Wanitaku

Wanitaku
Bulan


__ADS_3

Aku duduk di sofa membaca email masuk, sedangkan Arka duduk di dekatku dan Aku asik besandar di bahunya. Tidak lama kemudian kami mendengar ketukan pintu dari luar.


"Masuk" ucap Arka.


Pintu di buka sempurna, saat itu Bulan melihat kami yang duduk berdampingan dengan meja yang sudah penuh dengan menu makan siang.


"Apakah Denada tahu jika aku menyukai Tuan Arka, sehingga Denada datang kemari?" batin Bulan sambil melangkah masuk.


"Bulan, akhirnya kamu datang juga. Aku sudah hampir mati kelaparan" ucapku sambil memeluk bulan.


"Nad, kamu sudah tahu?" bisik Bulan padaku. Dan kami saling merangkul membelakangi Arka.


"Sudah tahu apa?" tanyaku bingung.


"Tuan Arka yang aku sukai, sampai kau datang kemari untuk membantuku mendapatkannya" ucap Bulan.


"Apa kamu bilang? Kau menyukai Arka?" tanyaku terkejut.


"Tentu saja, lalu Bule yang mana lagi" ucap Bulan.


"Ya ampun, aku kira kau menyukai Feng Teng, bule cina" ucapku.


"Kalian mau sampai kapan, berbisik begitu" ucap Arka. Lalu kami melepaskan rangkulan Dan berbalik menatap Arka.


"Denada, jangan kau tertawa seperti kuda. Cepat kau ajak duduk adikmu" ucap Arka menarikku untuk duduk.


"maaf bulan, aku tidak tahu jika kau adik Denada. Aku akan memperkenalkan diriku secara resmi. Aku adalah calon suami Denada, kedepannya tolong bantu aku untuk membujuk kakakmu menikah secepatnya denganku" ucap Arka mengenalkan diri. Aku hanya diam saja, aku merasa tidak enak pada Bulan.


"Jadi Tuan Arka adalah calon kakak iparku?" tanya bulan tidak percaya.


"hahaha aduh lapar sekali aku, ayo kita makan dulu baru berbicara lagi" ucapku tidak enak pada Bulan.


Akhirnya kami makan siang juga, namun aku tidak nyaman saat Arka terus mengganggu aku di depan Bulan, sesekali memberikan perhatian yang cukup mesra.


"Denada, kenapa harus Arka?" Batin Bulan.


saat makan siang yang cukup lama, Bulan hanya diam tidak mengatakan sepatah katapun padaku. Akhirnya makan siang selesai juga. Bulan meminta ijin untuk kembali bekerja. Namun sikapnya berubah padaku.


"Arka, aku juga akan kembali ke kantor" ucapku padanya.

__ADS_1


"kenapa begitu cepat kembali" rengeknya.


Aku memeluk erat tubuh Arka, lalu mendapatkan balasanya. Tangannya mengusap punggungku dengan lembut.


"Ada apa?" ucapnya sambil mengecup kepalaku.


"Ayo kita menikah?" ucapku pada Arka.


"Denada, kau bersungguh-sungguh?" tanya Arka melepaskan pelukanku dan menatap kedua mataku.


Aku mendongak ke atas melihat wajahnya, lalu dia berlahan mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. Awalnya sangat lembut, lama-lama semakin rakus. Aku mendorong tubuhnya perlahan, aku sudah hampir mati kehabisan nafas.


"Denada" panggilnya, sekali lagi dia menciumku dengan sangat lembut. Aku terbuai sesaat, setelah aku mengingat Bulan. Aku mendorongnya dengan kuat.


"Aku harus segera kembali bekerja" ucapku, setelah itu aku pergi meninggalkan Arka.


Aku tidak kembali ke kantor, aku melihat semua perabotan untuk ruang kerjaku. Rak buku, meja kerja, kursi, dan sofa. Aku juga meminta tukang untuk merenovasi ruang kerjaku menjadi nyaman.


Setelah sore, akhirnya aku kembali pulang. Aku menjemput Bulan terlebih dahulu. Rasanya sangat canggung saat berada satu mobil dengan Bulan, aku tidak tahu harus bertanya apa.


"Nad, apa kau sudah lama mengenal Tuan Arka?" ucap Bulan tiba-tiba.


"beberapa bulan yang lalu, apa kau begitu menyukainya? Jika Arka juga menyukaimu, aku tidak masalah memutuskan hubungan dengannya" Ucapku bersungguh-sungguh.


"Aku tidak memaksa Arka harus menikah denganku, aku sudah pernah gagal dalam pernikahan, jika aku gagal sekali lagi, aku ingin, bukan saat dimana aku sudah telanjur menjadi istrinya" ucapku sambil melihat jalanan di depan.


"Nad, bisakah kau berikan dia untukku?" ucap Bulan. Sesaat aku terdiam mendengar permintaan Bulan.


"Arka bukan sebuah barang yang bisa di berikan setelah aku mendapatkannya, tapi aku akan bersedia jika dia yang meninggalkanku" ucapku pada Bulan, entah terasa tersayat hatiku.


"Kau harus menepati janjimu Denada, aku tidak pernah jatuh cinta pada seorang lelaki. Maaf jika kali ini aku akan Egois" ucap Bulan padaku, aku hanya diam tidak menjawab perkataan bulan.


Aku kembali melajukan mobilku, setelah aku pulang, aku langsung naik ke kamar dan bersiap untuk mandi.


...----------------...


Keesokan harinya aku mengantar Bulan ke tempat kerja, mereka bertemu di depan security. Lalu aku melihat Arka dan Bulan masuk ke dalam kantor secara bersamaan.


"kenapa aku jadi merasa mereka sangat cocok" ucapku pada diriku sendiri.

__ADS_1


Setelah sampai di Cropyet Group aku duduk di kursiku, aku tidak tenang memikirkan Arka dan Bulan. Lalu ponsel di depanku berdering, tanda panggilan masuk.


"hallo Bulan, ada apa?" tanyaku setelah panggilan telvon itu tersambung.


"Nad, kau jangan ingkari janjimu. Mulai sekarang aku adalah Sekertaris Tuan Arka" ucapnya.


"Apa? Secepat itu?" tanyaku dan langsung berdiri dari tempat dudukku.


panggilan telvon pun di putuskan oleh Bulan secara sepihak. Lalu aku kembali duduk, aku terdiam sesaat. Apa iya selanjutnya Arka malah akan menjadi Adik iparku? Batinku terus bertanya pada diriku sendiri.


Aku terus melamun sambil memainkan ponselku. Setelah aku mendengar ketukan pintu, aku tersadar dari lamunanku.


"Masuk" ucapku.


"wahhh, hebat kau Denada. Rapi, luas, nyaman. Wiuhhh anak sultan rupanya sohibku" ucap Sinian sambil clingak clinguk melihat ke segala penjuru ruangan.


Sedangkan bagas dan Abi langsung mencoba Sofa yang baru beli. Sedangkan Riko melihat koleksi Rak buku.


"Ga, gak ada minuman gitu ga?" ucap sinian.


"kalian aku suruh kemari, untuk bekerja bukan minum" ucapku pada para Sohibku.


"kopi atau teh, air putih juga gak masalah ga. Kau pelit amat" ucap Riko sambil menyusul duduk di dekat Sinian.


Aku menyuruh orang untuk membelikan minuman dingin di kantin. Lalu kami diskusi masalah pekerjaan.


"Aku mau jadi sekertaris ga" ucap Sinian.


"no no, aku gak mau sekertaris kayak lo. Gila, lo bagian lapangan" ucapku pada Sinian.


"Lapangan teruz, sekali-kali kasih tempat di ruangan Ber AC gitu, biar gak dekil kulitku ini" ucap Sinian. Sedangkan yang lain hanya tertawa.


Aku sangat senang, akhirnya teman-temanku bersedia meninggalkan tempat kerjanya dan bekerja di tempatku.


Beberapa hari kemudian, aku merasa Arka jarang menghubungiku. Padahal aku butuh pasangan malam ini ke pesta penyambutan CEO baru di Yassen Group.


Denada, malam ini aku sangat bahagia. Ternyata Arka memilihku menjadi pasanganya. Bukan mengajakmu, tapi menjadikan aku sebagai pasanganya. Siap-siap move on ya.


Aku membaca Whatsapp dari Bulan. Sialan, bahkan beberapa hari tidak menghubungiku dan sekarang mencoba membuat wanita lain sebagai pasangannya.

__ADS_1


"Arka, kau lihat saja. Aku pasti akan membuatmu kesal setengah mati saat di pesta nanti" ucapku lalu aku berfikir untuk mencari pasanganku.


Bersambung....


__ADS_2