
"Fisha Jawab yang jujur itu baby siapa??" Tanya Devano yang sudah terkulai lemas.
"Iya Dev ini bayi aku, kenapa kamu nggak percaya denganku sih," Jawabny9a.
"Iya aku percaya tapi ini siapa suami nya??" Ucap Devano dengan muka yang kusut bahkan Devano udah beberapa kali meraup wajahnya.
"Kamu fikir ini anak siapa Dev,??" Tanya Nafisha yang semakin gencar menggoda Devano.
"Fisha aku serius," Ucap Devano yang sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi.
"Aku juga serius Devano," Ucap Nafisha sambil mengambil baby nya dari gendongan Bagas dan memberikannya kepada Devano.
"Adzani Dev, dan berilah nama, " Ucap Nafisha dengan tatapan mata yang berbinar.
"Mak-sud ka-mu I-ni,???" Ucap Devano dengan mata yang sudah berkaca kaca,.
Ea Ea Ea Ea.
Pandangan Devano pun teralihkan kepada bayi mungil yang sudah ada di pangkuannya.
"Cup cup cup sayang, iya jangan Nangis nak," Devano menenangkan Baby Devano Junior dengan terus mengusap pucuk kepala Baby itu.
"Fisha," Devano memandang wajah Nafisha.
Nafisha menganggukan kepalanya kepada Devano dengan mantap.
Devano pun mendekatkan bibirnya kearah telinga sang bayi dan langsung mengadzaninya, Setelah mengadzaninya Devano langsung mencium seluruh wajah baby itu bahkan tak terasa air matanya pun ikut menetes saking terharunya, ternyata buah kesabarannya langsung mendapatkan hadiah yang allah berikan kepada nya.
"Hiks hiks hiks Fisha, " Devano terisak dalam tangisnya bahkan sekarang dirinya sudah mendekati Nafisha dan memeluknya.
"Maafkan aku Nafisha," Lirih Devano tepat di samping telinga Nafisha.
"Hiks hiks hiks kamu jahat Devano, " Nafisha mencoba menyalurkan rasa sakit nya pada Devano.
"Iya aku emang jahat Nafisha , aku pantas mengalami ini semua bahkan aku tak pantas mendapat kan hadiah yang begitu berharga, terima kasih Nafisha aku sayang kamu, aku janji setelah ini tidak akan mengecewakan mu lagi,"
"Sudah ya Dev jangan nangis," Ucap Nafisha sambil menyeka air mata Devano.
" Hiks Iya,"
Nafisha dan Devano tersenyum dengan bahagia.
"Dev berikan dia nama,"
__ADS_1
Devano hanya mengangguk sambil tersenyum menatap bayi mungil yang berada di gendongan Devano.
"Namanya Devansha Alexandra,"
"DEVANSHA ALEXANDRA???"
"Iya Devano Nafisha (DEVANSHA) Alexander Narendra (ALEXANDRA),"
"Wah nama yang cantik," Bukan Nafisha yang menjawab melainkan seseorang yang dari arah belakang yang berjalan ke arah mereka berdua.
Devano dan Nafisha langsung membalikan badannya.
"Olivia," Ucap Nafisha dan Devano bersamaan.
"Hai mana baby ku," Ucap Olivia sambil mengambil Baby Devano junior dari pangkuan Devano.
"Olivia ikh jangan di ambil," Rengek Devano pada sepupu laknatnya itu.
"Dih, siapa Ente, aku yah yang rawat dia, yang membantu melahirkan dia aku Dokter nya," Olivia memicingkan matanya kepada Devano dengan tatapan meremehkan.
"Benar Nafisha,"
"Heh, Devano jadi lo gak tahu selama ini Nafisha tinggal bersama kami di Amerika, laki laki macam apa ku Dev," Olivia langsung menjewer telinga Devano.
Semua orang yang ada di sana tampak syok dengan kejutan yang Nafisha berikan, sedetik kemudian mereka terharu saat melihat pemandangan Nafisha dan Devano yang begitu akur dan harmonis bahkan mereka sampai meneteskan air matanya saking terharunya, mereka juga bisa merasakan apa yang Devano rasakan, mereka jadi saksi perjalanan rumah tangga Devano dan Nafisha.
Setelah acara romantisan mereka langsung makan makan di sana, Dengan Devano yang tak mau jauh dari Nafisha.
"Nak, kamu tuh kenapa sih, semuanya tubuh kamu mirip ayah kamu, padahal Umi yang mengandung mu loh," Ucap Nafisha kepada bayinya.
Sedangkan Devano hanya diam saja sambil tersenyum, karena apa yang Nafisha ucapkan itu semuanya benar anak pertamanya itu lebih mirip condong pada Abi nya bak pinang di belah dua, semoga saja sifatnya nggak kaya abinya.
"Umi, apakah waktu di Amerika umi mengalami ngidam yang berlebihan, maaf kan aku Umi di saat kamu ngidam aku tidak ada di sampingmu," Ucap Devano Dengan rasa bersalah.
"Hahahah, aku nggak ngidam tahu bi, bukannya kamu yang mengalaminya mana minta sate Byawak lagi," Nafisha tertawa sambil membayangkan Devano yang merengek meminta sate Byawak.
"Kok aku nggak nyadar ya ternyata sikap aku yang aneh itu adalah efek ngidam, " Devano berbicara dengan nada polosnya.
"Hahaha yaiyalah orang kamu nggak tahu aku sedang hamil," Ucap Nafisha.
"Okh iya kamu kapan tahu kamu sedang hamil Umi??" Devano begitu penasaran Dengan hal itu.
"Di hari pertama aku sampai di Amerika,"
__ADS_1
"Okh,"
Nafisha dan Devano udah main sebut Umi Abi saja, padahal mereka tidak di rencanakan cuma celetukan Nafisha kepada bayinya membuat Devano mengikuti sebutan Nafisha dan itu mengalir seperti air saja tanpa mereka mereka sadari.
"Maafkan aku Umi, karena telah melukai hati mu, aku mengaku salah dan menyesal atas kesalahan ku, aku tidak meminta kamu untuk memaafkan ku tapi aku Tulus meminta maaf kepada mu," Ucap Devano Dengan menundukan kepalanya.
"Sebenarnya waktu itu aku akan mengajukan cerai pada mu, tapi allah malah memberikan aku amanah yang paling besar, hingga lama kelamaan dialah yang menjadi pelipur laraku," Jawabnya sambil mencium pipi Devansha.
"Ekhem Ekhem Ekhem,"
Suara Deheman membuyarkan dua sejoli itu.
""Dunia terasa milik berdua, yang lain mah ngontrak," Celetuk Bagas.
"Akh kalau gitu mah aku mau pindah ke planet Mars aja," Jawab Aldino.
""Hallo kecebong, sini sama om Aldino yang baik hati dan tidak sombong," Ucap Aldino pada Devansha sambil mengambilnya Dari gendongan Nafisha.
"Yuk Akh kita main, biarkan Umi dan Abimu berduaan," Bagas mengajak Aldino untuk pergi dari sana sambil membawa Devansha.
"Umi kita sana yuk," Tunjuk Devano ke arah taman di Depan Maĺl yang sengaja Devano buat untuk istirahat.
"Abi apa nama mallnya???" Tanya Nafisha.
"Mall Devansha,"
"Hah Devansha, bukankah itu nama bayi kita,"
"Iya, Entah kenapa aku suka nama itu, bahkan sebelum aku tahu kamu punya anak," Jawabnya dengan jujur.
"Ikatan batin ayah dan anak itu kuat ternyata,"
"Sayang aku merindukanmu bahkan semenjak kamu pergi hidup aku tak tentu arah," Devano menceritakan kehidupannya disaat Nafisha pergi meninggalkannya.
"Sudah Dev, jadikan lah itu pelajaran untuk diri kita, mulai sekarang kita tutup buku dan buka lembaran baru,"
"Kamu yakin Fisha kamu memaafkan aku,??" Devano tak menyangka jika Nafisha begitu mudah untuk memaafkannya.
"Trus kamu nggak mau dampingi aku gitu buat jaga Devansha, jikh nggak tanggung jawab banget kamu Dev, maun senangnya aja kamu," Gerutu Nafisha dengan kesal.
"Bukan gitu,"
"Yaudah kalau gitu gimana??"
__ADS_1
"Maksudnya aku itu," Devano tidak melanjutkan ucapannya karena dirinya merasakan frustasi dan sudah berkali kali meraup wajahnya bisa terlihat dari raut wajahnya yang tertekan.