
Taruno menghentikan langkahnya, diikuti Arka dan anak buahnya.
"kenapa kita berhenti?" tanya Arka heran.
"sayup-sayup aku mendengar suara orang" ucap Taruno.
Arka mendapat sebuah pesan singkat dari Wilson, jika di pulau itu ada sebuah tempat tersembunyi. Tepat di bawah mereka, ada sebuah lorong bawah tanah.
Arka berbisik kepada Taruno. Lalu mereka tengah berbisik untuk saling memberikan ide, agar bisa menerobos masuk ke dalam sana.
"Bagaimana jika kita meledakkan saja tempat ini Tuan" ucap salah satu anggota Taruno.
"kita tidak bisa mengambil resiko itu, di dalam sana ada Nona Besar. Aku takut jika melukai atau mungkin membunuhnya" ucap Taruno.
"Aku rasa, lorong itu pasti memiliki pintu tersembunyi, kita berpencar mencari pintunya" ucap Arka.
"Tuan, kenapa kita tidak kembali ke markas mereka, lorong itu pasti ada hubungan dengan markas bawah tanah mereka" Ucap Akbar yang mengikuti Arka.
Lalu Arka dan rombongan menuju dalam Markas. Bau anyir darah menyengat dari dalam markas, mereka sangat sibuk mencari sebuah pintu lorong bawah tanah.
Setelah dua jam lebih Arka menemukan sebuah pintu di kamar pengantin, lalu Arka melompat ke dalam. Rupanya sebuah jalanan Lorong yang gelap dan pengap, Arka naik ke atas lagi untuk memanggil rombongannya.
Mereka berjalan terus ke bawah, tanpa penerangan apapun. Langkah kaki dan penerangannya bisa membuat musuh kabur.
...----------------...
"Tuan, makanlah sesuatu. Sudah tiga hari Anda tidak makan apapun" ucap Kepala Pelayan pada Tuan Almart.
"Bagaimana aku bisa makan, sedangkan Putriku belum kembali. Dia pasti sedang ketakutan saat ini" ucapnya sedih.
"Paman wu, katakan. Apa aku akan kehilangan Denada? Setelah aku berusaha melindungi Denada selama 16 tahun" ucap Tuan Almart dengan nada sedih.
"Tuan, tahun itu. Bukankah Lucky Fire sudah musnah. Bagaimana mungkin kembali muncul" ucap Paman wu.
"Aku merasa, Pemuda itu adalah Putranya yang berhasil lolos dariku" ucap Tuan Almart.
Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, Arka dan rombongannya berhenti, saat dia mendengar suara sayup-sayup dari depan mereka.
__ADS_1
"siapkan senjata kalian, ingat. Untuk tetap waspada" ucap Arka pada Rombongannya.
"Tuan, sudah saatnya kita keluar dari sini" Ucap kaki tangan Bril.
Bril tersenyum menyeringai, dia menarikku berjalan ke lorong. Dan menyuruh anak buahnya untuk melempar Bom ke arah lawan. setelah kami keluar dari lorong tersebut, ledakan pun terjadi.
Arka dan kelompoknya terluka parah, mereka berhasil di bawa ke rumah sakit menggunakan helikopter.
Mendengar ledakan tersebut, aku langsung tak sadarkan diri karena teringat 16 tahun yang lalu. Kecelakaan yang menimpa mami.
"kapan wanita itu akan bangun?" ucap Bril yang berdiri di dekat ranjangku.
"Sebentar lagi, harusnya dia akan bangun Tuan" ucap seorang dokter.
selang sepuluh menit kemudian, aku terbangun dan melihat sekitarku.
"Dimana yang sakit? Apa kau merasa baik-baik saja?" ucap Bril padaku, dia terlihat mencemaskanku. Lalu aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, karena aku yang saat ini adalah wanita bisu.
"baiklah, minumlah teh hangat ini. aku akan menyuapi bubur untukmu" ucapnya lembut.
Ingin rasanya aku berteriak memaki dirinya, aku hanya menatap dingin wajahnya. Lalu aku memalingkan wajahku.
"Kau makan yang kenyang, sebentar lagi pelayan akan membuatkan makan untukmu, sebelum aku memakanmu. Ingat, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau hamil anakku" ucapnya lalu pergi meninggalkanku.
Cuihh, dasar gila. Aku tidak akan mau mengandung anakmu, batinku.
Setelah dia keluar dari kamarku,aku melihat jendela, ternyata aku berada di sebuah bangunan menara yang tinggi, di tengah laut.
Gila, bagaimana caraku kabur kalau seperti ini. Aku mondar-mandir bingung memikirkan sebuah ide. Lalu aku teringat pada Arka, akankah dia selamat, atau dia...? Tidak, dia tidak mungkin meninggal, batinku cemas.
Makan siang pun di antar ke ruanganku, aku hanya diam menatap keluar jendela. Begitu juga saat makan malam.
"Tuan, nyonya sama sekali tidak menyentuh makanannya" ucap pelayan memberi tahu Bril.
"CK, sungguh wanita yang merepotkan" ucapnya, lalu bangkit dari duduknya. Dia menuju kamar, setelah pintu terbuka, dia melihatku yang terus menatap lautan lepas.
"Jika kau ingin pergi dari sini, maka kau harus segera hamil anakku" ucapnya sambil melangkahkan kakinya mendekatiku.
__ADS_1
Aku sangat ketakutan dibuatnya, aku menggeleng dan tanganku juga memberi kode agar dia tidak melakukan hal itu padaku.
Saat dia mendekat, aku berlutut memegang kakinya sambil menangis. Aku memohon agar dia menaruh rasa iba padaku dan melepaskanku.
Dia duduk agar sejajar denganku. lalu dia menarik daguku dan mata kami saling menatap. Dia tersenyum menyeringai, membuatku semakin ketakutan.
"Lahirkan Anakku" ucapnya, dan aku menggeleng, dia menekan rahangku dengan kuat, terasa sakit sekali oleh cengkeramannya.
"Berdiri" ucapnya, lalu aku mengikuti perintahnya. Dia menarikku ke atas ranjang, dia mendorongku sampai aku tersungkur di atas kasur.
Dia mulai melepas jas nya dan membuang ke sembarang tempat, begitu juga dasi dan kemejanya. Aku menangis. Aku berontak dan menendang kepemilikannya, hingga membuatnya kesakitan.
Aku melihat gelas minum, lalu aku memecahkan gelas itu, dan menggores tajam ke lengan tanganku. Darah keluar dari tanganku begitu deras, aku menangis dan hatiku mengucapkan maaf pada papi.
"kenapa kau begitu bodoh" ucapnya sambil menggendongku ala bridal style.
Perlahan Aku mulai kehilangan kesadaran, darah tercecer di lantai.
Dengan cepat dokter menanganiku, ternyata di menara itu sudah lengkap dengan para dokter dan ruang operasi. Dia menyiapkan untukku saat aku sudah hamil dan bersalin nanti.
Dia membuat Tuan Almart tidak memiliki pilihan lagi, dia menginginkan aku mengandung anaknya agar dia bisa membalas dendamnya dengan sempurna.
Sedangkan di sisi lain, Arka tengah terbaring tidak sadarkan diri. Dokter mengatakan jika dia koma akibat luka di kepalanya.
Setelah hampir 36 jam aku tak sadarkan diri, akhirnya aku pun terbangun dari tidur panjangku. Bril berada di samping ranjangku dengan menggegam tanganku. dia terusik karena aku menarik tanganku.
"kau sudah sadar? Kenapa kau begitu bodoh, aku sudah mengatakan, jika aku mencintaimu, aku tidak akan melukaimu. Tapi aku hanya ingin membuat Almart tidak bisa memilih, selain menerimaku. Dia sudah membunuh Papaku" ucapnya dingin, aku hanya menatap dirinya dengan tatapan sedih.
Setelah satu bulan aku sudah pulih dan aku merasa ada yang berbeda dengan tubuhku. Aku merasa mual setiap kali pelayan membawa makanan ke kamarku.
"Ada apa denganmu?" ucap Bril, aku hanya menggelengkan kepala.
Lalu Bril memanggil Dokter, lalu dokter menduga jika diriku hamil, kemudian dokter menyuruhku melakukan Tes urin.
Benar, hasilnya positif. Aku hanya berdiri dengan tatapan sedih. Sedangkan Bril sangat murka saat mendengar aku hamil.
"Bagaimana mungkin kau hamil, sedangkan aku belum pernah menyentuhmu" teriak Bril sambil melangkah mendekat ke arahku.
__ADS_1
Bersambung....