
Setelah mendapat laporan dari mata-mata itu dia membanting pintu dengan pintu sambil langkahnya menuju ke arah ranjang lalu tak lama kemudian jemarinya menari-nari di atas keyboard.
Sebab gadis itu tengah menyelidiki kejadian yang menimpa om-nya dengan mengambil alih kendali atas perbuatan yang dilakukan oleh Morgan Gayatri Smith.
Sekitar lima belas menit berlalu dan alangkah terkejutnya gadis itu mendapat kenyataann yang menampar dirinya. Perbuatan yang dilakukan oleh om-nya itu berasal dari kesalahan fatal dan lebih mengejutkan sang om terjebak dalam pengaruh obat penggrasang dosis tinggi.
Orang yang menjebak om-nya itu merupakan seseorang dibenci oleh dirinya sendiri.
Mau sehebat apa pun kau tak akan pernah bisa mendapatkan om-ku karena aku sangat tahu tujuanmu mendekatinya dan kupastikan setelah ini aku tak akan pernah memercayai setiap bualan yang aku ucapkan.
Bahkan jemari gadis itu terus menerulusi di atas keyboard untuk mencari wajah seseorang yang harta berharga terenggut paksa dan tercenganglah dia ketika menemukan wajah tersebut.
"Sialan si bujang lapuk ini ... sudah mengecewakanku dan dia malah merenggut harta miliknya ... kali ini aku tak akan pernah memaafkanmu dan sebelum itu lebih baik aku menghukum sampai dia kau bawa ke hadapanku."
Tekadnya bulat karena dia akan memberi hukuman untuk sang bujang lapuk agar mau bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya itu.
Bahkan dirinya berjanji akan menemui orang itu secara diam-diam dan meminta maaf atas nama si bujang lapuk serta memberi sebuah kartu limited edition untuk memberikan kehidupan karena dia sangat yakin gadis yang direnggut paksa oleh om-nya menghasilkan seorang anak.
Menyelidiki latar belakang dari gadis tersebut yang tak membutuhkan waktu lama dia dikejutkan dengan data gadis yang begitu familier dibenaknya.
Sungguh malang nasibmu di saat kau banting kerja keras untuk kedua orang tuamu, tapi apa yang kau jaga harus terenggut oleh om-ku. Namun, itu tak akan ada artinya bagimu dan aku janji akan membantumu bersembunyi karena aku ingin dirinya menyadari kesalahan yang telah diperbuat.
Dia pun teringat esok pagi akan mengunjungi makam mendiang sang mama dan saat itu dirinya akan memberi pelajaran untuk si bujang lapuk tersebut, yang hanya karena suatu kesalahan terpaksa Araela Ayudia Gayatri Smith begadang sambil membereskan kekacauan yang dibuat oleh, Morgan dengan menghapus beberapa rekaman dan menyisakan beberapa bagian penting untuk menghilangkan jejak sang gadis terenggut.
*
*
*
Keesokan hari sinar mentari telah menyambut di sebuah tempat yang menjadi saksi peluh keringat antara Morgan dan seorang gadis direnggutnya.
Bujang lapuk itu meringis sakit di kepala karena obat peranggsang benar-benar mengendalikan pikirannya yang tanpa disadari ia tak memakai apa pun selain tubuh kekarnya polos tanpa sehelai benang.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Arghh ... sialan! Dia benar-benar wanita licik yang ingin menjebakku dengan trik murahan, tapi mengapa aku bisa sampai di sini? Lalu darah ini milik siapa? Kemeja dan celanaku pun tak ada di tempatnya. Kenapa hanya benda sialan ini yang tertinggal." Morgan bermonolog sembari memikirkan seseorang yang telah direnggutnya paksa.
Pria itu menyambar ponsel untuk menghubungi mata-mata yang menjadi bayangannya sambil terus memikirkan kejadian menimpanya.
Tak berselang lama kemudian panggilannya pun tersambung yang tanpa berbasa-basi pria itu menyuruh sang mata-mata, membawakan pakaian ganti karena dirinya teringat akan mengunjungi makam seseorang yang begitu berharga untuk bujang lapuk itu.
"Jangan lupa setelah kau membawakanku ganti ... minta rekanmu yang lain untuk memeriksa rekaman ini ... harus segera kau laporkan kepadaku sekarang!"
"A ... nu, tuan muda ... mengenai itu sudah ada orang lain yang menghapus jejaknya."
"Kau tidak mencandaiku bukan?"
"Saat saya baru sampai di sini malam tadi ... semua rekaman itu sudah terhapus dan jejaknya pun tidak lagi, tuan muda."
"Kutunggu kau di sini dan jangan lupa bawakan apa yang sedang kubutuhkan!"
Panggilan itu pun berakhir dengan dirinya yang mematikan. Tak ingin membuat si bayi mungil-nya menunggu pria itu pun membersihkan diri. Bahkan dia terbawa suasana saat sedang berbagi peluh yang ternyata membuat candu berbahaya bagi Morgan.
"Arghh ... sialan! Rasa itu membuat candu berbahaya untukku ... hei, siapa pun kau harus bertanggung karena tubuhmu membuat dia kembali tegak."
Setengah jam berendam di air dingin sambil menenangkan sesuatu yang mengamuk. Akhirnya Morgan mengakhiri ritual dan menyambar cepat sebuah paper bag yang berisi pakaian ganti.
Tak lupa dirinya menyuruh mata-mata untuk membawa dan menyimpan sebuah benda tertinggal yang akan dia simpan sendiri sebagai pengingat bahwa dirinya tak akan melupakan malam hangat yang begitu panjang.
"Jangan sampai bayi mungilku mengetahui hal ini ... bawa dan letakkan di dalam kamarku ... karena nanti aku sendiri mengaturnya."
"Baik, tuan muda."
"Jika nanti kau bertemu wanita yang mengaku-ngaku pernah tidur denganku ... jangan pernah sedikit pun kau memercayainya ... pastikan kau dan rekan-rekanmu terus mencari keberadaannya setelah memeriksakan darah ini. Paham!"
Morgan melangkahkan kakinya setelah itu dia memutuskan untuk pulang karena sekarang janjinya akan menemani sang bayi mungil berkunjung ke makam.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu, di sebuah kantor sudah dua hari ini Prasetya menginap di dalam ruangan yang hanya dia sendiri mengetahui ruangan rahasianya.
Mengingat pria baya itu enggan kembali ke mansion karena merasa kecewa dengan istri kedua yang berpuluhan tahun dia nikahi itu.
Sebab, wanita itu selalu menghasut pikiran untuk membenci seorang anak kandung yang tak pernah dianggap ada, demi menyayangi seorang anak yang sama sekali tak ada hubungan darah dengannya.
Maafkan aku atas semuanya dan jika memang ayah menjodohkanmu dengan pilihannya. Papa akan merestuinya dan aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Semoga engkau memaafkan kekhilafan yang pernah kulakukan untuk kalian.
Prasetya memutuskan akan mengunjungi makam seseorang yang selama menjadi bayangan penyesalannya dan dia juga akan menebus semua luka yang ditorehkan kepada putri tunggalnya.
Berbicara mengenai putri tunggal pria baya itu sedikit ragu dengan status Sonya yang selama ini melekat sebagai bagian dari keluarga Smith.
Rahasia apa yang selama ini begitu rapi disembunyikan, bahkan kemunculan Bastian pun saat ini menjadi tanda tanya dibenak pria baya itu.
Apakah ada sesuatu yang selama ini terlewatkan? Untuk itulah dia berusaha mati-matian bertahan sampai menemukan, titik rasa penasaran yang beberapa terakhir ini mengganggu pikirannya.
Setelah berlama-lama merenung di dalam kamar pribadi rahasianya, pria baya itu akhirnya keluar dari kamar dan tak lupa menanyakan beberapa kepada sekretaris pribadi, yang ternyata ia adalah asisten bayangan dari Tuan Besar Gunawan Gayatri Smith.
"Apakah istriku datang mencariku?" Prasetya tanpa berbasa-basi langsung menodongnya.
"Ya, Pak Pras ... sudah dua hari terakhir nyonya dan nona mencari keberadaan, Anda."
"Lalu apa kau mengatakan aku dua hari terakhir bersembunyi di ruangan rahasiaku? Apa mereka menemukan ruangan rahasia itu?"
Ruangan rahasia yang dimaksud tempat persembunyian selama dua hari terakhir. Mengingat tidak ada seorang pun yang mengetahui, hanya sang pemilik dan sekretaris di depannya ini yang mengetahui tempat tersebut.
"Tidak, Pak ... nyonya hanya menggeledah beberapa tempat saja ... bahkan beliau acuh-acuh saat melewati ruangan rahasia, Anda."
"Pastikan dia tidak menemukan ruangan rahasia milikku ... karena tempat itu hanya aku yang bisa mendatanginya ... apa kau paham tugasmu!"
"Baik, Pak Pras."
"Hari ini kau yang mengambil alih rapat dan pastikan permintaanku kemarin sudah kau laksanakan. Jika nyonya mencariku katakan aku sedang tidak ingin diganggu."
__ADS_1
Tanpa menoleh ke belakang Prasetya melangkahkan kaki ke tempat di mana dia akan mengunjungi seseorang yang selama ini begitu sangat berharga untuk pria baya tersebut.