
"Ck apa kau pikir perkataan mu barusan sebuah anugrah , jika kau tidak melepaskan tangannya siap-siap saja pergi dari cafe ini " seru Leo.
"Aku tidak perduli memang naya kenapa apa karna kamu punya hak kekuasaan bisa berbuat begitu, kau seharusnya yang melepas tangannya " ucap Gery.
"Lepaskan dia, aku tidak suka dia bekerja disini paham" seru Leo.
"Dia masih belum di pecat atau belum mengundurkan diri jadi dia masih karyawan disini " ucap Gery.
"cukup"
Nasya menarik tangan Leo keluar dari cafe dan bicara berdua di luar karna Nasya tidak ingin terus terjebak dengan masalah baru lagi.
"Tuan bisa kan bicara ini nanti saja aku juga sudah bilang aku masih ingin bekerja dan tuan sudah mengizinkan akan hal itu " ucap Nasya.
"Memangnya kamu butuh uang berapa aku bisa kasih tanpa kamu harus di rendahkan begitu " seru Leo.
"Ini bukan tentang banyak nya uang yang aku ingin kan tapi aku sudah nyaman disini dan senang " jelas Nasya.
"Terserah lah " jawab Leo yang langsung meninggalkan Nasya dan membatalkan makan siangnya.
"Dia marah "
Sebuah suara membuat Nasya menoleh itu suara Yola yang menengok di balik pintu.
__ADS_1
"Sepertinya " jawab Nasya.
"Sebaiknya kamu bujuk aku takut tempat ini akan berubah menjadi tanah jika kamu tidak membujuknya jika tempat ini berubah jadi tanah otomatis aku tidak akan makan " ucap Yola.
Nasya menghela nafas lalu kembali ke dalam menuju dapur rencana akan membuatkan makan siang untuk Leo saat itu juga Gery menghampiri nya.
"Yang ku katakan tadi bukan bercanda " ucap Gery tegas.
"Dan juga aku mau bertanya apa dia benar suamimu? " tanya Gery.
Nasya terdiam tangannya yang saat itu sedang memasukkan makanan ke dalam kotak berhenti bergerak dan menatap Gery yang menanti jawabannya itu.
"Iya, kita baru menikah kemarin saat kecelakaan itu " jawab Nasya.
"Ck, bagaimana mungkin aku sudah mempersiapkan untuk melamar mu tapi kamu sudah di lamar pria brengsek itu, cepat katakan apa kamu mencintainya " cetus Gery.
"Kalau soal itu "
"Dia sangat mencintainya Ger" sahut Yola.
"Yola bisa tidak kamu tidak usah ikut campur dalam segala urusan Nasya." seru Gery.
"Ger, aku tau kalau memang kamu menyukai Nasya tapi Nasya sudah menjadi istri orang seharusnya kamu menghargai dia dong " seru Yola.
__ADS_1
"Aku tidak yakin Nasya bahagia dengan pria itu " ucap Gery.
"Bahagia atau tidak itu sudah tidak ada hubungannya denganmu, bedakan mana karyawan mu dengan urusan hatimu, jika kamu memperkerjakan Nasya karna kamu mencintainya untuk apa dia disini " seru Yola.
"Ger jika kamu memang mencintainya harusnya kamu tidak perlu menekannya seperti itu, jelas -jelas dia tadi mengatakan kalau tuan Leo suaminya seharusnya sudah, jangan menjadi perusak rumah tangga , aku dan Nasya berhenti bekerja " ucap Yola dan menarik Nasya keluar dari cafe itu, Gery hanya dia tidak mengejar dan tidak juga menghalangi.
Karna membantu dia dalam setiap masalah Nasya mengajak Yola ke rumah Yap rumah Leo yang sekrang dia tempati.
"Yol, seharusnya kamu gak harus sampai segitunya dan gak perlu harus berhenti bekerja " seru Nasya saat berada di dalam Taksi.
"Sudah lah Nasya Gery sudah banyak bertanya tadi aku saja geram mendengarnya yang mendesak mu begitu " jelas Yola.
"sekarang kamu mau kerja apa " seru Nasya.
"Biar aku pikirkan nanti " jawab Yola.
Keduanya tiba di rumah Leo dan disambut oleh Erma yang seperti biasa duduk di ruang tamu dengan segelas kopi.
"Nak kok pulang cepet bukannya katamu pulangnya malam ini baru jam 13.12? " tanya Erma.
"Ada masalah sedikit ma, jadi aku pulang lebih cepat, oh ya ma dia Yola sahabatku gak papa kan ma aku aja dia mampir " ucap Nasya.
"Gak papa dong kan ini juga sudah menjadi rumah kamu " seru Erma.
__ADS_1
"Makasih ya ma, aku mau ke dapur harus memasak sesuatu untuk tuan, karna tadi tidak sempat makan siang " ucap Nasya.
"Iya mama juga kebetulan agak laper nih " seru Erma sedikit terkekeh.