
Aku membaca semua dokumen yang papi berikan. 65% mataku melotot melihat jumlah saham sebanyak itu.
"ini yang sebenarnya papi inginkan, aku menjadi Presdir dan pemilik Cropyet Group? Papi mengakusisi. Papi sebenarnya belum ingin Denada gantikan?" aku menghujani berbagai pertanyaan pada papi.
"siapa yang bilang kamu gantikan papi? Papi bilang akan memberikan Mandala King pada cucuku bukan kamu" jawaban papi benar-benar menusukku.
"Aku belum ingin nikah" ucapku sambil berjalan ke sofa dan duduk di sana.
"belum ingin nikah, tapi kau terus-terusan bermesraan dengan Arka? Apa kau berencana hamil dulu sebelum nikah?" ucap papi dengan tatapan tegas.
"tolong ya papi sayang, Denada belum pernah tidur dengan Arka. Bagaimana bisa hamil, lagian Arka juga belum mengenalkan Denada pada keluarganya" ucapku sambil menandatangi Dokumen tersebut.
"Papi juga belum ingin kau cepat menikah, kau harus membuat Devan membayar sepuluh kali lipat dari perbuatannya padamu, kau temui dia. Dan berikan ini padanya, aku ingin melihat ekspresinya. Berani sekali dia mengatakan kau mandul" ucap papi dengan ekspresi yang mengerikan. Aku hanya diam dan mengikuti apa yang dikatakan papi.
Aku keluar dari ruangan papi, aku menuju Cropyet Group, perusahaan yang bergerak dalam bidang "GALANGAN KAPAL."
Aku memasuki perusahaan tersebut, aku menemui Resepsionis dan mereka menyuruhku ke lantai dua menemui Devan. Setelah aku mengetuk pintu tersebut, aku mendengar suara mempersilahkan aku masuk.
Aku membuka pintu, diiringi pandangan Devan melihatku. Devan terkejut dengan kedatanganku yang begitu mendadak.
"Denada? Apa kau datang untuk membantuku?" tanya Devan dengan Ekspresi senang.
" Aku kesini cuma akan memberikan dua pilihan, aku yang jadi presdir dan kamu masih bisa bekerja sebagai Manager lapangan, Aku juga akan mebereskan semua gaji karyawan. Pinalti beberapa kontrak dengan perusahaan lain, aku akan menanganinya. Atau aku akan mengambil alih perusahaanmu dan kamu tidak lagi bekerja disini" ucapku dengan tegas.
"Denada, kenapa kamu bisa sejahat ini? Kamu berbeda dari yang aku kenal dulu, asal aku masih bisa bekerja sama dengan Mandala king, pasti aku bisa bangkit lagi, tolong aku kali ini Denada" ucap Devan memelas.
"Tidak bisa, aku tidak mau buang-buang waktu denganmu. Kalau kamu tidak bisa memilih, aku akan memberikan pilihan padamu" ucapku tegas.
"Denada, waktu itu bukan maksudku untuk menghianatimu. Aku hanya mengikuti mama, karena.."
"Karena aku mandul, aku punya kejutan yang besar untukmu, kamu lihat dan baca sendiri" ucapku memberikan map berwarna coklat.
Devan membuka dan membacanya, dia terbelalak tak percaya dengan laporan pemeriksaan dirinya, beberapa bulan yang lalu dia di sekap oleh seseorang dan di paksa melakukan pemeriksaan. Tentu saja orang itu adalah suruhan papi.
"ini semua tidak mungkin, aku bisa memiliki anak dengan saila" teriak Devan padaku.
__ADS_1
"haha, sampai disini kau tak paham juga, kau telah membesarkan anak orang lain" kataku sambil melempar lembaran foto Saila dengan sekertarisnya.
Devan menahan beban yang sangat berat di dalam dadanya, dia kembali duduk di kursinya. Sedangkan nafasnya memburu, seperti orang yang habis lari maraton, dan tangannya meremas kertas hasil pemeriksaanya.
"Mungkin kamu butuh waktu, besok kita bertemu di ruang miting para jajaran pemegang saham. Siapa yang layak menjadi pemimpin di Cropyet Group" ucapku pada Devan lalu pergi kembali ke Kantor.
...----------------...
Bulan tengah berbahagia karena dia lulus Interview dan sudah menandatangi kontrak kerja dengan perusahaan ARWILNOS sebagai Staf pemasaran.
"Gak apa-apa aku dari bawah, yang penting bisa bertemu dengan bule tampan" ucap Bulan di ruang kerjanya.
"Bulan ini adalah target kita bulan ini, semoga kamu betah bergabung di tim pemasaran" ucap gadis manis bernama Ayu.
"Terima kasih Ayu, mohon bimbingannya" ucap Bulan.
Saat Bulan tengah menyerahkan berkas ke salah satu Ruang Direktur Pemasaran, dia berpaspasan dengan Arka, saat ini Arka tengah selesai miting dari ruang miting.
Bulan terpesona saat melihat Arka, dengan pakaen kemeja hitam lengannya di gulung rapi seperempat lengannya. Arka memang tidak suka memakai jas bila berada di Area kantor. Dia akan memakai jasnya hanya bila bertemu klaen atau orang penting.
Arka hanya menatap sekilas tanpa menjawab sapaan Bulan. Arka terkesan dingin, bahkan dia tidak ingat dengan pertemuanya dengan Bulan. Setelah kepergian Arka yang melewati Bulan begitu saja, Bulan hanya menghela nafas dan langsung masuk ke ruangan Direktur.
Aku duduk menghela nafas panjang, aku mengambil ponselku dari dalam tas. Ternyata mati kehabisan batrai. Aku melirik jam sudah waktunya makan.
aku mendengar ketukan pintu dari luar ruangan, rupanya Viera dia datang mengajakku makan di luar, dia meminta tlaktiran.
"Pulang kerja ajalah, sekalian nongkrong sama sinian" ucapku.
"Oke, gak boleh ingkar. Entar lo kabur sama itu bule lagi" Ucap Viera.
"Gak, aman itu. Nanti sekalian aku kenalkan dengan ponakanku, ayo sekarang kita makan siang di kantin aja?" ajakku.
Akhirnya Aku dan Viera makan siang di kantin. Semua mata memandangku, menjadi Artis dadakan. selepas makan siang, aku kembali bekerja, karena memang banyak yang harus aku siapkan.
Waktu terus berlalu, aku mengambil nafas dalam-dalam sambil merentangkan otot-ototku yang sudah mulai pegal semua.
__ADS_1
"Akhirnya pulang juga" ucapku, aku mengirim pesan singkat pada Sinian dan kawan-kawan. Aku menuju caffe dengan Viera. Tak lupa aku sekalian menjemput Bulan dengan Kak Tora.
Aku gak langsung pulang. Mau ke caffe sama teman-teman. Pesan singkat ku kirim untuk Arka.
...----------------...
Di Caffe...
"yeee akhirnya Makan Hot pot, jangan sungkan-sungkan lagi. Anak bos yang tlaktir" ucap Viera, kak Tora hanya tertawa melihat tingkah Viera.
"Aku melihat Viera, ada kemiripan dengan Denada. Ternyata sifat judes dan galaknya hanya saat berada di kantor saja" batin kak Tora.
"Bulan, jadi gimana. Dah berhasil belum gebetanmu?" Godaku.
"hahaha kau ini, selalu membuat pertanyaan canggung. Masih jauh banget, dia cuek dan dingin. Malah membuatku gemes" jawab Bulan.
"Ega" sapa Sinian dan kawan-kawan. Dalam sekejap meja kami penuh.
"Ga, lo ya. Hampir aja bikin aku mati muda" ucap sinian
"Sory deh, aku gak sengaja" ucapku sambil tertawa.
"Mommy?" panggil Wilson, seketika kami langsung menoleh ke asal suara tersebut.
"Wilson, kenapa Wilson disini?" ucapku sambil keluar dari kursiku. Aku melihat wanita Bule yang cantik, apa ini Mommy Arka? Batinku.
"Mrs, senang bertemu denganmu lagi" sapaku.
"maaf cucuku berlari masuk. Ternyata Mommy yang selalu Wilson ceritakan adalah anda, berarti kau calon menantuku" ucapnya dengan memegang kedua tanganku. Seketika Aku langsung membatu.
"Nenek jangan menakuti Mommy" Wilson manarik lepas tanganku yang di pegang oleh Mrs Bule. Mulutku seketika terkunci, tidak tahu harus mengatakan apa. Rasanya sangat canggung sekali, aku tidak tahu bagaimana caraku mengenalkan diri. Dari jauh aku melihat Arka menuju arah Caffe.
"Nenek itu Daddy" seketika kami menoleh ke Arka yang tersenyum pada kami. Lalu Aku menggandeng Wilson keluar dari Caffe bersama Mrs Bule.
Bersambung....
__ADS_1