ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Mau meracuniku?


__ADS_3

Setelah sarapan mereka pun berangkat kerja. Sesuai dengan ucapannya tadi Zidan terlebih dahulu mengantarkan Lisa ke boutique setelahnya baru iya pergi ke kampus.


"Nanti siang kita makan bersama ya, aku jemput nanti" ucap Zidan sebelum Lisa keluar dari mobil.


" Baiklah" jawab Lisa membuka pinti mobil dan keluar dari sana. Setelah Lisa keluar Zidan pun menjalankan mobilnya dan berlalu meninggalkan boutique istrinya.


Lisa masuk ke boutique, ia langsung menuju ruangannya. Setibanya di ruangang Lisa langsung duduk di kursi singgah sananya, ia menghela napas berat melihat begitu banyak file pesanan dari konsumennya.


"Lisa..." Suara Dini yang begitu cempreng mengagetkan Lisa bahkan,


membuat gendang telinga Lisa sakit saat mendengar suara wanita itu.


"Ah elu ngagetin gue aja! Ada apa?"tanya Lisa sembari memegang dadanya.


" Tidak ada apa - apa, aku hanya ingin menyapamu saja. Kenapa wajahmu sumringan seperti itu?" tanya Dini, ia memperhatikan wajah Lisa dengan begitu seksama.


"Tidak ada apa - apa"


" Oiya Din, tolong suruh tailor kita membuatkan satu design kemeja ini." Lisa menyodorkan kertas design kemeja yang sempat iya buat untuk Zidan kemaren saat mereka di korea. Ia juga menjelaskan kepada Dini kain apa yang ingin ia gunakan untuk kemeja itu.


"Tumben sekali membuat design kemeja laki - laki? Memangnya untuk siapa? Suamimu kah?"tanya Dini seraya memperhatikan design baju itu.


"Iya, gue mau bikinin Zidan baju. Sudah ya, gue mau lanjutin kerja lagi, ini menumpuk semua" keluh Lisa sembari menepuk kumpulan kertas yang ada diatas mejanya itu.


"Apa kalian sudah baikan?" tanya Dini penasaran


"Baikan apa nya, kami tidak pernah bertengkar" ucap Lisa masih tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatan menggambarnya.


"Ayolah Lis, ceritakan, ceritakan sama gue kenapa kalian bisa baikan?" desak Dini


"Ok gue cerita, tapi gaji elu bulan ini , gue potong 10% mau?" tanya Lisa, menoleh melihat Dini.


"Ah elu mah kaya gitu, main ngancem" seru Dini cemberut, kemudian ia keluar dari ruangan Lisa.


Lisa hanya melirik sebentar melihat kepergian Dini, kemudian ia melanjutkan kerjanya.


~


Sementara Zidan, setibanya di kampus ia langsung menuju ruangannya. Di ambang pintu Zidan sudah bisa melihat begitu banyak tugas mahasiswanya yang menumpuk memenuhi meja kerja nya.


"Haaa baru juga di tinggal beberapa hari, tumpukannya udah segini banyak" keluh Zidan berjalan menuju mejanya dan mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya.


Ia mulai menyalakan komputernya dan mengecek tugas - tugas mahasiswa yang iya suruh kirim ke e-mail.


~

__ADS_1


Siang harinya Zidan pergi ke boutique Lisa, sesuai janjinya iya ingin makan siang bersama dengan istrinya itu.


Setibanya di boutique Zidan tidak langsung masuk ke ruangan Lis tapi ia pergi ke yoilet terlebih dahulu.


Di dalam ruangan terlihat Lisa sedang bebincang dengan para sahabatnya.


"Eh Lis, gue dengar tadi dari Dini. Elu sekarang udah baikan ya sama Zidan, benarkah itu?" tanya Sindy yang begitu penasaran.


"Memang lah ni sih Dini, suka bener ghibah" gerutu Lisa.


"Ayolah Lis, cerita ke gue!" pinta Sindy mendesak Lisa, dia begitu penasaran dengan hubungan Lisa dan Zidan.


Lisa pun menceritakan semuanya kepada Sindy tanpa terkecuali, dia memang tidak pandai berbohong kepada temannya


"Jadi semenjak kita berdua nasehatin elu,elu jadi berubah gitu. Terus bagaimana dengan suamimu itu? Apa dia masih menyebalkan dan tidak sopan padamu?" Sindy bertanya dengan begitu henonya bahkan tak menyadari kalau Lisa sudah memberinya kode bahwa Zidan sedang di belakangnua.


" Sindy...."


"Kenapa matamua, ayo jawab lah Lis! Apa dia masih menyebalkankan kan kepadamu? Kalau iya, elu bunuh saja di secara perlahan. Elu masukkan saja racun tikus kedalam minumannya." Sindy tidak memberi Lisa kesempatan untuk berbicara. Lisa melebarkan kedua matanya memberi kode keras kepada wanita itu.


"Hey, kenapa mata lu gitu, apa kemasukan debu? Tanya Sindy. Lisa melirik kearah Zidan yang sedang berdiri di belakangnya dengan tatapan penuh pengawasan.


"Lebih baik elu diam dan pergi dari ruangan ini" Lis mengcil kan volume suaranya.


"Kenapa elu ngomongnya kaya gitu?" tanya Sindy heran.


Kedua mata Sindy dibuat terkesiap saat melihat Zidan ada di belakangnya dan sedang menatapnya dengan tatapan tidak ramah. Sindy mendelik takut, seketika ia langsung menundukkan kepalanya dan tersenyjm pelik kepada Zidan, kemudian, mengalihkan kembali pandangannya kearah Lisa.


"Kenapa tidak bilang dari tadi, dia ada di sini?" bisik Sindy.


"Kenapa menyalahin gue, dari tadi gue udah ngasih kode sama elu, elunya aja yang keasikan cerita" saut Lisa.


"Mati aku....." umpat Sindy dengan tubuh yang tiba - tiba keringat dingin.


" Lis, gue permisj dulu ya, mau nyusul Dini ke tukang jahit" Sindy beranjak berdiri dan ceoat belalu pergi dari sana karna takut akan Zidan.


Zidan hanya menatap Zindi dan mengikuti gerak geriknya yabg terlihat sangat ketakutan. Setelah Sindy keluar Zidan menutup pintu ruangan Lisa, kemudian ia menghampiri Lisa dengan tatapan tajam. Ia menghentikan langkah kakinya berdiri tepat di samping kursi Lisa. Tangannya dengan cepat memutar kursi yang sedang di duduki oleh Lisa tersebut hingga kini, Lisa berhadapan dengannya


"A- ada apa?" tanya Lisa seraya menelan salivanya. Zidan diam menautkan kedua alisnya dengan tajam.


" Zi, a-aku ke to- toilet sebentar." Lisa hendak berdiri namun Zidan dengan cepat mehanan tubuhnya.


"Siapa wanita tadi?" tanya Zida .


"Dia, Sindy"

__ADS_1


"Pegawaimu?" tanya Zidan


"Di - dia teman sekaligus orang yang aku percaya untuk membantuku menguru boutique ini." Lisa berkali - kali menelan salivanya yang sudah hampir mengering. Apa yang akan di lakukan Zida setelah mendengar perkataan Sindy? Pikirnya.


"Berarti setiap hari kau bertemu dengannya?" tanya Zidan, Lisa menganggukkan kepalanya dengan sedikit takut.


"Berarti setiap hari kau dan dia mengunjingku di belakang?" Lisa menganggukkan kepalanya.


"Eh, tidak! Aku tidak pernah mengunjing dirimu dari belakang. Aku tidak penah!" Lisa menyangkalnya.


"Kenapa kau begitu ketakutan?" tanya Zidan, ia menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Ayo katakan padaku, apa saja yang telah kau bicarakan bersama dia di belakang ku? Aku ingin mendengarnya?" Zidan duduk berjongkok di depan Lisa, memasang dengan jelas telinganya untuk mendengar apa yang ingin ia dengar dari bibir istrinya tersebut.


"Sialan, apa mau dia?" gumam Lisa dalam hati.


" Kenapa kau diam? apa yang biasanya kau bicarakan dengannya?"


"Zidan jahat, banyak bicara, Bad Boy, suka mengancam, banyak maunya, berotak mesum, lalu apa lagi? Ayo Katakanlah!!" perintahnya


"A - aku---"


"Apa?"


"Mau meracuniku?" tanya Zidan.


" Tidak!! Siapa yang mau meracunimu? yang berbicara seperti itu kan Sindy bukan aku! Aku tidak pernah berniat meracunimu, percayalah!" bantah Lisa


" Berarti temanmu itu harus diberi hukuman!" seru Zidan


" Kau jangan macam-macam! dia tidak bermaksud seperti itu!" bantah Lisa.


" Jelas-jelas dia tadi menyebutkan nama suamimu! Memangnya suamimu yang mana lagi ?" seru Zidan dengan kesal, Lisa hanya diam.


"Baiklah, aku memiliki dua pilihan...."


"Apa?" saut Lisa dengan nada ketus.


~•••~


Jangan bosan - bosan ya nunggu up kelanjutannya.


Terima kasih atas dukungannya semuanya🤗


Jangan lupa Like dan komennya ya, karena komen dari kalian sangat saya nantikan.😉

__ADS_1


Happy reading guys😘


__ADS_2