Wanitaku

Wanitaku
Patah hati


__ADS_3

"Denada" ucap Bulan memelukku dengan erat.


"Nad, aku pikir aku gak bisa bertemu denganmu lagi. Maaf, hari itu aku hanya sedang mengerjaimu. Hanya ingin memberikan kejutan untukku, karena Arka akan berniat melamarmu" ucap Bulan sambil mengusap Air matanya.


"Bulan" ucapku memeluknya sekali lagi. Lalu kami saling bercerita. Aku pikir Bulan akan seperti Saila, namun ternyata dia sangat menyayangiku.


Dia mengatakan, jika aku sangat berharga untuknya. Sekalipun dia mengejar Arka dengan berbagai cara, itu hanya percuma. Karena cinta dia hanya untukku. Bulan juga turut sedih dengan apa yang menimpaku kali ini.


Dulu setelah makan siang bersama waktu di kantor Arka, bersama bulan. Isabela tengah merencanakan sandiwara, ingin membuatku kesal sebelum di Lamar Arka, jadi dia juga mengajak Bulan untuk bergabung dengan rencananya.


Namun semua tidak sesuai dengan rencana, karena Bril menculikku. Saat aku mengetahui semua ceritanya dari Bulan, aku sangat sedih. Terlebih calon Anakku di buat bidak catur oleh Bril.


Malam rasanya begitu panjang, saat aku berada di satu kamar dengan seorang yang aku benci. Bril adalah orang yang sudah merusak semua kebahagiaanku.


Waktu terus berjalan, hari berganti hari. hari ini tepat hari minggu. Aku sangat jenuh saat tinggal di rumah sendiri, jadi aku memutuskan untuk belanja membeli cemilan.


"ini, ini, kayak ini juga" ucapku lirih sambil memilih cemilan.


"Mommy" teriak Wilson saat dia melihatku. Aku langsung menoleh ke asal suara tersebut. Aku melihat Arka yang berdiri di belakang Wilson. Dia menatapku dengan perasaan yang tidak bersahabat lagi. Kembali lagi ingatanku, saat kali pertamanya aku bertemu dengan mereka, di tempat yang sama namun suasana yang berbeda.


Aku hanya mematung menatap kedua orang beda usia itu, sampai pada akhirnya Wilson memelukku dengan erat.


"Wilson, pilih lah apa yang kau sukai. setelah ini kita pulang" ucap Arka dengan nada dingin. Bahkan dia tidak menyapaku sama sekali.


Tidak berapa lama, aku melihat mobil mewah berhenti tepat di depan minimarket. Bril keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam Minimarket.


"Sayang, kenapa kau keluar rumah tidak bilang padaku terlebih dahulu. Kalau ada apa-apa dengan Anak kita, bagaimana? Aku sangat mengkawatirkanmu" ucap Bril lembut padaku, Arka mendengar semua ucapan Bril.


Aku hanya diam mematung, berjalan meninggalkan Wilson dan melangkah melewati Arka, menuju ke kasir.


Ingin rasanya aku menjelaskan, namun aku tidak berdaya. Bril menggegam tanganku dengan erat dan lembut, seakan kami adalah pasangan yang bahagia.


"Mommy jahat" Wilson meneriakiku dengan ucapan Jahat, lalu Wilson berlari keluar dan langsung masuk ke dalam mobil Arka.


Arka meninggalkan kami begitu saja, dia merasa jika diriku tidaklah jauh lebih baik dari Lena.

__ADS_1


Denada, kenapa? Jika kamu sudah memiliki kekasih. Kamu masih menerimaku, menerima wilson. Kenapa Denada, jika kamu ingin membalas Devan, kenapa harus melukai wilson? Terlebih lagi, kenapa malam itu kamu bersedia tidur denganku? Kenapa kamu bersedia, apakah begitu menyenangkan mempermainkan perasaan orang.


Arka melamun saat mengendarai mobilnya, dan dia hampir saja menabrak pengendara lain. Akhirnya dia tersadar dari lamunannya.


"Daddy, apakah Daddy baik-baik saja?" tanya Wilson sambil menatap Daddy nya.


"Daddy baik-baik saja Wilson, kedepannya jangan panggil Denada Mommy. Apakah boleh Wilson?" ucap Arka lembut.


"Tentu saja Daddy, Wilson memiliki Daddy, Nenek, Kakek dan Paman sudah cukup. Tak perlu Wilson memiliki Mommy Daddy" ucap Wilson bersungguh-sungguh.


Arka mendengar perkataan Putranya, dia tersenyum dan mengacak-acak rambut putranya.


"Denada, apa Kau berencana memberi tahu Arka, jika kau mengandung Anaknya?" ucap Bril padaku, saat kami sudah berada di dalam mobil.


"Siapa bilang ini Anak Arka?" ucapku, aku takut jika dia bertindak kejam pada Arka.


"Kamu pikir aku tidak tahu, jika kalian sudah menjadi sepasang kekasih" ucapnya sambil melirikku tajam.


"Untuk apa aku memberi tahu, bukankah aku sudah menikah denganmu" ucapku tanpa melihat wajahnya.


"Aku berharap kau mengerti posisimu saat ini Denada" ucapnya sambil mengelus rambutku, aku menepis tangannya dengan kasar.


Bril mengantarku ke rumah saki, saat aku berada di kursi untuk menunggu giliranku. Aku melihat Arka tengah keluar dari salah satu pintu rawat inap VVIP.


"Kenapa Arka disini? Siapa yang sakit?" batinku.


"Nyonya Denada" ucap Perawat memanggilku. Aku langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.


Saat aku sudah berbaring, Dokter itu mulai mengoleskan Gel ke perut buncitku. Lalu kami melihat Layar.


"Nyonya, lihatlah. Nyonya sedang mengandung Anak kembar. Dia sangat sehat" ucap Dokter padaku.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan dokter. Lalu kami pun selesai dan mengambil Vitamin di Apotik.


Aku mengelus perut buncitku, Mataku mulai berembun. Dulu aku sangat mengharapkan kehadiranya, sekarang aku mendapatkan seorang Anak kembar.

__ADS_1


Aku mengusap Air mataku yang sudah mulai jatuh, aku sangat benci pada diriku sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat Anakku menjadi pion Bril untuk membalas dendamnya.


"Ingat ucapan Dokter, kau jangan terlalu stres. Aku berjanji tidak akan melukaimu dan juga Calon Anakmu" Ucap Bril dingin. Aku tidak menjawab ucapannya.


Tuan Almart tengah berada di Kantor, dia duduk di Sofa di dalam ruangnya. Dia tengah berbicara dengan Taruno dengan sangat serius.


"Tapi bang, kau sudah bersumpah tidak akan memegang senjata lagi" ucap Taruna pada Tuan Almart saat dia berkata menginginkan sebuah Pistol.


"Semua itu untuk kau dan Anak buahmu, aku memang sudah bersumpah. Tapi, apa kau tidak mau melakukan apa yang aku minta?" ucap Tuan Almart menatap Adik angkatnya itu.


"Aku akan melakukan apapun yang Abang minta" Ucap Taruno pada Tuan Almart.


Sedangkan Arka duduk di kursi kebesarannya, sambil membuka Instagram. Dia menemukan postinganku yang menjadi Trending di sana.


Foto itu aku memperlihatkan perut buncitku dengan pakaian serba putih. Arka diam sesaat memperhatikan Fotoku.


"Denada, kenapa kamu memberiku luka setelah aku sudah memberikan Cinta" ucap Arka lirih, lalu dia menaruh ponselnya di atas meja kerjanya.


Arka menghela nafas panjang dan bersandar di kursinya. Dia memijat pelipisnya, untuk mengurangi semua beban di kepalanya.


Saat malam tiba, Taruno dan kelompoknya tengah bersiap di Markasnya. Dia memberi tahu semua Anggotanya, apa yang harus di siapkan dan di lakukan.


Sementara Tuan Almart duduk di ruang baca sambil terus menatap foto mendiang Istrinya yang sangat dia cintai.


"Rere, aku tidak berdaya untuk saat ini. Apa kau kecewa padaku, karena Aku tidak bisa melindungi Putri kita" Ucapnya sambil meneguk wine di gelasnya.


Sementara aku sedang duduk di sofa yang ada di kamar, dan Bril terus menatapku. Dia duduk di dekatku dan semua itu membuat moodku hancur.


"Berhentilah menatapku, aku tidak suka dengan tatapanmu" ucapku ketus.


"Kamu sangat cantik" Bril memujiku tanpa memalingkan tatapannya.


"Bril, bisakah kau melepaskanku? Kamu hanya memilikiku, tapi tidak dengan hatiku" Ucapku menatap kedua mata birunya.


"Sekalipun kau mengatakan itu, aku tidak peduli. Aku ingin memilikimu, itu sudah cukup bagiku" ucap Bril dengan nada marah.

__ADS_1


Aku tidak peduli dengan kemarahannya, aku tidur di ranjangku dan menarik selimut tebal. Aku ingin sekali ada keajaiban di hari esok, berharap orang yang aku lihat saat bangun adalah Arka.


Bersambung...


__ADS_2