
Zidan masuk ke dalam kamar, tanpa membuka sepatu dan mengganti pakaiannya Zidan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Dasar brengsek?" umpat Zidan yang masih di liputi kekesalan terhadap Reyhan tadi. Zidan menutup matanya mencoba untuk mengontrol emosinya.
Ceklek
mendengar suara pintu terbuka Zidan membuka kembali matanya dan melihat siapa yang masuk.
Ia melihat Lisa sedang berjalan menghampirinya debgan membawa sebuah cangkir yang berisikan teh. Lisa meetakkan cangkir tersebut dia atas meja yang ada di samping tempat tidur.
"Minumlah tehnya!" perintah Lisa. Zidan tiba - tiba menarik tangan Lisa yang hendak pergi dari sana.
"Ada apa?" tanya Lisa
"Mau kemana? Duduklah!" perintah Zidan. Ditariknya tangan Lisa hingga Lisa terduduk tepat di sampingnya. Zidan beranjak duduk dan mengambik teh itu, lalu menegukkanya hingga habis, tak peduli seberapa panas suhu yang masih mengendap di air yang berwarna kehijauan itu.
Ia meletakkan kembali cangkir kosong itu ke atas meja dan sedikit mengeluh akan tibuhnya yang sedikit pegal - pegal semua.
"Kau lelah ya?" tanya Lisa.
"Sudah tau masih saja bertanya!" seru Zidan
"Mau ku pijat?" tawar Lisa.
"Tidak usah, nanti yang ada tulang ku malah patah semua!" tolak Zidan
"Tidak akan patah, palingan hanya nyawamu saja yang akan melayang" balas Lisa dengan kesal.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu?" seru Zidan.
"Tidak, tidak…Aku hanya becanda. Kau ini kenapa serius sekali sih, ayo biar ku pijat" Lisa menyentuh kaki suaminya itu, sebelum memijat Kisa terlebih dulu membuka sepatu yang di kenakan oleh suaminya itu.
"Kau ini seperti anak kecil saja, sepatu pun harus di bukain" seru Lisa beranjak berdiri untuk meletakkan sepatu Zidan ke tempat sepatu.
"Itu lah gunanya aku menikahimu" saut Zidan.
"Oo…Jadi kau menikahiku cuma mau menjadikan aku babu mu?" jawab Lisa berjalan kembali ke tempat duduk nya semula.
"Bukan seperti itu maksud ku, sudahlah aku sedang malas berdebat denganmu. Kita berdebatnya besok saja, ayo sekarang pijit aku!" seru Zidan.
"Tapi ini tidak gratis ya, kau harus membelikan aku cendol lagi besok"pintanya. ia menyentuh kaki suaminya dan mulai memijat kaki Zidan.
Zidan sedari tadi tak henti - hentinya memandabgi Kisa yabg tengah memijat kakinya .
Zidan melepaskan alat bantu penglihatan yang melekat sempurna di kedua bola mata istrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa akhir - akhir ini kau sering menggunakan kaca mata ini?" tanya Zidan.
"Zi, mau kau apakan kaca mata ku itu?… Sebenarnya di rumah aku memang selalu memakai kaca mata tapi semenjak menikah denganmu aku menggunkannya hanya saat mebggambar saja." tutur Lisa.
"Kenapa kau harus memakainya?"
"Apa kau tidak tau, mata ku ini sudah minus dari kecil" balas Lisa.
"Kenapa aku tidak tau?" ujar Zidan sembari melihat kaca mata Lisa.
"Karena kau tidak pernah peduli denganku" balas Lisa yang berhasil membuat Zidan menoleh padanya dan bungkam.
"Sudahlah, kembalikan kaca mataku!" pinta Lisa, menghentikan gerakan tangannya sejenak.
"Aku hanya melihatnya saja, nanti juga akan ku kembalikan"
"Pijitlah lagi!" perintah Zidan. Lisa pun kembali melanjutkan memijit kaki Zidan.
Zidan mencoba kacamata itu, namun ia merasa kacamata milik istrinya itu tidak terllau memiliki minus yang besar hingga melepaskan kembali kaca mata itu.
"Berapa minusmu?"tanya Zidan.
"Hanya -3, " jawab Lisa
"Mata ku minus bukan buta!" seru Lisa. Zidan terkekeh dan melipat kacamata itu, kemudian di letakkannyabdibatas meja yabg ada di samping tempat tidur.
Zidan kembali menatapa lekat wajah cantik istrinya itu dengan rambutbtergerai panjang, dan wajah polos tanpa menggunakan make up.
Zidan sangat menyukai jika istrinya itu mengeraikan rambutnya seperti saat ini. Tangan Zidan bergerak menyibak rambut panjang Lisa yabgbterjatuh menutupi sebagian depan wajahnya.
"Sudah!"Zidan menghentikan tangan Lisa.
"Sudah tak lelah lagi?"tanya Lisa. Zidan tersenyum dan menggelengkan kepalanya tiba - tiba menarik tangan istrinya itu dan mengajaknya bergelut di atas ranjang.
Sudah menjadi hal yang biasa bagi Lisa untuk tak menolak ajakan suaminya itu, yang hampir setiap hari itu.
~
Setelah melakukan aktivitas yang cukupnmelelahkan sekaligus menyenangkan itu, Zidan dan Lisa terdiam sembari mengatur napas mereka di balik balutan satu lembar selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Sedikit obrolan kecil dan adu mulut, saling mereka lemparkan satu sama lain.
"Nanti malam aku mau kerumah sakit. Apa kau mau ikut?" tanya Zidan
"Ngapain ke rumah sakit, apa kau sakit?"
"Tidak, bukan aku yang sakit. Aku mau mejenguk Daniel. Kata Bella tadi pagi Daniel sempat kritis" ucap nya
__ADS_1
"Kenapa kau baru membaberi tahukannya padaku." Protes Lisa
"Ini aku memberitahu mu. tadi siangkan kita banyak pekerjaan." ujar Zidan.
"Zi, sebanyak apa pun pekerjaan kita. tapi kalau ada yang sakit, kita harus mendahulukan yang sakit. nanti kalau terjadi sesuatu hal yang tidak terduga gimana" tutur Lisa.
"Iya maaf, aku tadi hanya tidak ingin melewatkan meeting dengan si brengsek itu." jawab Zidan
"Aku ini selalu saja memikirkan dirimu sendiri"seru Lisa sembari memukul dada Zidan.
"Aw…Kau sudah mulai KDRT ya" sungutnya.
"Maaf maaf…Itu tadi aku spontan aja karna kesal denganmu."Lisa mengusap - ngusap bagian dada Zidan yang di pukulnya tadi.
"Apa kau sedang menggoda ku?" tanya Zidan
"Siapa yang menggodamu? Kau ini selalu saja berfikiran mesum" kesal Lisa. Ia menjauhkan tangan Zidan yang sedang melingkar di pinggangnya.
"Mau kemana?" tanya Zidan kembali melingkarkan tangannya.
"Aku mau mandi dan memasak makan malam sekalian aku juga mau membuatkan makanan untuk di bawa ke rumah sakit nanti" ujar Lisa kembali menjauhkan tangan nakal Suamina.
"Nanti saja, kita malam ini makan di kuar saja!"
"Tidak mau, aku kurang suka makanan siap Saji, minggirlah" pinta Lisa.
"Pergilah! ,pergilah sana…" Zidan membalikkan badanya membelakangi Lisa. Lisa hanya menatap suaminya itu sejenak, lalu ia bernajak pergi ke kamar mandi.
Zidan memutar tubuhnya kembali saat mendengar pintu kamar mandi di tutup.
"Dasar tidak peka, aku kan masih pengen sayang - sayangan denganya" gerutu Zidan.
Drrrrttt… Drrrrtttt…Drrrrrt……
Zidan menoleh kearah meja di mana ia meletakkan ponselnya. Zidan meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menghubunginya. Saat sudah melihat sang penelpon Zidan dengan segera menerima panggilan itu.
"Hallo…" sapa Zidan.
"Hallo pak Zidan, bapak dimana?…" tanya Bella, ya memang Bella lah yang telah menghungi Zidan. Sebernarnya Bella sudah menelpon Zidan sedari tadi tapi karena Zidan sibuk dengan Istrinya sehingga ia tidak mendengar dering ponselnya.
"Saya sedang dirumah, kenapa?…"
"Gawat pak, gawat. lebih baik bapak ke rumah sakit secepatnya!" suara Bella yang terdengar gusar
~•••~
__ADS_1