ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Sekrerasi Zidan


__ADS_3

"Reyhan?"seru Lisa


"Hai Lisa, elu ngapain disini?" tanya Reyhan.


Lisa segera beranjak berdiri, ia manatap Reyhan bingung." Gue kesini mau nemenin..." Lisa bingung mau memanggil Zidan dengan sebutan apa. Ia tidak mungkin mengatakannya kepada Reyhan kalau dia sedang menemani suaminya meeting.


Reyhan menatap Lisa." Nemenin siapa?" tanya Reyhan.


" Itu, gue lagi nemenin bos gue meeting... iya bos" ujar Lisa sembari tersenyum memamerkan gigi putihnya kepada Reyhan.


"Bos? bukannya boutique itu milik elu, jadi elu lah bosnya. Lagian perusahaan ini tidak ada hubungannya dengan fashion?"


"Hm... Itu, gue kesini emang gak ada hubungannya dengan boutique. Gue kesini buat nemenin bos gue buat menemui pemilik perusahaan ini. Gue selain kerja di bidang fashion gue juga kerja di kantor cabang milik teman ayah gue" tutur Lisa.


"O gitu, terus bos elu kemana?"tanya Reyhan yang tidak meliha orang lain di sekitae Lisa.


"Dia lagi ke toilet, dan elu ngapain disini?" tanya Lisa balik.


"Gue? gue kerja disini." jawab Reyhan.


"Jadi, elu kerja di sini. Berarti elu tau dong tentang pemilik perusahaan ini?" tanya Lisa.


"Ya taulah, tau banget malahan."


"Kasih tau sedikit dong info tentang dia!" pinta Lisa.


"Hmm.... Gue kasih tau nanti aja ya, gue lagi ada urusan. " saut Reyhan melirik jam tangannya. Ia pun hendak melangkah pergi.


"Oiya elu dari perusahaan mana?" tanya Reyhan, ia pun mengurung niatnya untuk pergi.


"Itu gue dari ZP grup." jawab Lisa.


Reyhan pun seperti berfikir sejenak, " Yaudah gue cabut dulu ya, bye. semoga lancar ya" pamitnya dan melangkah pergi menibggalkan Lisa.


"Oh jadi, Rey kerja disini? wah hebat juga tu anak, bisa kerja di perusahaan sebesar ini." gumam Losa menap kepergian temannya Reyhan. Ia kembali duduk ke tempat semula.

__ADS_1


"Kenapa Zidan lama sekali? Apa aku menyusulnya saja" gumam Lisa sembari melihat jam tangan di ponselnya.


"Aku menyusulnya saja" Lisa pun berdiri dan mulai berjalan menuju kearah toilet untuk mencari Zidan.


"Kalau sampai Zidan tau, kalau Reyhan kerja disini. Pasti akan terjadi sebua keributan, lebih baik aku mencarinya dan mencegahnya agar tidak bertemu dengan Rey. Aku sudah lelah kalau harus ribut terus dengan Zidan."Lisa berjalan sambil menggerutu tidak jelas. Bahkan tanpa sadar dirinya hendak terjatuh akibat tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang.


"Aww..." Lisa sedikit terpental, namun seseorang yang ia tabrak itu tak lain ialah Zidan suaminya sendiri.


Zidan pun segera menahan tubuh istrinyabitu agar tidak terjatuh.


"Zidan..."


"Kau mau kemana? terburu - buru seperti itu, sampai - sampai kau tidak fokus dengan jalanmu. Untung kau menabrakku, kalau sempat orang lain, kau pasti sudah mendapatkan masalah" tegur Zidan.


"Aku mau menyusulmu. Kenapa kaunlama sekali ke toiletnya? mandi?"seru Lisa


"Menunggu tidak lebih dari lima belas menit saja kau bilang lama! Ayo..."


Zidan kembali mengajak Lisa ke front office, ia menanyakan kepada receptionis dimana ruangan si pemilik perusahaan yang ia pijaki itu. Receptionis itu segera mengantarkan Zidan dan Lisa seusai mendapatkan izin dan perintah dari owner perusahaan tersebut.


Msreka keluar sari lift, langkah mereka berhenti di depan owner's room debgan pintu yang terlihat tertutup rapat. Receptionis yang sempat mengabtarkan mereka pun pamit untuk meninggalkan mereka berdua di sana.


"Tunggulah di sini saja..." Zidan menyuruh Lisa untuk duduk di kursi tunggu dekat dengan ruangan HRD.


"Aku tidak ikut masuk?" tanya Lisa.


"Untuk apa kau ikut masuk? mau menggoda pemilik perusahaan ini?" seru Zidan sedikit mengeraskan suaranya.


"Siapa yang mau menggoda? aku kan hanya bertanya saja!"


"Kau ini selalu saja emosi! setiap kali mendengarmu berbicara rasanya aku terkena sengan jantung! kau mau aku mati muda ? Apa kau mau menjadi seorang duda?" seru Lisa sambil meletkan kedua tangannya di atas pinggang.


"Sejak kapa kau jadi suka berbicara ketus seperti ini? Mau ku gigit bibirmu itu supa tidak bisa bicara lagi? Cepat duduk!" perintah Zidan.


"Menyebalkan!" gerutu Lisa yang mengiyakan perintah suaminya itu dengan kesal.

__ADS_1


Dengan langkah yang penuh percaya diri, Zidan segera masuk ke dalam ruangan owner yang letaknya berdampingan dengan ruangan HRD itu.


Tabgannya debgan lihat mengetuk pintu ruangan tersebut beberapa kali. "Permisi, selamat siang..." Zidan segera membuka pintu itu saat seseorang menyautinya dari dalam, Zidan melihat seorang laki - laki yang sedang duduk memangku satu kakinya sambil melihat kearahnya.


Zidan mengernyit saat melihat laki - laki yang tak asing di kedua matanya itu.


"Dia kan sibrengsek itu" gumam Zidan, ia masih berdiri tak mengubah posisinya memperhatikan laki - laki yang tak lain adalah Reyhan.


"Selamat datang tuan Zidan Pratama..." senyuman itu menyeringai di raut wajah Reyhan, beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Zidan.


"Elu bukannya Reyhan temannya Lisa itu? Sedang apa elu disini?" tanya Zidan.


"Pertanyaan konyol seperti apa itu? Seharusnya gue yang bertanya seperti itu ke elu! Sedang apa elu di sini?"


"Gue kesini ingin bertemu dengan tuan Reyhan, pemilik RP group ini, dimana tuan Reyhan?"


"Sekarang dia sedang berdiri di hadapanmu!"jawab Reyham sambil merapikan jasnya yang tak berantakan itu.


"Dia Reyhan? O **** kenapa gak kepikiran sih?"kedua mata Zidan membulat tak percaya. Bagaimana bisa?


"Ka- kau Reyhan anak rekan bisnis papa ku itu?" tanya Zidan tak percaya.


"Iya gue, Reyhan, pasti paman Dika sudah memberitau elu tentang gue yang ingin bekerja sama dengan perusahaan elu bukan? Ayo duduklah!" perintah Reyhan, ia mendahului Zidan untuk duduk di atas sofa. Namun, Zidan tak bergeming akan posisinya.


"Apa ini? Orang yang sangat gue benci adalah pemilik dari RP group?"gumam Zidan smabil menelan salivanya. Karena memang sedari SMA mereka tidak pernah akur dengan Reyhan.


"Matilah aku, dia pasti tidak akan mau bekerja sama dengan perusahaanku" gumam Zidan dalam hati.


"Tuan Zidan, kenapa kau masih berdiri saja disana? silahkan duduk!"perintah Reyhan. Zidan menganggukkan kepalanya dan menyusul Reyhan untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Reyhan itu.


"Aku benar - benar tak menyangka kalau kau adalah pemilik dari RP group ini, ku kira kau tidak akan menjadi pengusahan, bukannya dulu kau ingin menjadi dikter?" tanya Zidan basa basih. Ia ingin mengurangi kecabggungan yang ada di ruangan imi.


"Lupakan saja impian ku itu, yang jelas sekarang aku senang dengan dunia bisnis ini." saut Reyhan


"Oh, iya dimana sekretarismu?" tanya Reyhan, menengok ke arah pintu namun tidak ada siapa pun di sana

__ADS_1


~•••~


__ADS_2