
Aku menjawab panggilan Telvon Arka.
"Aku menunggumu di depan gerbang" katanya to the point, saat panggilan telvon itu aku jawab.
"ngapain?" tanyaku, seakan tak berdosa.
"bukannya, semalam kamu sudah berjanji. Kalau akan menjemput Wilson ke sekolah?" tanya Arka, dengan nada yang sedikit kesal.
"oh, iya maaf. aku lupa, tunggu sebentar, aku akan turun ke bawah" kataku, mematikan panggilan telvon. Aku menyambar tas kecil milikku. Lalu berlari turun ke bawah melalui lif.
Aku berlari kecil, keluar dari kantor. Aku melihat mobil Arka di depan gerbang. Papi melihat dari lantai 24. Dia merasa kecewa, saat melihat aku masuk mobil Arka. Dan meninggalkan kantor, begitu saja.
"Tekan perusahaan Arwilnos. jangan biarkan dia mendapatkan kerjasama dengan perusahaan Manco" Kata Papi memberi perintah pada Ariyanto.
"Baik tuan" Ariyanto dengan patuh langsung melaksanakan apa yang di suruh papi.
Aku sangat canggung sekali, duduk di samping Arka. Ini adalah kali pertama aku bertemu setelah kejadian di pantai itu. Aku diam, dan menatap ke luar jendela.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Arka tiba-tiba. Tentu saja pertanyaan itu, mengejutkan diriku.
"menikah?" tanyaku bingung.
"iya, bukannya kamu pergi mencari lelaki tua itu . Setelah bersamaku?" tanya Arka tanpa melihat ke arahku. Pandangannya, masih teruz menatap kearah depan.
Aku diam membatu, Aku lebih memilih tidak menjawab pertanyaan bodoh Arka. Karena aku diam, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi.
Jantungku berdetak cukup kencang, apa yang akan di lakukan Arka? Dia bukan mengintrogasiku kan? Aku tetap diam, tidak mau bertanya. Aku pura-pura tidak peduli, walau sebenarnya Aku sangat ketakutan.
"Denada" panggil Arka dengan suara lembut.
"Apa?" jawabku sedikit nada tinggi.
Arka melepaskan safety belt, sekali pencet langsung lepas. Dia meraih tubuhku, lalu memelukku. Aku masih bingung dengan tingkah Arka. Aku mendorong tubuhnya dengan pelan.
"Biarkan aku memelukmu, sebentar saja" kata Arka dengan suara parau.
"Ada apa?" Tanyaku lembut.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya yang kamu cintai, aku atau Almart sialan itu. Katakan, apakah kalian sering tidur bersama" tanya Arka setelah melepas pelukanku. Aku jadi mengerti, dia sedang cemburu.
"Aku...! sudahlah. Kita akan menjemput wilson. Kelak kau akan tahu, sekarang biarkan aku bebas" kataku, dengan nada dingin. Aku tidak mau kalah dengan perasaan ini.
"Aku pastikan padamu, aku akan meluluh ratakan mandala king, hingga tidak bisa bangkit lagi. Aku pastikan, kamu tidak akan memiliki tempat untuk singgah. selain aku" tegas Arka lalu melajukan mobilnya.
"Arka" Penggilku pelan.
"Bisakah kita bicarakan ini. Setelah enam bulan lagi." kataku lagi, sambil memainkan kuku jariku.
"kenapa aku harus menunggu simpanan lelaki orang. Bukankah, kamu dan lena itu tidak jauh beda?" ejek Arka.
"Diam" Bentak ku, sambil melihat ke arahnya. Membuat Arka seketika menoleh.
"Aku dan mantan istrimu itu berbeda, aku bukan simpanan papi" Aku terbawa emosi.
"CK" Arka hanya berdecih, tidak menghiraukan amarahku. Membuatku sangat sebal. akhirnya kami diam sepanjang perjalanan.
Tidak lama kemudian, kami sampai di sekolah Wilson, terlihat Kelas baru selesai. Arka membukakan pintu mobil, menggandeng hangat tanganku, ini mungkin hanya sekedar ekting saja. Pikirku, sambil melirik tanganku, yang berada di gegaman tangan Arka.
"Sudah suka kan? Seperti yang kamu mau?" tanya Arka pada Wilson.
"Terima kasih mommy, sudah datang" kata Wilson melepas pelukanku dan mengabaikan Arka. Aku mengangguk, dan mencium pipi gembulnya. Teman-teman Wilson datang, mendekat.
"Wilson, benarkah ini mommymu? Cantik sekali" kata Anak yang gendut yang kemaren menindas Wilson.
"Tentu saja, mommy cantik" jawab Wilson bangga. Semua teman-temannya memuji kecantikanku. membuatku tersipu malu.
"Ayo, kita pergi makan" Ajak Arka, kami pun naik mobil. Arka mengajak makan di Restoran kemaren, saat kami memulai hubungan. Rasanya sangat canggung sekali.
"Tuan, nyonya. Silahkan di pesan. Ini menu terlaris di restoran kami" kata pelayan itu sopan.
"Tom yam seafood saja" kataku, setelah melihat buku menu.
"Wilson juga, mau yang sama dengan mommy" teriak Wilson. Akhirnya kami bertiga memesan Tom yam Seafood.
"Mommy, aku ingin sekali bertemu dengan kakek. Apakah boleh aku ikut ke tempat Mommy?" tanya wilson dengan mata yang sangat imut.
__ADS_1
"boleh" kataku tanpa berfikir panjang.
"Tidak boleh" sahut Arka dengan nada yang dingin.
"Kenapa? Memangnya Daddy tidak mau meminta Restu pada kakek? Bukannya semua orang dewasa, sebelum menikah harus bertemu dengan orang tua kekasihnya?" Tanya Wilson bingung.
"Dia bukan ayah mommy, dia calon suami mommy" jawab Arka dengan nada yang dingin.
"Mommy, apakah Mommy akan menikahi kakek? Apakah itu benar Mommy?" tanya Wilson bingung.
"Tentu saja Tidak, memangnya Wilson tidak mau Mommy lagi?" tanyaku mengagetkan Arka. Aku sudah tidak tahan mencium bau cuka. Arka langsung melirikku, dia membatin trik apa lagi yang sedang aku mainkan.
"Tentu saja Wilson ingin Mommy" kata Wilson mencium pipiku. tidak lama kemudian, pelayan membawa pesanan kami. Aku merasa sangat bahagia saat berada di dekat Wilson.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di kamar yang cukup besar dan Rapi. Terlihat Isabela, mama Arka tengah menangis. Dia sangat mendalami Drakor kesukaannya. Tidak berapa lama kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar.
Lalu Isabela menyuruh masuk, setelah masuk lelaki yang biasa di sebut Caper itu melaporkan apa yang seharusnya dia laporkan.
"Apa kamu bilang? ini tidak bisa di biarkan. Aku akan menemui Lelaki tua itu setelah flim ini selesai, kamu siapkan mobil" Kata Isabela terlihat murka. lalu dia mefokuskan perhatiannya kepada Drakor di televisinya.
Setelah selesai makan, Arka mengajak Wilson ke kantornya sekalian mengantar aku kembali ke kantor. Lambaian tangan kecil Wilson, membuatku tersentuh. Aku tersenyum senang.
"Ariyanto, dia telah kembali. Terlihat, wajahnya sangat bahagia, aku tidak pernah melihat dia. Sebahagia ini. Lalu, apa menurutmu Arka itu pantas untuk putriku?" Tanya Tuan Almart pada Ariyanto. Dia masih berdiri di dekat kaca, dia ingin pertimbangan Sekertaris serba bisa itu.
"menurutku, Tuan Arka adalah lelaki yang hebat. Jika itu baik untuk nona, aku mendukungnya. Tapi sejauh ini, bukankah tuan akan mengujinya sebelum menikahi nona, tuan?." jawab Ariyanto, dengan apa adanya.
"Tentu saja aku akan melihat kemampuan dia" jawab Tuan Almart kembali duduk di kursinya.
Tidak lama kemudian, Isabela berkunjung menemui Tuan Almart. Dia marah, karena tidak di setujui untuk bertemu dengan Tuan Almart. Lalu kebetulan, aku melihat kejadian itu.
"maaf, ada keributan apa ini?" tanyaku pada mereka. Ada dua resepsionis, security dan beberapa karyawan disana.
"Waooo, pesona menantuku sangat keren. Bahkan ini lebih cantik dari yang di foto ponsel Arka. Anak tidak berbakti itu, tidak bisa menaklukan hati menantuku, biarkan mommy membantumu sedikit" batin Isabela menatapku.
"begini, aku ada perlu mendesak dengan Tuan Almart. Bisakah menolongku, untuk bertemu dengannya. Ini sangat mendesak sekali" kata wanita paruh baya, yang bahkan aku tidak tahu asalnya dari mana, yang pasti dia adalah seorang bule.
__ADS_1