
Bab 2. Meminta Restu
Motor ninja berwarna hitam itu berhenti tepat di sebuah pekarangan rumah yang lumayan besar dan juga luas. Buktinya di sana bisa terparkir dua mobil bermerk Avanza, pun tidak jauh dari pintu masuk rumah, ada sebuah pura yang mengeluarkan aroma dupa yang begitu menyengat dan Itu menandakan kalau pemilik kediaman ini, baru saja melakukan ibadah rutin mereka.
Agung sebagai pengemudi motor besar itu memarkirkan kendaraannya tepat di belakang mobil berwarna hitam tersebut. Dia bergerak menurunkan kedua kakinya untuk dia jadikan penyangga agar kendaraan besar roda dua bermerk ninja itu, tidak goyah saat Puspita mulai melakukan pergerakan.
"Adek, Abang sering katakan kalau Adek mau turun itu bilang-bilang. Kebiasaan deh gerak-gerak enggak karuan gitu," omel Agung yang mendapati Puspita bergerak tidak karuan. Saat ini dia sudah memposisikan tangannya terangkat hingga sejajar dengan pundak dan siap dijadikan bahan pegagan.
Puspita terkekeh geli. Entah kenapa setiap kali dia mendapati Agung yang mengomel, dia pasti akan tertawa. Padahal tidak ada yang lucu, tapi setiap bait yang keluar dari mulut Agung terdengar layaknya sebuah lawakan yang menggelitik perutnya.
Sementara untuk Agung sendiri. Dia tidak keberatan ditertawakan seperti itu. Malahan ia akan bahagia jika melihat Puspita mengeluarkan sebuah tawa. Baginya, keluarnya suara itu menandakan kalau Puspita tidak pernah sekali pun merasa tersiksa karena bersamanya.
Tidak tersiksa bukan berarti tidak ada masalah. Semua hubungan pasti punya banyak masalah. Orang yang baru berpacaran satu tahun saja bisa sampai puluhan bahkan lebih mendapatkan konflik. Apa lagi Agung dan Puspita.
Mereka yang sudah dari dua belas tahun bersama, bisa dibilang sudah merasakan pahit manisnya rasa curiga, putus sepihak, dan bahkan lebih parahnya, dulu, hubungan mereka pernah berhenti selama satu atau enggak dua tahun. Kalau enggak salah, mereka bubar karena ada orang ketiga. Saat itu Agung masih baru-baru sekali menjadi atlit selancar internasional, dia sering digosipkan oleh paparazi kalau sering bermain wanita.
Agung memang seorang atlet selancar dan hingga kini dia masih menggeluti olahraga air itu. Pun dia juga membuka sebuah usaha kecil-kecilan yang menjual dan menyewakan segala macam alat untuk menikmati olahraga air di Senggigi beach, salah satu tempat wisata yang ada di pulau Lombok.
Nah, karena berita itu. Puspita yang kiranya waktu itu masih menjadi remaja labil, menerima berita-berita itu dan parahnya lagi. Dia langsung meminta putus dari Agung karena sebuah artikel yang kebenarannya masih bisa diragukan.
"Maaf, tapi tetap Abang yang salah. seharusnya Abang juga peka dikit. Kalau udah berhenti itu ya langsung dong. Masa iya, harus aku dulu yang minta baru terus Abang mau pegangin," protes Puspita sembari menyambar tangan Agung.
"Iya, Abang yang salah." ujar Agung mengiyakan omelan Puspita yang menyalahkan dirinya.
Puspita tidak berbicara lagi. Wanita itu mulai bergerak turun dengan kaki kiri dia letakkan di pedal kemudian, kaki kanannya bergerak terangkat dan mulai memutari motor dari belakang.
"Hati-hati!" peringat Agung yang badannya terlihat sedikit miring. Puspita tidak menggubris karena dia memilih untuk menapaki kaki mungilnya di paving blok pekarangan rumah.
"Makanya besok-besok pakai mobil. Udah tahu pacarnya pendek, malah pakai motor ginian."
__ADS_1
Setelah menapakkan kedua kakinya di permukaan paving blok, Puspita menggerutu. Namun, percayalah, itu hanya kata-kata candaan yang sering kali dia gunakan untuk menggoda Agung.
"Besok kita beli, tapi tunggu uang cukup dulu," jawabnya dengan sedikit cekikikan.
Itulah yang selalu diucapkan oleh Agung untuk menjawab gerutuan Puspita. Dia juga tidak lupa mengelus kepala wanita itu untuk mengakhirinya.
Puspita yang selalu mendapati perlakuan itu setelah menggerutu, hanya menyengir. Padahal itu adalah candaan, tapi Agung selalu saja menganggap perkataannya itu serius.
Sebenarnya Agung tidak menganggap itu serius sih, tapi laki-laki itu lebih mengartikannya ke sebuah tantangan yang harus dia capai. Setiap apa yang keluar dari mulut kekasihnya, selalu dia masukkan ke dalam list yang harus ia capai dalam hidupnya.
Contoh, dulu Puspita mengatakan kalau dia mau menikah, Agung harus memiliki rumah sendiri dulu dan enam bulan kemarin, laki-laki itu sudah berhasil membeli sebuah perumahan. Itulah kenapa mereka berada di sini sekarang, di kediaman keluarga besar Agung. Mereka ke sana tentu untuk meminta restu. Pokoknya setiap apa yang terlontar dari mulut Puspita, itulah yang akan dia prioritaskan.
"Ayok, mereka mungkin udah nunggu, Dek." Setelah berhasil turun juga, Agung langsung mengajak Puspita. Puspita menganggukkan kepalanya dan wanita itu langsung menggenggam jemari besar tangan kanan Agung dan setelahnya, mereka berdua berjalan masuk ke sebuah rumah tingkat dua, khas seperti kediaman milik masyarakat kelas menengah.
***
"Agung, Puspita, selamat datang. Mari gabung sini, udah lama loh kami nungguin." Seseorang wanita paruh baya menyeletuk dari meja makan menggunakan bahasa Indonesia, tapi sedikit berlogat khas Bali yang masih terdengar jelas di setiap kata-katanya.
"Iya, sini duduk. Bapak udah laper dari tadi nih. Apalagi adikmu. Tuh lihat wajah Widhi."
Yang menyeletuk ini adalah Bapak Agung, Kadek Sutrisna. Dia sering di sapa oleh para karyawan dengan panggilan Pak Bli. Namun, itu adalah cerita dulu karena sekarang yang melanjutkan usaha toko lampunya adalah Widhi Wirsyudha, anak keduanya. Jadi, sapaan Pak Bli itu sekarang, sudah agak jarang, tapi tetangga tetap memanggilnya begitu.
"Tare, perut udah dari tadi nagih makanan." Dengan wajah masamnya, Widhi berucap. Logat bali disetiap kata-kata yang terucap dari bibirnya ternyata tidak bisa dihilangkan.
Widhi Wirasyudha, Adik satu-satunya dari Agung yang sekarang menjadi penerus usaha lampu bohlam keluarga. Sebenarnya, laki-laki dua puluh lima tahun itu tidak ada niatan secuil pun untuk meneruskan usaha keluarganya.
Namun, mau bagaiamana lagi. Dia terpaksa melakukannya karena tidak ada penerus lain selain dirinya di keluarga ini. Awalnya Agung yang terpilih, tapi kakaknya yang terkenal dengan sikapnya yang datar itu, menolak dan memilih jalan karirnya sendiri.
Andaikan Widhi bisa seberani Agung, mungkin dia sudah menjadi seorang pasukan abdi negara hari ini. Namun, ketakutannya di cap menjadi anak durhaka, membuat dia urung.
Di sisi Agung. Saat ini dia hanya memperlihatkan raut wajah datarnya. Laki-laki itu sepertinya tidak terhibur dengan celetukan yang keluar dari Ayah dan juga adiknya.
__ADS_1
Sementara Puspita. Dia dari tadi sudah terkekeh walau sedikit, tapi dia terhibur dengan ucapan-ucapan keluarga dari kekasihnya.
"Ayok," ajak Agung dengan menolehkan kepala ke arah Puspita yang berdiri di sebelah kanannya.
Puspita mengulas senyum dan dia ikut menganggukkan kepala untuk menyetujui ajakan dari kekasihnya itu. Mereka berdua berjalan beriringan, tapi tidak saling mengandeng seperti saat diluar tadi.
Nyoman yang melihat gelagat dua orang itu, menaikkan satu alisnya. Namun, dia tidak sedikit pun menaruh kecurigaan.
"Duduk-duduk!" perintah Nyoman sembari menunjuk dua kursi kosong yang ada di sisi kanan meja makan, tepat di hadapannya.
Agung masih setia dengan wajahnya yang datar, tapi dalam hati, laki-laki itu sekarang sedang dilanda kegugupan. Padahal dia mengira kalau semua ini akan berjalan cepat seperti rencana, tetapi semua terasa berbeda setelah melakukannya. Bagaimana yah, kata-kata yang ingin dikeluarkan laki-laki itu seperti tertahan di kerongkongan, seolah itu sangat susah untuk dikeluarkan.
Puspita pun begitu. Dia langsung menundukkan kepalanya, kedua jari telunjuk tangannya bergerak saling bertautan dan itu pertanda, dia juga dilanda kegugupan.
Bli Kadek serta Nyoman yang melihat kedua anaknya bersikap aneh dan tidak seperti biasanya itu, mulai menaikkan satu alis mereka. Sepasang suami istri paruh baya itu saling menatap.
"Kalian kenapa?" Nyoman memutus kontak matanya dengan sang suami karena dia langsung melihat ke depan, tepat ke arah dua anaknya yang masih berdiri dan entah kapan akan bergerak duduk.
Agung menelan ludah. Dia bergerak meraih jemari tangan kiri Puspita untuk dia genggam dan itu tepat di hadapan kedua orang tuanya.
Agung berdahem, "Sebenarnya Agung datang ke sini karena ingin menyampaikan sesuatu." Dia menjeda ucapannya hanya untuk menoleh melihat Puspita yang saat ini sedang mendongak menatap ke wajahnya.
Nyoman dan Bli Kadek masih mendengarkan dengan wajah tenang, tapi di sana sudah jelas tersirat sebuah ketidaktahuan.
Agung kembali menatap ke arah kedua orang tuanya, "Agung itu sekarangkan sudah berusia dua puluh delapan tahun dan kalian tahu sendiri, 'kan? Kalau laki-laki sudah berusia segitu, berarti dia sudah mateng banget untuk menikah." Laki-laki itu kembali menjeda ucapannya hanya untuk menelan ludah karena dia tiba-tiba merasa tenggorokannya mengering.
Nyoman masih setia mendengarkankan. Dia sepertinya tahu maksud dari perkataan anak pertamanya ini, tapi tetap saja dia masih bingung.
"Terlebih lagi, aku juga sudah punya penghasilan sendiri, usaha sendiri, dan rumah sendiri. Jadi, kedatanganku ke sini untuk meminta restu menikahi Puspita, sekaligus meminta izin untuk berpaling agama."
#Bersambung
__ADS_1