
setelah laci itu kembali aku tutup sempurna, aku pura-pura duduk sambil memainkan ponselku.
"Masuk" kataku sesantai mungkin.
"maaf, Denada. Aku akan mengambil barang-barangku" ucap Devan setelah masuk ruangan.
"iya mas, silahkan" ucapku santai.
Tiba-tiba ponselku bergetar, ada panggilan masuk. Aku melihat layar ponselku, ternyata Arka.
"hallo" ucapku.
"lagi dimana sekarang?" tanya Arka.
"Cropyet Group, ada apa?" tanyaku heran.
"Rindu" ucapnya.
"Rindu?" tanyaku dengan nada keras, Mas Devan langsung menoleh ke arahku, mata kami langsung menatap sesaat sebelum aku mengalihkan pandangan.
"kenapa? Apakah salah merindukan calon Istri?" ucapnya.
"Semua terserahmu, nanti siang aku ke kantormu. Aku bawakan makan siang. Gimana? Mau?" tanyaku.
"aku menungguku, awas kalau gak datang. Aku akan menghukummu" ucapnya.
"Iya, mau makan apa?" tanyaku lagi, mas Devan mengemas barang-barang miliknya sambil mencuri dengar.
"Ternyata, Denada sudah memiliki orang yang dia cintai. Apakah benar-benar tidak ada lagi tempat Aku di hatinya?" batin Mas Devan.
"apapun yang kamu bawakan, aku menyukainya" ucap Arka.
"Oke, sudah ya. Aku mau kerja" ucapku dan langsung memutuskan panggilan Televon.
Aku melihat Mas Devan menumpuk beberapa buku, dan aku baru menyadari setelah mengamati Dasi yang di pakai Mas Devan, Dasi pemberianku saat ulang tahun Terakhir sebelum kami berpisah.
__ADS_1
"Apa perlu aku membantumu?" ucapku berdiri dan mengambil beberapa buku bacaan. Mas Devan gemar membaca dan ada banyak koleksi buku bacaan.
"Tidak perlu, nanti kamu lelah" ucapnya, sama lembutnya seperti dulu. Lalu dia menarik laci yang berisi Foto pernikahan kami.
"kamu masih menyimpannya?" ucapku.
"menyimpan apa?" tanya Mas Devan seakan pura-pura tidak menangkap maksudku, dia tidak membalik foto itu. Agar tak terlihat olehku.
"Ini" ucapku merebut Foto pernikahan kami.
Mas Devan tidak menjawab, dia hanya menatapku dengan tatapan nanar. Aku bisa menangkap kesedihan di wajahnya.
"kamu juga masih menyimpan cicin pernikahan kita?" ucapku lagi.
Mas Devan masih diam, Matanya mulai merah menahan kesedihan. Dia tidak lagi berani menatapku.
"Mas?" panggilku lirih, namun masih terdengar olehnya.
"Jika aku jujur, apakah masih ada tempat dihatimu? Sedangkan tempatku sudah di isi oleh orang lain. Kamu meninggalkan aku, tanpa mendengarkan satupun penjelasanku." ucap Mas Devan.
"Hari itu, Saila mengajakku bertemu denganku. Katanya akan mengajak memberikan kejutan di hari ulang tahunmu. Awalnya aku menolak, karena kamu tidak pernah merayakan ulang tahun. Tapi bodohnya aku, tetap menemui dia. Aku tidak tahu apa yang terjadi, setelah aku terbangun, aku sudah berada di samping Saila. Aku sangat menyesal. Setelah hal itu terjadi, aku merasa bersalah, di tambah Saila menemuiku dan mama. Dia mengatakan jika dirinya hamil, Denada maaf" ucapku sambil memelukku, aku berdiam tidak menjawab. Aku menarik tangan Mas Devan agar lepas, namun dia mengeratkan pelukannya.
"Mas, lepaskan. Semua itu sudah berlalu. Mas Devan juga sudah bersama Saila" ucapku
"Aku akan bercerai dengannya, dengan wanita iblis itu. Aku yakin malam itu tidak terjadi apapun denganku. Selama kami menikah, aku juga tidak pernah menyentuhnya" ucap Mas Devan lagi.
Tiba-tiba pintu terbuka dari luar, kami langsung kaget dengan kedatangan Mantan mertuaku. Mas Devan melepaskan pelukannya.
"Denada" ucap Mama Devan.
"Iya ma, Apakabar mama?" ucapku tanpa sadar, memanggilnya dengan panggilan mama.
"Bisakah kamu melepaskan kami? Aku tahu, banyak kesalahan mama di masa lalu. Tidak pantas untuk kamu maafkan, tapi perusahaan ini adalah hasil kerja keras mendiang suamiku. Masalah Saila, aku juga minta maaf. Mama baru tahu, dia wanita iblis. setelah bercerai, kalian bisa kembali bersama" ucap mantan mertuaku itu dengan suara yang pelan.
Apa-apaan, dia menyuruh kami bersama. Memang dia fikir semua akan baik-baik saja setelah dia begitu mudahnya menindasku dan mengatakan aku mandul.
__ADS_1
"Maaf nyonya, saya tidak bisa melepaskan Cropyet ini. Lagi pula, saya mandul. Saya tidak bisa memberimu cucu. Saya permisi, sebentar lagi waktunya makan siang" Ucapku lalu menyambar tasku dan bersiap pergi. Tiba-tiba Mantan mertuaku itu berlutut dan memegang kakiku.
"Denada, maafkan mama. Setiap hari menyusahkanmu selama menjadi menantu mama. Mama juga Mengatakan mandul, padahal kebenarannya bukan seperti itu. Denada Mama mohon Lepaskan Kami" ucap Mantan mertuaku itu di iringi tangisan. Aku duduk mensejajarkan posisi, lalu aku melepas tangannya dari kakiku.
"maaf Nyonya, aku tidak bisa" ucapku, setelah itu aku berdiri dan berjalan meninggalkan mereka. Saat mantan mertuaku hendak kembali mengejarku, Devan menahan Mamanya. Mereka berdua berdebat hebat di dalam.
Aku tidak peduli, rasanya benar-benar mati rasa. Aku keluar dan masuk kedalam mabil, aku menghela nafas panjang sebelum aku akhirnya pergi meninggalkan Cropyet Group.
Aku berhenti di sebuah Kedai makanan kusus Inggris. Karena Arka memang Asli keturunan Ingris, jadi aku akan memilih dua porsi makanan. Namun aku sangat bingung memilih menu makanan apa yang Arka sukai, bahkan aku tidak tahu dia suka makan apa. Akhirnya aku memutuskan membeli banyak menu makan siang.
Sup kentang dengan bawang merah ditambah setangkup sandwich tuna yang gurih dan lezat. (bungkus satu porsi)
Fish and chips, black pudding, Lancashire hotpot, Bubble & squeak, (masing-masing satu porsi). Lalu aku menambah Full English Breakfast mengkombinasikan beberapa jenis makanan, seperti bacon, sosis, telur, jamur, kacang , sayuran, dan black pudding yang dimasak dengan cara digoreng. Aku bungkus untuk satu porsi. Alhasil banyak banget, aku tersenyum puas, jika Arka tidak memakan semua, bisa di berikan pada Bulan.
Aku kembali masuk ke dalam mobil, dan menuju kantor Arka, Aku meminta Security untuk menolongku membantu membawa berbagai macam menu makan siang.
Setelah Aku masuk ke dalam ruangan Arka, dia terbelalak kaget, melihat menu yang sangat banyak memenuhi mejanya.
"Denada, apakah kamu akan membuatku menjadi om om gendut, perut buncit?" ucapnya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu sukai, jadi aku membeli semua ini. Adikku kerja di sini, aku akan membagi padanya juga" ucapku
"Adik? Siapa? Bukankah kamu anak tunggal?" tanya Arka heran.
"namanya Bulan, Anak pamanku, sebentar. Aku akan menelvonnya. Kita makan disini, kamu tidak keberatan kan?" ucapku mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
"silahkan, aku juga akan berkenalan dengan calon Adik Ipar" goda Arka lalu duduk di sampingku. Dia mengecup pipiku, lalu aku melirik dengan tatapan tajam. Selalu menciumku tanpa purmisi.
"hallo, Bulan. Datanglah ke kantor Prsedir, aku berada di kantormu. Aku membawa makan siang yang cukup banyak, mari kita makan siang bersama" ucapku setelah panggilan telvon tersambung.
"Benarkah? Bagaimana bisa kamu berada di ruangan Presdir?" tanya Bulan tidak percaya.
"Haha, sudahlah. Nanti aku kenalkan dengan calon kakak iparmu. Aku tunggu di sini" ucapku pada Bulan, lalu aku memutuskan panggilan Televonku.
Bersambung....
__ADS_1