
Aku menemui Anak motor itu, di kosan Sinian. Arka masih terus mengikuti kemana aku akan pergi.
"Ga, akhirnya lo datang juga" sapa Abi
"yap, gue pasti datang. Siapa musuhku kali ini?" tanyaku sambil menyalakan Rokok.
"Wanita ini, memang rada gila. Saking gilanya dia, membuatku semakin tergila-gila" ucap Arka, yang melihatku duduk di Teras kosan Sinian, sambil menghisap batang rokok.
"Mana Riko?" tanyaku pada mereka.
"dia lembur, katanya pulang jam delapan. Sebentar lagi mungkin datang" jawab Sinian.
"gak ada minuman ya?" tanyaku lagi
"lo mau balap cok, jangan minum" ucap abi.
"goblok, bukan itu yang ku maksud. Air putih, atau teh obeng, apalah terserah. Aku haus" jawabku sambil menatap kedua bocah itu.
"oh, hahaha" Sinian dan Abi melempar Tawa bersama. Lalu Sinian masuk ke dalam membawa dua gelas berisi teh obeng.
"jam berapa nanti kita balapan?" tanyaku lagi.
"biasa jam satu dini hari" ucap Abi
Aku masuk ke dalam kosan, saking lamanya aku nunggu jam. Aku tertidur di kasur depan Tv. Meski aku sepet banget lihat rumah Sinian yang cuma sepetak tapi kayak kapal pecah.
"kayaknya itu bocah, semenjak balik sama kita. udah gak kayak dulu lagi, sekarang kayak kebanyakan beban aja itu bocah" ucap Abi pelan.
"iya, aku juga mikirnya begitu" jawab sinian.
Aku tidur tengkurap, menunggu pukul Satu dini hari. Saat aku terbangun, di teras kosan itu sudah ramai anak motor, dan hampir memenuhi teras kos. Aku duduk mengumpulkan nyawaku yang masih belum berkumpul semua.
"dah bangun lo, kayaknya capek benget lo. Sampai ngences begitu" ucap Riko meledekku. Sepontan aku mengusap bibir. Sialan, aku di kerjain sama Riko.
" jam berapa ini?" Tanyaku
__ADS_1
"jam dua belas kurang Sepuluh" jawab Riko sambil memandang ponselnya, aku masuk ke kamar mandi. Aku mencuci muka dan berkumur, Lalu keluar. Arka sudah berlalu entah kemana.
Akhirnya kami memutuskan menuju ke posisi balap akan dilaksanakan. Semua penonton saling sorak saat rombongan kami datang.
"Hai Ega, kali ini kita akan menjadi lawan di lintasan" ucap lelaki yang cool itu memberikan uluran tangannya. aku tersenyum dan menerima uluran tangannya.
Dulu kami selalu ribut, membuat onar di jalanan. Pernah berujung di jeruji besi. Setiap bertemu pasti akan ada yang burujung masuk rumah sakit. Sekarang sudah tenang dan damai.
BRUMMMM BRUMM BRUMMM
suara kenalpot bising, memecah keheningan malam. Kota batam tidak ada perbedaan antara siang dan malam. Karena semua orang biasa sibuk bekerja.
terkadang para karyawan buruh pabrik, siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Aku sudah bersiap di atar motorku.
Pandangan kami fokus pada seorang perempuan seksi, dengan cat rambut yang berwarna-warni. Dia membawa benderanya, berjalan berkelok-kelok meperlihatkan gerakan tubuh seksinya.
" Bersiap, 3, 2, gooooooo..." Teriak wanita seksi itu, mengayunkan benderanya. Bertanda dimulai.
Aku memacu gas motorku semakin kencang, sesekali kami saling beriringan, saling mendahului. Kamu pikir bisa mengalahkanku? Tidak akan, aku harus menang. ucapku di dalam hlem Full face.
Aku melakukan sedikit Adegan Atraksi, seperti jumping. lalu aku menghentikan motorku. Dan membuka helm Full face. Hadiah kali ini aku berikan pada 2 geng motor, sebagai tanda persahabatan dan perpisahan.
"Bro, mungkin ini adalah terakhir gue di jalanan. kedepannya gue akan sibuk dengan dunia baru gue. Jadi elo pada, jangan ribut. Damai, seperti yang gue lihat sekarang ini. gue minum, nih buat perpisahaan kita" kataku sambil meneguk wine.
"memang lo mau kemana ga?" tanya Jio, yang tadi menjadi musuh di arena balap.
"Gue mau menata hidup gue, sekarang udah saatnya gue ngabdi sama bokap. kalau ada kesempatan, gue kumpul bareng kalian lagi. Tenang aja, gue masih di batam" kataku sambil menahan buliran air mata.
"lo mau kawin ya ga?" tanya sinian, dengan tatapan yang sedih.
"Kawin kepalamu itu, pacar aja gue gak ada. kawin sama siapa? Sama lo" jawabku meninju lengan sinian, yang terlihat gak rela dengan keputusanku.
"kali aja lo kawin, itu bule bilang calon suamimu" ucap Abi mengingatkan masalah di bar. Sontak semua bocah itu, langsung mengiyakan ucapan Abi.
"bukan, gue mau fokus dengan karir gue, dan lo pada, kalian disini buat kerja. Udah jauh-jauh merantau ke batam. Jangan lupakan niat awal kalian. Intinya, gue masih di batam dan masih bisa bertemu dengan kalian lagi" ucapku sambil menyeka Air mata.
__ADS_1
"jika ini sudah menjadi keputusanmu, gue hanya mendukungmu" kata Sinian, yang langsung peluk gue. Lalu di ikuti sama anak yang lainnya.
Setelah melepas pelukan, aku mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Dengan perasaan sedih, aku menuju Apertemen kak Tora.
Setelah menekan tombol bel, tidak lama kemudian Kak Tora membuka pintu Apertemen. Aku masuk dengan pakaen lengkap seperti berandal jalanan.
"Habis balapan lagi dek?" tanya Kak Tora santai.
"iya, sekalian pamitan. Aku mau fokus dengan papi, menerima takdirku. Dah lah kak, aku mau mandi. Dimana kamarku?"
"di sana, semua bajumu juga udah aku susun. kamu mau makan apa? Biar aku buatkan"
"Mie istan aja kak, aku lagi pengen makan mie instan. Cocok sama suasananya. dua bungkus, tiga telur dan jangan lupa di kasih daun sawi" ucapku sambil merenges.
"bocah ini, masih sama saja dengan dulu" ucap lirih kak Tora sambil memandangku masuk kamar.
setelah selesai mandi, aku keluar kamar. Aku menemui kak Tora di meja makan.
"Satu porsi aja kak, punya kakak mana?" tanyaku sambil duduk.
"kakak gak lapar, makanlah. Ini sausnya, biasanya kamu makan mie selalu pakai saus dan sambal" ucap kak Tora yang masih mengingat dengan jelas, apa yang aku sukai.
"Terima kasih kak" ucapku, lalu mulai makan. Seperti biasa, masakan Kak Tora sangat Lezat. Sepanjang aku makan, Kak Tora memandangiku dengan senyuman Tipis.
"Besok Acara lelang, Tuan Almart menyuruh aku membawamu kesana. besok pagi, akan ada perias yang akan menyulapmu menjadi Tuan Putri yang cantik" ucap Kak Tora.
"Harus ya?" tanyaku, sambil terus makan.
"ya haruslah, mulai sekarang semua urusan perusahaan. Kamu harus ikut Adil, kedepannya kamu akan menjadi pemimpinnya" ucap kak Tora.
Mendengar hal itu, aku hanya diam. Mau tidak mau, inilah takdir yang harus aku terima. Pantas saja, banyak pengusaha kaya. Yang berakhir menjadi jaka tua, atau perawan tua. Karena sibuk dengan pekerjaan mereka, sampai tidak sempat mencari pasangan, Batinku.
Pasangan? Idihh, kalau pasangan berakhir seperti Devan. Mending aku melajang seumur hidup. Batinku lagi. Tapi, kalau Arka? Boleh lah di pertimbangkan. Eh, kenapa jadi Arka? Sialan. Kenapa dia selalu menganggu pikiranku, mulu sih? ah ,sudahlah lupakan dia sejenak.
Setelah kenyang, aku mengehempaskan tubuhku ke atas kasur. tidak lama kemudian, aku sudah tertidur. Baru juga aku tertidur, sudah pagi. Dan aku sudah di bangunkan dengan suara pria cantik. Yang jalan berlenggok-lenggok. Aku berlahan membuka mataku.
__ADS_1