
Kini, Lisa masih berada di ruangan kerjanya menunjukkan beberapa katalog gaun pernikahan hasil designnya kepada kedua clientnya.
"Apa aku bisa melihat koleksi gaun pengantingmu secara langsung?" tanya Mega.
"Tentu saja, mari ku antarkan..." Lisa mengajak kedua client nya tersebut untuk pergi ke ruang penyimpanan gaun, di sana banyak sekali gaun pengantin yang di display secara langsung menggunakan patung, memudahkan Mega dan juga Putri lebih leluasa melihat gaun-gaun tersebut. Perpaduan warna serta model-model gaun tersebut sangatlah elegant.
" Ini semua hasil design mu nona?" tanya Putri dengan begitu terpukau. Lisa membenarkannya.
" Aku sebenarnya tertarik dengan gaun ini .." Mega memegang salah satu gaun yang ada di sana.
" Tapi aku tidak suka karena sudah ada yang pernah memakainya. Aku mau gaun pernikahan ku berbeda dari yang lain, belum ada yang memakainya sama sekali." imbuhnya.
" nona Lisa, Aku lebih menyukai design yang pertama, tetapi tolong buat yang lebih ke Eropa modern seperti ini. Sisanya kau atur saja dengan Jeremy yang terpenting sesuai dengan konsep pernikahan ku. Apa kau bisa?" tanya Mega.
"Tentu saja aku bisa nona, kau tenang saja." saut Lisa.
"Baiklah, semunya aku serahkan kepadamu dan juga Jeremy"tutur Mega.
"Kalau begitu, aku dan kakakku permisi pamit pulang ya nona" pamit Putri.
"Iya silahkan..."
Putri dan Mega berlalu pergi meninggalkan ruangan itu, begitu juga dengan Lisa, Ia juga kembali ke ruangan kerjanya. Namun, saat di ruangan kerja, dirinya dibuat terkejut saat sudah mendapati Zidan yang duduk manis di kursi meja kerjanya sambil menyandarkan punggungnya dan bersantai.
" kau sudah kembali? Bukannya kamu ke itu ke kantor?" Lisa berjalan mendekati Zidan dan mengembalikan katalog yang ada di tangannya dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Dimana banci itun" tanya Zidan.
"Bicaralah yang sopan!" tegur Lisa.
" Kenyataannya memang seperti itu." Zidan tiba-tiba menarik tubuh Lisa, sehingga kini tubuh itu terjatuh di pangkuannya.
" Zidan, lepaskan..." Lisa hendak berdiri namun, Zidan tidak melepaskannya begitu saja.
"Aku belum menghukummu!" bisik Zudan.
"Aku tau, lepaskan aku dulu! Nanti ada yang lihat bagaimana?, ayolah,aku sedang bekerja!"seru Lisa
"Kau mau ku lepaskan?" tnya Zidan
"Iya, cepat lepaskan!" Lisa mengangguk cepat.
"Baiklah,aku lepaskan." Zida. Seketika melepaskan Lisa dari rengkuhannya.
"Tapi hukumannya bertambah!" perkataan Zidan membuat Lisa melotot kesal.
"Hukuman apa sih yang kau maksud?" tanya Lisa. Zidan hanya tersenyum kepadanya, seketika itu Lisa mengerti maksud dari senyuman tersebut.
"Bahkan jika bukan hukuman, kau juga selalu melakukannya!" Lisa melipat kedua tangannya dengan kesal.
" Kenapa Memangnya? kau tidak suka jika aku selalu melakukannya? Kau kan istriku!" Zidan beranjak berdiri sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lisa.
__ADS_1
" Lagi pula, setiap kita sedang melakukannya, kau yang paling menikmatinya!" Zidan tersenyum meledek Lisa.
" Menikmati apa?" wajah Lisa seketika memerah seakan tak terima akan tudingan itu.
" Masih saja mengelak!"seru Zidan.
" Ayo temani aku makan siang," ajak Zidan, tangan Lisa sudah ada di genggamnya.
" Kau sedari tadi belum makan?" tanya Lisa
"Belum, aku tadi kesini ingin mengajakmu makan siang bersama. Tapi karena kedatangan banci itu aku jadi tidak selera dan sekarang aku begitu kelaparan. Ayo kita makan" ajaknya lagi.
"Baiklah, sebentar..." Lisa merapikan meja kerja nya.
Ia dan Zidan hendak keluar dari ruangan itu. Namun, dikejutkan dengan adanya seorang wanita yang berdiri di depan pintu dan hendak mengetuk pintu ruangan tersebut.
Zidan begitu terkejut saat melihat wanita itu, bahkan membuat mereka beradu pandang.
" Nona Putri?" sapa Lisa. Namun Putri tak menggubrisnya Ia hanya diam saja dan sibuk beradu pandang dengan Zidan.
" Zidan ..."sapa Putri . Namun Zidan hanya diam dan memandangnya dengan tatapan tak ramah.
" Aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Kau sedang apa disini?" tanyanya kembali.
"Bukan urusanmu!" Zidane tiba-tiba melewati Putri begitu saja. Putri meneriaki namanya namun, tetap saja tak menghentikan langkah kaki Zidan. Sementara Lisa pikiran wanita itu dibuat bingung akan sikap suaminya tersebut.
" Mereka saling mengenal?" gumam Lisa dalam hati
" Ada apa Nona Putri? Kenapa kau kembali lagi?" tanya Lisa.
" Oh iya maaf, Nona Lisa .... Ehm, kakakku ingin meminjam katalog tadi Apa boleh aku membawanya?" tanya Putri
"Oh tentu saja...." Lisa mendekati meja kerjanya dan mengambil katalog itu untuk diberikan kepada Putri. Putri hendak pergi namun langkah kakinya ia urungkan.
" Nona Lisa kau mengenal Zidan? sedang apa dia di sini ?"tanya Putri.
"Ehm, dia hanya berkunjung kemari saja" Jawab Lisa.
" Kau mengenal dia?" Lisa bertanya balik, Putri pun mengiyakannya.
" Dia mantan kekasihku... Hubungan Kami sekarang tidak membaik, Zidan masih marah kepadaku ," ujar Putri
" Marah? Marah Kenapa?" tanya Lisa begitu penasaran.
" Ini masalah pribadi," Putri menjawabnya sambil tersenyum ia tak ingin membagikan privasinya kepada orang yang baru saja ia kenal.
"Ehm, aku permisi dulu ya nona Lisa, katalognya aku bawa..." Lisa mengiyakannya, wanita itu segera berlalu dari sana.
" Jadi nona Putri ini adalah mantan kekasihnya Zidan" raut wajah Lisa tiba-tiba berubah menjadi sedih dan begitu muram.
Lisa segera turun dari ruangannya dan menemui Zidan yang sedang menunggunya di dalam mobil. Ia segera masuk kedalam mobil, baru saja Lisa mendaratkan tubuhnya untuk duduk. Zidan sudah melontarkan pertanyaan kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa dia ada di tempatmu?"
"Nona Putri?" tanya Lisa
"Memangnya siapa lagi yang ku tanyakan?" seru Zidan.
"sedang memesan gaun pernikahan, dia clientnya Jeremy" ujar Lisa
"Apa katamu? dia memesan gaun pernikahan? dia akan menikah?" Zidan mengernyit begitu terkejut.
" Bukan nona Putri, tapi kakaknya"
"Oh..." saut Zidan . Lisa menangkap sebuah rasa lega di raut wajah Zidan.
"Kau jadi makan siang atau tidak? Kalau kau tidak jadi, aku akan turun dan kembali bekerja!" seru Lisa.
"Jadi...." Zidan seketika melajukan mobilnya meninggalkan boutique milik istrinya tersebut.
"Kau mau makan dimana?" tanya Zidan.
"Terserah kau saja!" saut Lisa dengan nada malas.
Zidan melirik kearah Lisa yang sedari tadi melihat ke arah jendela mobil. Tidak jauh dari jangakauan mobilnya Zidan melihat sebuah restoran sederhana. Zidan menghentikan mobilnya di restoran tersebut. Dia mengajak Lisa untuk turun dan masuk kedalam restoran.
Zidan melihat sekelilingnya dan mencari meja yang kosong, setelah mendapatkan meja, Zidan pun memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Kau mau makan apa?" tanya Zidan sembari melihat buku menu.
"Terserah kau saja" Zidan mengangguk paham.
"Kau selalu saja seperti ini" ujar Zidan.
"Saya pesan, ini, ini dan ini. Dia sama kan saja dengan pesanan saya" ucap Zidan. Pelayan pun mencatat pesanan Zidan.
"Baik tunggu sebentar ya tuan, nona.
Setelah pelayan itu pergi, Zidan menatap Lisa dalam diam.
~•••~
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜
__ADS_1