Wanitaku

Wanitaku
Sang Pewaris


__ADS_3

Pukul 10:00 telah tiba, papi dan Ariyanto datang. Papi duduk di depan, Ariyanto setia berdiri di samping papi. sedangkan para direktur dan pemegang saham duduk di kursi yang ada di barisan kiri dan kanan.


Aku duduk sambil menatap meja, aku tidak berani melihat wajah papi, yang terlihat seperti singa kelaparan. Tatapan dingin, seperti kulkas. Aku hanya mendengarkan saja, apa yang di katakan papi.


"enam bulan lagi, aku akan menyerahkan jabatanku, serta mandala king ini pada anakku. Semua sahamku akan aku berikan pada anakku, tapi ketika dia sudah menikah. kalian tidak perlu risau. Anakku pintar dan terlatih. Hanya saja, aku belum bisa memberitahu pada kalian, siapa anakku, dan di mana dia sekarang, aku sebagai pemilik perusahaan Mandali king, akan memantau dan membantu dari rumah. Aku akan datang bila ada masalah." Kata papi, mengejutkan diriku. Aku langsung menoleh pada papi. Kami saling menatap.


Enam bulan lagi? Tidak, aku belum siap. Secepat ini menjadi ceo, aku tidak ingin menghancurkan kerja keras papi. Dalam sedetik. Rasanya aku ingin menolak, semua orang saling berbisik.


"Baiklah tuan, kami setuju saja. Asal Anak tuan, bisa menjaga perusahaan ini. Dan tidak membuat kami pemegang saham, merugi. Aku tidak masalah" Kata Jiang lanhu, salah satu pemegang saham. Lalu pemegang saham yang lainnya, juga ikut setuju. Aku hanya diam membeku.


"Baiklah, jika kalian sudah setuju. Aku rasa, miting kali ini cukup sampai disini. Aku ucapakan terima kasih." kata papi mengucapkan terima kasih. Semua orang keluar, tapi aku tetap duduk diam di kursiku, Viera menarikku untuk pergi. Lalu aku mengatakan, aku ingin tinggal sebentar. Setelah itu, Viera meninggalkan kami. Begitu juga Ariyanto.


Kami hening cukup lama, karena aku diam. Papi beranjak pergi meninggalkan diriku. Aku memeluk tubuh papi dari belakang.


"Pi, maafkan Denada. Jangan diamin Denada? Papi, Denada ngaku salah. Denada janji, Denada gak akan lagi jatuh cinta dengan sembarang lelaki. Denada akan menjadi yang papi inginkan, tapi tolong jangan diamin Denada" Kataku sesenggukan.


Papi ingin mengelus tanganku, namun dia menahannya, dia menarik lepas pelukanku. Dia menahan gejolak rasa yang bercampur aduk di dalam hatinya. Dia ingin bersikap tegas kali ini padaku. Berlahan tapi pasti, papi menarik kedua tanganku. Dia melepaskan pelukan tanganku.


Papi meninggalkan Aku di ruangan yang sepi, aku mengusap air mataku. Berlahan aku mulai berjalan, ke ruangan papi. Namun aku di halangi oleh Ariyanto.


"maaf nona, tuan sedang tidak ingin bertemu dengan anda. Dan anda selama enam bulan ini, Tuan berpesan untuk tidak kembali ke mansion" Kata Ariyanto dengan hormat.


"Baiklah, aku mengerti. Jaga selalu papi" kataku menitip pesan.


"baik nona, aku akan menjaga Tuan" jawab Ariyanto.


Aku berjalan berlahan, aku masuk ke ruangan kerjaku. Aku di ambang delema. aku seharian melamun, aku benar-benar kehilangan selera bekerja. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Semua karyawan berhamburan pulang. Aku serlok pada Group Anak montor. Jika Aku berada di sebuah bar. Mereka berkata Akan menyusulku setelah mandi.

__ADS_1


Aku memacu montorku, suaranya membelah kota teh obeng. Aku ingin melepaskan penat, Aku ingin melepaskan semua bebanku. Aku ingin bebas, walau hanya dalam waktu sedetik.


Hari semakin malam, aku melangkah masuk ke sebuah bar. Suara music memecah gendang telingaku, bau alkohol menyengat. Aku memesan ruang vvip. Aku masuk ke ruangan tersebut, tidak lama kemudian pelayan datang. Membawa wine, bir dan minuman sejenisnya. Beserta makanan ringan sebagai pedampingnya. Aku menyalakan Rokok, aku biasa merokok jika pikiranku sedang kacau. ini adalah pertama kalinya, setelah aku bercerai. Terkhir aku menyentuh rokok adalah, saat aku belum jatuh cinta dengan Devan.


Aku bersandar di sofa, dengan kaki kananku berpangku di kaki kiriku. Tidak lama kemudian sinian, dan kawan-kawan datang.


"Sekarang, lo udah kerja. Semakin gila ya ga? Ngajak minum di tempat beginian. Biasanya cuma di markas aja" celoteh sinian. Sambil memberi salam, ala tos anak muda.


"udah, jangan banyak bacot. Kita minum, sampai teler" kataku, memulai memutar gelas.


"heh, dodol. seg genah polahanmu. cokkkk" celetuk Riko, memukul lengan sinian. Karena dia menginjak kaki Riko.


"jehhh, ra sengojo cokk" kata Sinian.


"kalian, mulai lagi bahasa planet. Gak bisa akur, heran gue" kataku, sambil meneguk wine. Satu gelas langsung habis.


"ga, sepertinya. Lo lagi gak baik-baik saja? Cerita kenapa?" tanya Sinian kawatir.


"Apaaaaa????" ucapan semua serempak.


"ga, aku gak salah dengar ini kan?" tanya Abi, memastikan lagi.


"enggak, gue udah pacaran. Tapi cuma cinta satu malam" kataku, setelah itu aku tertawa. Semua Teman-temanku saling menatap tidak percaya.


Aku terus meminum minuman itu, sampai aku benar-benar mabok. Tiba-tiba pintu terbuka, Arka masuk dengan Aura menakutkan. Semua Anak-Anak langsung berdiri, menghalangi Arka.


"minggir" kata Arka dingin.

__ADS_1


"Kamu siapa? Dan mau apa?" teriak sinian.


"Aku calon suaminya, sekarang aku bilang minggir, ya minggir aja" kata Arka mendorong tubuh Sinian. Alkohol sudah menguasai akal sehat teman-temanku. Sinian melayangkan tinju ke Arka. Dengan mudah Arka memelintir tangan sinian, lalu di hempaskan.


"Sudah, kalian jangan ribut. Dia kekasihku" Kataku tertawa. Aku benar-benar tidak sadar lagi. Arka menggendongku keluar dari bar.


"kamu sungguh merepotkan" kata Arka setelah memasang safety belt. Lalu dia melajukan mobilnya ke sebuah Hotel.


Aku terus mericau tidak jelas, membuat Arka semakin marah. Dia membawaku ke sebuah kamar, lalu melemparku di atas kasur.


"Kamu, kenapa mirip sekali dengan Bule sialan itu" tanyaku, menunjuk Arka sambil tertawa.


"Denada, beraninya kamu menemui si tua itu, setelah bersamaku. Dan hari ini, kamu minum dengan laki-laki sebanyak itu" kata Arka menindih tubuhku.


Aku meraba pipinya, turun ke dagu belah miliknya. Aku menatap sayu, aku berharap ini bukan sebuah mimpi.


"Aku berharap, ini bukan mimipi. Jika mimpi, aku tidak ingin terbangun. Jika nyata, aku ingin dunia berhenti berputar. Sungguh aku ingin selalu bersamamu" kataku, terus membelai wajahnya. Dia menatap diriku, tapi aku tidak bisa mengartikan tatapannya. Lalu dia memegang tanganku, dan berhenti di pipinya.


"I Love You" kata Arka, berlahan Arka mendekatkan wajahnya.


"woeeekkkk woeekkk" Aku muntah sangat banyak. Baju kami penuh dengan muntahan.


"kau" pekik Arka, Dia sangat kesal. Dia mengatakan pada Feng teng untuk mengantar baju ganti kami. Arka membuka bajuku, dia melilit tubuhku yang hanya memakai dalaman, dengan selimut tebal. Lalu membawaku ke kamar sebelahnya.


tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Feng teng datang membawa paper bag, berisi pakaian. Feng teng melihat Arka yang habis mandi dan hanya terlilit handuk, dia tersenyum.


"sudah, jangan tersenyum kayak orang bodoh" kata Arka ketus, lalu menyuruh feng teng pulang.

__ADS_1


Arka memandangiku, yang tidur nyenyak dengan lilitan Selimut tebal. Dia membelai rambutku yang menutup sebagaian wajahku. Berlahan tapi pasti, dia mengecup bibirku.


Terima kasih,telah mengikuti novelku. sampai di eps ini. jangan lupa, kritik dan sarannya. setelah membaca jangan lupa, tinggalkan jejak kalian 🤗


__ADS_2