
Cropyet group sedang dalam kekacauan. Semua kerja sama dengan mandala king dan perusahaan lain, di batalkan. Devan selaku ceo perusahaan tengah di rundung kekesalan, akibat mamanya, yang tidak mengenali pemilik perusahaan terbesar se_asia sebulan yang lalu.
"Semua salah Denada, kalau bukan J4l4ng itu. Perusahaan kita tidak akan mendapat tekanan seperti ini" teriak mama Devan, mantan mertuaku.
"ma, berhenti salahin Denada. Dia tidak pernah bersalah, Devan yang salah. Devan yang menghianti dia" Mas Devan membelaku.
"terus saja kau bela perempuan mandul itu" teriak mama Devan, sambil bertolak pinggang.
"sudahlah ma, jangan membuat semua semakin panas. Dan menyalahkan Denada" Teriak Devan dengan tatapan dingin.
Dengan kesal mama Devan, keluar dari ruangan Devan. Dia sangat kesal, sampai menghubungi aku. Dengan tatapan heran, aku memandangi ponselku, ada nama mertuaku di layar ponselku, lalu aku menjawab panggilan telvonnya.
"hallo" aku menjawab panggilan nenek sihir itu.
"Denada, mari kita berbicara di cafe ceria" Jawab nenek sihir itu singkat, padat dan jelas. Setelah itu dia langsung mematikan panggilan telvonnya.
Aku sejenak melamun dan bertanya. dalam batinku, Kenapa nenek sihir ini ingin bertemu denganku begitu tiba-tiba?. Apa ada sesuatu yang sangat penting? Lalu apa? Aku pun, menjadi penasaran. Aku menyambar tas dan memesan taxi online.
"Tuan, nona pergi keluar. Dengan taxi online" seorang pengawal, yang biasa mengikutiku kemanapun aku pergi dia melaporkan pada papiku.
"ikuti, dan laporkan bila ada masalah. Secepatnya" jawab papi memberi perintah. Dengan sigap, pengawal mengikutiku. Aku melihat dari kaca spion taxi yang aku tumpangi. Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Yang membuatku tidak nyaman adalah, saat nanti papi tahu. Jika aku bertemu mantan mertuaku.
Ahhh sudahlah, nanti aku akan jelaskan pada papi. Jika memang papi minta penjelasan dariku. Batinku, sambil menghela nafas panjang.
Aku juga membatin, kenapa aku masih mau menemui nenek sihir itu? Tapi jika aku tidak menemuinya, aku akan mati penasaran. Aku hanya ingin tahu, apa yang akan dikatakan padaku, saat bertemu nanti.
Tidak lama kemudian, aku pun sampai di cafe tersebut. Aku langsung masuk, aku melihat setiap tempat duduk, mataku tertuju di sudut ruangan. Nenek sihir itu, masih sama dengan tiga tahun yang lalu. Masih cantik walau usianya sudah tua, dia juga terlihat glamor. Penampilan seperti toko mas berjalan.
__ADS_1
Aku berjalan mendekat ke arahnya, berlahan namun pasti. Dengan langkah yang di iringi detak jantung yang semakin kuat. Ini bukan detak jantung karena gugup atau takut, tapi lebih ke perasaan benci.
"kamu sudah datang, silahkan duduk. Atau pesan minum lebih dulu. Aku punya banyak waktu menunggu dan mengobrol denganmu" kata nenek sihir itu basa basi.
"tidak perlu basa basi lagi, katakan secara langsung. Apa yang ingin anda bicarakan denganku?" jawabku, sambil menarik kursi dan duduk dengan gaya yang anggun.
"kamu sekarang terlihat sangat sombong, aku ingin kamu tinggalkan Tuan Almart, dan membereskan kekacauan yang kamu buat. Ini cek, buat kamu. Setelah kamu bisa membereskan kekacauan yang kamu buat. Cek ini bisa menjadi milikmu" kata nenek sihir itu, menyodorkan cek sebesar 100 juta.
"Aku saat bersama Tuan Almart, bisa mendapatkan yang lebih dari itu. Kenapa aku harus menerima yang sedikit ini?" Aku melipat tanganku di dada, dan menatap nenek sihir ini dengan tatapan mengejek.
"Kamu hanya wanita mandul, cepat atau lambat. Kamu juga akan di buang oleh Tuan Almart. Kenapa kamu tidak meninggalkan dia lebih dulu, setidaknya. Kamu terlihat lebih terhormat. Dari pada menjadi pel4cur" Ejek nenek sihir itu, namun sedikit menarik menurutku.
"Aku lebih suka, menjadi pel4cur dari pada menjadi babu, di rumahmu. Yang kamu bilang mewah dan wahhh. Namun tidak ada seperempatnya dari mansion Tuan Almart" Ejekku padanya. Dia terlihat menahan kemarahannya.
"jangan berfikir untuk membodohiku lagi, aku bukan wanita mandul. seandainya aku mandul, dan aku menikah dengan Tuan Almart. Itu berbeda dengan aku menikah dengan Mas Devan. Sekarang aku memiliki seorang anak yang sebesar diriku, jika aku menikahi Tuan Almart, bukannya enak. punya anak tanpa melahirkan" kataku sambil tersenyum menyeringai.
Dia hanya menatap kepergianku, sambil meremas cek yang di meja. Lalu dia menghubungi Saila. Mereka membicarakan sesuatu yang sangat penting. saat aku sedang memesan Taxi dalam Aplikasi, aku tidak memperhatikan jalan. Sehingga aku menabrak seorang lelaki tua, seumuran papi.
"maaf pak, saya tidak sengaja" kataku sambil membantu bapak itu bangkit dari lantai. Sekejap mata kami saling menatap, dia seperti sedang memperhatikanku.
"maaf pak, apa bapak baik-baik saja?" tanyaku memastikan.
"saya baik, ba.. baik. Saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantuku. Siapa namamu nak?" tanya bapak itu penasaran.
"Denada" jawabku singkat.
"nama lengkapmu siapa?" tanya bapak itu sekali lagi.
__ADS_1
"nama lengkap? Kenapa nama lengkap, seperti sedang mengintrogasi diriku saja" batinku
"Denada alisa putri pak" jawabku berbohong, aku mengingat perkataan papi, untuk tidak mengatakan nama lengkapku ke sembarang orang.
"oh, baiklah. Kamu sangat mirip dengan seseorang" katanya.
"ah, mirip seseorang? Siapa?" tanyaku penasaran.
"dia sudah lama meninggal" katanya, seperti tengah sedih.
"oh, baiklah pak. Saya purmisi. Taxi pesenan saya sudah datang" kataku, terus segera meninggalkan pak tua yang menurutku aneh.
"Tidak bisa di pungkiri, dia sangat mirip sekali dengan Rere. Aku yakin dia anak Rere" batin pria tua itu, setelah aku naik taxi.
Ariyanto tengah melaporkan apa yang terjadi padaku di dalam cafe ceria. Papi langsung terkejut. Dia menyuruh memperketat penjagaan terhadapku. Entah apa yang sedang dikatakan oleh Ariyanto.
Setelah aku sampai di kantor, papi memanggilku ke ruangannya. Aku pun masuk dan sebisa mungkin bersikap datar, layaknya seorang karyawan dengan atasannya.
"Denada mulai hari ini, kamu tinggal di apertemen Tora. Kemanapun kamu pergi, harus bersama dengan Tora" kata papi dengan ekspresi dingin.
"what, papi. Oke, Denada salah. Malam itu pergi dengan Arka. Tapi papi gak bisa batasin semua kebebasan Denada dong. Masa iya, aku satu apertemen sama kak Tora, Denada gak mau" aku langsung menolak mentah-mentah.
"Denada, aku gak peduli kamu setuju atau tidak. Sekarang keputusan papi adalah mutlak. Dan kamu hanya perlu mengikutinya" kata papi tegas, dengan nada yang membentak. Aku sedikit terkejut, karena selama ini papi begitu sabar padaku.
"Denada, gak apa-apa. Yakinlah, semua itu demi kebaikan kamu. Di apertemen kakak. Ada dua kamar kok. Kakak juga gak sering tinggal di apertemen" kak Tora menghiburku. Aku hanya diam. Kalau papi sudah berkata begitu, aku bisa apa lagi. Selain mengikuti keinginan papi.
Terima kasih,telah mengikuti novelku. sampai di eps ini. jangan lupa, kritik dan sarannya. setelah membaca jangan lupa, tinggalkan jejak kalian 🤗
__ADS_1