
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, kini tiba lah saatnya Zidan membawa anak dan istrinyanitu untuk pulang kerumah.
"Apa semua nya sudah siap? Tidak ada yang kelupaan lagi kan?"tanya Lisa.
"Kaya nya udah semua, tunggu aku cek bentar ya." ucap Zidan, ia kembali mengecek barang - barang bawaan mereka.
"Udah lengkap"
"Yaudah, kalau gitu ayo kita pulang. Aku udah bosan banget di sini" keluh Lisa.
"Yuk, tapi itu kamu yakin bisa gendong bayi? Kaya nya kamu gak bisa deh, kamu lah banget kaya nya." ucap Zidan, yang melihat istrinya terlihat lemah.
"Bisa kok, kamu jangan ngeremehin aku gitu dong."
"Bukan ngeremehim, tapi aku wanti - wwnti saja." balas Zidan.
Lisa turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah bayi nya yang pada saat itu sedang tidur di baby box rumah sakit.
"Hey anak mama, yuk kita pulang ya.." Lisa meraih tubuh mungil itu, kemudian membawanya ke dalam dekapannya.
"Anak mama cantik banget sih" ucap Lisa gemes dengan bayinya itu. Ia mencium kemudia tersenyum melihat putrinya.
Zidan menghampiri Lisa yang sedang menggendong bayi mereka, kemudian ia memeluk Lisa dari belakang.
"Kenapa kamu senyum - senyum seperti itu dan ini kenapa nangis?" tanya Zidan yang melihat ada bekas air mata di pipi istrinya.
"Aku masih belum percaya kalau aku sudah punya bayi dengan mu" ucap Lisa.
"Hehehe.... Kamu lihat sendiri kan, aku bisa memberimu seorang bayi yang lucu dan imut seperti ini" balas Zidan sembari menatap kearah anaknya.
"Sayang sekali lagi makasih, aku sangat bahagia sekarang. Karna kamu sudah melahirkan malaikat kecil ini" Zidan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Lisa.
Lisa tidak menjawab dia, hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sembari melihat putri kecilnya.
"Yaudah yuk kita pulang " ajak Zidan melepaskan pelukanya, Lisa pun mengiyakan.
Zidan menenteng semua barang - barang istri dan bayinya. Mereka pun mulai berlalu pergi meninggalkan ruangan itu
~
Sesampai di rumah, Zidan keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istri dan anaknya.
"Silahkan tuan ratu dan tuan putri ku" seru Zidan
Dengan senyum yang mengembang, Lisa keluar dari mobil." Terima kasih Rajaku" balas Lisa, Zidan tersenyum mendengar Lisa memanggilnya Raja.
__ADS_1
"Tunggu aku barang - barang dulu" ucap Zidan. Ia kembali membuka pintu mobil bagian belakang dan mengambil semua barang - barang bawaan mereka.
"Yuk..." ajaknya setelah ia selesai mengambil semua barangnya.
Mereka pun melangkah menuju ke pintu utama rumah mereka. Belum sempat Zidan memegang handel pintu, namun pintunya sudah dibuka lebih dulu oleh seseorang dari dalam.
Ceklek
"Selamat datang tuan putri kami" seru orang - orang yang tiba - tiba muncul.
"Kalian?" tanya Zidan dan lisa tidak menyangkan kalau semua anggota keluarganya sudah berkumpul di rumah mereka.
"Cucu nenek..." ucap Lilis, yang menghampiri Lisa dan mengambil alih bayi mungil Lisa ke dalam gendongannya.
"Cucu oma" teriak oma memeluk Lisa.
"Selamat ya sayang, maaf kemaren oma tidak bisa menemanimu." ujar Oma sedikit sedih.
"Tidak apa - apa oma yang penting sejarang oma sudah ada di sini dan wajib harus tinggal lama di rumah Lisa" Lisa membalas pelukan omanya.
"Kenapa malah peluk - pelukannya di depan pintu, ayo masuk dulu." seru Andre
Semua orang pun masuk kedalam rumah, hari ini rumah Zidan dan Lisa benar - benar rame semua anggota keluarga mereka hadir semua.
Mereka pun mengadakan party penyambutan bayi Zidan dan Lisa dengan sangat dadakan pada hari itu.
~
Namun, sudah tiga minggu dari hati ini dirinya berusaha untuk mendapatkan hati seorang Bella, tetapi keberuntungan belum juga berpihak kepadanya
Namun, itu semua tidak membuat Dani menyerah untuk mendapatkan hati Bella. Ia setiap hari tetap menemuinya, memandangi rumah wanita itu dengan membawa bunga atau makanan kesukaannya, ya seperti pagi ini, kelopak bunga mawar berguguran di teras rumah setelah Bella melemparkannya ke pada Dani.
"Gue kan udah bilang sama elu, gue gak suka kalau di paksa - paksa seperti ini!" bentak Bella, wajah wanita itu terlihat gusar.
"Gue tau, tapi gue cuma mau berusaha untuk dapati elu apa salahnya. Lagian kalau elu gak mau gue gini in, makanya cepat terima gue!" Dani memunguti bunga mawar yang beberap kelopaknya sudah terlepas dari tangkainya, namun tak mengurangi keindahannya.
"Pokoknyq elu harus mau nerima ini, karna ini gue petik langsung dari kebun bunga belakang rumah kak Lisa dan elu tau gak demi dapat kan ini gue kena omel sama kak Lisa dan kak Zidan."
"Jadi elu harus terima ini" tutur Dani meletakkan kembali bunga mawar itu ke tangan Bella.
"Ya itu sih urusan elu, kena omel atau enggaknya. Lagian siapa suruh maling tanaman orang " sungut Bella.
"Ok gue terima, sekarang silahkan eku pergi dari sini!!" usir Bella.
"Elu ngusir gue?" tanya Dani gak percaya.
__ADS_1
"Punya kupingkan, gak budeg kan!!" setelah mengucapkan kata - kata itu Bella pun masuk kedalam rumah.
"Bella...." mamanya amel yang melihat anaknya setengah berlari menuju kamar itu pun heran.
"Kenapa dia, tidak biasanya dia seperti itu" gumam Amel.
Amel pergi ke luar untuk melihat ada apa sebernya diluar, kenapa wajah putrinya tadi terlihat sangat kesal setlah dia dari luar.
"Kamu siapa, ngapain disini?" tanya Amel saat melihat seorang pemuda yang sedang berdiri di depan rumahnya.
"Hai tante, perkenalkan saya Dani." Dani mengulurkan tangannya kepada Amel.
"Saya Amel, mamanya Bella" Amel menjabat tangan Dani.
"Kamu ada perlu apa ya disini, dan tadi saya lihat anak saya sangat kesel saat di masuk kedalam rumah tadi. Apa kamu pacarnya Bella? Apa kau menyakiti anakku?"tanya Amel bertubi - tubi kepada Dani.
"Bukan tante, saya tidak menyakiti anak tante, malahan saya mau membahagiakannya tan." ujar Dani.
"Maksudnya gimana?" tanya Amel penasaran.
"Iya tan…"
"Tunggu, mendingan kita duduk dulu di sana. Ayo" Amel mengaja Dani untuk duduk di sofa yang ada di teras rumahnya.
"Baiklah" Mereka pun berjalan menuju sofa itu kemudian mereka mulai berbicang.
"Sudah hampir sebulan ini saya ingin meluluhkan hati anak tante, namun sampai sekarang saya belum juga berhasil mendapatkannya." ujar Dani.
"Kenapa seperti itu, apa mungkin anak saya tidak menyukai kamu. "
"Entalah tan, dulu sebelum saya melamarnya. Saya kira dia juga menyukai saya karena tidak ada tanda - tanda kalau dia akan menolak saya tan. Makanya saya mulai yakin untuk melamarnya. Namun…" Dani tak melanjutkan perkataannya.
"Tante lihat sendirikan bagaimana sekarang?" ujar Dani.
Amel diam sejenak, memikirkan langkah apa yang harus dia ambil. Dia sangat sedih mendengar pengakuan Dani tadi. Tapi tidak ingin gegabah dalam bersikap, masalahnya ini menyangkut masa depan anaknya.
"Sekarang gini aja deh, kamu pulang dulu dan lanjutkan perjuanganmu selama seminggu ke depan. Jika nanti gak juga, nanti baru tante bantu." ucap Amel, Dani menatap Amel saat mendengar calon mertuanya itu akan membantunya.
"Benarkah tan?"
"Iya, kamu tenang saja. Tapi..."
"Tapi?…"
~•••~
__ADS_1
Jangan lupa di like dan komen ya guys.