ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
keluhan Zidan


__ADS_3

"Aku mau ke kantor, pekerjaanku sungguh sudah menumpuk." kelu Zidan.


"Apa kau yakin, bisa ke kantor?" tanya Lisa.


"Bisa, aku tidak lemah sepertimu" ledek Zidan.


"Tidak lemah bagaimana? kemaren saja, kau seharian tidak keluar kamar karna alasan masih lemah" seru Lisa, membalas ledekan suaminya itu.


"Kalau itu hal yang berbeda, kemaren aku benar- benar mual saat melihat wajahmu." seru Zidan


"Maaf ya, sekarang mending kamu istirahatlah." suruh Lisa. Zidan menatap istrinya itu.


"Apa kau tidak apa yang ku bilang tadi? " tanya Zidan


"Tapi, apa kau benar - benar yakin sayang, mendingan kamu gak usah kemana - mana dulu!" balas Lisa


"Tidak, sayang. Aku benar - benar baik - baik saja."Zidan tersenyum agar lebih meyakinkan istrinya tersebut supaya tidak terlalu mengkhawatirkannya setidaknya itu membuat rasa khawatir Lisa mereda.


"Lagian aku sudah lama tidak ke kantor, apa kau tidak pergi keboutique?"tanya Zidan.


"Tidak, untuk sementara aku memantau boutique dari rumah saja. "jelas Lisa.


"Apa kamu mau ikut aku ke kantor?" ajak Zidan.


"Tidak, lagi pula dirumah ada mama dan yang lain. Kan gak enak kalau kita gak ada di rumah." tolak Lisa.


"Yasudah, aku mandi dulu. Kau ambilkanlah pakaianku!!" suruh Zidan. Ia mulai beranjak berdiri dan berlalu ke kamar mandi.


Sementara Lisa pergi ke walk in closet untuk menyiapkan pakaian yang akan di kenakan suaminya nanti.


~


Seusai sarapan, Lisa terlihat menenteng tas kerja Zidan dan mengantarkan suaminya tersebut ke halaman rumah untuk pergi bekerja.


"Jangan lupa nanti hubungi aku," ujar Zidan seraya mengambil alih tas kerjanya yang masih di tenteng Lisa.


"Untuk apa aku menghubungimu"


"Karna kau pasti akan sangat merindukanku nantinya." Ledek Zidan seraya terkekeh dan di susul dengan ciuman yang mendarat secara tiba - tiba di bibir tipis Lisa.


"Aku, nanti ada yang lihat bagaimana?" seru Lisa tersipu malu.


"Biarkan saja, aku berangkat"


Lisa mendengus kecil, belum sempat menyaut ledekan suaminya, Zidan sudah terburuh - buruh masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah tersebut.


"Dasar menyebalkan, tapi aku suka..." ucap Lisa tersenyum, menatap keprgian mobil suaminya.


Setelah memastikan mobil Zidan sudah tak terlihat lagi, Lisa pin kembali masuk kedalam rumah. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Oma dan mertuanya sedang mengobrol.

__ADS_1


"Mama sama oma lagi bicarain tentang apa sih?, seru banget kaya nya" tanya Lisa sembari mendudukkan tubuhnya di samping Oma.


"Ini sayang, kita lagi bahas masalah Rose yang akan tinggal sama oma" jawab mama Lilis.


"Kenapa emangnya mah? Apa ayah masih belum menyetujuinya?"tanya Lisa.


"Tidak, ini tidak asa hubungannya dengan ayahmu." saut Oma.


"justru oma merasa khawatir kalau Rose meninggalkan ayah, otomatis ayahmu pasti akan merasa ke sepian, kamu tau sendirikan bagaimana ayahmu itu." ujar oma. Lisa pun terdiam saat mendengar ucapan omanya itu.


"Hal itu juga yang semalam aku fikirkan oma, tapi aku tidak bisa mengutarakan hal ini. Aku takut, Rose akan merasa lebih terbebani akan ini. Aku tidak ingin melihat adikku banyak fikiran." ucap Lisa dalam hati.


"Lisa, Lis..." panggilan mama Lilis kembali menyadarkan Lisa akan lamunannya.


"Eh iya, iya mah, maaf aku malah jadi ngelamun gini" ucapnya terkekeh. Mama Lilis dan Oma pun geleng - geleng


~


Siang harinya, setelah melakukan pertemuan dengan kliennya, Zidan kembali masuk ke ruangannya. Ia berpesa kepada sekretarisnya agar tidak ada yang mengganggunya.


Zidan dengan segera menutup rapat pintu ruangannya, kemudian ia membarigkan tubuhnya di sofa. Ia benar - benar merasa lelah dan sangat mengantuk. Sebenarnya Zidan sudah menahan rasa kantuknya saat ia sedang meeting dengan kliennya, namun tidak untuk saat ini. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Batu saja kedua mata Zidan terpejam, namun rencananya untuk tidur pun terurngkan ketika ia mendengar ponselnya berbunyi dengan nyaring, membuat laki - laki itu mengucapkan kata - kata kasar dari mulutnya


"Oh shitt, siapa sih yang menelponku mengganggu saja.?" Zidan dengan malas meraih ponselnya yang terselip di saku celana penjangnya yang ia kenakan. Ia melihat ada satu panggilan masuk dari Ridho.


"Hallo, ada apa?" suara Zidan terdengar membentak, namun memang seperti itulah suara dan nada bicaranya jika bersama sahabatnya itu.


"Iya, kenapa?" jawab Zidan ketus.


"Gue mau membicarakan masalah bisnis baru dengan elu."


"Jangan sekarang, gue ngantuk dan mau tidur!" seru Zidan


"Elu gimana sih, ini waktunya kerja bukan tidur. Kalau tidur itu di rumah bukan di kantor!" tegur Ridho


"Aku sangat mengantuk sekali, tadi malam aku benar - benar tidak bisa tidur dengan nyenyak."


"Memangnya elu ngapain aja semalam, sampai gak bisa tidur?"


"Gue tidur, tapi Lisa yang bikin gue gak bisa tidur" jawab Zidan.


"Kenapa memangnya dengan Lisa?" Ridho tiba - tiba tertarik dengan cerita sahabatnya itu.


"Elu tau gak, dia membangunkan gue tengah malam cuma gara - gara minta pisahan pinggiran roti. Sungguh konyol." keluhnya dengan kesal


"Dia ganggu elu tidur cuma gara - gara itu?"


"Iya, padahal di dapur ada roti yang gak pake pinggirannya, tapi dia kekeh pengennya yang itu." ujar Zidan

__ADS_1


Ridho seketika tertawa dengan sangat keras hingga membuat Zidan menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Karna ia merasa tawa sahabatnya itu sungguh menyakitkan telibganya.


"Kenapa elu ketawa? Dasar sahabat luknat temen menderita dia malah bahagia" sungut Zidan.


"Sepertinya calon anak elu akan sama menyebalkannya dengan elu." ridho masih saja tidak bisa berhenti menertawakan sahabatbya yang sedangan kesal tersebut.


"Sial, cerita sama elu benar - benar gak ada untungnya" Umpat Zidan, ia dengan segera mematikan sambungan telfonnya dan melanjutkan niatnya untuk tidur.


~


Malam harinya Zidan dan Lisa mengantarkan semua keluarganya yang akan pulang sampai halaman depan rumah mereka.


"Dani kamu hati - hati ya nyetirnya, jangan ngebut ingat kamu lagi bawa oma!!" ucap Lisa memperingati sepupunya itu.


"Siap kak, kakak tenang saja." ucap Dani


"Kita berangkat ya kak." pamit Rose memeluk tubuh sang kakak.


"Hati - hati di sana dan cepat pulang." ucap Lisa dan Rose pun menganggukkan kepalanya.


"Oma hati - hati ya, besok kesini lagi ya pas Lisa lahiran." ucap Lisa beralih memeluk sang oma.


"Iya, kamu hati - hati ya nak, jangan terlalu capek. Ingat kamu sekarang sedang berbadan dua."nasehat oma.


"Iya oma." jawab Lisa.


"Semuanya kita pergi dulu ya." pami oma kepada semua orang di sana. Oma dan Rose pun masuk kedalam mobil. Setelah memastika semuanya telah siap Dani pun mulai menjalankan mobilnya.


Setelah mobil yang di kemudikan oleh Dani menghilang kini giliran pada orang tua mereka yang akan berpamitan.


"Hati - hati ya mah, pah dan ayah." ucap Zidan, yang di angguki oleh para orang tuanya itu.


"Kamu harus hati - hati ya sayang, jaga kesehatan dan kalau Zidan masih suka jahat sama kamu, kamu jangat takut bilang aja sama mama."


"mama apaan sih pake ngomong gitu, kapan coba aku jahat sama Lisa. yakan sayang" protes Zidan akan ucapan mamanya itu.


Mama melirik anaknya seolah ngejek ucapan anaknya itu.


"Udah dramanya, nanti kita kemalaman nyampe rumahnya." ujar papa Dika.


"Yaudah, mama pergi dulu ya sayang." pamit mama Lilis.


"Sudahkan, sekarang gue yang mau pamit sama mereka." ujar ayah Andre. Semua orang pun tersenyum saat mendengar ucapan Andre itu.


"Ingat! kalian harus sering ngunjungin ayah!!" srru Andre.


"Iya ayah" jawab Zidan dan Lisa serentak. Ayah Andre pun memeluk kedua anaknya.


"Kita pergi dulu ya...." ucap papa Dika ketika semua orang sudah masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Hati - hati" ucap Zidan, Lisa melambaikan tangannya hingga mobil orang tuannya tak terlihat lagi.


~•••~


__ADS_2