Wanitaku

Wanitaku
Di dalam Hotel


__ADS_3

Aku tidak sadar membalik posisi tidurku. Sekarang aku posisi terlentang, Arka memandang wajahku yang tertidur nyenyak.


"Wanita ini memang tidak ada waspadanya" kata Arka sambil mencubit pipi gembulku. semakin di pandang, semakin membuatnya gemas.


Arka tidur memeluk tubuhku, dia merasa nyenyak dan nyaman. Sudah empat tahun lebih, dia tidak pernah memeluk wanita.


Pagi yang indah, semua orang melakukan aktifitasnya masing-masing. Aku terbangun dari tidurku, aku membuka mataku. Aku mengamati sekeliling ruangan. Seperti sangat Asing, Aku sangat terkejut saat aku membuka selimut yang melilit tubuhku.


Aku tidak percaya, hanya tersisa baju dalaman. Lalu kemana bajuku? Aku tidur dengan siapa? Aku benar-benar tidak mengingat kejadian tadi malam. Di ruangan, tampak kosong. Tidak ada seorang pun. Lalu aku melihat meja samping ranjang, ada tasku, dan paper bag.


"Dasar bajingan. Setelah pakai, langsung kabur" kataku sambil mengeluarkan isi paper bag. Semua berisi baju ganti, lengkap dengan **********, semua ukuranku.


"Masih punya hati juga, masih menyiapkan baju gantiku" kataku, lalu pergi mandi.


Setelah bersip aku melirik jam, sudah pukul Delapan. Walau telat, aku tetap berangkat kerja. Setelah sampai di tempat kerja, aku mendengar gunjingan karyawanku, baru naik pangkat langsung berangkat siang.


"ck" aku hanya berdecih, lalu masuk ruanganku. Aku memantau keuangan perusahaan. Ada kejanggalan di keuangan perusahaan. Lalu aku berfikir, apakah ada penggelapan dana perusahaan? Apa perlu aku berbicara dengan papi?


Aku berfikir panjang, dalam lamunanku. Lalu aku memutuskan untuk melaporkan setelah mendapatkan bukti Terlebih dahulu. Jam makan siang, aku tidak pergi ke ruangan papi. Aku makan di kantin dengan viera.


"denada? Hm, kamu masih marahan ya?" tanya Viera tiba-tiba.


"marahan? Sama siapa?" Tanyaku bingung.


"Sama tuan Almart lah. Sama siapa lagi?" kata Viera sambil menjingkitkan pundaknya.


"oh, gak kok. Kali ini, aku sama Tuh papi. Mau profesional aja di tempat kerja" Kataku sambil terus makan.


Viera, hanya tersenyum saja. Mendengar penjelasanku. Di tengah makan, aku teringat sama montorku, lalu aku menghubungi sinian.

__ADS_1


"hallo ga? Lo masih hidup kan? Dimana lo sekarang?" baru aja nelvon, sinian sudah membrondong berbagai pertanyaan.


"montor gue sekarang dimana?" tanyaku, aku tidak peduli dengan pertanyaan nya.


"Di bawa abi, semalam lo mabuk berat. Ada bule bawa lo, kalian tidur bersama ya?" tanya sinian penasaran.


"bule? aku gk ingat" jawabku.


"iya bule, dia maksa bawa lo. Kita-kita gk bisa lawan tuh bule. Dan kami gak terlalu kawatir. Soalnya pas lo lagi mabuk bilang jatuh cinta sama Duda, terus bule itu bilang, kalau lo pacarnya, eh bukan, bukan. Lebih tepatnya dia bilang calon istri. Lo gak ada niat buat jelasin, sama kita-kita?" sinian mejelaskan dengan panjang kali lebar kali tinggi, dah kayak rumus matematika aja.


"nanti lo antar montor itu ke rumah gue ya, lagian dah lama kan, gak ngumpul di rumah gue?" kataku pada sinian, mengalihkan pembicaraan.


"oke, ga. Nanti aku info sama anak-anak yang lainnya" jawab sinian. dan aku langsung mematikan panggilan telvon.


Viera mendengar hal itu, dia mengatakan "jadi mereka aja nih, yang di undang? Gue gak lo undang?" mendengar ucapan Viera aku mengajak dia sepulang kerja. Dengan senangnya dia langsung memelukku. Aku baru tahu, ternyata wanita galak ini, bisa imut seperti anak anjing juga, Batinku.


"Nona sedang makan dengan Viera manager pemasaran, tuan." jawan Ariyanto sambil meletakkan Air mineral ke atas meja.


"Istirahatlah, makan dulu. Baru kerja" ajak papi makan bersama.


"Tapi tuan..."


"Duduklah, kamu sudah mengikuti dari sejak kita belum menikah. Sebentar lagi kita akan pensiun. Putramu juga sebentar lagi akan selesai study di inggris. Biarkan dia menggantikanmu kelak, kita sudah saatnya menikmati masa tua" kata papi menyela ucapan Ariyanto.


Ariyanto tidak bisa menolak lagi, jika dia akan menolak. Papi akan marah padanya. Ariyanto memang memiliki satu orang anak bernama Defri dia seumuran dengan Denada, namun keduanya belum saling kenal. lantaran Denada harus menutupi Identitasnya. Saat Denada masih tinggal.di mansion, Defri tinggal di jawa.


Seperti biasa, setelah makan aku kembali ke meja kerjaku. Aku memiliki cukup bukti untuk melaporkan penggelapan uang perusahaan. Dia adalah salah satu orang kepercayaan papiku. Aku melirik ponselku, lalu aku membuka pesan whatsapp. Entah kenapa aku menjadi rindu pada Wilson.


"Alangkah baiknya, jika aku memiliki putra sebesar wilson. Apakah benar, jika aku ini adalah wanita mandul? Seperti yang dikatakan mantan mertuaku itu?" kataku lirih, bertanya pada diriku sendiri. sambil menatap fotoku dengan Wilson saat berada di kampung Vietnam dulu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, wilson tengah semangat belajar di kelasnya. Dia membuat sebuah gambar, gambar itu seperti dirinya yang sedang bergandengan tangan denganku dan Daddy nya.


"Wilson, untuk apa kau menggambar seperti itu. Seakan-akan kamu memiliki ibu. Kamu hanya anak pembawa sial, tidak memiliki ibu hahahaha" ejek anak gendut, keriting dan hitam itu mengejek Wilson.


"Tentu saja Wilson punya mommy, kamu pasti akan segera mengetahui mommy cantik Wilson" teriak Wilson melawan, ejekan Anak gembul itu.


Mendengar kata-kata yang di ucapkan wilson, semua hanya tertawa mengejek. Wilson bertekat dalam hatinya, dia akan menunjukan diriku pada teman-temannya.


Akhirnya jam pulang sekolah pun tiba, Wilson pulang dengan sopir pribadinya. Dia harus les privat di mansion, setelah pulang sekolah. Arka membuat jatwal yang sangat padat, untuk calon pewarisnya.


"Aku akan meminta mommy untuk menjemputku pulang sekolah. Aku harus bisa membuat teman-temanku mngakuinya. Aku pokoknya mau mommy" kata wilson pada dirinya sendiri, sebelum guru privatnya datang.


Sementara itu Arka tengah berfikir keras untuk bersaing dengan Tuan Almart. Dia harus mendapatkan banyak Investor dari perusahaan besar. Dia tidak ingin melepaskan diriku begitu saja.


"Feng teng, kapan lelang di lakukan?" tanya Arka setelah melihat fotoku di ponselnya.


"dua hari lagi Tuan. Apakah Tuan akan menghadiri acara lelang itu?" tanya Feng Teng.


"iya, selain mendapatkan ponsel yang di keluarkan oleh mandala king, kita harus bisa mendapatkan kerja sama dengan group Wikael, Aku akan bersaing adil dengan Rubah tua itu" kata Arka memberikan perintah pada Feng Teng. Dan Feng Teng hanya mengangguk tanda dia akan melaksanakan perintah tuannya.


Arka bekerja dengan giat, dia mulai menarik perusahaan asing untuk menanam saham di perusahaannya. Dia bersikeras untuk bisa mendapatkanku. Begitu juga papi, dia mulai tersenyum kala dia mendengar kabar jika Arka sudah mulai bertindak.


"boleh juga, bule ini. Aku hanya akan merestui mereka yang kuat, untuk bersanding dengan putriku. Jika tidak kuat, jangan memiliki keinginan lebih" kata papi, sambil tersenyum melihat laptop miliknya.


Ariyanto sedang melaksanakan tugasnya menekan Cropyet group. Papi ingin membuat perhitungan kepada keluarga Devan, yang telah melukaiku secara mental dan fisik.


Terima kasih,telah mengikuti novelku. sampai di eps ini. jangan lupa, kritik dan sarannya. setelah membaca jangan lupa, tinggalkan jejak kalian 🤗

__ADS_1


__ADS_2