
Suara alunan musik yang berasal dari speaker begitu menyakiti telinga Zidan, laki-laki itu segera mematikan asal suara dari alunan musik itu berbunyi, membuat suasana Hening seketika Rose dan yang lain menoleh secara bersamaan ke arah Zidan.
"Eh bapak dosenku atau kakak iparku, berani sekali bapak dosen ini mematikan musiknya. Jangan menggangguku bapak dosen ang terhormat, jangan mengacaukan pesta Ku." teriak Rose yang kini berjalan dengan cepat mendekati Zidan.
" Apa kau tidak punya sopan santun? suruh temanmu pergi dari sini!! Beginikah sikapmu selama ini? Kukira kau adalah perempuan yang baik, anak yang baik ternyata , aku salah" tutur Zidan.
" Bukan urusanmu. Memangnya kau siapa? kau berani mengusir tamuku di rumahku sendiri" Rose mengeraskannya.
"Kau yang tidak punya sopan santun, kau disini hanya menumpang" imbuhnya
"Ayahmu yang menyuruhku dan isa untuk menjaga rumah ini, jadi sudah seharusnya kau menuruti perkataan orang yang mendapatkan amanah dari ayahmu." seru Zidan yang mulai terpancing emosi.
"Akhiri Pestamu dan suruh teman-temanmu pergi dari sini " Imbuh Zidan dengan suara tegasnya.
"Tidak akan"
PRANGGGH....
Zidan mengambil salah satu botol minuman, lalu di bantingnya ke lantai.
"Apa kalian tidak mengerti bahasa manusia?" hardi Zidan marah.
"Jangan berani-berani mengusir teman-temanku!" Rose menujuk jari telunjuknya ke arah Zidan. Zidan dengan cepat menangkisnya.
"Suruh mereka pergi atau orang tua mereka yang akan menanggung akibatnya" ancam Zidan. Yang sebenarnya tidak ingin menggunakan kekuasaan papanya.
"Apa akibatnya? katakan!" Rose mencoba menantang Zidan.
"Sayang..."Ronal menarik tangan Rose, ia mencoba menahan emosi kekasihnya tersebut, terlebih lagi Rose terlalu banyak meminum minuman alkohol yang membuat emosinya seakan meledak-ledak dan tak mempedulikan apapun.
"Kita akhiri saja, biarkan mereka pulang," bisik Ronal.
" Tidak bisa sayang! dia Seenaknya saja mengatur di dalam rumahku, aku tidak terima." bantah Rose.
"Rose, dengarkan kata-kataku jangan membuat masalah dengan dia" bisik Ronal kembali.
"Tapi..."Ronal segera menuksnya.
"Kalian semua Pergilah, kita lanjutkan lain waktu saja." Ronal segera menyuruh semua teman-temannya untuk pergi dari sana. Mereka semua membubarkan diri dengan rasa kecewa. Namun, bagaimana lagi Ronal tahu betul papanya Zidan adalah orang yang sangat berpengaruh di kotanya itu, bisa saja Zidan memanfaatkan kekuasaan Papanya tersebut.
__ADS_1
"Ayo sayang, kita ke kamarmu" ajak Ronal yang merangkul tubuh dan membantunya untuk berjalan.
" Hei...kau juga pergi dari sini!"perintah Zidan yang kini meletakkan tangannya di bahu Ronal. Membuat laki-laki itu segera menyingkirkan tangan tersebut.
" Nama ku Ronal bukan hey....! Siapa kau berani mengusirku?" tanya Ronal.
"Aku tidak peduli siapa namamu, pergi dari sini" perintah Zidan.
"O iya kau tanya aku siapa, aku adalah tua rumah disini" imbuh Zidan, menarik tangan Ronal, menyeretnya keluar.
"Apa - apaan kau ini!!!" teriak Rose.
Zidan tidak memperdulikan teriakan Rose, dia terus menyeret Ronal sampai keluar rumah.
"Jangan melampaui batasanmu, pergilah dari sini!!!" tegas Zidan.
" Berani sekali kau mengusir pacarku¡" hardik Rose pada Zidan, ia berjalan cepat hendak keluar dari rumah.
"Kalau kau melewati pintu itu, ku pastikan besok pagi, kau akan menerima surat DO." Ujar Zidan yang berhasil mebghentikan langkahnya.
" Dasar menyebalkan." teriak Rose kesal, kemudian naik ke lantai atas dan mesuk ke dalam rumah.
Gerak kedua manik mata Zidan masih mengikuti Rose yang kini meninggalkanya menaiki anak tangga intuk masuk ke dalam kamar adik iparnya tersebut.
Zidan merebahkan tubuhnya di samping Lisa dan melingkarkan tangannya di tubuh wanita itu. Zidan pun tertidur, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi besoknya.
~
Rose sedang mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur. Saat itu Ronal menghubunginya.
Drrrrrtttt...... Drrrrttttt.....
"Halo, sayang" sapa Ronal terlebih dahulu.
"Kenapa kau menuruti kemauan kakak iparku itu untuk mengusir teman - teman kita?" tanya Rose kesal dengan keputusan Ronal.
"Sayang, aku tidak ingin memperpanjang masalah, sudalah, kita bisa berpesta lain waktu." Ronal mencoba membuat kekasihnya itu mengerti.
"Terserah kau saja lah, aku ngantuk ingin tidur. Bye" ucap Rose ketus, saking kesalnya ia mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
__ADS_1
Ronal menatap layar ponselnya, dia sudah terbiasa dengan sikap Rose yang seperti ini. Ia memasukkan ponselnya kedalam saku, kemudian ia masuk ke dalam bar yang saat ini di kunjunginya untuk menikmati malam yang tak bisa di dapatkan nya dengan kekasihnya itu.
~
Waktu menunjukkan pukul 02.40 Am. Kedua mata Lisa mengerjap, ia mengucek kedua matanya yang buram, ia menjauhkan tangan Zidan yanh melingkar di tubuhnya. Kemudian, beranjak untuk duduk. Lisa mencari ikat rambunya di sekitaran sana, karena merasa rambutny tergerai dan itu membuatnya tak nyaman. Namun, ia melupakan ikat rambutnya tatkala ketika pikirannya teringat akan adinya.
"Rose...." Lisa menyebut nama itu dengan panik. Ia dengan cepat turun dari tempat tidur dan keluar kamar untuk melihat keadaan di bawah. Namun, dibawa tidak ada siapa pun, yang ada hanya botol bekas minuman alkohol, sampah dan mskanan yang berserakan di lantai. Bahkan bau alkohol berlgitu menyeruak di indera penciumannya. Lisa benar - benar tidak menyukai dengan keadaan yang kacau seperti ini.
Lalu, ia pergi ke dapur, namun, sama halnya di ruang depan. Bekas piring kotor beserakan di atas meja. Lisa bener - benar tidak bisa melihat rumahnya seperti kapal pecah begini.
Lisa memutuskan naik kembali ke lantai atas, mencari Rose di kamarnya. Ia memegang ganggang pintu, Lisa mengerak - gerakkan ganggang pintu itu mencoba untuk membukanya. Namun, pintu itu di kunci dari dalam.
"Rose, apa kau di dalam" Lisa meneriaki nama adiknya itu.
"Rose sayang, buka pintunya, ini kakak..." Lisa mengiringi ketukan pintu di sela teriakannya.
Ceklek, pintu terbuka.
Terlihat Rose yang membuka pintu dengan rambut yang acak - acakan, khas orang bangun tidur.
"Ada apa kakak memangilku?, ini masih dini hari" keluh Rose kesal.
"Apa kau baik - baik saja? Kenapa kau jadi begini sih dek?" Lisa memperhatikan adiknya dengn sedih. Rose hanya diam saja, dia menundukkan kepalanya.
"Kakak tidak pernah mengajarkan kamu seperti, apa kau ada masalah? Dan dimana Daniel? Kenapa kau selalu dengan pria kurang ajar itu?" tanya Lisa.
"Aku tidak tau dia dimana, dan aku tidak mau peduli lagi dengan nya.?" jawab Rose dengan ketus.
"Tapi...."
"Kakak udalah, aku mengantuk, mending kakak juga tidur lah? " ujar Rose, ia berbalik dan mesuk ke dalam kamar, dan menutup pintunya dengan keras di depan Lisa. Lisa menghela napas beratnya.
Ia tak tau lagi harus berbuat apa lagi? agar adiknya bisa kembali seperti dulu lagi.
~•••~
Jangan bosan - bosan ya nunggu up kelanjutannya.
Terima kasih atas dukungannya semuanya🤗
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komennya ya, karena komen dari kalian sangat saya nantikan.😉
Happy reading guys😘