, okh iya Sekalian Bawa Devansha kasian dia di tinggal ayahnya terus,"
Devano terdiam sejenak dan memikirkan ucapan Nafisha barusan.
"Kalau Devansha aku bawa itu lebih bagus karena dia akan mengenal Jihan, kan dia juga mamanya," Ucapnya dalam hati.
"Baiklah ,"
"Aku berangkat dulu assalamualaikum,"
__ADS_1
Cup
Devano mencium Kening Nafisha Setelah itu dia melenggang pergi bersam Devano keluar dari dalam rumahnya.
"Aku harus bersiap sekarang, aku yakin Devano akan menemui Jihan di apartemennya,"
Nafisha langsung berlari menuju kamarnya dan bersiap siap untuk pergi, tak lupa dia juga menyimpan secarik Kertas di atas meja rias kamarnya.
Dert Dert Dert
"Hallo Queen,"
"Kamu jaga Devansha dan awasi dia, aku sekarang akan berangkat untuk berobat, Jika Devano datang kesana tolong berikan sebuah amplop coklat yang berada di ruangan ku,"
"Baik Queen,"
Setelah panggilan terputus Nafisha langsung pergi dengan membawa kopernya tak lupa dia juga memesan taxi online.
Devano mengajak Devansha menuju Apartemennya karena dia begitu Khawatir terhadap Jihan.
Tok tok tok
Ceklek
"Mas," Ucap Jihan sambil menyalimi tangan Devano.
"Abi dia siapa???" Tanya Devansha dengan polos nya.
"Dia Uma mu nak, panggil saja dia Uma," Ucap Devano Dengan Entengnya Devano lupa kalau Devansha itu mempunyai otak jenius seperti Uminya Nafisha.
"Devansha mengalami Jihan," Salan kenal tante aku Devansha,"
"Panggil saja tante Jihan," Jawab Jihan Dengan senyum lebar kepada Devansha.
"Abi bolehkah aku meminjam Handphone Abi,"
"Boleh,"
Devano memberikan Handphone nya pada Devansha tanpa rasa curiga sedikit pun.
Devano masuk kedalam apartemen bersama Jihan Sedangkan Devansha langsung saja masuk kedalam kamarnya yang di lantai atas.
"Abi Devansha ke kamar dulu ya,"
"Iya sayang,"
Devansha seakan mengerti tentang keadaan yang Umi dan Abinya Hadapi, tanpa banyak bicara Devansha langsung menghubungi Nomor Nafisha namun sayang nya nomor nya tidak aktif.
"Sial, aku harus menghubungi papi Deren," Gumamnya.
"Hallo"
"Pi jemput aku sekarang di apartemen tante jihan,"
Sebelum Deren menjawabnya Devansha sudah memutuskan sambungannya.
"Sial dasar Anak ini," Deren misuh miauh tak jelas tapi dia juga tetap menuruti ucapan Devansha.
Sedangkan Devansha saat ini sedang mengurak ngatik handphone ayahnya entah sedang apa dia.
"Akh selesai," Gumam Devansha sambil melihat pada layar ponsel Devano Dengan teliti.
"Apa, Kenapa Umi sekarang menuju bandara, Umi mau kemana???" Gumam Devansha.
Devansha langsung mengirimkan pesan pada Papi nya yaitu Deren untuk cepat menjemputnya dan meminta untuk mengantarkan Devansha ke bandara tanpa sepengetahuan siapa pun.
__ADS_1