
Arka menarikku dengan sangat kuat, dia memojokanku ke diding, sedangkan tangannya mengunci tanganku ke atas kepalaku.
Aku merasakan kemarahannya, nafasnya mulai memburu. dia memandang mataku dengan tatapan tajam, seolah suami yang sedang menangkap basah istrinya sedang berselingkuh.
"Denada, baru saja kau mengajakku menikah. Lalu kau mencari pria lain untuk menjadi pasanganmu" ucap Arka.
"Lalu, apa bedanya denganmu. Kenapa aku seolah yang bersalah. Sedangkan kau menggoda adikku setelah kau mendapatkanku." ucapku tak mau kalah dengannya.
"Jadi kau sedang cemburu?" tanya Arka pelan, lalu dia mencium bibirku dengan lembut. Cuih, tak sudi aku membalas ciumannya. Entah kenapa rasanya hatiku sakit sekali, sampai aku tidak sadar butiran bening sudah membasahi pipiku.
"sayang, apa aku melukaimu?" tanya Arka melepaskan tangannya yang dari tadi memegang erat tanganku. Lalu dia mengusap air mataku dengan lembut.
"Kalau kau ingin bersamanya, setidaknya kau mengatakan putus terlebih dahulu denganku" ucapku sambil memandang mata elang berwarna biru itu.
Arka memelukku dengan erat, bahkan aku tak sudi membalas pelukannya. Aku mendorong tubuhnya, lalu aku berlari meninggalkan Arka. Tentu saja Arka mengejarku, sampai Akhirnya dia menangkapku di tempat parkiran.
"Maaf, tolong jangan katakan putus. Aku hanya sedang mengujimu. Bahkan kau tidak pernah cemburu padaku" ucapnya.
"diam, dan jangan mengikutiku" ucapku dengan suara keras.
Aneh sekali otaknya, aku harus cemburu. Memang aku akan cemburu dengan siapa? Aku bahkan tidak pernah melihat dirinya bersama dengan wanita. Ini kali pertamanya aku melihat dia tengah bersama wanita, dan itu Adik gue sendiri.
Aku berjalan keluar menuju gerbang. Aku mendengar suara dari jauh memanggil namaku. Lalu aku menghentikan langkahku.
"kau mau kemana? Bahkan pesta baru mulai" ucap Heu Joon dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aku hanya merasa tidak enak badan" ucapku pelan, aku menunduk di hadapan lelaki yang baru aku kenal.
Aku sangat terkejut saat Heu Joon memelukku. Dan dia mengatakan "semua akan baik-baik saja, ada aku disini" ucapnya dengan lembut.
Arka datang dengan kemarahannya, dia mendorong keras tubuh He Joon. Tidak cukup sampai disitu saja. Keduanya saling memukul, security datang memisahkan mereka.
"Arka" saat pukulan Arka salah sasaran memukul lengan atasku. Rasanya berdenyut dan seperti memar.
__ADS_1
"Denada" ucap keduanya. Mendengar ribut di luar, tamu undangan keluar dari Rumah mewah tersebut. Aku sangat malu, karena menjadi tontonan mereka.
Arka menggendongku ala bridal style, aku hanya diam mengikutinya. Sedangkan Heu Joon mematung melihat kami.
Arka menurunkan aku, dan mendudukan aku di kursi depan dengan perlahan, lalu dia memasang Safeti belt. Lalu dia menutup pintu mobil dan memutari mobil, saat Arka akan masuk ke dalam mobil, Bulan datang menghampiri Arka. Aku hanya diam di dalam mobil.
entah apa yang di katakan Arka, aku tidak mendengarnya. Lalu dia masuk tanpa di ikuti bulan. Dia membawaku entah kemana, bahkan ini bukan jalan arah pulang.
"kau akan membawaku kemana?" ucapku pelan. Dia sama sekali tidak menjawab, dia memfokuskan pada jalanan dan semakin menambah kecepatannya.
"Apertemen?" tanyaku setelah sampai di Apertemen. Dia tidak menjawab pertanyaanku, lagi-lagi dia membuka pintu dan menggendongku ala bridal style. Karena dia diam aku juga diam, setelah kami keluar dari pintu lif, dia berjalan beberapa langkah, setelah pintu Apertemannya terbuka dia mendudukanku di sofa.
Arka masuk dalam kamar dan membawa kotak P3k. Dia membuka kotak obat itu, dan mengeluarkan isinya di atas meja.
"kau mau buka, atau aku yang harus membuka" ucap Arka dengan nada dingin.
"Kamu gila, mau melihat tubuhku" ucapku sambil menutup dadaku dengan tangan menyilang.
"Denada, bagaimana caraku mengoles obat, jika tidak di buka" ucap Arka.
Arka menyuruhku diam dan dia memotong gaunku. Setelah terpotong, dia melihat kulitku yang sudah membiru akibat pukulannya.
Arka mengoles obat dengan pelan, rasanya ada dingin dan sedikit perih.
"Denada, maaf" ucap Arka setelah selesai mengoles obat. Aku diam dan memilih tidak menjawabnya.
Arka duduk di dekatku, dia menarik tubuhku agar kami saling menatap. walau tubuhku menghadap dia, namun aku tak mau menatapnya. Lalu Arka menarik daguku, aku menepis kasar tangannya.
"Maaf, Aku bersalah" ucap Arka pelan. Aku tak peduli, namun entah kenapa Air mataku malah keluar dari tempatnya. Sial, ini mata gak bisa di ajak kompromi, batinku kesal.
Arka mencium bibirku dengan lembut, lalu aku menggigit dengan kasar, alhasil bibirnya berdarah.
Dia malah menggendongku masuk kamar dan melemparku di atas ranjangnya. Sontak aku terkejut dengan perlakuannya.
__ADS_1
Dia membuka jasnya dan melempar ke sembarang tempat. Lalu dia juga melempar dasinya. Aku mundur berlahan, namun dia sudah terlebih dahulu menindih tubuhku.
"Apa aku harus menidurimu, biar kau menjadi wanitaku selamanya" ucap Arka dengan nada yang dingin, aku mulai gemetar ketakutan.
"Arka, tolong jangan begini. Jika kau melakukannya, aku akan membencimu. Aku tidak akan memaafkanmu selamanya" ucapku di iringi tangisanku.
Arka melepaskanku, lalu memelukku dengan erat.
"Sudah, jangan menangis. Maaf jika aku menakutimu. Aku benar-benar cemburu. Aku takut kau akan meninggalkanku" ucap Arka lirih, namun masih jelas terdengar di telingaku.
"Aku sangat cemburu padamu" ucapku dengan sangat keras.
"cemburu?" tanya Arka kembali menindih tubuhku.
"Turun dari atas tubuhku" ucapku padanya.
"katakan sekali lagi, yang barusan kau katakan tadi" ucap Arka seperti orang habis menang lotre.
"ya, aku cemburu saat kau bersama Bulan. Saat Bulan mengatakan dia menjadi sekertarismu. Saat kau lebih memilih Bulan menjadi pasanganmu, padahal aku akan mengajakmu pergi ke pesta itu. Aku sangat kesal sampai aku harus mencari pasangan lewat IG" ucapku dengan lantang, aku mengeluarkan semua emosi yang ada dalam dadaku.
"Denada" ucap Arka memanggil namaku, dia menyambar bibir ranumku. Aku mulai terbuai dengan lamutannya. Berlahan tangannya mulai lincah menyusup ke dalam gaunku.
Dessahann kecil mulai keluar dari bibirku, dia melepaskan ciumannya. Lalu menatapku sesaat, lalu melanjutkan dengan ciuman di telingaku. Rasanya geli namun ada sensasi enak.
"um ahh" nafasku mulai tidak beraturan karena ulahnya.
"Katakan kau setuju" bisiknya di telingaku. Tanpa sadar aku menganggukan kepalaku. Sungguh sial, setan sudah menguasai kami berdua. Dalam hitungan detik, dia sudah berhasil membuat tubuhku polos tanpa sehelai kain.
Aku menghabiskan malam yang panjang dengannya. Sangat indah, setelah beberapa kali kami melakukan hubungan terlarang, aku tertidur lelap dalam pelukannya.
Arka tersenyum memandang wajahku dengan senyuman kemenangan. Dia menghujani aku dengan ciuman ke segala penjuru.
"Aku lelah" ucapku dengan mata tertutup. Lalu dia tersenyum dan memelukku dengan mesra, akhirnya kami tertidur. Rasanya sangat nyaman dan bahagia, berada dalam pelukan orang yang aku cintai.
__ADS_1
Bersambung....