
"Mau meracuniku?" tanya Zidan.
" Tidak!! Siapa yang mau meracunimu? yang berbicara seperti itu kan Sindy bukan aku! Aku tidak pernah berniat meracunimu, percayalah!" bantah Lisa
" Berarti temanmu itu harus diberi hukuman!" seru Zidan
" Kau jangan macam-macam! dia tidak bermaksud seperti itu!" bantah Lisa.
" Jelas-jelas dia tadi menyebutkan nama suamimu! Memangnya suamimu yang mana lagi ?" seru Zidan dengan kesal, Lisa hanya diam.
"Baiklah, aku memiliki dua pilihan...."
"Apa?" saut Lisa dengan nada ketus.
" Kau pilih mana Aku menghukum temanmu, atau kau yang ku hukum" Zidan melengkungkan bibirnya ke atas dengan penuh makna.
" Hukum aku saja, jangan Sindy dia tidak tahu apa-apa." ujar Lisa.
" Iya Kau benar sekali aku lebih suka menghukummu daripada menghukum orang lain." Zidan menaikkan dagu Lisa dan menatap bibirnya yang merah merekah itu dengan seksama dan hendak menciumnya.
Tok...Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan semuanya Lisa dengan segera mendorong tubuh Zidan hingga menjauh darinya.
" Jalan Siapa yang mengganggu?" umpat Zidan
" Kau yang disini mengganggu.... ini bukan di rumah atau di kantor mu" seru Lisa membenarkan bajunya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukana pintu terdengar kembali
"Iya, masuk!!" perintah Lisaa
Pintu pun terbuka terlihat salah seorang laki-laki berdiri di sana. Dia adalah seorang pegawai Lisa yang diutus oleh Sindy untuk memberitahukan kepada Lisa bahwa nanti siang Lisa ada pertemuan dengan client.
"Maaf bu mengganggu, saya disuruh bu Sindy untuk menyampaikan kalau nanti siang ibu ada pertemuan dengan client" ucap pegawai tersebut. Zidan yang berdiri di samping Lisa menatap tak suka kearah pegawai pria tersebut.
"Baiklah, terima kasih ya" ucap Lisa tersenyum kepada pegawainya. Zidan mebulatkan matanya tak percaya kalau Lisa berani tersenyum dengan pria lain di depannya.
"Beraninya dia tersenyum seperti itu dengan pria lain di depanku" gumam Zidan dalam hati.
Pegawai itu pun pergi berlalu meninggalkan ruangan Lisa. Zidan dengan cepat memutar kursi Lisa dan menghadapkannya kepadanya.
"Apa maksudmu tersenyum seperti itu kepada nya?" tanya Zidan kesal.
__ADS_1
" Tersenyum gimana? menurutku tadi itu hal yang biasa, kamu gak usah berlebihan gitu deh" jawab Lisa
"Kamu gak boleh tersenyum seperti tadi kepada siapa pun kecuali kepadaku" tegas Zidan.
"Terserah kau saja lah, aku lapar, kamu jadi makan bareng nggak?" tanya Lisa mengalihkan pembahasannya, jika ia meneruskan pembahasan itu maka akan panjang urusannya.
"Iya, ayo" Zidan membantu Lisa berdiri, kemudian mengandeng tangannya dan mereka pun berlalu pergi meninggalkan boutique.
Saat di jalan, Zidan menoleh kearah Lisa. Dia melihat Lisa hanya diam melamun.
" Kau mau makan di mana ?" tanya Zidan
" Terserah kau saja!" saut Lisa dengan nada malas.
Zidan melirik kearah Lisa yang sedari tadi melihat ke arah jendela mobil. 10 meter dari jangkauan mobilnya ia melihat sebuah restoran yang sederhana. Zidan menghentikan mobilnya di restoran tersebut dan mengajak Lisa untuk turun. Hal ini lah yang paling disukai oleh Zidan dari Lisa ia tak banyak maunya, tidak seperti kebanyakan teman wanitanya ataupun mantan-mantannya dahulu,uang selalu minta makan di tempat yang mewah dan restoran berbintang 5. Sementara Lisa tidak banyak menuntut sekalipun ia tahu bahwa suaminya iyalah orang yang tak akan pernah kekeringan uang.
Kini, Zidan sudah mendapatkan meja kosong dan duduk saling berhadapan dengan Lisa. Tangan Zidan disibukkan untuk membuka lembaran halaman buku menu yang baru saja diberikan oleh salah satu pelayan restoran tersebut
"Kau mau makan apa?" tanua Zidan.
"Terserah kau saja," jawab Lis
"Chicken condon blue?" Tanya nya kembali Lisa mengangguk tanpa mengeluarkan suara Entahlah untuk saat ini dia sangat malas untuk bersuara.
" Terserah kau saja" jawaban Lisa yang sama membuat Zidan begitu garam saat mendengarnya.
" Kau ini kenapa jawaban yang kau berikan hanya terserah! Aku sungguh kesal mendengarnya" seru Zidan.
" apa saja yang kau pilihkan aku pasti makannya aku disini hanya menemanimu makan!" Lautnya tanpa menjawab, Zidan segera memesan dua makanan dan minuman yang sama.
" Apanya yang menemaniku makan. Bukannya, tadi kau juga ingin makan?" ketus Zidan.
Tak lama kemudian pelayan datang dengan membawa makanan yang telah dipesan oleh Zidan tadi.
" Silakan menikmati...Tuan Nona" pelayan itu berlalu pergi meninggalkan meja mereka berdua.
"Cepat makanlah" perintah Zidan, Lisa mengangguk dan segera melahap makanannya.
" Inikah yang kau maksud dengan menemaniku makan. Bahkan makananmu lebih dulu habis daripada makananku." ucap Zidan mencibir.
Lisa hanya terkekeh mendengar ucapan Zidan.
" Cepatlah habiskan makananmu! kau ini lama sekali makannya" perintah Lisa, mengalihkan pandangannya kesamping. Zidan pun mulai fokus pada makanannya. Lisa memperhatikan Zidan yang sedang makan.
" apa aku setampan itu sampai kau dari tadi memandangiku?" ledek Zidan, Lisa seketika mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Siapa yang memandangimu bantal Isa mereka mendirikan kembali aktivitas Makannya lebih tepatnya Zidan melanjutkan makannya dan Lisa kembali memandanginya.
"Zi..." panggilan Lisa membuat Zidan menyahut sambil mengangkat wajahnya memandang ke arah istrinya tersebut
"ada apa?"
" Siapa itu Nona Putri?" Liza memberanikan diri untuk berbicara. Namun Zidan tak tertarik akan pertanyaan itu.
"Bukan siapa - siapa!" sautnya sambil kembali melanjutkan makannumya.
"Dia mantan kekasihmu kann" tanya Lisa. Namun Zidan diam saja dan sibuk mengunyah makanannya
" Zi..." Lisa memanggilnya dengan setengah berteriak.
" Kalau benar dia mantanku lalu kau mau apa? Membunuhnya?" seru Zidan.
"Menyolot sekali! Aku kan hana bertanya!" saut Lisa.
"Jangan bertanya hal yang tidak penting!" Perintah zidan. Lisa masih ingin sekali mengintrogasi suaminya tersebut. Namun bagaimana lagi situasinya tidak memungkinkan. Seusai makan siang, Lisa pun mengajak Zidan untuk kembali bekerja. Zidan mengikuti Lisa ke butik karena dia sudah tidak memiliki pekerjaan lain lagi. Selama Lisa bekerja Zidan menunggunya di sofa hingga laki-laki itu ketiduran.
Sore harinya, Lisa membereskan meja nya dan bersiap-siap untuk pulang. Ia berjalan mendekati Zidan yang masih tertidur di atas sofa yang terletak di dalam ruangannya tersebut.
" Zidan bangunlah..." Lisa menggoyang bahu suaminya berkali-kali hingga kedua mata mengerjap
" Ada apa ?" tanya Zidan sambil menyipitkan kedua matanya yang masih buram.
"Ayo kita pulang," ajak Lisa.
"Hoam, nanti saja aku masih mengantuk " Zidan hendak memejamkan matanya kembali namun tangan bisa menarik rambutnya yang tumbuh dengan jarang itu.
"AWWW..." pekiknya.
"Ini sudah sore, kau mau tidur disini?" seru Lisa.
" Benarkah sudah sore? cepat sekali.." zidan seketika beranjak duduk dengan sempurna.
~•••~
Jangan bosan - bosan ya nunggu up kelanjutannya.
Terima kasih atas dukungannya semuanya🤗
Jangan lupa Like dan komennya ya, karena komen dari kalian sangat saya nantikan.😉
Happy reading guys😘,
__ADS_1