ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Memohonlah


__ADS_3

Keesokan paginya, Lisa terbangun terlebih dahulu. Ia menyingkirkan tangan Zidan yang saat ini sedang memeluknya. Lalu, perempuan itu mendekati lemari dan mengambil pakaian ganti dan membawanyanke dalam kamar mandi.


Mendengar suara gemercik air membuat Zidan terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia sejenak terdiam dan memperhatikan sekitar.


"Aduh kepalaku pusing sekali" Zidan memegang kepalanya yang tiba - tiba pusing. Ia mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi semalam.Setelah mengingat semuanya Zidan merasa sangat kesal dengan Lisa.


"Sial, dia ngasih gue obat tidur lagi" ujar Zidan kesal sembari memandang gelas bekas air minum yang diberikan Lisa tadi malam sebelum iya akan melakukan "itu" kepada istrinya.


"Dasar wanita menyebalkan" Zidan mengacak rambutnya.


Ceklek


"Kamu kenapa?" tanya Lisa heran, melihat Zidan seperti orang yang sedang kesal. Ia pun menghampiri Zidan. Namun, Zidan turun dari tempat tidur dan tidak menanggapi Lisa. Jangankan menanggapi, melihatnya pun tidak.


Zidan masuk ke dalam kamar mandi dan membanting keras pintu kamar mandi itu.


Setelah ia selesai mandi, tanpa menegur dan mengaja Lisa, ia keluar dari kamar dan turun ke restoran untuk sarapan.


Lisa pun menyusul Zidan ke restoran yang ada di hotel itu untuk sarapan juga.


Lisa melihat Zidan sedang mengambil piring dan hendak mengambil makanan yang ada di meja Buffey. Namun, saat melihat Lisa, ia pun langsung mengembalikan piringnya ke tempat semula dan meninggalkan restoran tersebut.


"Dia benar - benar marah," gumam Lisa dengan sedikit merasa bersalah.


"Hanya masalah seperti itu saja dia sampai marah, sudahlah, lebih naik aku sarapan. Nanti saja aku minta maaf nya" imbuhnya.


Lisa mengambil makanan yang sudah berjajar di meja Buffey.


Ia mencari tempat duduk dan mulai menikmati makanan yang sempat ia ambil tadi.


"Semalam aku benar - benar lelah, dan kemaren malam adalah pengalaman pertama ku. Entalah, aku begitu bingung. Sekarang aku harus bagaimana," gumam Lisa sembari mengunyah makanannya.


"Apa memang begini kehidupan setelah menikah? Sampai kapan aku bisa bertahan dengan Zidan?Zidan melakukan itu cuma karena hanya ingin memenuhi hasratnya saja, tidak lebih dari itu."Lisa mengambil tisu yang ada di depannya dan menghapus air mata yang menetes di matanya tanpa menunggu perintah darinya.


"Sudalah, lupakan saja." Lisa mengelap sisa air matanya dan melanjutkan kembali makannya, ia pun menghabiskan makanabbyadengan cepat agar dia bisa cepat menyusul Zidan kekamar Pikir Lisa.


Seusai sarapan Lisa pun kembli ke kamarnya.

__ADS_1


Namun ia tidak mendapati Zidan di sana.


"Kemana dia? Ah biarkan saja." Lisa menyalakan tv dan merebahkan tubuhnya sambil berselonjoran diatas tempat tidur untuk mengusir rasa bosannya.


"Padahal dia sudah janji akan membawaku ke pulau Jeju hari ini."gumam Lisa cemberut. Semakin lama Lisa semakin bosan dibuatnya.


Ia berkali - kali melihat jam yang melingakar di tangannya. Bahkan, kedua matanya tak henti - henti melirik kearah pintu kamar hotel itu.


"Kemana Zidan? Kenapa sampai sekarang dia belum kembali juga? Apa dia jalan jalan sendiri?" gumam Lisa. Ia beranjak mendekati jendela dan melihat pemandangan di luar sana.


"Apa aku pergi jalan - jalan sendiri juga ya?" pikir Lisa. Masih betah menikmati pemandangan diluar sana.


"Tapi nanti kalau Zidan kembali terus dia tidak menemukanku,dia pasti tambah marah padaku" pikirnya lagi, dengan langkah lesuh Lisa kembali ke tempat tidur dan mendudukkan tubuhnya disana.


"Aku ingin sekali jalan - jalan dan ketemu oppa - oppa tampan. Tapi, aku takut jalan - jalan sendirian." Lisa merebahkan tubuhnya, karna bosan menunggu suaminya itu, Lisa pun memilih untuk tidur.


"Dasar menyebalkan" gumam Lisa sebelum menutup matanya. Lisa pun benar - benar tidur dengan nyenyak.


~


Malam harinya, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pm. Zidan belum juga kembali. Bahkan Lisa juga baru saja menyelesaikan makan malamnya sendirian di restoran hotel.


"Tapi pakaiannya masih disini semua" ucap Lisa lega. Lisa berjalan mondar - mandir dan mencoba menelpon Zidan berkali - kali. Namun, tetap saja suaminya itu tidak mengangkat panggilnya.


"Apa karna dia sudah me dapatkan apa yang ia inginkan. Lalau, dia dengan sengaja menelantarkanku disini?" gumam Lisa. Ia melemaskan tubuhnya dan duduk dilantai dan menyandarkan punggungnya di tempat tidur seraya memejamkan matanya. Rasanya ingin sekali iya menangis untuk saat ini.


"Untuk apa aku menangis? Seharusnya aku sudah tau hal semacam ini akan terjadi. Dia tidak pernah menyukaiku bahkan dia dulu juga hampir memanfaatkanku" gumam Lisa dalm hati.


Ceklek


Tiba - tiba pintu kamar itu terbuka, Lisa menengok kearah pintu dan senangnya bukan main. Karena yang ia lihat saat it tak lain ialah Zidan sang suami.


"Zidan?" Lisa beranjak berdiri dan menghampiri Zidan.


"Zidan, kamu dari mana saja?" tanya Lisa seraya memegang lengan suminya itu.


"Aku kemana bukan urusanmu! Minggir! " Zida. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Zidan, kamu marah?" tanya Lisa. Ia menggelayuti tangan Zidan. Tiba - yiba senyum usil terbesit di wajah tampan Zidan.


"Lepaskan tangan ku" seru Zidan seraya menepis kasar tangan Lisa.


"Zidan kamu marah karna yang tadi malam kan? Kau mau melakukannya lagi kan? Ayo kita akukan. Aku mohon jangan marah lagi. Zidan ayolah, maafkan aku" ucap Lisa.


"Pergilah sana!" seru Zidan membelakangi Lisa.


" Ya tuhan, aku harus bagaimana? Kalau dia masih marah, aku takut dia benar - benar akan menelantarkan ku disini. Lisa menggigit bibir bawahnya dengan takut.


"Zidan , aku mohon jangan marah. Ayo kita lakukan lagi." Lisa sengaja mencoba merayu Zidan.


"Apa kau tuli? Jangan menyentuhku" seru Zidan.


"Kenapa kamu jadi marah seperti imi? Tolong maafkan aku! Aku hanya lelah dan khilaf memberimu obat tidur. Maafkan aku, sunggu aku tidak sengaja, aku benar - benar lelah," ucap Lisa dengan memelas. Zida. Memiliki rasa tak tega mendengar ucapan Lisa. Ia sejenak memperhatikan Lisa.


"Kau mau aku memaafkanmu?" tanya Zidana. Lisa menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Kalau begitu,memohon lah" perintah Zidan seraya mengalihkan pendangannya.


"Bukannya sedari tadi aku sudah memohon, jadi memohon seperti apa lagi yang kamu minta" ujar Lisa.


"Memohonlah lagi,! Yang tadi tidak termasuk" perintah Zidan.


"Zidan maafkan aku" ucap Lisa.


"Yang ikhlas!' seru Zidan.


"Ikhlas bagaimana? Kamu kan belum meninggal bagaimana aku bisa mengikhlaskannya" seru Lisa


"Apa kau bilang? Kau menyumpahiku mati?" Zidan menajamkan kedua matanya kepada Lisa


"Ti-tidak aku hanya bercanda. Maafkan aku zidan. Maafkan aku. Ayo kita lakukan lagi," ujar Lisa seraya memeluk Zidan. Ia pun tak henti - hentinya merayu suaminya itu. Hingga membuat Zidan menhan tawanya


"Kau sepertinya sudah tidak tahan sekali. Baiklah karena aku lagi baik, aku akan memaafkanmu. Karena aku kasiha melihatmu dari tadi merengek seperti itu, ayo kita lakukan lagi" ucap Zidan


"Astaga, aku hampir kehilangan harga diriku gara - gara laki - laki ini" gumam Lisa dalam hati.

__ADS_1


Zidan menarik tubuh Lisa, dan ia mulai melampiaskan hasratnya kembali yang sempat terputus tadi malam.


~•••~


__ADS_2