
Aku hanya menatap motorku yang di bawa pergi dengan truk besar, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain gigit jari.
Aku masuk rumah dengan perasaan yang sangat kesal. Aku masuk kamar dan berbaring, aku sudah merasa susah untuk tidur. Semua serba salah.
Keesokan harinya semua keluarga Arka datang berkunjung ke rumah, aku turun dari kamarku untuk menemui mereka.
"Aku tidak mengijikan kalian menikah dalam waktu dekat, kau tunggu Denada melahirkan" ucap Papi dengan tegas.
"Dia mengandung cucuku, kenapa tidak boleh menikah saat ini?" ucap Isabela tak mau kalah.
"Keputusan itu tidaklah tepat, Jika Arka dan Denada menikah. Semua berita publik akan membuat gosib, jika kecelakaan itu di rekayasa. Apa kau mau menyeret perusahaan kita?" ucap papi dengan nada dingin.
Isabela terdiam saat mendengar ucapan Papi, Arka mengajakku keluar dari pembicaraan orang itu. Karena perdebatan mereka tidak akan ada habisnya.
"Maaf, sudah membuatmu berada dalam kesulitan" ucap Arka setelah kami duduk di bangku kayu yang ada di taman belakang.
"Aku baik-baik saja" ucapku sambil tersenyum.
"Aku ingin bertemu Wilson" ucapku lagi.
Mendengar ucapanku, Arka berjanji akan membawaku menemui Wilson. Aku tersenyum senang dan memeluk Arka.
Sungguh sangat nyaman, hidup berdampingan dengan seseorang yang kita cintai.
Waktu terus berjalan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Saat ini usia kandunganku sudah mencapai 9 bulan lebih satu minggu.
Sejak saat aku menikah dengan Bril, masalah kantor di ambil alih oleh Kak Tora. Dia yang membantu semuanya.
"Cairan apa ini, kenapa begitu deras" ucapku saat sudah berbolak-balik dari kamar mandi.
Aku yang tidak tahu seperti apa bersalin, aku begitu panik memanggil para pelayan.
Secepat kilat papi langsung pulang dari kantor dan membawaku ke rumah sakit.
Arka sangat panik mendengar kabar tersebut. Semua keluarganya sedang menunggu di luar kamar bersalin dengan cemas, sedangkan aku tengah berjuang untuk melahirkan kedua bayi kembarku.
"Tarik nafas berlahan Nyonya, lalu dorong dengan kuat" ucap perawat dan dokter yang membantuku bersalin.
"Tarik nafas, Tarik nafas kepalamu itu. Ini sakit sekaliiii" teriakku pada mereka.
__ADS_1
"Iya Nyonya, memang seperti ini melahirkan. Tarik nafas berlahan" ucapnya sambil mengelap keringat di dahiku.
Rasanya sakit 1000 macam menjadi satu. Rasanya semua tulangku patah bersamaan. Akhirnya Arka menemaniku bersalin, dia berkali kali menjadi sasaranku. Aku menggigit lengannya dengan sangat kuat. Hingga membuat Arka meringis menahan sakitnya.
"Oeeeekk oeeekkk oeeekkk" suara tangisan bayi pertamaku, aku menghelaa nafas yang panjang.
Aku terus berjuang sampai pada akhirnya aku mampu melahirkan kedua anakku dengan selamat. rasanya begitu sangat bahagia saat aku melihat kedua anakku.
Arka mengelus lembut rambutku, dia tersenyum dengan begitu bahagia. Terima kasih telah berjuang untuk anak kita, itulah ucapannya.
Sedangkan di luar ruangan sangat ribut karena perdebatan antara Tuan Almart dan Isabela.
"Apa maksudmu menamai cucuku dengan embel-embel Mandala King?" ucap Isabela dengan nada yang kuat.
"Dia cucuku, bukankah wajar jika aku memberikan nama Mandala di belakangnya?" ucap Tuan Almart tak mau kalah.
"Tidak, dia harus bernama Arwilnos" ucap Isabela.
"Mandala adalah nama yang tepat, jangan lupa jika Arka belum menikah dengan Denada" ucap Tuan Almart menegaskan hubunganku dengan Arka.
"Sayang, benar apa kata Tuan Almart. Jika cucu kita di beri nama belakang Arwilnos, itu akan membuat berita besar" ucap Daddy Arka menenangkan istrinya.
"hehe, akhirnya aku akan selalu menjadi pemenang. Aku mendapatkan dua cucu sekaligus" batin Tuan Almart tersenyum bahagia.
Dua bulan kemudian setelah aku berhasil melahirkan kedua anak kembarku, yang bernama Ardenda Mandala Putra untuk anak pertamaku seorang laki-laki dan Dinar Mandala Putri untuk anak keduaku seorang putri yang sangat cantik.
"Aku akan menjadi pembawa bunga, untuk Mommy dan Daddy" ucap Wilson dengan semangat.
Hari ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku. Hari dimana aku akan memulai kehidupan dengan seorang lelaki yang sangat aku cintai.
Aku melangkahkan kakiku dengan pelan, dan pada akhirnya aku menggandeng lengan Arka menuju pendeta yang berada di depan para tamu undangan.
Kami pun melakukan sumpah pernikahan, setelah sumpah selesai di lewati. Kami saling menukar cicin pernikahan dan berciuman sangat bahagia.
Akhirnya melempar bunga pun tiba. Aku melempar bunga ke arah teman-temanku. Alhasil Kak Tora dan Viera menangkap bunga kami dan kedua mata mereka bertatapan saling terpana.
Sorak para tamu undangan pun bersahutan. Bulan mengusap air mata bahagia. Akhirnya kalian bisa bersama dan melalui semua in dan, batin Bulan.
"Jangan bersedih, Denada pasti akan bahagia" ucap Sinian menepuk bahu Bulan sambil melempar senyumannya.
__ADS_1
"Iya, aku sangat berharap Denada akan bahagia" ucap Bulan menjawab perkataan Sinian. Lalu mereka saling bercanda sambil menikmati pesta.
"Sayang, apa kau lelah?" ucap Arka melihatku duduk di kursi dan membawakan segelas air putih, lalu duduk di sampingku.
"Iya, sangat lelah" ucapku sambil melempar senyum.
"Jangan lelah, bukankah nanti malam waktunya kita bikan Adik si kembar?" Goda Arka padaku.
"Aku tidak ingin memiliki anak lagi, tiga anak itu cukup" ucapku sambil mencubit lengannya.
"Baguslah kalau tiga, berarti kau masih ingin satu lagi" ucap Arka sambil terkekeh.
"Apa maksudmu satu lagi, Wilson dan si kembar itu bukankah tiga" ucapku sambil melotot pada Arka.
"Tapi wilson anakku dengan Lena, bukan denganmu" ucap santai Arka sambil menarik lenganku dan mencium bibirku.
Sialan, dia terus menggodaku tanpa malu. Sangat menyebalkan sekali. Lalu aku mendorong tubuhnya dan pergi melihat si kembar yang tidur terlelap.
"Haih, kenapa aku selalu di kalahkan oleh anakku sendiri" batin Arka yang mengikutiku dari belakang, lalu memelukku dari belakang.
"kenapa kau mengajakku ke kamar? Apa kau sudah tidak sabar menunggu malam?" ucap Arka sambil terus memainkan lidahnya di telingaku.
Bukankah dia yang tidak sabar, mengapa menyalahkanku. Bahkan aku tidak mengajaknya ke kamar. Tanpa sadar aku berbalik badan, tanganku menggeliat manja di bahunya. Kami berciuman dengan sangat panas, sesekali tangan Arka mulai aktif membelai leher jenjangku.
"hm, ini masih siang dan kalian sudah tidak sabar" ucap Papi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar si kembar.
Mendengar ucapan papi kami melepaskan ciuman kami, lalu berdiri dan menatap papi dengan tersenyum canggung.
Kami sangat malu sekali dengan tingkah papi. Dengan santai dan berasa tak berdosa papi melewati kami dan melihat si kembar yang masih tertidur pulas.
Malam pun tiba, aku tidur seranjang dengan lelaki yang aku cintai. Dia adalah suamiku saat ini, dengan tersenyum bahagia. Selepas kami mandi, Arka menarikku hingga mendorongku ke atas ranjang. Dia mencium bibirku dengan lembut, aku sangat menikmati ciuman itu. Des..ahan itu keluar dari bibirku begitu saja, membuat Arka tersenyum puas. Dia mulai memainkan lidahnya dengan lincah di telingaku, rasanya seakan melayang ke langit.
Kami menikmati malam yang sangat panjang. Aku berjanji, aku akan menghargai setiap detik kehidupan ini bersama orang yang aku cintai.
Mohon maaf jika tamatnya kurang greget. Jika banyak yang menyukai novel saya, ikuti setiap karya saya. Insya allah awal september saya akan membuat karya baru S2 "Wanitaku" dalam Judul lain. Sebelumnya terima kasih buat yang udah ngikuti ceritanya sampai sejauh ini 🥰
...TAMAT...
__ADS_1