
Setelah mengantarkan kepergian keluarganya, Zidan mengajak Lisa untuk kedapur.
"Ngapai kesini? Apa kamu lapar?" tanya Lisa heran.
"Tidak, aku hanya ingin membuatkanmu susu." jawab Zidan, ia meninggalkan Lisa duduk di meja makan, sementara dia pergi ke pantri untuk membuat susu ibu hamil untuk Lisa.
"Oiya susu,kenapa aku tidak ingat akan hal itu " ucap Lisa pelan sambil menepuk jidatnya.
"Maafkan mama ya nak, mama lupa membelikan mu susu. Jahat sekali aku, anak belum lahir, tapi sudah diterlantarkan" imbuhnya lagi.
"Siapa yang di telantarkan?" saut Zidan dari arah dapur, di tangannya terdapat segelas susu putih yang masih panas.
"Nah minumlah, semoga kamu suka rasanya. Tadi aku lupa menanyakan kamu suka rasa apa, jadi aku beli saja semua rasa yang ada." ucap Zidan. Ia mendudukkan tubuhya di samping tempat duduk Lisa.
"Semua rasa? berarti kamu beli banyak dong?" tanya Lisa
"Gak terlalu banyaj juga sih, tapi setiap rasa aku beli dua." jawab Zidan enteng. Lisa geleng - geleng mendengar penuturan suaminya itu.
"Besok - besok kalau beli sesuatu itu, cukup beli secukupnya saja. Nnati kalau kurangkan bisa di beli lagi. Belum tau juga kan aku cocok minum itu apa enggaknya. Jadi biar gak mubazir" ucap Lisa mencoba menasehati suaminya itu.
"Iya, iya bawel banget sih... Cepatlah minum, setelah itu kita kekamar istirahat" ujar Zidan. Lisa menganggukan kepalanya dan meminum susu yang di buatkan suaminya itu dengan cepat.
"Anak pintar" ucap Zidan saat Lisa selesai menghabiskan susu yang di buatnya, sambil mengusap kepala istrinya itu.
"Yuk ke kamar!" ajak Zidan berdiri dari duduknya.
"Gendong…" ucap Lisa manja kepada Zidan. Awalnya Zidan menatap heran sang istri kemudian ia tersenyum melihat ekpresi Lisa yang dibuat seimut mungkin oleh Lisa.
"Yuk" Zidan pun dengan senang hati mengendong istrinya itu.
Sesampainya di kamar, zidan menurunkan Lisa dengan sangat pelan di atas ranjang.
"Aku kekamar mandi dulu, kamu tunggu di sini ya.l ucap Zidan yang di iyakan oleh Lisa.
Setelah Zidan berlalu masuk ke dalam kamar mandi, Lisa pun turun dari ranjang dan berjalan menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya dan ia juga mengambilkan piyama untuk Zidan.
Tak berapa lama Zidan pun keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat istrinya sudah berganti pakaiannya.
"Ini pakai lah!" Lisa menyodorka satu stelan piayama kepada Zidan
"Apa ini?" tanya Zidan mengernyitkan darinya.
"Piayama,ayo cepat ganti lah, aku sudah mengantuk sekali ini." suruh Lisa.
__ADS_1
"Tapi sayang, mana mungkin aku memakai pakaian seperti ini?" tolak Zidan.
"Kenapa memangnya, kamu pasti lucu banget kalau memakai itu" ucap Lisa sambil menatap Zidan dengan tatapan memelasnya.
Zidan terdiam sejenak, ia menatap secara bergantian antara Lisa dan juga piyama laknat itu, menurut Zidan.
"Baiklah, aku akan mekainya." ucapnya pelan, ia hanya bisa pasrah sekarang. Dengan labgkah gontai Zidan masuk kedalam walk in closet dan mengganti pakaiannya dengan piyama pilihan istrinya itu.
"Apa ini termasuk mengidam, seperti yang di bilang Ridho tadi?"Zidan menggaruk kepalanya.
"Sayang apa masih lama?"teriak Lisa
"Iya bentar…" saut Zidan.
Dengan sedikit malu, Zidan keluar dari kamar. Ia benar - benar tak habis pikir dengan istrinya itu.
"Demi anak gue" gumam Zidan menyemangati dirinya.
Saat Zidan keluar dari walk in closet, Lisa terus menatap Zidan sambil menahan tawanya.
"Ketawa aja gak usah di tahan" ketus Zidan.
"Ganteng banget suami aku" ucap Lisa, ia menghampiri Zidan.
"Yuk foto!" ajaknya, yang sudah siap dengan kamera ponselnya.
"Kamu kok gitu sih, aku kan cuma mau mengabadikan momen kita pake baju ini" ucap Lisa dengan mata yang berkaca - kaca.
"Eh eh kok nangis, jangan nangis ya." seru Zidan memeluk istrnya itu.
"Aku kan cuma mau foto, tapi kamu…"
"Oke, ayo foto."ucap Zidan, dengan semangat Lisa memanggil bi Mery.
"Kenapa memanggil bi Mery?" tanya Zidan.
"Biar bajunya keliatan semua." ujar Lisa enteng.
Tok… Tok…
"Masuk aja bi, gak di kunci kok…" saut Lisa
Ceklek, bi Mery pun masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
"Ada apa, nyonya memanggil saya?" tanya bi Mery
"Tolong fotokan kita berdua ya bi." suruh Lisa, ia menyerahkan ponselnya kepada bi Mery.
"Ayo, pose dong Zi!" ucap Lisa saat melihat suaminya itu menutup hanya diam datar saja.
"Iya" jawab Zidan.
cepret (bunyi suara kamera ponsel Lisa)
"Ini nyah" bi Mery pun menyerahkan ponsel Lisa kembali.
"Iya, makasih ya bi…" ucap Lisa.
"Kalau gitu saya permisi dulu, tuan, nyonya. Selamat malam" pamit bi Mery. dan berlalu pergi.
"Liat deh Zi, kita lucu banget" ucap Lisa tersenyum puas melihat hasil jepretan bi Mery.
Zidan geleng - gelang melihat tingkah istrinya itu. " Sekarang, ayo tidur."Zidan mengendong Lisa dan membaringkannya dengan oelan ke ranjang.
"Tidurlah!" seru Zidan memeluk tubuh istrinya itu. Lisa pun membalas memeluk Zidan.
"Good nigth" ucap Zidan mengecup dahi Lisa.
~
Tujuh bulan pun berlalu, kehamilan Lisa sudah hampir memasuki usia delapan bulan, kelahiran anak Lisa dan Zidan yang hanya tinggal beberapa minggu lagi, tengah di nanti - nanti oleh semua orang. Zidan mmeberikan seluruh perhatian penuh kepada istri dan juga calon anaknya itu. Bahkan Zidan rela melepaskan impiannya untuk menjadi dosen hanya untuk merawat istrinya itu.
Begitu pula dengan mama Lilis, wanita parubaya itu lebih memilih tinggal dengan anak dan menantunya, untuk memenuhi kebutuhan menantunya ketimbang tinggal dengan suaminya. Menurut Lilis, ini hanya sementara dan ia tidak ingin melewatkan satupun perkembangan kesehatan menantunya dan juga calon cucunya pertamanya yang sangat tak sabar ia nantikan. Awalnya Lilis tidak di perbolehkan olej Dika untuk tinggal dengan Zidan, namun Lilisbterus saja merengek hingga Dika pun mengizinkannya untuk menetap dengan anaknya itu.
Sementara itu, Lisa terkadang merasa bosan karna semua orang terlalu berlebihan menjaga dirinya. Ia tidak di perbolehkan melakukan apa pin kecuali makan dan tidur, itu sungguh sangan membosankan bagi Lisa yang terbiasa mandiri dan sibuk melakukan aktivitas.
~
Pagi hari itu, Lisa terlihat sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur sembari membuat design baju bayi yang lucu - lucu, aktivitasnya terhenti sejenak saat ia merasakan pergerakan anaknya yang begiyu lincah di dalam perutnya yang kini kia membesar.
Setiap kali Lisa mengusap perutnya, bayi yang tumbuh di dalam sana selalu bergerak merespon sentuhannya. Lisa pun tersenyum , ia semakin tak sabar untuk menunggu kelahiran sang buah hatinya itu. Ia penasaran seperti apa rupa anaknya nanti, apakah anaknya akan merip dirinya atau mirip suaminya.
"Cepatlah keluar sayang, mama sungguh tidak sabar menunggu mu" ucap Lisa pelan
~•••~
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya.
Terima kasih atas dukungannya