
Aku menaiki montorku,seperti seorang pembalap. Yang benar-benar marasa jalan raya ini hanya milikku. Mobil Arka,tidak bisa mengejarku. Tapi dia tahu,aku pergi ke mansion papi.
Sementara itu,di cafe. 5 sahabatku. Riko,Leon,abi, sinian dan bagas. Tengah duduk. Salik colek.
"gimana ini,kita bayarnya?" bisik Riko pada Sinian.
"mana gue tahu,ini uangku tinggal 5rb" kata sinian melepar uang kucel 5rb
"masa iya,tampang gue kayak gini. Mau cuci piring? Ah yang benar saja weee" timpal Bagas
"dimana ini,masa kita mau kabur?" kata Leon
"kumpulin uang,yang kalian punya. Di atas meja" kata Abi lirih
20rb,5rb,10rb,2rb dan seribu....
"tamat, riwayat kita...." kata Abi lemas.
"masa iya,kita telvon Ega?" tanya sinian.
Aku memakirkan montorku,lalu aku masuk ke mansion. aku memanggil papi.
"maaf non,tuan belum pulang" kata pelayan.
__ADS_1
Aku menghempaskan tubuhku kasar,duduk di sofa. Lalu aku timbul,kepikiran sama kawan-kawanku di cafe.
Aku mengambil ponselku,dan menghubungi sinian. Tidak lama kemudian dia menjawab panggilan telvonku.
"hallo,Ega lo dimana?" tanya sinian padaku
"di rumah, maaf gue cabut gitu aja. gimana? Lo ada uang,buat bayar?" tanyaku
"hemm...."
"jangan bilang Ega,bilang aja udh di bayar. Entar dia kepikiran" bisik Abi,namun aku mendengarnya.
"udah,gue bayar. Sekarang gue lagi mau keluar dari cafe" kata sinian bohong.
Aku mengirim 10 juta. ke rekening abi,karena hanya rekening abi yang aku punya. Lalu aku krim bukti tranfernya ke abi.
Seketika mereke berlima mengucapkan Alhamdulilah dengan berjamaah.
Aku menunggu papi,dan ketiduran di sofa. Saat papi pulang. Dia menggendongku,dan membaringkan di atas ranjang. Menyelimutiku lalu mengecup keningku.
"Dasar anak bodoh,masih sama. Seperti anak SD" kata papi mengelus ujung kepalaku. Lalu meninggalkan diriku,yang sudah berada di dunia mimpi.
Keesokan harinya,aku seperti biasa pergi kerja. Kali ini aku ikut mobil papi,aku lagi malas bawa montor. Sampai di kantor,semua orang saling berbisik,karena aku turun dari mobil papi.
__ADS_1
Aku mana peduli,bodoh amat....
Aku masuk ke dalam ruangan,semua desain yang aku kerjakan sudah selesai. Tinggal menyerahkan pada Direktur.
"Denada,kalungnya sudah jadi. Kamu pergi ke kantor sebelah. Antarkan pada Tuan Arka" kata Viera padaku.
#deg
Bisakah,kiamat sekarang? Agar aku tidak bertemu dengan bule itu. belum bertemu saja, jantungku udah berdetak sangat keras. Apa lagi jika sudah bertemu. Haih,bisa langsung koma gue.
Mau gak mau,ya aku terima dan aku antar. Setelah sampai di repsepsionis. Aku menyampaikan pada wanita cantik,jika aku mengantar pesanan Tuan Arka.
"mari buk,saya antar" kata resepsionis itu, dia sangat sopan dan anggun. Beda dengan resepsionis papi. Yang hobinya cuma nge gosib aja.
"apakah,tidak bisa. Jika mbak aja yang kasih,aku langsung balik ke kantor aja?" tanyaku berhenti di depan lif.
"Tuan Arka meminta saya,untuk bertemu dengan Tuan. nanti saya bisa kehilangan pekerjaan ini,jika anda tidak bertemu dengan Tuan Arka" jawabnya sopan.
Aku hanya pasrah,mengikuti dia. Berjalan di sampingnya,sambil membawa kotak berisi kalung. Detak jantungku mulai tidak beraturan lagi.
Deg deg serrrrr....
Ada Adegan seru di eps berikutnya....
__ADS_1