Wanitaku

Wanitaku
Cinta Dalam Diam


__ADS_3

Setelah kami sampai di kantin, Di sana terlihat sangat ramai. Berbagai jenis sarapan ada. Aku tergiur dengan lontong pecel.


"kayaknya enak tuh lontong pecel" kataku berbinar.


"ayo kita kesana" tarik Arka, kak Tora di tinggal begitu saja.


"ehhh" ucapku, yang langsung ketarik Arka gitu aja.


Setelah pesan, kami bertiga duduk di tempat yang sama. Saat ini aku berada di tengah.


"Denada, lihat" kata Arka memperlihatkan Aku yang sedang memeluk Wilson.


"Kamu mengambil foto diam-diam? Itu pelanggaran tahu, mana wajahku jelek begitu" omelku.


"ya udah, foto yuk. Biar cantik sini, hum begini kamu sangat cantik" ucap Arka, menarik ikat rambutku, seketika tergerai. Arka menyelipkan rambutku di belakang telingaku. Aku hanya diam mematung memandang wajahnya.


"kenapa kamu malah memandangku begitu?" tanya Arka tersipu malu, saat aku terus menatap wajahnya.


"siapa, hum siapa yang memandang siapa?" kataku langsung tersadar dan menoleh, berpaling dari pandangannya.


"Nad, gak mau piscok? Tuh banyak penjual piscok" ucap kak Tora sambil menunjuk penjual pisang coklat.


"mau, mau" ucapku berbinar.


"oke, aku belikan" ucap Tora


"Tuan Tora, kekasihku tidak perlu merepotkanmu. Jadi biarkan aku yang membelinya" ucap Arka tidak mau kalah.


"Kekasihmu? Apakah kamu sudah meminta ijinku?" Tanya Tora yang tidak mau kalah juga.


"untuk apa aku meminta ijinmu? Kamu siapanya Denada? hanya pura-pura menjadi abang, setelah itu ingin menikahinya. Huh, jangan mimpi" ucap arka dengan nada tegas.


"Dia sudah tahu? Oh tidak, kenapa aku melupakan gosib itu?" batinku


kedua orang itu terus ribut, sampai pada akhirnya kami duduk dan memakan sarapan kami.


"kenapa kamu makannya begitu berantakan?" ucap Arka sambil menyeka bibirku.

__ADS_1


Aaaaakkkkkk tolongggg. Aku benar-bener salah tingkah dibuatnya. Gila, kenapa orang ini menjadi lembut sekali. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Umpatku dalam hati, wajahku memerah seketika.


"sepertinya, Denada sudah jatuh cinta dengan Arka. Bahkan dia bisa tersipu malu. Andaikan aku memiliki cukup keberanian. Apakah Denada mau menjadi kekasihku. Atau mungkin dia membenciku? Tapi, melihatnya bahagia adalah keinginanku. Mungkin mencintai dalam diam adalah pilihanku" Batin kak Tora saat melirik tingkah kami.


"Kak, pulang kerja mampir rumah ibu ya? Kangen" ucapku mengalihkan perasaan yang canggung.


"boleh, kebetulan ibu masak Rawon katanya" jawab kak Tora sambil tersenyum.


"Denada, apa kamu gak ada niat ngundang aku?" ucap Arka dengan mode wajah yang sangat imut. Aku melihatnya seimut anak anjing.


"hah, memang kamu tahu apa itu Rawon?" tanyaku penasaran.


"gak tahu, apa itu Rawon?" tanya Arka dengan serius.


"makanan khas orang jawa timur, dan mendiang..."


"kalau Tuan Arka penasaran, silahkan bergabung dengan kami. Pasti ibu sangat senang" dengan cepat kak Tora memotong pembicaraanku. Hampir saja aku mengatakan mendiang mami sangat suka makanan itu.


Aku terdiam menunduk, mataku mulai berkaca-kaca. Aku sangat merindukan mami, ingin masakan mami.


"Denada? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Arka sambil menatapku, yang mulai diam.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Ya, ya bawalah Wilson" jawabku sambil tersenyum.


"jangan membodohiku, kau kenapa? Kenapa begitu sedih?" Tanya Arka sambil memegang tanganku yang ada di atas meja, sesekali di remas dengan lembut, dia menatapku dengan perasaan yang begitu kawatir.


"nad, jika kamu merindukan beliau. Aku akan menemanimu menemuinya" kata kak Tora.


"siapa?" tanya Arka mulai bingung.


"sudahlah, aku sudah kenyang. Aku akan kembali ke atas terlebih dahulu" kataku langsung pergi meninggalkan dua lelaki itu.


"Tuan Tora, aku berharap kau tidak terus menempel pada Denada. Aku pastikan dalam waktu dekat, Mandala King akan lenyap dalam waktu yang singkat" Ancam Arka, lalu ikut pergi.


Greb


Di sebuah lorong yang sepi, Arka memelukku dari belakang. Aku terdiam, aku tersentuh dengan pelukannya. Entah kenapa, perasaan sedih ini mulai berangsur menghilang.

__ADS_1


"jangan sedih, ada aku disini. Jika kamu tertekan dengan Si tua dan Anaknya. Kamu bisa hidup bersamaku. Aku tahu, Tora anak yang di sembunyikan si tua itu, dan kamu di paksa menjadi menantunya. Aku yakin, kamu berbeda dari Lena. Kamu pasti memiliki hati yang tulus, makanya Wilson sangat menyukaimu" tutur lembut Arka membisikan perkataan itu di dekat telingaku. Aku menarik lepas tangannya dalam pelukannya.


Aku berbalik badan menatap kedua mata biru miliknya. Lalu aku memeluk tubuhnya, dia membalas pelukanku. Aku sangat nyaman berada di dada bidangnya, detak jantungnya terdengar begitu jelas di telingaku.


"Terima kasih, sudah mempercayaiku" kataku pelan, namun masih terdengar olehnya. Di sudut yang lain Kak Tora melihat kami.


"Kau kekasihku, calon istriku. Aku pasti akan selalu mempercayaimu. Tinggalkan Mandala king, jadilah nyonya Arwil" Ucap Arka sambil membelai rambutku.


"Tunggu aku enam bulan lagi" ucapku pelan.


"Apakah setelah enam bulan, kita akan menikah?" Arka bertanya dengan nada yang begitu senang.


Aku melepas pelukannya, aku tersenyum memandang wajahnya. Terlihat jelas gigi gingsul dan lengsung pipit di pipiku.


"itu semua tergantung pada kemampuan Tuan Arka mengejarku" godaku.


"Denada, tidak pernah tersenyum sebahagia itu" ucap kak Tora melihatku di sudut yang berbeda.


"Baiklah, sudah siang. Aku akan mengantarmu pergi bekerja setelah bersiap" ucap Arka menggandeng tanganku dengan lembut, kami berjalan menuju lif naik ke lantai dua belas.


Ternyata Ruangan kami bersebelahan, Arka membeli Apertemen seseorang setelah mendapatkan informasi dimana kami tinggal bersama.


"masuklah, aku akan menunggu setelah bersiap" ucap Arka.


"Aku akan berangkat dengan kak Tora. Tunggu aku, setelah enam bulan. Bukankah kamu percaya padaku?" jawabku padanya, Arka belum melepas gegaman tangannya, lalu dia manarik tubuhku. Aku berada di peluknya, mata kami saling memandang.


"Aku percaya padamu, enam bulan terlalu lama. Bagaimana jika satu bulan?" ucapnya seperti tidak sabar.


"enam bulan" ucapku


"Tidak. satu bulan, ah satu bulan juga terlalu lama. Dua minggu saja. Yah dua minggu. Kamu tunggu saja, aku akan memberikan kejutan setelah dua minggu" ucapnya dengan yakin. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. berlahan, aku melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam Apertemen.


Aku masuk ke dalam kamarku. entah kenapa rasanya begitu bahagia. Perasaanku begitu tenang, aku seperti orang kasmaran, aku merasa jika aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku mulai mandi, dan bersiap setelah itu, aku berangkat dengan kak Tora.


Di dalam mobil aku membuka ponselku, aku menghubungi sinian terlebih dahulu. Namun tidak di jawab, sepertinya dia juga sedang perjalanan menuju tempat kerja. Lalu aku bertanya, apa mereka semua menghubungiku karena gosib yang sedang beredar tersebut? Batinku, kak Tora memperhatikanku sambil menyetir mobilnya, dia sesekali melirik dan membatin, mungkin aku tertekan karena gosib itu. Namun dia memilih diam dan tidak bertanya.


Tinggal Dua eps lagi akan terungkap Identitas Denada Mandala Putri 🤗

__ADS_1


__ADS_2