
Setelah mengetahui Rose ada di rumah sakit, Ronal pun pergi ke rumah sakit yang di maksud oleh ayah pacarnya tadi.
"Kenapa dia gak ngabarin gue, kalau lagi sakit?" gumam Ronal.
Mobil Ronal pun memasuki baseman rumah sakit yang di maksud oleh ayah pacarnya tadi. Ronal memakir kan mobilnya dan ia hendak keluar dari mobil.
"Gue coba telpon dia aja dulu, mana tau di angkatnya."gumam Ronal. Ia mengeluarkan ponsel yang ada di saku jaket yang dikenakannya. kemudian ia mencari kontak Rose.
Tuuuu..... Tuuuuutttt.....
"Nggak di angkat..." gumamnya.
"Yaudah gue masuk aja…" ujarnya membuka pintu dan keluar dari mobilnya.
Sesampainya di loby rumah sakit, Ronal pergi ke bagian receptionis untuk menanyakan dimana ruangan rawat Rose.
"Permisi nona…" ucap Ronal.
"Iya ada yang bisa saya bantu tuan?…"tanya receptionis itu.
"Saya mau cari ruangan rawat teman saya. katanya dia di rawat disini." jawab Ronal.
"Atas nama siapa?…"
"Atas nama Rose wijaya…" balas Ronal.
"Tunggu sebentar ya…" perawat itu pun mencari nama pasien atas nama Rose Wijaya.
"Bagaimana sus, ada?…"Tanya Ronal.
"Maaf tuan, pasien atas nama Rose Wijaya tidak ada di daftar pasien…" jawab suster yang bertugas.
"Baiklah, terima kasih." Ronal pun berjalan keluar dari rumah sakit itu dan pergi menuju mobilnya
"Kenapa bisa gak ada, apa gue salah rumah sakit ya" gumamnya.
"Atau ayahnya Rose itu bohong…" imbuhnya.
"Bodoh amat lah, mending gue pergi main aja" Ronal pun berlalu pergibke tempat - tempat yang bisa membuatnya senang.
~
Sekitar pukul sebelas malam Lisa kembali masuk ke dalam ruangan Daniel. Ia melihat Rose sedang tertidur sambil duduk dengan kepala berbantalan tangan Daniel.
"Dia tertidur…"gumam Lisa. Ia kembali keluar menemui Zidan yang sedang duduk di bangku depan kamar Daniel.
"Zi, itu… Rose sudah tidur sambil duduk. Aku kasihan membangunkannya." ucap Lisa.
"Ha…Terus, kau mau aku ngapaon..."
"Is gak peka banget, ya kamu gendong lah..." seru Lisa
"Aku yang gendong?" tanya Zidan tak percaya.
"Menurutmu?…"
Zidan menghela napas " Baiklah…" Zidan dan Lisa pun kembali ke dalam ruangan Daniel.
Dengan pelan - pelan Zidan mengangkat Rose dan membawanya pindah ke kamar rawatnya sendiri.
Saat Lisa hendak mendorong kursi roda Rose, tiba - tiba Daniel memanggilnya.
"Kak Lis…" panggil Daniel. Lisa pun menoleh menatap Daniel.
"Iya, ada apa Niel?… Kamu butuh sesuatun" tanya Lisa.
__ADS_1
"Kita bisa bicara sebentar?" tanya Daniel. Lisa menganggukkan kepalanya. Lisa melangkah mendekati Daniel dan mendudukkan tubuh nya di kursi samping ranjang Daniel.
"Bicaralah…" seru Lisa. Daniel terdiam menatap Lisa sejenak.
"Kakak pasti sudah dengarkan kondisi aku gimana…" ucap Daniel. Lisa pin menganggukkan kepalanya.
"Aku gak tau sampai kapan aku bisa bertahan kak, tapi selama aku bisa bertahan, aku akan usahakan…" imbuh Daniel.
"Kamu jangan ngomong gitu, kamu pasti bisa bertahan kok…" Ucap Lisa menyemangati Daniel.
"Aku sih mau nya gitu kak, tapi…"
"Pokoknya kamu jangan pesimis dulu, harus optimis dong. Percaya sama kakak, kamu akan sehat, kakak dan pak Zidan akan usahakan untuk kesehatan kamu. Jadi kamu harus semangat" potong Lisa, sembari tersenyum.
Ceklek.
Lisa dan Daniel menoleh kearah pintu dan mereka melihat Zidan sedang berjalan mendekati mereka.
"Gimana keadaan kamu Daniel?" tanya Zidan
"Saya sudah merasa agak baikan pak…"balas Daniel.
Zidan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, Ia melihat kearah istrinya.
"Kamu, ngapain masih disini? …" tanya Zidan.
"Itu, tadi Daniel ngajak ngobrol …" ucap Lisa.
"Yaudah kak, kita lanjut besok aja… Kakak pasti capek, istirahatlah!…" seru Daniel.
"Yuk pulang!…" ajak Zidan.
"Terus mereka gimana? gak apa - apa kita tinggal atau kita nginap di sini aja…" ucap Lisa menatap Zidan.
"Tu dengar kan!" seru Zidan.
"Yaudah, kita pulang dulu ya. Kamu istirahatlah, biar cepat sembuh dan biar bisa cepat nikahi Rosel ucap Lisa sembari mengedipkan sebelah matanyanya.
Lisa pun beranjak berdiri "Kita pamit ya." ujar Lisa. Daniel pin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Istirahat lah…" ucap Zidan.
"Terima kasih pak" Zidan tak menjawab dia hanya tersenyum. Zidan dan Lisa pun pergi berlalu meninggalkan ruangan Daniel.
Sebelum pulang, Lisa terlebih dahulu masuk ke kamar sang adik. Zidan meletakkan kursi roda di sudut kamar rawat Rose.
Sementara Lisa membenarkan letak selimut adiknya dan mengecup kening sang adik.
Setelah di rasa adiknya baik - baik saja, Lisa dn Zidan pun pergi berlalu meninggalkan rumah sakit.
Saat di perjalanan mau pulang, Zidan mengajak Lisa untuk mencari makan terlebih dahulu.
"Kita cari makan dulu ya…" ajak Zidan.
"Langsung pulang aja lah.…" balas Lisa.
"Tapi aku lapar banget, tadi gak kenyang cuma makan roti." saut Zidan.
"Emang ada tempat makanan yang buka jam segini?" tanya Lisa.
"Kita cari aja dulu, mana tau ada yang masih buka" jawab Zidan.
"Kalau kaya gitu, kita lama sampai rumahnya…"seru Lisa
"Ya mau gimana lagi, aku udah laper banget ini." ucap Zidan sembari memegang perutnya.
__ADS_1
"Kita langsung pulang aja, nanti aku masakin …" ujar Lisa.
"Seriusan, ok deh…" Zidan pun menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai rumah.
~
Sesampainya dirumah Lisa dan Zidan langsung menuju ke dapur.
"Kamu ngapain, ikut ke dapur?" tanya Lisa menatap suaminya heran.
"Aku mau bantuin kamu masak." saut Zidan
"Gak usah, aku bisa sendiri kok. mending kamu duduk aja tu di kursi itu."ucap Lisa sembari menunjuk kursi meja makan.
"Biar masaknya cepat kelar, jadi biar aku bantu..."
"Bukannya tambah cepat, ntar malah tambah lama.... kamu sana aja tunggu makanannya masak." Lisa mendorong tubuh suaminya itu agar menjauh dari dapur.
"Iya… Iya, kau selalu saja menolak niat baikku...." gerutu Zidan.
Dengan kesal Zidan mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Untuk menghilangkan rasa bosannya menunggu masakan istrinya itu matang. Zidan pun mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Tak butuh waktu lama Lisa pun telah menyelesaikan masakannya. Ia membuatkan suaminya itu nasi goreng seafood kesukaan Zidan.
"Ini makanlah, jangan main ponsel terus…" ujar Lisa meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Zidan.
"Mau ku buatkan teh?" tanya Lisa.
"Tidak perlu, ayo duduklah kita makan bersama" seru Zidan.
"Tunggu aku ambil air minum dulu" ucap Lisa kembali berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.
Lisa meletakkan segelas air putih untuk Zidan. Kemudian ia menarik kursi di samping Zidan dan mendudukkan tubuhnya di sana.
"Kau tidak makan?…"tanya Zidan, yang tidak melihat makanan punya Lisa.
"Aku tidak lapar, kau makalah cepat!" jawab Lisa.
"Baiklah tunggu sebentar, kau pasti sangat lelah." saut Zidan, ia pun menghabikan makanannya dengan cepat.
Saat makanannya sudah habis, Zidan menoleh kearah Lisa dan ternyata Lisa sudahn tertidur dengan kedua tangannya menyangga kepalanya.
Zidan membersihkan piring kotor dan kemudian ia pun menggendong Lisa untuk ke kamar.
sesampainya di kamar Zidan membaringkan tubuh Lisa dengan pelan, dia tidak ingin istrinya itu terbangun akan tidurnya.
"Dia pasti sangat lelah." gumam Zidan membenarkan letak selimut Lisa. Zidan pun beranjak berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Setelah sepuluh menit Zidan pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju kaos putih dan celana boxer hitam.
Zidan berjalan mendekati ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Lisa.
Di rengkuhnya tubuh mungil Lisa dan di bawanya kedalam dekapannya.
Saat Zidan baru memejamkan matanya tiba - tiba terdengar dering ponsel miliknya, Zidan pun kembali membuka mata dan meraih ponselnya yang ada di atas meja samping tempat tidur.
Ia melihat siapa yang menghubunginya di tengah malam seperti ini.
Drrrt… Drrrrt…
"Hallo………" sapa Zidan saat menerima penggilan itu.
~•••~
Jangan lupa dukungannya🤗
__ADS_1