
Dengan kekesalan yang amat dalam aku mengikuti keinginan papi. Tapi malam ini aku mau ngumpul sama anak montor, aku membawa Viera ke rumahku.
"ini rumahmu, Denada?" tanya Viera setelah turun dari taxi.
"iya, masuklah. Ibu, Denada pulang" teriak aku di depan gerbang.
Tidak lama kemudian, datang bu lastri membuka pagar rumah. Lalu dia menyambut Viera dengan sangat senang. Viera yang sopan, dan berubah 180° dari sifat aslinya di kantor. Tentu saja ibu sangat mengidamkan Viera untuk menjadi menantunya.
Aku membawa Viera masuk ke dalam kamarku. Lalu dia melihat foto Anak kecil yang sedang berpelukan dengan ayah dan ibunya. Itu adalah foto saat aku masih berusia tujuh tahun, saat kami sedang liburan ke bali.
"Denada, ini foto siapa? Kenapa aku tidak asing dengan foto ini? Dimana ya?" katanya mencoba mengingat foto itu. Tentu saja dia pernah melihatnya. Karena foto itu, di pasang di meja kerja papi, Di kantor.
"Foto itu milik Tuan Almart, aku kemaren mengambilnya. Dari Mansionnya, nanti aku akan kembalikan padanya lagi" kataku sambil mengambil handuk.
"kenapa kamu mengambilnya?" tanya Viera, seakan dia mulai curiga.
"terbawa di dalam tas, udah lah. Gak usah di bahas. Aku mau mandi dulu" kataku mengalihkan pembicaraan. Viera terus memandang Fotoku, foto itu tersenyum terlihat mirip denganku, lesung pipit di pipi dan gigi gingsul.
Ditambah mamiku memang sangat mirip denganku saat aku dewasa ini, terlihat jelas. jika itu adalah ibu biologisku. Lalu dia mulai berfikir, jika aku adalah Anak Tuan Almart, bukan simpanannya. Viera mengangguk-anggukan kepalanya, lalu dia meletakkan kembali foto itu di atas mejaku.
Setelah aku selesai mandi, aku menyuruh Viera mandi. Dan mengganti pakeanku. Aku memiliki beberapa baju feminim, yang dulu biasa aku pakai saat masih menjadi istri mas devan.
Setelah selesai makan, tidak lama kemudian Romongan anak montor itu sampai juga di rumahku. Semua memenuhi teras rumah kami. Satu persatu berkenalan dengan Viera, mereka memuji kecantikan Viera. Dan ini adalah kali pertama ada wanita lain, selain aku di antara anak montor.
Botol minuman berjejer di depan kami. Dari votka, bir, topi miring, anggur merah, dan wiski berjejer di depan kami. Di tambah kacang tanah, dan juga kuaci. Viera benar-benar terkejut saat aku menyulut satu batang rokok, dia membatin. Pergaulan aku memang cukup bebas. Tidak salah juga jika Tuan Almart menyukai Denada.
Ah tidak, tidak. Aku melupakan sesuatu. Denada adalah Anak Tuan Almart yang di sembunyikan itu. Aku yakin sekali, saat melihat foto barusan. Viera bertanya-tanya terus menerus di dalam hatinya. sesekali dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa Ver, coba kamu cicipi minuman ini. Pelan aja. Ini yang paling ringan, di antara yang lain" tanyaku sambil memberikan botol minum cralsberg pada Viera.
"gak ada apa-apa denada. Aku hanya tidak enak. Ini baru pertama kalinya, aku bertemu minuman" jawab Viera, sambil menerima kaleng yang aku berikan.
"Denada? Kenapa namamu berubah jadi Denada?" tanya Sinian dan juga Abi heran.
"itu, nama asli gue. Udah buat lo lo pada, panggil seperti biasa, Ega. Itu nama yang aku inginkan, eh emak gue kasih nama Denada" jawabku berbohong.
"Dasar lo, mentang-menatang kita bertemu di jalanan. Lo tipu nama" teriak Riko meninju lengan gue.
"njirrr, sakit tahu" kataku sambil mengusap lenganku.
Tiba-tiba ponselku bergetar, menandatakan ada panggilan televon. Aku melihat layar ponselku "Sugar Daddy" sialan, ngapain dia masih menghubungiku? Mana sekarang lagi rame. Batinku.
Aku berdiri, tangan kananku memegang ponsel. Sedangkan tangan kiriku memegang kaleng berisi bir.
"Hai Wilson, ada apa menelvon Mommy?" tanyaku, sambil duduk di teras tetanggaku yang sepertinya sepi tak ada penghuninya.
"Mommy, wilson rindu Mommy. Bolehkah, Mommy dan Daddy jemput Wilson pulang sekolah besok?" Tanya Wilson padaku, seketika aku mematung. Menjemputnya? Bukankah ini artinya aku setuju untuk kembali menjadi calon istri Arka.
"Mommy" panggilan wilson menyadarkan lamunanku.
"Iya, Mommy disini" aku menjawab dengan setengah melamun.
"Jadi, apakah Mommy mau. Menjemput Wilson besok?" tanya Wilson sekali lagi.
"oke, baiklah. Mommy setuju" jawabku cepat. Tanpa pikir panjang.
__ADS_1
"horeee... Makasih Mommy. Sampai jumpa besok" Teriak wilson senang, bergema di ujung Televon. Lalu kami mengakhiri panggilan Televon. Aku kembali duduk di antara teman-temanku.
Di tengah, tawa riuh kami. Mobil kak Tora datang, dia memarkir di depan rumah kami. Lalu dia melihatku, mata kami saling menatap. Entah perasaanku atau bukan, setiap kali kami bersama saat dewasa, Tatapan Kak Tora menjadi lain padaku.
"Hai semua, ternyata pada ngumpul" sapa kak Tora seperti biasa, ramah pada teman-temanku.
Semua orang membalas sapaan kak Tora dan memberi salam. Kak Tora masuk ke dalam rumah, menyapa bu lastri dan pak wisnu. Mereka terlihat mengobrol dengan serius. Aku tidak peduli, ini adalah moment terhangat saat aku bersama anak montor.
Kedepannya, aku belum tentu bisa bergabung dengan mereka. Aku akan sibuk mengurus bisnis, dan bekerja sepanjang waktu seperti papi. Terkadang aku sangat iri pada teman-temanku yang memiliki saudara.
Andaikan aku memiliki saudara, pasti aku akan rela menyerahkan kedudukanku padanya. Agar aku bisa menikmati hidupku yang indah saat ini. Aku meneguk minuman itu, sedikit demi sedikit. Kami semua sudah mulai pusing.
Jam sudah menunjukkan pukul 00:05 teman-temanku memutuskan pulang. Sedangkan aku dan Viera masuk dalam kamar dan tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat pagi kami pun terbangun dan bersiap berangkat kerja, setelah sarapan pagi. Aku terkejut kala aku melihat koper di depan pintu.
"ini semua barang-barangmu. Mulai sekarang kalian hidup mandiri di apertemen, jangan berantem seperti kucing dan tikus" nasehat ibu lastri.
Aku hanya mengangguk dan naik mobil kak Tora, aku hampir melupakannya. Jika hari ini aku harus pindah ke Apertemen kak Tora. Aku hanya duduk diam, Viera tidak banyak bertanya.
Tidak lama kemudian, setelah melewati dua kali lampu merah, akhirnya sampai di kantor. Aku turun dari mobil kak Tora, aku masuk ke kantor bersama dengan Viera.
Aku bekerja dengan penuh semangat, aku juga sudah menemukan bukti penggelapan uang perusahaan secara lengkap. Aku menyeruput kopi hitam di atas meja. Aku mulai mengoreksi semua gaji karyawan, pendapatan, dan kerugian selama setahun terakhir.
Aku tidak menyadari jika sudah hampir jam 12 siang. Karena Arka tidak kunjung membalas Whatsappku, dia menelvonku. Aku melihat Layar ponsel, aku mendengus kesal. Kala melihat nama dalam layar ponselku.
__ADS_1
Terima kasih,telah mengikuti novelku. sampai di eps ini. jangan lupa, kritik dan sarannya. setelah membaca jangan lupa, tinggalkan jejak kalian 🤗