
Aku Terkejut dengan pria cantik tersebut, spontan aku langsung duduk.
"kamu ini, orang aneh dari mana?" tanyaku pada lelaki cantik itu.
"hai, kakak cantik. Panggil Eike Monalisa, aku datang karena pengaturan Tuan Almart. Aku akan membantu kakak, menjadi wanita cantik" kata lelaki cantik, yang ngakunya Monalisa. Bergaya bencong. Membuatku bergidik merinding.
"hai, hai. Jangan sentuh aku seperti itu. Biarkan aku mandi dulu" kataku melompat, saat dia akan menyentuh pundakku. Aku langsung mencomot handuk di tempatnya.
Setelah selesai mandi dan berpakean santai, aku duduk di depan cermin. Karena sentuhan-sentuhan tangannya, membuatku mengantuk. Aku tertidur , satu orang memegangi kepalaku, sedangkan pria cantik itu meriasku, dan membuat sanggul yang cantik di kepalaku. Lengkap dengan hiasannya.
Selang satu jam, aku dibangunkan. Rasanya seperti di dunia mimpi, saat aku melihat cermin di depanku.
"Wanita cantik dari mana ini?" Tanyaku menepuk-nepuk pipiku, tidak percaya dengan hasilnya.
"sudah Eike bilang, tangan Eike ini ajaib. Nona sudah cantik, di tambah sentuhan tangan ajaib Eike, tambah double cantiknya" puji Mona pada dirinya sendiri.
"oke terima kasih, ini memang terlihat seperti bukan aku saja" ucapku, sambil berdiri.
"nona, gaun ini sangat cocok dengan nona, silahkan di pakai. Ini adalah pilihan Tuan Almart untuk anda" kata Mona memberikan Gaun.
Tanpa basa basi, aku menerima Gaun tersebut.
Aku keluar dari kamar, aku melihat kak Tora sudah bersiap duduk di sofa, sambil memainkan ponselnya.
"Kak, aku udah siap nih, gimana menurut kakak?" kataku, sambil berputar seperti princes. Kak Tora teesipu malu, dia terdiam sesaat dan wajahnya berubah semu merah.
"cantik, adik kakak sudah dewasa" kata kak Tora terus memandangiku. Dia tersenyum sambil meraih tanganku.
"ayo, kita berangkat sekarang" kata kak Tora. Aku hanya diam mengikuti langkah kak Tora. Aku merasa ada yang aneh, tidak mungkin kan dia suka sama aku? Atau aku aja yang ke GR_an? Entah pertanyaan yang aneh selalu muncul di otakku, sepanjang perjalanan.
__ADS_1
tidak memakan waktu yang lama, akhirnya kami sampai di sebuah gedung yang kami sewa. Di sana sudah banyak bos-bos besar. Aku turun dengan menggandeng lengan Tora, mata Arka menatapku dengan tajam, papi hanya tersenyum melihat kecemburuan Arka. Sedangkan aku, semakin salah tingkah. Karena semua mata, rasanya pandangannya tertuju padaku.
"Apakah ini Anak Tuan Almart, dan perempuan itu calon menantunya? Aku dengar begitu?" bisik tamu undangan lelang.
Mendengar hal itu, Arka hanya mendengus kesal. Lelang pun mulai berlangsung, aku duduk di antara Tora dan papi, sedangkan Arka berada di seberang. Dia menatap tajam, seakan ingin melahapku utuh.
MC lelang menawarkan barang lelangan, dan yang tarakhir di lelang adalah ponsel yang hanya ada lima yang di produksi oleh Mandala king. Semua antusias, bahkan ada yang menawar dengan harga yang lebih dari perkiraan.
Arka mendapatkan salah satu dari ponsel Tersebut. Dia akan memberikan pada Adiknya, jika berhasil membuat Mandala king ambruk dalam waktu yang singkat.
Setelah selesai. Aku langsung kembali ke Apertemen, aku istirahat karena merasa sangat lelah. Setelah kejadian lelang, semua media membicarakan fotoku dengan Tora. Bahkan gosib itu menjadi trending topik di media masa.
Aku masih terlelap, bahkan aku tidak mendengar suara ponselku.
Sekitar pukul tiga dini hari, aku baru terbangun dari tidurku, aku marasa lapar. Aku keluar mencari makanan di kulkas.
"banyak banget, Sinian, Abi dan para bocah ini. Arka juga, Viera. Ada apa ini. Gak mungkin kan, aku balik telvon. Udah jam segini" ucapku pada diriku sendiri.
"Banyak yang mengatakan jika lelaki Tersebut adalah pewaris tunggal Mandala King, dan perempuan di sampingnya adalah kekasihnya. Saat ini sang pewaris adalah wakil Ceo yang sering mewakili pertemuan keluar negeri" Tiba-tiba saja ada berita di televisi mengabarkan berita tersebut. Aku bengong tak percaya. Gosib sialan, siapa yang membuat gosib tidak beraklak begini? Kataku dalam hati.
"bagaimana ini, apa Arka sudah tahu. Eh, kenapa aku jadi mencemaskan Arka? Wilson, tidak mungkin Wilson mengetahui ini semuakan. Aduh, bagaimana aku menjelaskannya" kataku langsung berdiri dari tempat dudukku, aku mondar mandir tidak jelas. Tiba-tiba pintu kamar kak Tora terbuka, dia melihatku seperti tengah kebingungan.
"kamu terbangun, lapar?" tanya Kak Tora, yang melihat bungkus coklat berserakan di meja.
"iya, aduh gimana ini. Kakak udah baca berita. Semua media membicarakan kita. Siapa sih, yang bikin gosib sembarangan itu. Sungguh menyebalkan" kataku kesal, sambil menatap kak Tora.
"sini, duduk yang tenang" kata kak Tora menarik tanganku dengan lembut. Lalu kami duduk di sofa yang sama. Kenapa rasanya sangat canggung. Berbeda dengan saat kami masih anak-anak. Usiaku dengan kak Tora selisih Hampir Tujuh tahun.
"Denada" panggil Kak Tora lembut. Seketika aku menoleh memandang wajahnya.
__ADS_1
"mungkin orang berkata itu gosib, tapi kalau aku sayang dengan kamu, lebih dari seorang kakak. Bagaimana?" tanya kak Tora tiba-tiba. Aku hanya bengong menatap kak Tora, oh tuhan. Tolong??? Apakah ini sungguh kebenaran. kak Tora menyukaiku?.
"hahahaha, kenapa kamu lucu sekali. aku hanya bercanda" ucap kak Tora.
"ah hahaha sukurlah, kalau cuma bercanda" ucapku, tertawa dengan canggung.
"Denada, sebenarnya. Aku sudah suka dari saat kamu datang kerumahku. Tapi aku sangat takut jika mengatakan yang sebenarnya. Aku takut kamu akan menjauh dariku. Aku gak bisa menerima hal itu" batin Kak Tora.
"jadi, gimana gosib itu?" tanyaku lagi.
"biarkan saja, Tuan Almart mengatakan untuk membiarkan. nanti juga akan berlalu" ucapnya, seakan tidak masalah baginya. Namun apa jadinya jika wilson tahu. Itulah yang menjadi bebanku.
"kenapa papi malah di biarin aja, heran gue" kataku sebel. Akhirnya aku tidak bisa tidur sampai pagi.
"Ayo cari sarapan di bawah, enak lo. menu sarapannya." ajak kak Tora, Akhirnya aku juga ikut turun.
Pas keluar ruangan, aku berpaspasan dengan Arka. Kenapa ini orang ada disini juga? Batinku penasaran.
"Hai denada, mau turun cari sarapan ya?" tanya Arka yang sok akrab.
"iya" jawabku singkat.
"sama dong, ayo sarapan bareng. Katanya sarapan disini enak lo" ucap Arka langsung menarik tanganku, dan merubah posisi kami. Dia menjadi posisi di tengah.
"kenapa kamu ada di sini?" tanyaku heran.
"Aku baru saja beli Apertemen disini, bossan aja. Jadi pengen tinggal di tempat yang berbeda" jawab Arka.
Aku hanya mengangguk. Lalu kami bertiga masuk ke dalam lif. Setiap berjalan, Arka seakan menganggap jika Tora itu tidak ada di antara kami. Dia selalu membuat Tora canggung setiap mengatakan sesuatu.
__ADS_1