Wanitaku

Wanitaku
Saingan dengan Tuan Almart


__ADS_3

aku masih terus menatap layar ponselku,sambil memikirkan siapa orang yang aku namai Sugar daddy. namun aku tidak mengingatnya. ya udah,aku jawab dong.


"hallo?" aku menjawab panggilan telvon.


"hem,kenapa lama sekali menjawab panggilanku?" tanya seorang lelaki,yang suaranya serak namun sangat menggoda.


"siapa?" aku masih belum yakin jika itu adalah suara bule,asal kalian tahu. bahkan aku hingga saat ini belum tahu siapa nama bule sialan itu.


"aku sugar daddy mu. ARKA ARWIL tuan muda kaya,pemilik perusahaan ARWILNOS" katanya dengan sombong.


"sejak kapan aku menyimpan nomormu? kamu terlalu percaya diri sekali,bahkan kamu tidak lebih kaya dari sugar daddyku,Tuan Almart" ejek ku padanya.


"kau" katanya,setengah membentakku. aku malas sekali ngobrol dengannya,tentu saja langsung aku matikan.


"beraninya,wanita ini mematikan panggilanku" gerutu Arka di kursi kerjanya.


"feng teng,kamu hitung berapa kekayaan Almart itu? lalu beli semua,paksa dia bangkrut dalam sehari" katanya pada asisten pribadinya,juga sekertaris yang serba bisa.


seperti suara jangkring di keheningan, krikkkk krikkkk


"yang benar saja,tuan akan membeli dan membuat bangkrut Tuan Almart. Yang ada Tuan muda bangkrut dalam sedetik" kata asisten yang mulutnya blak blakan itu.


Seperti merinding,terkejut bin malu. Seperti karakter komik kalau sedang terkejut,kira-kira begitulah ekspresi Arka,saat mendengar jawaban asistennya.


"lalu,apa yang harus aku lakukan? Agar wanita itu bisa meninggalkan Almart sialan itu?" tanya Arka pada asistennya,sambil mengetuk-ketukan jarinya di meja.

__ADS_1


"kenapa,anda tidak menggunakan tuan muda kecil. Gunakan tuan muda kecil di setiap kesempatan" ide dari asistennya.


Arka mengangguk-anggukan kepalanya. Tanda ide asistennya. Boleh di coba.


Satu minggu berjalan begitu cepat,dengan berat hati aku harus bekerja. Di antar paman wu,yang biasa aku panggil bapak. Karena identitasku yang harus disembunyikan.


Dengan mobil sederhana Avanza veloz,yang ada gambar grab... Padahal dia adalah sopir pribadiku. Bukan taxi online alias grab.Papiku seorang pembisnis luar biasa,kalau soal ide dan strategi jelas dia jago banget.


Aku turun dari mobil,dan langsung masuk. Kali ini aku benar-benar terlihat anggun,seperti wanita. Dengan rok sepan di bawah lutut,baju kemeja dan blazer. Serta sepatu hitam hak tahu. Kalau sepatu tinggi di jamin,aku langsung nyungsep.


Aku melapor,seperti apa yang di bilang papi. Dan aku di tempatkan di bagian Desain. Yang gabung dengan derektur pemasaran. Aneh bin ajaib,aku satu ruangan dengan kuntil anaknya Mas Devan. Yaitu Saila,yang dulu pernah jadi sahabatku.


"oh,kamu kerja disini juga? Oh lupa kamu kan simpanan pemiliki perusahaan ini" kata Saila mengejekku.


karena memang pada dasarnya aku gak peduli. Alias bodoh amat. Aku biarin saja. Sampai dia merasa bicara pada dirinya sendiri.


"silahkan nona besar" kata Ariyanto mempersilahkan aku masuk lif kusus ceo.


"Ariyanto,apa kamu berniat membocorkan identitasku? Kamu begitu sopan. Tidakkah kamu takut ada mata-mata di sini?" tegurku


"maaf nona,saya lupa" katanya membungkuk.


"sudahlah,di kantor. Anggap aku bawahanmu" kataku langsung membuka pintu.


Terlihat papi sedang bekerja. Lalu aku bertanya,kenapa papi begitu cepat mencariku. Atau ingin cepat di gantikan posisinya olehku. godaku,seketika papi bangkit dari singgasananya.

__ADS_1


"bagaimana dengan pengaturan papi? Hebat bukan papimu ini?" tanya papi dengan bangga.


"hebat sekali,sampai aku harus satu ruangan dengan kuntil anak itu" gerutuku.


"itulah,papi ingin dia melihat. Siapa sebenarnya Denada... papi menantikan Desain mu" kata papi sambil memukul pundakku.


Dengan menghela nafas panjang. Aku meng iyakan saja. Lalu aku kembali ke ruanganku.


Saat aku tengah duduk,semua orang bergosip. Saling berbisik. Jika aku benar-benar simpanan Tuan Almart. Aku hanya tersenyum tipis saja.


"Denada. Ini pekerjaanku. Tolong kamu kerjakan. Biar sekalian latihan" kata saila melempar sebuah Desain.


"oke" kataku.


Heh kamu,mau mengerjaiku. Mungkin butuh hidup 1000 tahun lagi....


Tentu saja,aku tidak menuruti saila. Namun aku mempelajari apa yang di inginkan dalam desain itu. Aku harus mengerjai dia donggg.


Setelah tiga hari kemudian...


"denada,mana desain yang aku suruh garap kemaren?" tanya saila.


"nih" kataku melempar tugas,dan belum di kerjakan.


"kamu... Apa apaain ini. Jam 9 harus sudah di kumpulkan" bentak saila.

__ADS_1


"kamu jangan banyak bacot,jam terus bergerak. Dari pada kamu buang-buang tenaga. Mending kamu kerjakan. Kalau tidak,bisa di pastikan kamu akan kena marah direktur. Atau kamu di pecat" kataku dengan senyuman menyeringai.


Saila mencoba terus membuat desain,namun selalu gagal. Dan karena gugup,tidak ada inspirasi apapun.


__ADS_2