
Selamat membaca ...
****************
Edrea semakin membulatkan matanya, tatkala Derry membawanya keluar, dan sekarang ada di dalam mobil entah mau ke mana tujuannya. Edrea menangis dan memohon agar dilepaskan. Meskipun hasilnya nihil, karena Derry seperti orang buta dan tuli yang tidak mendengarkan rintihan wanita yang ada di dekapannya.
“Kita akan ke mana? Apa kau akan membawa ku kembali pada Juan?” tanya Edrea berharap itulah yang akan dilakukan oleh Derry.
“Berhenti menyebut nama pria lain, atau aku akan melenyapkan orang yang mempunyai nama itu. Sekarang aku lah suami mu,” kata Derry mendesis sambil melirik ke arah wanita yang tengah terisak dengan tatapan tajamnya.
***
Tak butuh waktu lama, akhirnya Derry sudah sampai di apartemennya yang tak jauh dari kantornya, GZ Company. Edrea yang sangat sulit untuk diajak keluar pun langsung digendong dan segera masuk ke dalam apartemen tersebut.
Brak!
Pintu tertutup dan Edrea segera di turunkan dari gendongannya. Derry membiarkan sang istri yang masih berdiri di depan pintu. Sedangkan dirinya sudah duduk di sebuah sofa dalam kamarnya.
Derry tersenyum smirk saat melihat Edrea terus mengetuk pintu kamar dan berusaha membukanya.
“Tolong buka pintunya. Aku harus kembali pada Juan ku. Aku mohon,” pinta Edrea dengan lirih. Wanita itu tidak ingin menyerah dan terus berusaha membuka pintu kamar apartemen.
“Kau harus lebih berusaha lagi sayang,” ucap Derry sambil menyunggingkan senyuman devil nya. Ia sangat puas saat melihat wanita itu tengah menangis saat berusaha lari dari genggamannya.
“Kau adalah pria paling brengsekk yang pernah aku temui di dunia ini! Kau bajjingan!” bentak Edrea yang sudah luruh bersimpuh di lantai depan pintu.
“Tapi bajjingan inilah yang sudah menjadi suami mu,” ucap Derry dengan santai, tanpa merasa iba sedikit pun terhadap Edrea.
“Cepat kemari dan layani aku. Bukankah ini malam yang indah untuk sepasang suami istri yang baru saja menikah,” sambungnya lagi dengan sarkas.
__ADS_1
“Menjijikkan!” cibir Edrea sambil menatap tajam ke arah Derry. Pria yang mendengal cibiran dari sang istri merasa tak terima dan langsung melangkahkan kakiny mendekati Edrea.
“Ap-apa yang akan kau lakukan. Menjauhlah dariku!” bentak Edrea yang ketakutan dan memundurkan tubuhnya hingga ke ujung dinding.
“Tentu saja untuk memberimu sebuah pelajaran,” jawab Derry sambil mendesis.
Aarrggh!
Derry menyeret Edrea hingga wanita itu berdiri dari duduknya, dan berjalan tertatih mengikuti langkah kaki Derry menuju tempat tidur berukuran besar. Edrea tak mau patuh dan berusaha menarik diri, namun tetap saja gagal.
“Layani aku,” bisik Derry yang kini sudah menangkup tubuh sang istri seraya menciumi pundak Edrea. Wanita itu mendessa saat lidah Derry mulai menyapu kulit tipisnya.
“Hentikan, aku tidak mau,” tolak Edrea dengan memejamkan matanya, dan berusaha agar tidak mengeluarkan suara dessahannya.
Derry tidak suka penolakan yang keluar dari mulut istrinya. Tanpa menunggu lama lagi, pria itu segera menyambar bibir ranum milik Edrea dengan sangat rakus. Bahkan pria itu tidak memberikan kesempatan untuk bernapas pada sang istri.
“Eumh!” berontak Edrea dalam dekapan sang suami yang terus, melummat, menyessap dan menyapu bibirnya bagai serigala yang sedang kelaparan.
“Aku mohon lepaskan aku,” pinta Edrea dengan memohon seraya mengeluarkan lelehan bening yang terus mengalir di pipinya, setelah Derry melepaskan pagutan bibirnya.
Brak!!
Derry menindih tubuh mungil nan padat itu di atas tempat tidur empuk. Derry pun bangkit untuk melepaskan pakaian atasannya. Tak lupa juga ia menarik paksa gaun indah yang masih melekat di tubuh Edrea.
Dalam beberapa tarikan saja, gaun itu sudah lepas dari tubuh pemiliknya, hingga menyisakan sebuah segitiga bermuda dan penutup dua bukit himalanya saja. Wanita itu menjerit saat Derry berhasil melucuti pakaiannya, dan berusaha untuk menutupi tubuhnya yang hanya tertutup dalaman saja.
“Derry ... aku mohon jangan,” pinta Edrea untuk ke sekian kalinya, tapi tetap tak dihiraukan. Derry justru semakin bersemangat saat melihat penolakan dari wanita yang ada dalam kungkungannya.
“Juan ... tolong aku,” gumam Edrea dengan lirih namun, masih bisa terdengar oleh suaminya. Hal itu membuat Derry merasa geram dan menatap Edrea dengan sangat tajam.
Pria itu segera menarik penutup bukit himalaya dan segitiga bermuda dalam satu tarikan hingga terpampang jelas di depan matanya, sebuah pemandangan yang begitu menawan dan ingin segera ia jelajahi.
__ADS_1
“Kau sangat seksi sayang,” desis Derry dengan mata yang memerah dipenuhi kabut gairrah. Edrea menggeleng.
“Eumhh!” derry kembali melummat bibir ranum milik sang istri dengan sangat rakus. Tak lupa tangannya ikut menjelajahi bukit himalaya milik Edrea dengan penuh semangat. Ada yang mendaki tapi bukan dengan kaki, ada yang kenyal tapi bukan Jelly.
“Ahss!” dessah Edrea tak bisa menahan suaranya. Ia benar-benar merasakan sensasi bagai sengatan listrik, saat tangan Derry meremmas dan memilin bukit himalanya dengan sangat lincah bak seorang profesional.
“Ayo keluarkan suara indah mu lagi, sayang. Nikmati malam indah kita, dan aku akan membuat mu melayang ke angkasa,” ucap Derry tepat di hadapan wajah Edrea dengan menampilkan senyum nakalnya. Edrea jijik melihatnya.
Setelah puas menikmati bibir sang istri, akhirnya Derry beralih untuk menghisap chococips yang ada di bukit himalaya tersebut. Tak lupa juga tangannya yang lain ikut bermain di bukit tetangga sambil memilin benda kenyal berwarna cokelat tersebut.
“Ahhss! Derry ... ahhss!” racau Edrea berusaha menolak dengan memberontak sebisa mungkin, tapi tetap saja tubuhnya bertolak belakang dengan keinginannya. Tubuhnya seakan merespon setiap sentuhan yang diberikan oleh pria itu.
“Nikmati ini sayang,” ucap Derry mulai bangkit dan mengeluarkan benda pusakanya yang sangat gagah perkasa.
Edrea membulatkan matanya dengan sempurna, saat melihat benda tak bertulang tapi bisa tegak, mengalahkan tegaknya keadilan di negara Konoha. Edrea berusaha bangkit untuk lari, tapi gerakannya sudah terbaca oleh sang suami. Alhasil ia kembali roboh dan melihat sesuatu yang besar dan berurat milik Derry tengah mengincar liang hangat di bawah bagian intinya.
“Tidak! Derry tolong jangan lakukan itu!” tolak Edrea sambil terus terisak.
“Bersiaplah, sayang.” Derry mulai memusatkan ular bermata satu miliknya ke dalam lembah hutan yang sudah lembab dan mungkin sudah banjir. Derry senang karena tubuh wanita itu merespn setiap sentuhannya. Meskipun Edrea sendiri menolak dengan tegas.
Derry sudah menggesekkan ularnya dengan tempat tinggal sementaranya untuk saling berkenalan agar mudah beradaptasi. Perlahan demi perlahan Derry mulai memasukkan benda tumpul yang besar itu menerobos paksa ke dalam liang hangat sang istri.
“Arrghh!” jerit Edrea saat benda tumpul yang besar itu memaksa masuk ke dalam inti tubunya di bawah sana.
“Sa-kit,” ucap Edrea dengan lirih sambil menangis dan mencoba untuk mendorong tubuh Derry yang berada di atasnya.
Derry tak menanggapi, dan mendiamkan ularnya di dalam sana. Setelah terasa mulai tenang, akhirnya pria itu mulai menggoyangkan pinggulnya dan menghentakkan dengan sangat keras dan intens. Edrea menjerit saat pria itu mulai menggila bagai bagai singa yang kelaparan dan kini tengah memangsa tubuhnya.
Hati Edrea begitu sakit, apalagi tubuhnya terasa terkoyak. Harga dirinya sudah runtuh. Bahkan, mungkin saja ia tidak akan punya keberanian jika bertemu dengan Juan, karena ia sudah ternoda oleh pria yang sudah mempersunting dirinya secara paksa.
**************
__ADS_1
Ekhem ... Jangan lupa tinggalkan jejak ya