
"Denada, berhenti menatapku" ucap Arka dengan tegas.
"aku sangat suka, saat kau begitu malu" ucapku sambil melingkarkan tanganku di pundaknya.
Aku menatap mata elang berwarna biru miliknya, aku sangat menyukai mata tersebut. kami saling menatap, bahkan wajah kami sudah begitu dekat. Aku bisa mencium nafasnya seperti bau mint.
Tanpa kusadari dia sudah mencium bibirku, aku menutup mataku. Kami saling mencium sekian detik, lalu kami saling melepas. Aku memeluk tubuhnya, saat ini aku mendengar detak jantungnya, yang memompa lebih cepat dari yang seharusnya. Lalu dia membalas pelukanku.
"Terima kasih, telah memperjuangkanku" ucapku lirih, namun masih bisa Arka dengar.
"Aku mencintaimu, sudah pasti aku akan memperjuangkanmu" balas Arka mengecup kepalaku.
"Jika ini mimpi, aku tidak ingin bangun. Aku hanya ingin seperti ini" ucapku lagi.
"Baby, kenapa kau tak jujur dari awal. Jika kau anak Tuan Almart. Aku sudah hampir menghancurkan Mandala King, sudah mengejeknya. Kedepannya, bagaimana caraku menghadapi papimu" ucap Arka setelah melepas pelukan.
"Itu tergantung bagaimana caramu menaklukan papi, atau aku akan menikah dengan pilihan papi" godaku pada Arka.
Mendengar perkataanku, Arka kembali mencium bibirku, lalu membuat tanda di leherku, setelah itu dia mengatakan jika aku adalah miliknya. Setelah itu, kami kembali bekerja.
Semua karyawan hormat padaku, saat aku memasuki Gedung pencakar langit itu. Aku masuk ke ruangan pemasaran dan Desain.
Aku melihat wajah Saila yang menatapku penuh dengan perasaan benci, aku mengabaikan dia dan langsung masuk ke ruangan Viera.
"masih ingat kau kemari Denada? Apa kau tidak ingin menjelaskan semua padaku?" ucap Viera berlagak marah.
"Aduh duh, sahabatku. Semua ini karena ulah papi, aku tidak bisa berbuat banyak, selain mengikuti Drama papi" ucapku sambil memeluk Viera.
"Aku tidak akan memaafkanmu, kalau kau tidak mentlaktirku makan yang banyak" ucap Viera sambil melipat tangannya. Mendengar hal itu, aku hanya tersenyum mengabulkan keinginan Viera.
Sementara di dalam Mansion bulan tengah membaca berita di ponselnya, lalu dia melihat Foto bule yang menabrak dirinya waktu di mall.
"ARKA ARWILNOS pemilik perusahaan ARWILNOS di batam, aku akan melamar kerja disana" ucap Bulan senang. Secepat kilat dia mengirim PDF ke perusahaan tersebut.
Setelah sore, aku bersiap pulang. Arka sudah mengirim pesan singkat, jika dia sudah berada di depan gerbang kantor. Aku sangat senang sampai melupakan papi.
"lelah?" tanya Arka setelah aku sudah duduk di sampingnya.
"Iya, aku ingin segera pulang" ucapku sambil menghela nafas panjang.
Arka mengelus lembut kepalaku sambil tersenyum. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena macet yang berkepanjangan aku tertidur.
Arka melelas jas mahal miliknya dan menyelimutiku, dia mengecup pipiku lalu tersenyum setelahnya. Arka bingung saat sudah di perempatan jalan.
__ADS_1
"Denada mau pulang kemana? Apertemen atau Mansion?" ucapnya pada dirinya sendiri. Lalu dia memilih mengantarku ke Mansion.
Tidak lama kemudian kami sampai di depan gerbang. Arka melihatku masih terpejam, dia membelai wajahku, lalu menyilipkan rambutku ke telingaku.
"Cantik sekali" ucap Arka sambil tersenyum
"Baby, udah sampai. mau turun atau ikut Aku pulang?" ucap Arka dengan wajah yang sangat dekat. Aku membuka mata dan terhantuk wajahnya.
"kenapa begitu dekat" kataku mengelus hidungku, rasanya sakit.
"Sini" Arka menarikku, ternyata aku sudah tidak memakai Safety belt. Aku berada di pelukannya, aku hanya diam menatap wajahnya. Dia mencium bibirku, dia merasa candu. Aku membalas ciumannya, beberapa saat kemudian dia melepaskan ciumanya.
"Turunlah, sebelum aku memutar balik ke Apertemen dan memakanmu disana" ucap Arka. Secepat kilat aku turun dari mobilnya.
"Selamat datang Nona besar" ucap para pelayan menyambutku.
"Denada?" teriak Bulan, aku terkejut dengan wanita seumuranku. Aku diam terbengong, Bulan memelukku dan tersenyum puas, sepertinya dia sangat bahagia bertemu denganku.
"Siapa ya?" tanyaku padanya, aku benar-benar tidak mengingat dirinya sama sekali.
"kamu ini jahat sekali, melupakan aku" Bulan langsung mencubit kedua pipiku, seketika aku ingat saat paman dan tante keluar dari kamar.
"Bulan aaaa" aku berteriak dan langsung memeluk Bulan.
"Baru saja kemaren kami sampai disini" ucap Bulan. Aku memeluk tante dan Paman, lalu naik ke kamarku, Aku bergegas Mandi dan duduk di ruang makan.
"Denada, aku akan tinggal di sini. Aku sudah melamar pekerjaan di perusahaan Arwilnoz. Besok aku akan interview" ucap Bulan sangat senang.
"kenapa kamu tidak bekerja di kantor Ayah aja?" tanya Papi.
"Gak yah, kali ini aku akan mengejar jodohku" ucap Bulan.
"Jodoh, apakah orang yang kau harapkan sedang bekerja di sana?" tanyaku heran.
"Iya, dia sangat tampan" ucap Bulan.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah bulan. Setelah selesai makan aku dan Bulan mengobrol di kamarku sampai larut malam. Aku melupakan ponselku yang habis batrai. Sinian dan kawan-kawan sedang berusaha menghubungiku namun tidak tersambung.
"jehhh, kowe seg bener yen nelvon" ucap Riko pada Sinian.
"Jancokk, ora nyambung cokkk. Tak roso Denada wez merem" jawab Sinian.
"kau berdua bisa gak, gak usah bawa-bawa bahasa alien kalian itu" ucap Abi kesal.
__ADS_1
"sudahlah, nanti dia juga bakal hubungi kita. Terharu aku, ternyata Denada Anak orang kaya. Pantas saja dia begitu Royal sama kita" ucap Bagas.
Akhirnya mereka merayakan untuk karirku dengan beberapa botol minuman. Sesekali ada yang menyanyi lalu tertawa, begitulah kelakuan mereka jika sudah mabuk.
Keesokan harinya Bulan sudah tampil rapi dengan pakean yang elegan, dia terlihat sangat manis. Dia begitu bersemangat untuk melakukan interview, terlukis diwajahnya jika dia sedang jatuh cinta.
"lelaki mana yang di cintai Bulan, pasti dia sangat luar biasa. Wanita yang menganggap lelaki merepotkan, kini kali pertamanya dia jatuh cinta. Aku jadi penasaran pada lelaki yang di taksir sama Bulan" Batinku saat sedang menatap Bulan yang begitu semangat di meja makan.
Aku berangkat lebih awal, Arka menjemputku untuk berangkat bersama. Papi membiarkan ini semua berlanjut. Karena sesungguhnya dia sangat menyukai Arka.
"Ini ada bekal buat kamu, dari Momny" ucap Arka memberikan kotak bekal untukku.
"Mommy? Maksudmu, mama kamu?" tanyaku ragu. Lalu Arka mengangguk.
What, calon mertuaku memberikan bekal aku? Aku sangat senang sekali. Aku langsung membuka bekal tersebut.
"Waooo" ucapku saat membuka kotak bekal yang rumayan besar.
Bekal dari calon mertuaku adalah full English breakfast. Disebut full karena sajian sarapan ini terdiri atas aneka jenis lauk, seperti bacon, telur goreng, sosis, tomat panggang, jamur, kacang panggang, dan hash brown.
"apakah kamu menyukainya?" tanya Arka sambil menatapku lembut.
"Suka, aku sangat suka. Bisakah kamu katakan pada Tante, jika aku menyukainya?"ucapku dengan penuh semangat.
"hum, enak sekali" ucapku lagi setelah memakan beberapa potong sajian sarapan ala orang English.
"pelan-pelan, makannya. Tidak ada yang akan merebutnya" ucap Arka mengusap bibirku dengan lembut. Lalu aku menatapnya. Sedangkan sopir melihat kami dari spion mobil.
"kamu kenapa, suka sekali menggodaku begitu?" tanyaku heran.
"sini aku kasih tahu" ucapnya. Dengan polosnya, aku pun mendekat.
Tiba-tiba dia menyambar bibirku, dan Arka menarik tubuhku duduk di pangkuannya.
"Arka, kau tak lihatkah. Kepalaku terhantuk mobilmu" ucapku sambil menunduk ke wajahnya. Dia lagi-lagi menghajar bibirku, sialan. Lagi-lagi aku di kerjai Arka.
Kami sedang kasmaran, seakan dunia milik berdua. Sopir kami anggap tidak ada, tidak terasa sudah sampai di kantor.
"biarkan aku memelukmu sebentar" ucap Arka yang terus memelukku. Setelah puas memelukku dia melepaskanku. Namun tangannya enggan melepaskanku. Lalu aku tersenyum dan mengecup bibirnya, setelah itu kami pun berpisah.
Setelah pukul Sembilan papi memanggilku ke ruangannya. Aku pikir dia akan menyerahkan jabatannya, ternyata sungguh mengejutkan diriku. Pasalnya aku di suruh tanda tangan pengalihan saham Cropyet Group.
Bersambung....
__ADS_1