Wanitaku

Wanitaku
Kehancuran Devan


__ADS_3

Aku memandang wajah cantiknya, Wanita ini terlihat seumuran dengan papi. Tapi entah kenapa aku sangat menyukainya.


"Tentu saja, aku akan membawa Mrs bertemu dengan Tuan Almart. Mari ikut saya, saya akan mengantarkan Mrs, keruangan Tuan" ucapku, lalu aku mengantarkan bule ini ke ruangan papi. Aku mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar suara, mempersilahkan kami masuk.


Aku membuka pintu masuk, lalu kami masuk. Papi melihatku sedikit terkejut. Karena aku bersama dengan Mommy Arka. Ngapain Denada membawa Bule itu kemari? Batin papi.


"Tuan, aku tadi tidak sengaja. Bertemu Mrs ini di bawah. Katanya ada urusan penting" kataku pada papi.


"Mrs, Saya tinggal keruangan saya. Silahkan Mrs berbicara dengan Tuan Almart" kataku, meminta ijin pergi.


"Iya, terima kasih. Saya sangat menyukaimu, kamu sopan dan baik hati" puji Mrs bule itu. Aku hanya tersenyum canggung dan mengucapkan terimakasih. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ada perlu apa anda mencariku? Silahkan duduk, Sudah lama tidak bertemu, anda terlihat masih muda saja" puji papi basa-basi.


"karena kamu sudah berkata begitu, aku tidak akan sungkan lagi untuk duduk" jawab Isabela sambil berjalan ke sofa dan duduk dengan anggun di sofa.


"Ada apa? Bukankah sekarang putramu yang memegang kuasa Arwilnos, lalu kenapa kamu kemari?" tanya papi penasaran.


"Aku tidak perlu basa basi lagi. Aku kesini, untuk memperingatkanmu, jangan coba-coba mengambil calon menantuku" Kata Isabela terus terang, pada intinya.


"menantu? Siapa menantumu?" tanya Papi heran, tapi dia sudah bisa menangkap, jika yang dimaksud adalah aku.


"Denada adalah calon menantuku, jadi jangan coba-coba mengambil dia dariku. Kamu sangat licik, seakan menjadikan dia simpananmu. Padahal kau hanya ingin, agar dia menjadi menantumu. Kamu pikir aku tidak Tahu, jika Tora adalah anak yang sudah lama kau sembunyikan itu. Sekarang, kau mencoba membuat mereka tinggal bersama, huhhh jangan mimpi, Anakku jauh lebih pantas untuk Denada" kata Isabela panjang kali lebar, biasalah ya? Wanita selalu benar dan selalu menang.


"hahaha" papi tidak bisa lagi menahan tawa. Sandiwaranya begitu sukses, membuat orang salah faham. Sungguh hebat sekali aku berekting, andai seperti ini. Kenapa dulu aku tidak menjadi Aktor. Batin papi, dan masih terus tertawa.


Melihat Papi tertawa, membuat wanita itu sangat marah. Dia merasa, seakan di permainkan. Padahal papi tertawa, karena disalah pahami oleh Isabela.

__ADS_1


"Apa yang lucu? Aku datang kesini, bukan untuk melihatmu tertawa. Tapi aku ingin meperingatimu. Kamu pikir, putraku tidak bisa meluluh latakan perusahaanmu ini" dengus kesal Isabela, lalu dia beranjak meninggalkan papi.


"Aku siap menunggu kekuatan yang dimikili putramu" kata papi dengan nada tegas. Mendengar hal itu, wanita itu berhenti melangkah. Lalu mengatakan, kamu tunggu saja. setelah itu, dia membuka pintu, dan pergi meninggalkan kantor Mandala King.


Dengan sangat kesal, Isabela masuk ke ruangan Arka, dia melihat cucunya sedang mengerjakan PR. Seperti biasa, dia memeluk dan mencium cucu kesayangannya.


"kenapa nenek terlihat marah?" tanya wilson setelah memperhatikan wajah kesal neneknya.


"nenek hanya habis bertemu orang gila" jawab Isabela pada cucunya.


Arka hanya memandangi sang mommy yang tengah kesal. Lalu dia membatin, mungkin mommy kesal karena Drakor lagi.


"ingin rasanya, aku membuang TV yang ada di kamar mommy" batin Arka.


"hai, hai. bocah nakal, kenapa pandangan matamu itu. Jangan pernah bermimpi, untuk mengambil TV mommy" Teriak Isabela pada Arka. Karena beberapa kali Arka mencuri TV mommy nya, karena kerap kali cuma gara-gara drakor se isi rumah jadi korbannya.


"Dasar bocah tengik, calon istri mau di ambil orang kau pun santai saja. Apa kau belum sadar juga, jika Denada itu akan dinikahkan Si tua bangka itu. Sama Anaknya Tora, yang bahkan tidak mirip dengnnya" ucap Isabela dengan penuh emosi.


"Dinikahkan? Maksud mommy, baj1ngan tua itu akan menjadikan Denada menantunya?" tanya Arka langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Aku harap kau tidak menyesal kali ini, jika kau cinta. Porak porandakan saja mandala king itu" ucap Isabela sambil menggandeng cucunya.


Wilson hanya diam saja, mendengar hal itu. Karena Wilson tahu jika Tuan Almart adalah papiku. Isabela mengajak wilson pulang. setelah sampai di rumah dia menghubungi Adik Arka. Mendengar apa yang dikatakan mommy nya, Awilozhikha membantu Arka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan, ini benar-benar tidak baik. Sepertinya Tuan Arka mulai bertindak, beberapa perusahaan besar. Membatalkan kontrak kerjasama kita, di tambah lagi. Banyak claim customer. Kalau begini, kita akan kehilangan customer" ucap Ariyanto memberikan kabar buruk.

__ADS_1


"cepat juga dia bertindak. Tangani sebisa mungkin, sekalipun dia akan memporak porandakan mandala king. Dia akan tahu siapa aku sebenarnya, aku malah menjadi penasaran. Bagaimana cara dia mengatakan padaku saat bertemu nanti. Aku juga sudah lama, tidak main-main dengan orang. Kelihatannya Arka musuh yang sepadan denganku" jawab Tuan Almart sambil tersenyum.


Sementara Devan, berulang kali menghubungiku. Aku tidak peduli dengannya. Aku malah memblokir nomornya. Aku tidak ingin lagi berurusan dengan B4jingan itu.


"Sialan, Denada benar-benar sudah tidak memberi muka padaku" ucap Devan. Lalu dia mengambil kunci mobilnya. Dia sengaja menungguku keluar dari kantor, setelah dia tahu aku naik mobil kak Tora menuju Apertemennya. Devan membuntutiku, begitu juga Arka. Mereka berdua mengikutiku, namun aku tidak menyadarinya.


"Tuan, Devan dan Arka mengikuti mobil nona besar" Pengawal yang biasa mengikutiku kemanapun aku pergi melaporkan pada papi.


"Biarkan saja, mereka tidak akan menyakiti putriku" jawab papi santai.


Setelah tiba di apertemen, aku meminta kak Tora untuk naik ke Apertemen dulu. Sementara aku, berjalan menuju taman. Aku duduk santai disana. Sambil melihat Anak kecil berlarian disana.


"Denada" Devan memanggilku, sungguh aku sangat terkejut, dengan kedatangannya.


"ngapain kamu kesini, kita sudah tidak ada urusan apapun" kataku dengan nada kasar. Sementara Arka hanya mendengarkan di sudut lain, yang tidak jauh dari tempat aku berdiri dengan Devan


"Denada, kumohon bantu aku, kali ini saja. Perusahaan itu adalah peninggalan mendiang papa. bantu aku untuk berbicara pada Tuan Almart" ucap Devan memohon padaku, sambil memegang kedua tanganku.


"Sebelum kamu berbuat masalah padaku, seharusnya kamu berfikir akan ada hari ini. Dimana kamu menjadi pecund4ng. Yang memohon padaku" Kataku sambil menepis tangannya.


"Denada, kumohon. Kita juga punya hubungan di masa lalu, menghianatimu bukanlah keinginanku. Tapi, kamu yang mandul. Semua itu bukan salahku sepenuhnya" umpat Devan.


"Sekali lagi kau berani mengatakan jika aku mandul, aku akan membuatmu mati lebih baik dari pada hidup" ucapku dengan nada kasar, memegang kerah bajunya, lalu melepas dengan kasar. Aura mematikan dari wajahku, benar-benar membuat Devan bergidik merinding. Dia merasa ketakutan.


"Kenapa, Denada begitu menakutkan. Tatapan itu, seperti bukan orang biasa" ucap Devan lirih, sambil menatap kepergianku.


Malam ini, adalah malam dimana aku akan melakukan Balap motor. Malam ini, aku resmi berpisah dengan Anak jalanan. Aku Akan memulai hidup baruku setelahnya. Aku melangkah keluar Apertemen tanpa memberi tahu kak Tora, aku naik Taxi dan mengambil Motor di rumah bu Lastri.

__ADS_1


__ADS_2