Wanitaku

Wanitaku
Cropyet Group


__ADS_3

Kami berjalan keluar caffe dan menemui Arka, lelaki dingin yang hampir beku, setelah penghianatan istrinya. Kini terlukis senyuman di bibirnya hingga membentuk bulan sabit.


"Dasar anak nakal, kau diam-diam memiliki kekasih tapi malah tidak mengenalkan pada Mommy" ucap Mama Arka.


"mulai berekting, Jangan mimpi aku bakal memberimu TV baru" batin Arka.


"Mommy, jangan menakuti Denada. Lain kali Arka akan bawa Denada ke rumah. Biarkan Denada bersenang-senang dulu dengan temannya" Ucap Arka dengan lembut, aku hanya tersenyum.


"Daa Mommy, Wilson akan menemani nenek mencari Televisi " ucap Wilson.


"Oke, daaa. sampai jumpa Wilson. Selamat bersenang-senang Mrs" Aku membungkuk memberikan hormat. Aku mengingat film yang pernah aku lihat, kalau orang inggris memberikan hormat sedikit membungkuk.


"Baiklah Denada, sampai ketemu akhir pekan" ucap Mama Arka sambil tersenyum, lalu aku dengan cepat mengetakan "Iya".


"Ingat ucapanmu, jika sudah Iya. Berarti kita sudah boleh menikah" bisik Arka mendekat di telingaku. Lalu aku mencubit lengannya dengan sangat kuat. Arka hanya membalas dengan senyuman puas setelah menggodaku.


Setelah menatap kepergian mereka, aku kembali masuk dalam Caffe dan kambali bergabung dengan teman-teman.


"Kirain lo bakal kabur sama itu bule" ucap Viera.


"Gila, dia sama nyokapnya. bibirku hampir Robek gegara tersenyum terus" ucapku sambil mengambil sumpit.


"Kalau gak salah, itu bule pemilik Perusahaan samping Mandala King kan? Nomor dua se Asia" ucap Bagas.


"ngeri wak... Cinta konglomerat" canda Abi.


"Diam lo, makan nih makan" ucapku sambil memberi daging pada Abi.


"cuma Abi aja nih, gue enggak" rengek Sinian.


"Gak, ambil sendiri. Oh ya, temen-teman. Ini Bulan Adikku, tapi kalian jangan ganggu. Dia sudah Ada yang dia sukai" Ucapku memperkenalkan Bulan.


"belum juga kenalan, udah lo buat berhenti berharap aja" ucap Sinian. Mendengar perkataan Sinian Bulan hanya Tersenyum.


Kami tertawa sambil makan Hot pot di temani minuman Carlsberg.


"Sory" ucap kak Tora saat Viera dengan dirinya bertabrakan sumpit di atas Panci Steamboat yang panas. Seketika mata keduanya saling menatap. Aku hanya memperhatikan keduanya yang salah tingkah.


"Duluan Wakil Ceo" ucap Viera.


"Kamu aja duluan, panggil namaku aja. Jangan panggil seperti itu" ucap kak Taro yang sedikit malu, Karakter yang dingin itu langsung menghilang.


"Kak, ambilkan kenapa? peka dikit" godaku, karena godaanku membuat Viera menjadi malu, wajahnya berubah semu merah. Maklum belum pernah punya pacar.

__ADS_1


Akhirnya, kak Tora menaruh beberapa potong daging dan jamur di mangkuk Viera.


"Jamurnya kenapa rasanya enak ya? Aku kan gak suka makan jamur, apa karena di ambilkan sama Tora? Masa iya, mungkin bumbunya lain" Batin Viera.


"Gara-gara Denada, aku jadi grogi" batin Kak Tora.


Setelah merasa cukup Puas, Akhirnya kami pulang dari Caffe. Kak Tora setelah mengantar Aku dan bulan, dia mengantar Viera. mereka hening dalam perjalanan. Merasa Canggung dan deg deg kan tak karuan.


"Aku gak menyangka Direktur yang terkenal galak dan cerewet ternyata begitu ramah dan suka makan" ucap Kak Tora mengawali pembicaraan.


"Semua itu berkat Denada, Selama ini aku kesulitan berteman. Setelah mengenal dia, banyak cahaya yang diberikan padaku" ucap Viera.


"Anak itu memang ceria, memiliki hati yang baik" ucap kak Tora.


"Apakah anda pernah jatuh Cinta padanya?" tanya Viera.


"Pernah, namun aku lebih ingin melihat dia bahagia" Ucap kak Tora dengan nada getir.


"Sungguh beruntung Denada, begitu di cintai banyak orang. Sedangkan diriku yatim piatu, yang tidak tahu entah siapa orang tuaku, keberuntungan juga berpihak padaku karena dapat menjadi sahabat Denada" batin Viera.


"Sudah lama kamu tinggal disini?" tanya Kak Tora setelah sampai di sebuah Rusun kusus anak Lajang.


"Sudah, sejak SMA. Terima kasih Tora, sudah mengantarku pulang" ucap Viera.


Sedangkan aku masuk dalam rumah dan langsung memeluk papi. Rasanya sangat nyaman.


"Denada, kamu ini masih sama aja kayak anak SD" ejek Bulan.


"Biarin, papi udah makan?" tanyaku setelah melepas pelukan papi.


"Udah, mandi sana. bau Kecut" goda papi.


"Paman, bibi. Denada Mandi dulu, ini Kue lapis pisang kesukaan bibi" ucapku sambil menyerahkan kue pisang.


"Makasih Denada, kamu masih mengingat apa yang bibi sukai" ucap perempuan baruh baya yang berpenampilan anggun seperti Bulan.


Aku langsung masuk ke kamarku, dan berendam Air hangat sambil memainkan Game Free Fire. Game baru, yang sangat menegangkan.


"Mati gak kau, hem mampus" ucapku sambil terus memainkan ponselku. Tiba-tiba ada panggilan televon masuk via Vidio call di whatsapp.


"Arka sialan, gak tahu apa. Lagi asik main game" ucapku yang bahkan tidak ingat posisiku sedang berendam.


"Apa? Kau menganggu orang main game saja" ucapku.

__ADS_1


"kau" Arka langsung memalingkan wajahnya.


"kenapa?" tanyaku heran.


"kau lagi mandi?" teriak Arka dengan wajah yang masih berpaling.


"hah, Sialan" ucapku langsung memutuskan panggilan Vicall.


"untung cuma setengah badan, busa-busa ini penyelamatku. Kenapa aku begitu ceroboh, sialan gara-gara Arka aku udah ketembak mati" ucapku kesal, lalu meletakkan ponselku di dekat rak sabun, aku menikmati aroma Vanila bercampur bau bunga Rose yang harum.


...----------------...


Akhirnya pagi pun tiba, aku bergegas menuju Cropyet group. setelah aku turun dari mobil Rolls Royce Boat Tails, mobil termahal di dunia. Membuat orang melongo yang melihatnya.


"Gila, wanita ini yang dikatakan penerus Mandala king, perusahaan Nomor satu se Asia?" ucap salah satu karyawan Cropyet.


"Benar, sungguh cantik walau tampilannya sederhana, lihatlah dia bahkan tanpa lisptik, tetap menawan. berbeda dengan wanita di tik tok jaman sekarang, bahkan setiap malming aku menunggu bela sampai ketiduran, karena harus pasang lensa dan bulu mata." ucap Operator Loader pada temannya, seakan dia sedang curhat saja.


Aku dengan santai memasuki gedung dua lantai. Aku berhenti sejenak memperhatikan area pinggir pantai dengan pekerja Alat berat, seperti Loader, Excavator, Crane, forklift dan banyak kapal bersandar yang tengah di kerjakan para Karyawan galangan.


"Papi memang paling tahu yang Aku sukai, aku harus merekrut bocah bocah itu untuk bekerja di sini, agar ada yang mengawasi di lapangan" ucapku memikirkan Sinian dan teman-teman yang lainnya.


Aku melanjutkan masuk ke ruang miting, disana sudah ada para pemegang saham, dan juga Devan. Aku duduk dengan santai di tempat dudukku. Aku melihat devan frustasi menghiasai wajahnya.


miting berjalan begitu menegangkan bagi Devan, sedangkan bagiku sangat menyenagkan membuat Devan berada di ujung kehancuran.


Akhirnya semua sepakat, jika aku adalah Pemimpin Cropyet Group yang baru. Aku mengakusisi perusahaan Devan. Dengan tatapan sedih Devan mengucapkan selamat padaku.


"Aku akan mengirim uangnya, semoga kamu bisa menjalini hidupmu dengan baik" ucapku setelah hanya tinggal kami berdua.


"bisakah aku tetap bekerja disini?" ucapnya.


"kamu masih memegang saham sebesar 20% tentu saja, seperti yang aku katakan. Kamu bisa menjadi Manager Lapangan" ucapku.


"Terima kasih Denada, maafkan aku waktu itu. Tapi sampai detik ini, Aku masih mencintaimu. Saat kamu pergi dari rumah, aku marasa hampir gila, mencarimu kemana-mana. Sekarang aku turut bahagia untukmu" ucap Devan dengan nada yang sedih. Aku hanya diam, mata kami saling memandang, aku melihat ketulusan di mata Devan. Mata yang dulu aku kagumi, namun sekarang aku merasa semua berubah.


"Terima kasih Devan, maaf jika Ruanganmu sekarang menjadi milikku" ucapku pergi meninggalkan Devan. Aku duduk di sofa, yang dulu sering menjadi tempat duduk kami, saat aku menjadi istrinya. saat aku, mengantar makan siangnya.


"mungkin Ruangan ini harus di rubah, lalu aku akan membuat lowongan untuk menjadi sekertarisku" ucapku sambil berdiri, aku menarik laci, aku menemukan foto pernikahan aku dengan Devan. Di belakang foto itu, ada sebuah cicin pernikahan sepasang. Aku juga menemukan sebuah tulisan, yang di lipat kecil di dalam bingkai foto. Lalu aku membuka dan membacanya.


Bukan keinginanku untuk meinghianatimu, malam itu aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. aku terbagun di sisi Saila, aku sangat takut jika kebenaran ini terungkap. Sungguh aku mencintaimu, aku sangat takut kehilanganmu. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku ingin menua bersamamu Denada.


Entah kenapa, rasanya sakit. Apa aku yang terlalu cepat meninggalkan Mas Devan, tanpa mendengarkan penjelasan apapun darinya. Lalu aku mendengar ketukan pintu dari luar. Seketika, aku klabakan dan memasukan foto tersebut dengan cepat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2