
Arka tengah berdiri di dekat jendela kamarnya. Dia memandang ke luar ruangan, tangan sebelah kirinya berada di kantung celananya. Tidak lama kemudian dia menyambar kunci mobilnya dan munuju apertemennya.
"Denada, kenapa jika ada lelaki lain, kamu bersedia" ucap Arka sambil berdiri menatap ranjang Apertemennya.
Malam pun berlalu, siang pun datang. Tuan Almart mengajak Bril pergi menemui klean. Mereka menaiki mobil yang sama. Tidak lama kemudian, mereka pun turun dari mobilnya dan masuk ke dalam restoran.
"Maaf, lama menunggu" Ucap tuan Almart memberikan salam pada kleannya.
"Tidak masalah" ucap klean.
Setelah itu, mereka membahas kerja sama kontrak baru. Tidak lupa Tuan Almart mengenalkan Bril sebagai menantunya.
Mereka memuji Tuan Almart karena mendapat menantu seperti Bril, dan tidak lupa mengucapkan selamat padanya karena sebentar lagi akan mendapatkan seorang cucu.
Aku menekan bel Apertemen milik Arka, karena sebelumnya Arka mengirim sebuah pesan singkat ingin bertemu denganku.
Tidak lama kemudian Arka pun membuka pintu Apertemen dan menarikku masuk ke dalam. Aku mengikuti dia, saat dia mengajakku duduk di sofa, aku menolaknya.
"Arka, aku seorang wanita yang sudah menikah. Kedepannya jangan menggangguku" ucapku sambil meremas bajuku.
"Denada, duduk. Aku tidak ingin mengulangi ucapanku lagi" ucapnya dingin.
Aku berbalik dan bersiap pergi meninggalkannya. Tiba-tiba Arka memelukku dari belakang. Aku sangat terkejut, namun aku diam membatu oleh perlakuannya.
"Sampai kapan kau akan bersandiwara? kau hamil anakku bukan?" ucap Arka, dia memompangkan dagunya di bahuku.
"Omong kosong apa yang kau katakan Arka, ini anak Bril" ucapku gemetaran.
"Denada, dengarkan ini" ucapnya sambil memutar perekam suara.
"Jika aku tidak memasang alat penyadap, apa kau tidak berniat memberi tahuku Denada? Apa kau mnyuruh anakku memanggil orang lain dengan sebutan Daddy" ucap Arka marah, aku hanya diam mematung, tidak terasa air mataku tumpah. Lalu Arka menghapusnya dan memelukku dengan erat, aku terisak di pelukannya.
"Stt, jangan menangis lagi" ucap Arka sambil mengusap rambutku dengan lembut.
Sementara Bril membuka matanya, dia mencoba melihat ruangan yang bau anyir darah menyengat di sana. Lalu dia melihat Tuan Almart tengah duduk di kursi sambil menatapnya tajam.
Bril juga melihat Taruno duduk di dekat Tuan Almart, sementara dia melihat semua anggotanya tewas di sekitarnya.
"Kau sudah bangun Bril?" ucap Tuan Almart sambil tersenyum meremehkan.
"Apa yang kau lakukan padaku, dan anak buahku? Kau akan membunuhku, seperti kau membunuh papaku?" tanya Bril sambil meronta. Tangannya di borgol ke atas kepalanya.
__ADS_1
"Naikan tiang itu" ucap Taruno pada salah satu anak buahnya. Tiang pun naik, di ikuti tubuh Bril, saat ini tubuh Bril bergelantungan.
"Kau harus membayar atas perlakuanmu pada Denada" ucap Tuan Almart sambil menyulut rokoknya.
"Hahahaha, dia sudah hamil anakku, apa kau berencana akan membuat cucumu tanpa seorang Ayah?" ucap Bril.
"Kau pikir aku tidak tahu jika Denada hamil dengan Arka, bukan Bajingan seperti kau" ucap Tuan Almart murka.
"Hahaha, bukankah kau bersumpah tidak akan menggunakan senjata api, lalu apa ini semua, kau mengingkarinya?" ucap Bril sambil teriak.
"Aku memang sudah bersumpah, tapi Taruno tidak bersumpah, aku hanya menyaksikan pertunjukan saja" ucap Tuan Almart menatap Bril dengan tatapan meremehkan.
Taruno melepas ikat pinggangnya dan beberapa kali dia mendaratkan pukulan ke punggung Bril, sabetan sabuk itu berbekas. Darah Bril menembus kemeja putih miliknya.
"Turunkan tiang itu, potong tangan yang menyentuh Nona Denada, sayat sebelum di potong. Potong mulai dari jari tangannya satu persatu, lalu lengannya" ucap Taruno memberi perintah anak buahnya.
"Setelah dia mati, buat berita kecelakaan. Hapus semua bukti. Untuk orang-orangnya ini berikan saja untuk makan malam Toni" ucap Tuan Almart.
Tuan Almart juga memaksa Bril untuk mengecapkan Jarinya untuk mengembalikan saham yang telah di berikan padanya, Bril hanya tertawa dan meludahi Tuan Almart.
Toni adalah seekor buaya yang di pelihara tuan Almart dari sejak usia 10 tahun. Lalu semua anggota membuang jenazah tersebut ke sebuah kolam yang di penuhi buaya.
Sementara Bril di masukkan ke dalam mobil mewah, dan di ledakkan di sebuah jalanan sepi. Geng Lucky Fire resmi telah lenyap tak tersisa.
...----------------...
Tuan Almart sebelumnya telah merencanakan dengan Taruno, bahwa dia akan membawa Bril setelah meminum obat tidur.
Kelompok Taruno telah menumpas habis Lucky Fire, sampai tidak tersisa. Sesuai dengan perintah Tuan Almart. Karena beberapa hari yang lalu aku memberikan sebuah kertas padanya, jika Aku bukan mengandung Anak Bril. Tuan Almart sangat murka saat membaca isi pesan yang aku tulis.
Berita kematian Menantu Tuan Almart telah tersebar luas. Banyak orang yang sangat menyayangkan, karena Aku sedang hamil.
"Bril meninggal?" ucap Arka saat kami tengah duduk di sofa.
"Meninggal? Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.
"Ini beritanya, mobilnya meledak. Apa Tuan Almart yang melakukannya?" tanya Arka curiga.
"Tidak mungkin, papi sudah bersumpah tidak akan memegang senjata apapun" ucapku pada Arka.
"Sukurlah, sekarang kau seorang janda" ucap Arka sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ahk" ucapku sambil memegang purutku, rasanya kram akibat berbaring di sofa.
"Sayang, kamu kenapa? Yang mana yang tidak nyaman?" ucap Arka padaku.
"Arka, aku ingin balap motor" ucapku, yang bener-bener menginginkan hal itu.
"Denada, kau sedang nyidam?" tanya Arka dengan pandangan yang seperti mengintimidasi. Mendengar pertanyaanya, aku hanya mengangguk.
"Kau ini, apa gak bisa nyidam yang masuk akal?" ucap Arka sambil melotot.
"Tapi aku ingin balap motor Arka" ucapku serius.
"Denada, kenapa tingkahmu selalu membuat kepalaku sakit. Omong kosong apa yang kau katakan ini, itu akan membahayakan anak kita" ucap Arka sambil menyentil jidatku.
"Tapi aku ingin" ucapku merengek seperti anak kecil. Arka tersenyum lalu memelukku lagi.
"Kita menikah" ucap Arka sambil mengusap punggungku.
"Arka, kau tahu Bril baru meninggal, aku tidak mau memakai gaun dengan perut buncit" ucapku cemberut.
Arka menggigit pipi gembulku dengan gemas. Setelah itu, Arka mengantarkan aku pulang. Sampai di Mansion. Aku melihat papi duduk di sofa.
"Pi, apa kecelakaan Bril adalah perbuatan papi?" Aku bertanya setelah duduk di sofa.
"Dia pantas mendapatkannya, bagaimana dengan cucuku" ucap papi sambil mengelus perut bucitku.
"Papi terlibat mafia lagi? Cucu papi Sehat, tapi rasanya sangat lelah, ingin sekali Denada naik motor" ucapku pada papi
"omong kosong apa kau ini? Kau sedang hamil, Ariyanto?" Ucap papi lalu memanggil Ariyanto yang berada di ruang baca, sedang mengerjakan beberapa pekerjaan.
"Iya tuan, ada apa?" ucap Ariyanto setelah datang.
"Kamu jual semua motor Denada" ucap papi pada Ariyanto.
"papi, jangan di jual dong pi. Iya-iya, Denada gak naik motor lagi" rengekku.
"udah, jangan dengarkan Denada. Jual saja semua" ucap Tuan Almart.
Aku hanya gigit jari saat Motor itu di angkut oleh truk. Sialan, kenapa nasibku buruk sekali.
Bersambung....
__ADS_1