
" Maaf sayang, papi ada urusan sebentar nanti pulang," pamit Dennis.
" Mau kemana sayang?" tanya Elisabeth.
" Katanya kantor lagi masalah makanya papi mau ke kantor dulu," ucap Dennis berbohong.
" Masalah apa pi?" tanya Elisabeth penasaran sambil menatap suaminya dari arah samping.
' Apa yang harus aku katakan? Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau aku memberikan pelajaran orang-orang yang telah mengganggu keluargaku,' ucap Dennis dalam hati.
" Di tanyain kok malah melamun? Aku percaya kalau suamiku tidak mungkin selingkuh." ucap Elisabeth sambil tersenyum.
cup
" Mana mungkin aku selingkuh, kamu adalah anugrah yang terindah yang Tuhan berikan untukku." ucap Dennis sambil memeluk istrinya kemudian mengecup kening istrinya.
" Aku percaya padamu, jaga dirimu dan jaga hatimu untukku." Pinta Elisabeth sambil membalas pelukan suaminya.
cup
" Percayalah padaku hatiku hanya untukmu seorang dan tidak ada wanita lain selain dirimu." ucap Dennis sambil mengeluarkan kembali kening istrinya dengan lembut.
Mikael yang melihat keromantisan ke dua orang tuanya hanya bisa tersenyum bahagia dan tidak berapa lama Dennis dan Elisabeth melepaskan pelukannya.
" Papi, aku ikut ya?" Pinta Mikael.
" Apakah kamu tidak cape?" tanya Dennis
" Tidak Pi," jawab Mikael
" Papi agak lama," ucap Dennis
" Tidak apa - apa pi," jawab Mikael
" Ok," jawab Dennis singkat
" Papi dan Mikael hati - hati di jalan." ucap Elisabeth sambil membuka pintu mobil.
" Ok," jawab Dennis dan Mikael singkat.
Elisabeth turun dari mobil kemudian Dennis mengendarai mobil kembali menuju ke tempat markas milik kakak iparnya yang bernama Arlan. Dennis menghubungi Arlan dan sambungan pertama langsung di angkat oleh Arlan.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Cerita tentang Arlan dapat di baca di novel dengan judul Cinta Satu Malam Bersama Mafia 2 sedangkan cerita tentang Dennis dengan Elisabeth dapat di baca di novel Tentara Dingin VS Dokter Dingin
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Kak Arlan, apakah semua sudah siap?" Tanya Dennis
" Sudah, kakak juga ada di markas," jawab Arlan
" Ok, sebentar lagi kami akan sampai," jawab Dennis
__ADS_1
" Memang siapa yang ikut?" tanya Arlan.
" Mikael," jawab Dennis
" Apa anakmu tidak kaget ternyata papinya seorang mafia juga?" tanya Arlan
" Aku akan mengatakannya," jawab Dennis
" Ok," Jawab Arlan
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung terputus kemudian Dennis menyimpan kembali ponselnya. Dennis mengetuk - ngetuk stir kemudi dengan menggunakan masing - masing jari telunjuknya.
" Ada apa pi?" tanya Mikael yang mengerti kalau papinya ingin mengatakan sesuatu tapi ragu untuk mengatakannya.
" Mikael, papi mau berterus terang padamu kalau sebenarnya papi dan saudara - saudara papi adalah keluarga mafia," ucap Dennis
" Mikael sudah tahu Pi. " jawab Mikael dengan santai.
cittttt
Dennis yang terkejut mengerem mobilnya secara mendadak untunglah jalanan sedang sepi dan Dennis serta Mikael bisa menahan tubuhnya agar tidak terbentur ke arah depan dengan menggunakan ke dua tangannya.
" Papi." ucap Mikael.
" Hehehehe... maaf karena papi kaget... Dari mana kamu tahu?" tanya Dennis sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
" Tapi para istri tidak tahu kalau para suaminya adalah mafia," ucap Dennis yang mengerti ucapan gantung Mikael.
" Tepat sekali, papi kenapa tidak terus sama mami begitu pula dengan semua paman kenapa tidak berterus terang?" tanya Mikael.
" Mami dan semua tante mu tidak suka dengan kekerasan apalagi sampai membunuh." ucap Dennis menjelaskan.
" Tapi kenapa tadi mami tidak marah waktu papi menembak penjahat?" tanya Mikael
" Itu karena keadaan mendesak baru boleh menembak dan asal kamu tahu hanya mami mu yang boleh kita memegang pistol sedangkan para pamanmu tidak diijinkan memegang pistol," ucap Dennis.
Mikael hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan tidak berapa lama mereka sudah sampai di markas. Banyak anak buah Arlan yang berjaga dan mereka menundukkan kepalanya tanda hormat sedangkan Dennis mendorong kursi roda Mikael masuk ke dalam markas.
" Apakah mereka sudah mengaku siapa dalangnya?" tanya Dennis dengan nada dingin ketika mereka sudah sampai di dalam ruang penyiksaan.
" Belum tuan," jawab anak buahnya Arlan.
" Dennis bagaimana kalau salah satu dari mereka aku masukkan ke kandang anaconda atau ular piton?" tanya Arlan.
" Lakukanlah," jawab Dennis.
" Kamu, ambil salah satu dari mereka dan masukkan ke kandang anaconda," perintah Arlan
" Baik tuan," jawab anak buahnya.
" Satu lagi masukkan ke dalam kandang ular piton," perintah Dennis.
__ADS_1
" Baik tuan," jawab anak buahnya Arlan.
" Berarti apa yang dikatakan kak Albert benar kalau paman mempunyai dua binatang peliharaan ular piton dan anaconda." ucap Mikael.
" Apakah putraku Albert juga mengatakan ke istri paman?" tanya Arlan dengan nada kuatir.
" Paman tenang saja ini rahasia para sepupu untuk tidak mengatakan ke siapapun," ucap Mikael.
" Kalau tidak mengatakan ke siapapun kenapa kamu bilang sama paman dan papi mu?" tanya Arlan
" Hehehehe, itu pengecualian," jawab Mikael sambil tertawa terkekeh - kekeh.
Arlan hanya tersenyum dan mengacak rambut ponakannya. Tidak berapa lama tirai berukuran besar terbuka tampak aquarium besar dan semua orang menatapnya termasuk para penjahat.
Biasanya aquarium berisi ikan tapi aquarium raksasa ini berisi ular besar membuat siapa saja merinding kecuali Arlan, Dennis dan anak buahnya Arlan.
" Papi serem banget ularnya." ucap Mikael sambil bergidik ngeri.
" Awal pertama iya tapi kalau sudah terbiasa tidak ngeri kecuali kita masuk ke dalam sana lebih ngeri," ucap Dennis.
Pria itu dibaringkan di lantai dengan di pegangin oleh ke dua pria, pria pertama memegangi ke dua tangannya dan pria ke dua memegangi ke dua kakinya.
" Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Dennis dengan aura membunuh.
Hening
Hening
" Tekan tombolnya," ucap Arlan
" Baik tuan," jawab anak buahnya dengan patuh.
Anak buahnya kemudian menekan tombol kemudian lantai itupun terbuka bertepatan ke dua anak buah Arlan melepaskan tangannya dan tubuh pria itu masuk ke dalam kemudian meluncur ke arah aquarium bersamaan lantai tersebut tertutup kembali.
Ular besar yang melihat mangsanya sedang berlari untuk menyelamatkan diri membuat ular besar tersebut bergerak dengan cepat kemudian menarik pria malang itu dengan menggunakan tubuh ular itu dan melilitnya.
Pria itupun berusaha memberontak tapi tenaganya kalah jauh setelah pria itu mulai melemas ular itu membuka mulutnya dengan lebar kemudian mulai memakannya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Hal itu membuat para penjahat serentak buang air kecil dan menelan salivanya dengan kasar karena takut teramat sangat. Terlebih satu pria yang sedang di pegang oleh dua anak buah Arlan karena sebentar lagi giliran dirinya.
" Apa kalian tetap tidak mau bicara?" tanya Arlan sambil menatap satu persatu para penjahat.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Apa jawaban mereka ? Di tunggu bab selanjutnya ya?
Ayo donk vote, like, komentar dan hadiahnya biar author semangat menulisnya.
Author mengucapkan terima kasih banyak atas vote, like, komentar dan hadiahnya, maafkan author kalau ada komentar yang tidak di balas yang pasti author membaca semua komentar kalian dan author sangat berterima kasih yang tak terhingga hingga karya saya masuk ke karya digemari oleh masyarakat. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua dalam memberikan author vote, like, komentar dan hadiahnya.
Dari author Yayuk Triatmaja
__ADS_1