
"Menyebalkan..." Zidan melempar bantal itj kepada Lisa hingga mengenai wajahnya, kemudiam ia segera berlari keluar dari sana saat Lisa berteriak kesal, karna ulahnya.
"Sialan, selalu saja salah. Bicara baik salah,bicara buruk semakin salah. Pusing gue ngehadapin dia" Zidan menuruni anak tangga dengn mulut yang tak henti mengerutu, ia berjalan menuju ke dapur dan menempatkan tubuhnya duduk di kursi meja makan.
Zidan menatap makanan yang telah di siapkan Lisa dia atas meja, Zidan hanya tinggal melahapnya saja, namun rasa nya ia enggan sekali, jika tidak ada yamg menemaninya untuk sarapan.
"Dia itu benar - benar keterlaluan! Dia benar - benar tidak mau menemaniku sarapan" Zidan berkali - kali melihat kearah pintu dapur namun tak ada bayangan Lisa yang akan menghampirinya disana.
Zidan melihat nasi goreng yabg ada di hadapannya, nasi goreng itu sungguh menggoda sekali kelihatannya, Zidan benar - benar lapar karena semalam ia tak makan malam. Namun, rasanya Zidan tak punya selera untuk makan. Yang dilakukannya hanya duduk memandangi makanan yang ada di hadapannya. Dan ia kemali melirik kearah pintu dapur, berharao Lisa turun menemaninya sarapan, namun, sialnya yabg mengampirinya di dapur bukan lah Lisa melainkan Rose.
"Malas sekali melihat wanita ini" Zidan bergumam tak jelas.
"Oh, iya. Dari semalam perut Lisa kan belum terisi makanan, lebih baik aku ke kamar makan bersamanya. Biar saja dia memarahiku, dari pada aku melihat wanita ini." Zidan beranjak berdiri dengan membawa sarapannya hendak meninggalkan dapur tersebut.
"Kakak Zidan mau kemana?" tanya Rose dengan senyum manisnya, Zidan hanya diam saja tidak menanggapinya dan malahan Zidan menatapnya dengan pandangan kesal.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Rose heran.
"aku tau, kakak pasti kesal dengan kelakuanku tadi malam" ujar Rose menarik salah satu kursi di meja makan itu. Kemudian ia mendudukan tubuhnya di kursi itu.
"Jangan seolah - olah kau mengenalku" seru Zidan
"Apa maksud kakak, ayo duduklah kak! Kita sarapan bersama. Aku dari tadi menunggu kalian berdua" ucap Rose mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.
"Tidak ada gunanya di sini..." Zidan mengambil sarpannya dan segera meninggalkan dapur itu untuk kembali ke dalam kamar. Ia menapaki anak tangga dengan pikiran yang di penuhi dengan kenapa Rose bisa manjafi seperti ini?.
"Nanti gue harus cari Bella atau kalau nggak Daniel. Gue harus cari tu kenapa dia bisa menjadi seperti itu. Tapi Lisa tidak boleh tau yang ada dia akan selalu kepikiran." gumam Zidan
"Ah sudalah pikirkan nanti saja..." Zidan mempercepat langkah kakinya, ia segera membuka pintu kamarnya yang tertutup.
Di dalam, terlihat Lisa sudah nampak berpakaian rapi dan sedang duduk di tepi tempat tidur sembari membaca buku yang sama sebelumnya. Saat duduk mendekatinya, ia seketika memalingkan wajahnya.
"Hey... Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Zidan. Namun, Lisa dia saja, mulutnya sibuk bergerak membaca buku miliknya.
" Tidak sopan!" Zidan dengan cepata menutip buku Lisa , membuat wanita itu hendak memakinya, namun, rasanyaLisa tak bertenaga jika harus berdebat lagi dengan suaminya itu.
"Ayo makanlah, dari semaalm kau belum makan," Zidan hendak menyuapkannya nasi goreng yabg kini sudah di sendokkannya, kemudian ia mendekatkan sesendok nasi goreng yang ada di tangannya ke mulut Lisa. Lisa hanya diam dan menatao kesal Zidan.
"Ayo makanlah, nanti kalau kau mati. Tidak ada yang bisa ku goda lagi!" ujar Zidan.
"Kau menyumpahi ku mayi?" seru Lisa.
__ADS_1
" Justru aku tidak ingin kau mati, makanya aku menyuruhmu makan." jawab Zidan.
" Ayo makanlah! Apa kau tidak ingin punya anak?" bujuk Zidan. Lisa meliriknya sejenak.
" Memangnya kalau makan ini bisa punya anak?" tanya Lisa polos.
"Ya mana bisa, dasar bodoh" seru Zidan
" kalau kau menjaga kesehatan, akan mempermudah kita memiliki nak," imbuh Zidan. Hati Lisa tiba - tiba terenyuh saat mendengar kalimat terakhir Zidan. Ia menatao Zidan dengan mata sayunya seolah tatapan iti memiliki begitu banyak makna di dalamnya. Jantungnua tiba - tiba berdetak tak karuan.
"Ayo buka mulutmu! cepat makanlah. Kalau kau tidak makan aku yang memakannya!" seru Zidan, Lisa seketika menurut dan membuka mulutnya Zidan segera memasukkan satu sendok nasi goreng itu ke dalam mulut Lisa.
"Apa au sudah makan?" tanya Lisa sembari mengunyah makanannya.
"Belum, nanti saja..." saut Zidan
"Ya sudah kita berbagi makanan saja" ucap Lisa
"Baiklah" Zidan segera memakan suapan selanjutnya untuk dirinya sendiri dan bergantian menyuapi Lisa.
"Maaf, aku tadi marah - marah," ucap Lisa
"Lupakan saja!" ujar Zidan
"Aku mau pergi ke boutique." jawab Lisa.
"Aku akan mengantarmu..."pinta Zidan.
"Tidak usah! Aku bawah mobil sendiri saja. Lagi pula aku tidak ingin merepotkanmu" seru Lisa
" Kau ini bicara apa, aku ini suami mu. Mana ada kau merepotkanku" saut Zidan.
Lisa terdiam sejenak menatap Zidan.
"Baiklah, kau boleh mengantarku tapi, gratiskan?" tanya Lisa memastikan.
"Hmmm.... Iya, kau ini perhitungan sekali" seru Zidan melebarkan senyumnya.
"Ayo habiska. Ini..." Zidan kembali menyuapkan nasi Goreng kepada Lisa.
Lisa mengunya nasih horeng tersebut sembari menatap Zidan.
__ADS_1
"Zi..." panggil Lisa
" Ada apa? " saut Zidan seraya meletakkan piring nasi goreng di meja samping tempat tidur.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Lisa.
"Bertanyalah!"
"Apa kau mempunyai simpanan?" tanya Lisa.
"Simpanan uang?"tanya Zidan.
"Ada banyak, ubtuk kau menanyakan simpanan?"imbuhnya.
"Bukan simpanan itu..."ujar Lisa
"Lalu?" tanya Zidan.
"Simpanan wanita ?" ucap Lisa dengan sedikit takut, Zidan menajamkan kedua alisnya merasa tak senang akan pertanyaan itu.
"Mungkin aku bukan laki-laki yang baik sebelumnya. Tapi aku sangat menghargai sebuah hubungan, apalagi hubungan yang didasari dengan agama !" jawab Zidan. Seketika membuat Lisa membisu.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Zidan, Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Cepat bersiaplah! aku akan ke kamar mandi sebentar," Pamit Lisa, Zidan mengiyakan. Tak lama kemudian suara bel berbunyi
"Sepertinya itu ...?" Zidan segera turun ke bawah untuk membukakan pintu rumah di depan pintu terlihat salah satu sopir Zidan berdiri dengan membawa paperbag di tangannya.
"Lama sekali, kau ini!" seru Zidan seraya menyaut paper bag di tangan sang sopir itu.
"Maaf tuan, tadi jalanan macet" ucap sopir mencoba menjelaskan alasan keterlambatanya.
"Ya sudah kau sekarang boleh pergi, terima kasih" ucap Zidan. Ia kembali pergi ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya.
~•••~
Jangan bosan - bosan ya nunggu up kelanjutannya.
Terima kasih atas dukungannya semuanya🤗
Jangan lupa Like dan komennya ya, karena komen dari kalian sangat saya nantikan.😉
__ADS_1
Happy reading guys😘