Wanitaku

Wanitaku
Cinta Satu Malam


__ADS_3

Aku menikmati indahnya pantai, dan angin malam bersama pasangan baruku. Dia membaringkan tubuhku di pondok. Aku berbantal lengannya. Dia membelai bibirku,dia berkata sangat indah. Sesekali membelai rambutku, dan menyelipkan di belakang telingaku. Aku menutup mataku, seakan aku ingin sentuhan lebih dari itu. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku mulai mencium bau mint dari nafasnya.


Cupppp


Arka mulai mencium bibirku lembut, sangat nikmat. Aku menyukainya, dia menarik kelambu pondok, agar tertutup. Dia mencium bibirku semakin dalam. La...mutannya terasa begitu mengikatku, aku terbuai semakin dalam. Ahhh um satu desa..han lolos dari bibirku. Dia melepaskan ciumannya, dia menatap wajahku yang mulai sayu, aku bahkan tidak merasa segila ini, saat bersama dengan mas devan dulu. Kembali lagi dia membelai wajahku, dari bibir, pipi sampai dahiku. Di sibakkan rambut yang menghalangi wajahku.


"Aku menginginkanmu, tapi aku tidak akan melakukannya tanpa persetujuanmu" bisiknya di telingaku. Rasanya tubuhku lemas, aku hanya pasrah. Jika dia tidak bisa menahannya, aku pun tidak bisa menahan diriku. Aku tidak menjawab apapun, aku hanya memandangnya dengan tatapan sayu. Godaan setan sudah menjalar dalam diriku, aku tidak mampu lagi melawannya.


Dia kembali mendaratkan ciumannya di bibirku aku membalasnya, sekali lagi aku men..de..sah. Dia sangat menyukaiku. Dia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, dia mencium leher jenjangku. Dan meninggalkan bekas disana.


"Tidurlah, besok pagi. Aku akan mengantarmu pulang, atau kamu ikut kerumahku? Besok akhir pekan" kata Arka menghentikan kegilaannya. Dia berfikir, jika terus seperti itu. Dia tidak yakin, bisa menahan hasratnya. Sedangkan dia ingin menghormatiku. Ingin malakukan setelah menikah.


Aku hanya mengangguk, lalu aku tertidur dalam pelukannya. Sangat nyaman, sesekali dia mencium pipiku. Aku tertidur sangat nyenyak.


Pagi hari yang sangat indah.



Pantai Reviola, matahari terbit sangat indah. Banyak pasangan muda yang bermalam di pantai. Begitu juga diriku.


Aku bangun, meraba-raba alas pondok. Kenapa kasurnya sangat keras, pikirku. Lalu aku mencoba membuka mataku. Aku terkejut dan lupa dengan kejadian semalam. Sontak aku menendang kuat Arka. Karena tendanganku, Arka bingung dan kesakitan.


"Apakah kamu akan membunuh, calon suamimu?" Tanya Arka, sambil memegang pinggangnya, akibat tendanganku.

__ADS_1


" Calon suami?" tanyaku bingung, aku tidak ingat. Dengan kejadian semalam.


Arka kesal dengan gayaku yang melupakan dirinya. Lalu dia membaringkan aku, dan saat ini aku berada di bawah kungkunganya. Aku menatap wajahnya, duhai tampannya. Aku baru ingat, jika kami baru saja jadian.


"Aku su.." baru saja aku mau berkata, jika aku sudah mengingatnya. Dia menyambar bibirku. Tidak ada rasa jijik di antara kami. Aku membalas ciumannya. Lalu dia melepas setelah aku meronta, kehabisan nafas.


"Lain kali, jangan melupakan hubungan kita. Jika kamu berani melupakan hubungan kita, aku akan membuatmu mengandung Anak dariku" Katanya begitu tegas.


Sebenarnya ucapan Arka hanya sebuah candaan. Namun aku kembali merasa sangat sedih. Lalu kami duduk di pondok, dia menatapku heran.


"kenapa kamu terlihat sedih? Apa karena aku tidak jadi melakukanya padamu?" tanya dia asal jeplak, mulutnya. Kalau bukan kekasihku saat ini, sudah aku tendang sampai ke tengah laut sana.


"Kamu berkata membuatku mengandung Anakmu? Sedangkan Aku mandul. Apa yang kamu katakan semalam hanya sebuah kebohongan?" tanyaku penuh emosi.


"Sudahlah, semua laki-laki sama saja. Hanya keturunan yang kalian pikirkan" kataku sambil melepaskan cicin darinya, aku melempar ke tubuhnya. Aku berlari keluar, aku masuk ke dalam mobil pengawal papi. Arka diam membatu, lalu dia membuka tirai pondok. Dia mencariku ke segala penjuru. Namun Dia tidak menemukan diriku. Arka duduk terdiam di pasir pinggir pantai, sedangkan diriku menyuruh pengawal mengantarku pulang. Aku berlahan mengusap Air mataku.


Aku sangat sensitif, aku takut. Jika aku kembali di selingkuhi. mungkin kasus devan, aku bisa di hipnotis. Lalu, jika kembali terjadi bukankah aku tidak bisa melakukan hal yang sama? Aku terus berfikir dalam lamunanku.


Arka terdiam cukup lama. Dia melamun, melihat hamparan pantai. Dia tidak menyangka, bahwa diriku yang konyol, bisa menangis. Diriku yang bahkan terlihat kuat, bisa begitu rapuh. Hanya karena sebuah Anak. Lalu dia bertanya, kemana aku pergi? Mana mungkin aku pulang, lalu aku pulang dengan siapa? Dia berlari dari ujung ke ujung mencariku. Namun tidak bertemu denganku. Karena aku sudah perjalanan pulang.


Aku sudah pulang,kebetulan bertemu dengan temanku. Sory, kita butuh waktu buat menenangkan diri.


Aku mengirim sebuah pesan whatsapp untuknya. Dia membaca, lalu berkata syukurlah Denada baik-baik saja. Lalu dia pergi ke mobil mewah miliknya. Dia masuk ke mobilnya, dan mengendarai mobilnya ke rumah bu lastri. Namun aku pulang ke rumah papi.

__ADS_1


"maaf bu, apa Denada sudah sampai di rumah?" tanya Arka setelah sampai rumah. Bu lastri terlihat bingung saat mendengar pertanyaan Arka.


"Denada pergi ke mansion Tuan Almart katanya" Jawab ibu ngasal. Karena dia berfikir pasti aku pulang kesana.


Mendengar jawaban bu lastri, Arka pamit pulang. Hatinya terasa hancur. Lalu dia tertawa lirih di dalam mobilnya.


"hehe, ternyata semua perempuan itu sama. Lena menginginkan uang. Lalu Denada datang ke Pak Tua itu juga karna status itu kan? Sangat lucu, status sepasang kekasih hanya satu malam" kata Arka kesal di dalam mobilnya.


Aku masuk ke mansion dengan wajah yang tersenyum. Aku menyembunyikan segala kesedihan di hatiku pada papi. Di ruang tamu, dengan secangkir kopi hitam. papi menatapku. Dia terlihat sangat marah, sama dengan saat aku meminta ijin menikah dengan mas devan.


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin menjelaskan pada papi?" tanya papi dingin.


Aku memeluk papi, aku menangis dalam pelukan papi. Seketika papi membalas pelukanku. Sambil sesekali mencium kepalaku.


"jangan manangis, ada papi di sini. Katakan, ada apa?" tanya papi.


Lalu aku menceritakan semua, papi memandang leherku bekas kiss mark yang di buat Arka. Mata papi mengeryit, lalu dia membentakku sangat keras.


"Denada? Apa yang kamu perbuat dengan Arka semalam? Kalian telah tidur bersama? kenapa kamu tidak bisa menghargai dirimu sendiri? Kamu pemegang penuh Mandala king. Musuhmu di masa depan sangatlah banyak. Kenapa kamu tidak bisa mengendalikan perasaanmu?" papi sangat marah, dia sangat kecewa padaku karena kiss mark yang di buat Arka.


"pi, semalam tidak terjadi apa-apa. Ini hanya perbuatan Arka, tapi kami benar-benar tidak tidur bersama. Pi, Denada janji. Akan belajar dari masa lalu. Denada janji. Akan menjadi kuat. Denada janji, akan meninggalkan Arka, akan menjauh darinya" kataku bersimpuh di lantai.


Papi menatapku dengan perasaan iba, dia ingin merangkulku. Tapi dia menarik tangannya, lalu mengepalkan kedua tangannya. Dia berjalan meninggalkanku naik ke lantai dua, dan membanting pintu ruang baca.

__ADS_1


Terima kasih,telah mengikuti novelku. sampai di eps ini. jangan lupa, kritik dan sarannya. setelah membaca jangan lupa, tinggalkan jejak kalian 🤗


__ADS_2